Saya tentu saja terkagum-kagum pada kemajuan2 yang saya lihat di Belanda, Eropa, atau negara2 maju lainnya yang memang kalau dibandingkan Indonesia banyak jauh tertinggal. Namun kekaguman itu tidak membuat saya shock berkepanjangan, bila ada kebijakan pemerintah yang memang tidak tepat, kenapa tidak akui dan nilai terus terang bahwa memang tidak tepat?
Meminjam perbandingan yg dipakai Manneke, logika peraturan anti burqa itu kan persis logika RUU APP yang mengatur dress code perempuan. Kenapa terhadap RUU APP banyak dari kita berani vokal (yg saya setujui dalam hal ini), tapi tidak terhadap pemerintah Belanda? Di sini saya melihat gejala shock-nya sekian banyak orang2 Indonesia yg tinggal di negara2 maju. (sedikit melenceng) : Mengenai perbandingan dengan pendatang dari 'dunia ketiga' lain, sedikit banyak saya perhatikan juga beberapa teman/kenalan (misalnya yang dari India), yg bila dibandingkan dengan yg dari Indonesia (maaf, kebetulan saya sering sekali ketemu tipe yang shock berkepanjangan), orang2 India (yg saya kenal) ini sikapnya jauh bisa lebih percaya diri sebagai orang India. Sikap seperti ini -sayangnya- tidak sering saya temukan di kalangan orang Indonesia pendatang; misalnya hal yg makin sering saya temukan: orang2 Indonesia suka 'ikut senang' negerinya diolok2 (perhatikan kata DIOLOK-OLOK) orang lain. Sikap seperti itu tidak saya temukan pada kenalan2 orang India Itu sebabnya saya bertanya2 apakah mentalitas demikian dari orang2 Indonesia ini buah sukses penguasa penjajah Indonesia memelihara/mengkondisikan the so-called inlandersmentaliteit..... Ida Khouw --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > --- In [email protected], "idakhouw" <idakhouw@> wrote: > > > > Saya memperhatikan memang 'penyakit' culture shock (cmiiw) sudah > > demikian mendalam merasuk sekian banyak orang Indonesia yang > tinggal di negara2 maju, sehingga gagal melihat blunder2 yang > dibikin penguasa negara/benua tempat tinggalnya sekarang. > > > > Mungkin menarik juga kalau suatu saat meneliti gejala serupa di > > kalangan imigran dari 'negara dunia ketiga' lain. > > > > > Dalam publikasi pemerintah Austria mengenai politik pendidikan, > dilaporkan, bahwa 80% sekolah yang dikunjungi anak anak immigran > sangat rendah mutunya, dan tak mampu mengejar standard nasional. > > Sebagai sebabnya, adalah karena anak anak ini (kebanyakan Turki) tak > menguasai bahasa Jerman samasekali), dan tak bergaul dengan anak > anak setempat. > > Mbak Ida, ini mungkin yang dinamakan kuat budaya aslinya ya? Tak > terkena cultural shock, malah membawa pemandangan Istanbul ketepi > sungai Donau? > > Mungkin ini perlu dipahami oleh PM Austria, dan biarkan saja, kelas > kelas anak immigran ketinggalan, lha wong setuia pada budaya akar > kok dilarang? Ya kan? Integrasi? NO way, buat apa? nanti kena shock.. > > DH >
