> --- In [email protected], manneke <manneke@> wrote: > > "Cilakanya lagi, orang-orang ini ukta terhadap fakta ini dan merasa > dirinya benar hanya karena dia Eropa (lebih maju, lebih beradab, lebih kaya, lebih modern, dan lebih-lebih lainnya dibandingkan orang Asia). Perlukah diadu siapa yang lebih rasis dalam hal ini? Dan, pada > gilirannya, siapa yang lebih perlu belajar demokrasi?" >
---> Belanda dan Eropa telah mulai proses demokratisasi jauh lama sebelum negara kita merdeka. Kalau ada yang layak mengajari Belanda demokrasi, pastilah bukan kita, yang masih terus menerus menyempurnakan pengalaman kita. We are still far forom being democratic. Ingat kasus Munir, kasus Trisakti dan semanggi, dan banyak yang lain. Mau adu rasis? Ukurannya? Wasitnya? > > > > Oh, jadi masih soal pribumi dan non-pribumi toh? Kok argumentasinya jadi mengingatkan saya pada wacana rasis rejim Orde Baru kemarin? Selalu pakai logika, "Lu kan tamu, jadi harus hormati tuan rumah dong, kalo enggak, gue usir lu!" ---> Dimanakah ini tak ada? Kalaupun istilahnya ditiadakan, namun tetap ada kebudayaan indigenous, dan pendatang. Kita ingat kasus sampit? Komunitas Madura berperilaku seolah tuan rumah, tanpa mengindahkan adat istiadat setempat. Apa yang terjadi? Komunitas Madura diungsikan keluar dari sana. kalau komunitas Turki, misalnya, di Jerman atau belanda tiba tiba berperilaku seolah komunitas indigenous, mau lihat hasilnya? > > > > Apakah masjid di Manada adalah indigenous factor? kalo ikut jalan > pikiran Anda, harus ditutup dong masjid-masjid itu. Apakah gereja di Tasikmalaya adalah non-indigenous factor? Kalo gitu, kita setuju dong sama akelompok-kelompok fundamental yang menutup paksa gereja- gereja di sana? ---> Masjid di Minahasa BUKAN merupakan faktor indigenous, karena budaya Minahasa bernuansa Kristiani. Tetapi, ada komunitas Islam dari jawa yang bermukim di bumi Minahasa diakibatkan pembuangan Diponegoro dan pengikutnya. Mereka diterima dengan ramah oleh penduduk setempat di Tondano. Tetapi, mereka bukan budaya indigenous. saya bicara dengan tokoh Jawa Tondano (Jaton) dimakam Kiai Maja di Tondano. dalam bahasa asli Minahasa dia katakan, kami walau Muslim dan berbahasa Jawa, adalah Kawanua.. > > > > Yang pakai burqa di Belanda itu turis atau warga negara? Jika sudah jadi WN Belanda, apakah masih tamu? Tamu seumur hidup? Gimana kalo logika yang sama dikenakan kepada kasus etnis Cina di Indonesia? > > ---> Dalam hukum kewarganegaraan mereka tidak lagi tamu, namun warga Belanda. Tetapi secara budaya, mereka tidak menjadi budaya tuan rumah, yang adalah tetap kincir angin, keju, susu dan tulip. Bahasa budaya belanda adalah bahasa Belanda, bukan bahasa pendatang. Etnis Tionghoa? Gampang sekali! Mereka adalah warga Indonesia dan adalah bagian dari kita. Namun budaya mereka DI Indonesia, disamping budaya Tionghoa yang mereka warisi (seperti Barongsay misalnya), adalah budaya setempat dimana mereka hidup. Istri saya adalah asli Minahasa, dari sana saya kenal komunitas Tionghoa Minahasa, yang se-hari hari memakai bahasa Malayu manado atau bahasa asli Minahasa. Kita kenal istilah Indonesia Tionghoa, warga Indonesia keturunan Tionghoa. Bahasa nasional? bahasa Indonesia. Hukum nasional? humum Indonesia. passport? Passport Indonesia. Jelas? > > Kalo semuanya mau serba indigenous, tak perlu ada imigrasi di dunia ini. Semua orang suruh hidup di negeri asalnya sendiri-sendiri saja. ----> Immigrasi terjadi, karena kelompok pendatang yang jutaan itu, mencari sesuap nasi dinegara asing. Budaya indigeboues belanda, Perancis, Italia, Spanyol, Austria tetap, walau dibanjiri pendatang. Immigrasi TIDAK melenyapkan budaya indigenous. Mau disuruh tinggal dinegara masing masing? Monggo, kalau tak mau merubah perilaku, bahasa dan hukum. > Budaya Eropa adalah budaya kritiani? Katanya sekarang sekular, dan > gereja-gereja sepi? Kok dalam menyikapi kasus burqa, kembali wacana > krstiani dibawa-bawa? Jadi, lagi-lagi ini kasus kristen lawan islam, gitu? Demokrasi cuma buat topeng dong kalo gitu. > > ----> Betapa mentertawakan! mau dibolak balik, budaya Eropa adalah bernuansa Kristiani. Ini TETAP terjadi, sejak ribuan tahun sejarah. Disetiap ruang pengadilan di Jerman, Italia, Spanyol, Austria selalu ada SALIB! Azas sekularisme TIDAK menyentuh nuansa Kristiani benua Eropa. Sekularisme hanya memisahkan hukum gereja dari hukum negara. Kristen lawan Islam? Jadi burka mewakili seluruh budaya Islam? Anda yakin? Di Indonesia ada burka? Demokrasi adalah topeng? apakah demokrasi berarti manusia boleh berbuat semua? Anda tahu arti demokrasi? > > Bahwa di berbagai negara Eropa busana muslim mulai dilarang- larang, memang betul seperti Anda katakan, itu adalah fakta. Tapi, kalo mentang-mentan fakta, apa sudah pasti lantas itu benar dan tak bisa dikritisi? ---> benar atau tak benar? Anda tahu apa itu kebenaran? Kebenaran anda adalah kebenaran seluruh kemanusiaan? Di kritisi? Anda boleh kritik semau anda, tetapi si tuan rumah akan tetap menentukan posisi mereka. > > > > Mungkin memang pandir jika orang yang berasal dari negeri yang baru belajar demokrasi berani mengatai orang Eropa perlu belajar demokrasi. Tetapi lebih pandir lagi adalah orang yang merasa sudah jagoan dalam berdemokrasi dan merasa demokrasi adalah miliknya, namun sikap dan cara berpikirnya sangat tidak demokratis. Cilakanya lagi, orang-orang ini ukta terhadap fakta ini dan merasa dirinya benar hanya karena dia Eropa (lebih maju, lebih beradab, lebih kaya, lebih modern, dan lebih-lebih lainnya dibandingkan orang Asia). ---> Jagoan demokrasi? Ada orang NBelanda yang mengatakan mereka jagoan demokrasi? Anda yang lahir di negara yang baru 60 tahun umurnya, dan masih mati matian mendalami makna demokrasi, mau berkuliah mengenai demokrasi. darimana anda belajar demokrasi yang lebih dari apa yang telah dibangun bangsa Eropa? Anda besar dimana? Perlukah diadu siapa yang lebih rasis dalam hal ini? Dan, pada gilirannya, siapa yang lebih perlu belajar demokrasi? > > > > manneke > ---> mau mengadu demokrasi? Anda wasitnya? Apa paradigma dan ukurannya? Hayo silakan! Ha ha ha bung Manneke si jago demokrasi. Anda professor hukum tatanaegra di mana? Leiden? Utrecht? Amsterdam? DH (lulusan hukum Universitatis Vindobonae Austriae)
