BAB 3
UMAT BUDDHA DAN GUNUNG EMAS
Ada dua hal pokok menurut Bhiksu Wu Thung yang harus dilakukan Umat Buddha.
Nien Cing (baca Sutra dan Mantra) dan menolong orang. Baca Sutra dan Mantra
dapat membantu kita mendapatkan kebijaksanaan, membuat kita menjadi cemerlang.
Hati yang welas asih dan banyak menolong orang dengan tanpa pamrih akan
mendatangkan hoki yang baik, dan membuat hidup kita lebih makmur dan sejahtera.
Orang pergi beramai-ramai saat menemukan gunung emas. Jika kita pulang dari
gunung emas dengan tangan kosong, tentu percuma sekali. Demikian juga halnya,
Umat Buddha yang tidak Nien Cing seperti orang yang pulang dari gunung emas
dengan tangan hampa.
Umat Buddha harus Nien Cing, sehari paling tidak satu kali. Apa saja juga
boleh, misalnya Ta Pei Cou. Baca Ta Pei Cou boleh 3, 7, atau 21 kali sekali
baca. Yang penting saat sedang membaca, ucapan, tubuh, dan hati harus satu.
Pikiran jangan melayang kemana-mana. Harus dilakukan setiap hari pada saat yang
sudah ditentukan. Mesti ada semangat, tidak boleh hari ini Nien Cing, besok
berhenti, besoknya baru Nien Cing lagi. Seperti kita masak air, kalau apinya
sebentar-sebentar dipadamkan tentu susah mendidih.
Dulu di Tiongkok ada seorang Bhiksu yang kalau bicara tidak didengar sama
sekali sama orang-orang. Semua mencemooh dan mengabaikannya. Dia diberi nasehat
untuk menyepi di Vihara dan terus Nien Cing dengan tulus. Lebih kurang 20 tahun
dia menyepi dan Nien Cing. Di samping itu setiap ada kesempatan dia selalu
menolong makhluk hidup, seperti memberi makan burung. Setiap kali menaburkan
makanan untuk burung, ia selalu menyebut, Omithofo!
Setelah 20 tahun menyepi, akhirnya dia turun gunung. Sejak saat itu, banyak
sekali orang datang meminta nasehat darinya. Ini menunjukkan akibat karma dapat
dirubah, dan berbuat kebajikan sambil melafal Nama Buddha akan membawa pahala
yang luar biasa.
Pernah sekali, ada seorang Bhiksu yang memelihara burung beo. Setiap kali
lewat di depan burung beo, ia akan menyapa, Namo Omithofo!
Lama-lama burung beo itu bisa mengeluarkan suara, Namo Omithofo!
Setiap kali orang lewat di depannya, burung beo akan menyebut, Namo
Omithofo!
Suatu hari, burung itu mati lalu dikubur. Dari tanah itu tumbuh bunga
teratai. Orang-orang pada terkejut. Setelah digali, ternyata bunga teratai
tumbuh dari mulut burung beo itu. Burung beo saja kalau menyebut, Namo
Omithofo! bisa membuahkan hasil, apalagi manusia.
Memang, pada awalnya Nien Cing sulit dilakukan. Dibutuhkan tekad yang kuat.
Saat baca Cing, bentuk2 pikiran suka berkelebat muncul. Begitu sadar pikiran
berkeliaran, segera kembali ke suara Cing yang diucapkan. Dengarkan baik-baik
suara yang keluar dari mulut. Yang penting hati harus tulus. Tanya dalam hati
siapa yang lagi baca Cing. Kalau pikiran lari, Tanya lagi dalam hati siapa ini
yang sedang baca Cing. Nanti lama-lama bisa berhasil.
Dulu ada dua orang Bhiksu. Yang satu kalau sedang Nien Cing, hatinya suka
kemana-mana. Oleh sahabatnya, dia dinasehatkan untuk konsentrasi waktu Nien
Cing. Satu hari dia wafat, dan masuk ke suatu tempat yang gelap gulita. Di
depannya ada Kitab Suci tapi tidak terbaca karena gelap. Setempo-tempo ada
makhluk halus yang lewat di depannya dengan membawa lentera kecil. Sekilas
kalau dia lewat, Kitab Suci bisa terbaca. Tapi Cuma sebentar. Ternyata banyak
kursi di sana, dan yang ada di tempat itu semuanya Bhiksu atau Sai Kong
(Pendeta Taois). Dia merasa sedih dan ketakutan. Akhirnya dia teringat ucapan
sahabatnya. Jadi dia membuat sahabatnya bermimpi, dan bercerita padanya soal
ini.
Dalam mimpi itu, sahabatnya bilang, kamu sih tidak percaya omongan saya.
Kamu sudah bisa hafal Cing apa?
Amitocing/ Sutra Amitabha.
Kalau begitu, kamu baca Cing itu saja setiap waktu di sana. Tapi harus
memusatkan perhatian, pikiran tidak boleh kemana-mana.
Setelah kejadian itu, ia berusaha Nien Amitocing dengan penuh konsentrasi
meskipun tempat itu gelap gulita. Akhirnya ia bisa keluar dari tempat itu. Satu
hari, ia kembali mendatangi sahabatnya lewat mimpi untuk menyatakan terima
kasih.
Dulu juga ada dua orang saudara, dua2nya jadi Bhiksu. Satu pintar sekali
berdebat, yang satu tidak pandai berbicara, Cuma bisa Nien Cing (baca Ta Pei
Cou). Setiap hari kerjanya Cuma Nien Cing. Satu kali mereka bertemu muka.
Engkau sudah punya kemampuan apa?
Cuma bisa Nien Cing, jawab saudaranya. Dia ketawa terbahak-bahak meremehkan.
Suatu hari, di depan Altar dia melihat saudaranya sedang Nien Cing, dan seluruh
ruangan bisa bergetar. Dia kaget, sehingga sejak hari itu dia juga Nien Cing
(baca Amitocing).
Baca Cing banyak sekali manfaatnya. Dulu ada orang yang susah melahirkan.
Lalu kakeknya membacakan Cin Kang Cing/Sutra Intan untuknya. Akhirnya cucu
mantunya bisa melahirkan dengan lancar, dan anaknya di kemudian hari menjadi
orang besar. Kalau ada orang mau melahirkan, dibacakan Cin Kang Cing,
manfaatnya akan baik sekali bagi ibu dan anak.
Bagaimana dengan Ko Ong Kwan Sie Im Keng? Menurut Bhiksu Wu Thung, itu Cing
tidak ada dalam Sutra Agama Buddha. Mau dibaca juga tidak apa2. tapi itu bukan
Sutra Buddha.
Lalu apakah dengan Nien Cing, orang bisa menjadi hidup makmur? Menurut Bhiksu
Wu Thung, kalau hendak hidup makmur, harus bekeja keras dengan benar dan
memupuk hati yang welas asih, banyak menolong orang tanpa pamrih. Nien Cing
akan membantu orang menjadi bijaksana dan cemerlang, bukan untuk membuat orang
menjadi kaya.
Sehari-hari, Bhiksu Wu Thung membaca Ta Pei Cou sebanyak 21 kali dipagi hari,
Amitocing sebanyak 2 kali, dan Wang Sen Cou sebanyak 21 kali. Cou itu artinya
mulut, hati, dan tubuh menjadi satu. Mulut bersih, hati bersih tidak memikirkan
yang jelek, tidak membenci, iri, dan sebagainya. Dan tubuh tidak boleh
melakukan kejahatan.
Nien Cing itu seperti tongkat. Kalau kita Nien Cing, kita tidak akan takut ke
manapun kita pergi, ke tempat tinggi, tempat terjal, tempat rendah, kita tidak
akan takut, karena ada tongkat di tangan yang siap menopang.
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]