Hehe, liat2 filmnya donk, kalau film kisah kehidupan Guru Buddha gimana? Apalagi kalau beliaunya diminta sebagai penasehat pantas tidaknya film itu.
Jadi, semua itu tidak ada yg mutlak. Saya selama ini juga gak terlalu mempersoalkan soal per-Arahat-an. Biasanya yg menyebut diri sebagai Arahat itu bukan Arahat, spt yg dikatakan Ajahn Brahm (yg diposting Bro Chuang). Kepastian seorg Arahat ditentukan oleh guru yang sudah tentunya tingkatnya minimal juga Arahat. Biasanya sebutan Arahat itu juga bisa muncul dari umat. Kalau yg begini, saya sih:1, amati perilaku beliau itu (pikiran, ucapan, tindakan jasmani); 2, kalau no 1 itu sesuai Jalan Mulia Berunsur Delapan, ya kenapa saya menyangkal? Setidaknya ini merupakan penghormatan bagi beliau yang tekun dalam pelatihan, serta membina hati cuka cita dan menekan hati sirik/kesombongan saya. Omong2, saya suka lho nonton film. Tapi gak suka nonton yang horor, takut sih. Salam, siwu On 6/16/07, Sumedho Benny <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bagian nontonnya yah bro ? > > Oke saya ralat jadi "kalau bisa diajak nonton film kemungkinan besar > bukan aharat" > > Thanks > > Sati, > Sumedho > > On Jun 15, 2007, at 9:46 AM, [EMAIL PROTECTED] <Abin_Abin%40app.co.id>wrote: > > > Sumedho: > > Mungkin nga ada yang berani ambil 'resiko' melecehkan arahat kali. > > Nga usah jauh2x nonton film horor, kalau bisa diajak nonton film saja > > sudah pasti bukan arahat. > > > > Abin: > > Kebenaran itu tidak hitam putih loh. > > Jadi kalau kesimpulan anda seperti ini, saya koq kurang setuju. > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]
