Bisa dimengerti bila putra putri Indonesia merasa keberatan tanah airnya 
dikunjungi manusia seperti Bush, who doesn't ? reputasi Bush sudah begitu buruk 
seperti iblis berwajah manusia, seorang algojo yg memakai jubah demokasri, di 
negrinya sendiripun kalau Bush tidak dikelilingi oleh secret service agents 
nya..sudah lama habis .
  
Pemerintah kita pun sudah tau dan mungkin muak dan cape meladeni si Bush ini, 
terlihat sikap SBY yg mengirim "bantuan terselubung"nya ke Iraq, Afganistan, 
saya yakin perasaan SBY sangat terluka melihat sepak terjang Bush dalam 
membantai umat2 islam di timur tengah, tetapi hey...show must go on !
   
Pertengahan thn 2006, SBY pernah berjanji akan menaikan ekonomi Indonesia 
sebanyak 6.5% dalam thn 2007. Daya export agriculture dan hasil tambang yg kuat 
 telah membantu kepesatan ekonomi sampai 5.2% thn lalu, lalu kalau bukan Si 
Bush yg menadah semua export kita bisakah ekonomi SBY terapung diatas air ? 
(tidak tenggelam maksudnya).
  
Pemerintah harus rela mengunyah pahitnya buah simalakama yg disodorkan Bush, 
itulah resikonya menjadi negara yg tergantung pada orang lain, kita bukan 
Malaysia atau Jepang yg tak perlu mengunyah buah getir dari negara2 maju.
   
Ini memang kondisi yg serba rumit !
   
  salam' 
  omie
  

kadhafi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Yola yth.
   
  Tentu saja kita sepakat kalau yang datang kerumah kita adalah orang yang 
baik, bukan penjahat apalagi pembunuh, pastilah kita akan menyambutnya dengan 
baik. Lihat saja bagaiaman negeri ini menyambut Presiden Iran beberap waktu 
lalu. Tak seorang pun masyarakat Indonesia yang menyerukan penolakan. Atau 
mungkin juga kalau Negeri ini mengundang Presiden Bolivia atau Venezuela, saya 
yakin masyarakat ini akan menyambutnya dengan sangat ramah. Tapi kalau yang 
datang adalah pembunuh  (berdarah dingin) dan agresor, bagaiamana hati nurani 
kita mau menyambutnya dengan baik.
   
  Kenapa saya sebut pembunuh atau agresor, fakta ada di hadapan mata kita 
sampai hari ini, dan semua orang tau apa yang terjadi di Palestina, Libanon, 
Afganistan beberap awaktu yang lalu. Pembantaian manusia memang pernah juga 
terjadi di negeri ini, tapi kan sudah ada koreksi untuk tidak melakukan hal 
serupa, dan sampai sekarang kita hampir tidak mendengar lagi adanya pembantaian 
besar-besaran terhadap rakyat Indonesia oleh orang Indonesia sendiri.
   
  Bandingkan dengan Amerika (Bush) yang sudah mendapat kecaman dari seluruh 
penjuru dunia, tapi tetap saja mengeluarkan kebijakan agresi militer terhadap 
negara lain (yang mereka tidak sukai), membunuh banyak orang di sana. Sebentar 
lagi agresi militer ke Korea Utara dan Iran oleh Amerika mungkin akan dilakukan.
   
  Di Indoensia sendiri Agresi yang dilakukan oleh Amerika (Bush) sesungguhnya 
telah memiskinkan rakyat bangsa ini, jauh lebih kejam dari pembantaian sesaat 
yang dilakukan BUsh di negeri lain. Parahnya lagi, pemerintah kita masih mau 
dijajah secara ekonomi oleh Amerika. 
   
  Benar kalau negeri kita kaya raya, tapi coba teliti secara jernih juga, 
kemana sumber daya alam negeri ini berlabuh, siapa yang menyedotnya. Sangat 
jelas dan kasat mata. Aku tidak yakin orang Indonesia tidak mampu memanfaatkan 
kekayaan alamnya sendiri. Pasti bisa, tapi persoalannya tidak diberi 
keleluasaan dan kesempatan untuk mengolahnya. Pemerintah kita masih lebih 
percaya tambang, hutan, laut dll dikelola oleh perusahaan2 multinasional 
(kebanyakan dari Amerika) ketimbang dikelola oleh perusahaan milik anak2 negeri 
ini sendiri. 
   
   
   

Kirim email ke