Orang tidak boleh takut mati. Kalau takut mati, nanti matinya tidak bagus. Jadi 
orang harus banyak berbuat baik dengan tulus, sehingga mati tidak takut.
   
  “Ada satu orang tua di Tiongkok. Waktu hidup banyak berbuat jahat. Jelek 
sekali. Waktu mau mati, dia sangat menderita. Tidak bisa mati, tapi sudah 
sekarat. Kebetulan ada satu orang Bhiksu lewat, dan mengunjungi dia. Melihat 
Bhiksu ini, dia langsung beranjali memberi hormat dengan tulus. Setelah itu 
langsung mati.
   
  “Tidak berapa lama, Bhiksu ini bermimpi seekor babi mohon dipelihara. 
Kebetulan ada orang mau menjual anak babi, katanya babi itu waktu lahir kaki 
depannya dalam keadaan dirangkapkan seperti orang sedang beranjali. Bhiksu itu 
membeli babi ini dan memeliharanya. Itu babi tadinya ya orang yang banyak 
berbuat jahat tadi. Setelah babi itu mati, akhirnya dilahirkan kembali sebagai 
manusia.
   
  “Ada satu orang di Malang, tukang potong kambing. Waktu sudah tua, dia punya 
lidah sering menjulur seperti kambing. Keluar masuk, keluar masuk. Betul itu. 
Itu nanti mati sepertinya juga bakal jadi kambing untuk dipotong. Daun dari 
perbuatannya sudah kelihatan, sebentar lagi bunga dan buahnya akan muncul. Di 
sini banyak terjadi pembunuhan hewan, sangat tidak baik. Makanya sering ada 
gunung meletus, bencana, dan macam-macam.
   
  “Orang itu kadang-kadang tidak pernah puas kalau makan. Semua juga dimakan. 
Makanya orang ada yang saling bunuh. Jangan salahkan tukang jagal. Yang beli 
untuk makan juga punya peranan. Tetapi memang seharusnya orang tidak menjagal. 
Meskipun karena karma, hewan itu mungkin memang waktunya untuk dipotong. Tapi 
jangan saling memotong, harus menahan diri. Harus berusaha memutuskan lingkaran 
karma. Tapi sukar sekali….. Vegetarian itu bagus, kalau belum bisa, coba 
kurangi makan daging.
   
  “Memelihara ikan arwana, terus dikasih makan kecoa, cecak, jangkrik, itu juga 
kurang baik. Kasihan itu hewan-hewan kecil. Pelihara burung penyanyi di dalam 
sangkar juga tidak baik. Kamu mau nggak dipenjara, tidak bisa kemana-mana? 
Jangan mengurung burung dalam sangkar. Itu perbuatan tidak baik, nanti membawa 
akibat yang jelek kepada diri kita.”
   
  “Suhu, kalau dulu sudah berbuat seperti itu karena tidak tahu bagaimana?”
   
  “Ya jangan diteruskan, bertobat. Fang shen (melepaskan hewan ke alam bebas) 
itu juga baik. Kalau fang shen lebih baik jangan burung. Karena kalau burung 
itu dilepas, suka sukar cari makan sendiri, sehingga banyak yang mati 
kelaparan. Kalau burung-burungnya mati, nanti malah bisa mengurangi rejeki dan 
umur. Kecuali kalau yakin di tempat itu, burung akan gampang cari makan. Kalau 
kura2 atau belut lebih bisa mencari makan sendiri.
   
  “Lepas burung itu tradisi dari Tiongkok kuno. Sudah berlangsung ribuan tahun. 
Ceritanya dulu ada orang kaya tapi murah hati. Ia suka membeli burung untuk 
dilepaskan. Satu kali, ada orang tua yang mengerti dan memberi dia nasehat. Itu 
burung kalau ditangkap di kampung2 terus dilepas di kota, suka susah cari makan 
sendiri. Akhirnya banyak yang mati kelaparan. Itu malah membawa hasil kurang 
baik bagi dia. Setelah itu, dia jarang melakukannya lagi. Tapi tradisi itu 
masih berlangsung sampai saat ini.
   
  “Burung kecil itu lain, tidak seperti ayam atau kelinci. Tidak ada yang 
nangkap mereka untuk dimakan. Itu burung kecil dijaring di kampung-kampung, 
hutan-hutan, lalu dibawa ke kota untuk dijual pada yang mau fang shen. 
Ditumpuki dalam kandang kecil, suka tidak dikasih makan. Banyak yang mati, 
kalau dilepas juga banyak yang tidak bisa cari makan sendiri, akhirnya mati 
kelaparan.
   
  “Burung-burung itu tidak seperti ayam yang akan dipotong untuk dimakan. Kalau 
ayam, tidak kita beli untuk dipelihara, akhirnya ya dipotong. Itu burung 
sengaja ditangkap untuk orang yang mau fang shen. Kalau kita beli, penjualnya 
merasa laku, akan tangkap lebih banyak burung lagi.
   
  “Fang shen yang sejati itu muncul spontan dari dalam hati, menolong yang 
sedang dalam kesusahan. Paling baik, kalau kebetulan melihat ada yang 
kesusahan, manusia maupun hewan, kita harus cepat2 mengulurkan tangan membantu 
dengan tulus.”
   
   
  “Suhu, kalau fang shen bisa buat kias ciong tidak? Saya ciong sama teman 
dekat, beda enam tahun. Tapi saya sayang sekali sama dia. Tidak bisa 
melepaskan. Orang tuanya tidak setuju, karena bilang ciong tidak baik nantinya. 
Bagaimana baiknya ya Suhu?”
   
  “Temannya percaya ciong tidak?”
   
  “Tidak Suhu.”
   
  “Ya tidak apa2. jalan terus saja. Ciong itu bikinan orang. Kalau nanti kalian 
bahagia, orang tua pasti bahagia juga.”
   
  “Harus kung tek (melakukan kebajikan untuk menolak bala atau akibat karma 
buruk) tidak Suhu? Fang shen misalnya.”
   
  “Berbuat bajik itu harus setiap saat. Kung tek paling baik berasal dari hati. 
Baca Ta Pei
  Cou dengan tulus adalah kung tek yang paling baik. Sudah, kamu baca Ta Pei 
Cou saja setiap hari dengan tekun dan tulus. Nanti segalanya akan lancar.
   
  “Tentukan satu waktu yang tetap, misalnya pagi-pagi. Setelah cuci mulut atau 
mandi, baca Ta Pei Cou. Harus dijalankan setiap hari. Usahakan pada waktu yang 
sama. Tidak boleh terputus-putus, tidak boleh hari ini baca, besok tidak, 
besoknya lagi baca. Harus disiplin. Setelah selesai baca, dengan tulus mohon 
pertolongan kepada Bodhisattva Kwan Im. Kalau niat kita baik dan hati kita 
bersih, nanti semuanya akan lancar. Paling baik kalau lagi baca Ta Pei Cou, 
kita vegetarian. Jika belum mampu vegetarian, ya harus membersihkan mulut dulu 
sebelum baca.”


       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke