Katanya ada HAM (Hak Asasi Manusia), di mana salah satunya kita bebas memeluk
agama yang sesuai dengan kepercayaan kita. Tapi ko' bisa ya di negara yang
katanya maju, HAM dielu-elukan, masih ada larangan kaya' gini.
Kita ambil logika seperti ini aja deh. Yang namanya jilbab atau burqa, itu
khan kewajiban umat muslim yang wanita (sebenarnya bukan burqa sih, karena
dalam Al-Quran yang mulia, wanita wajib menutupi kepalanya dengan kain sehingga
hanya wajah dan telapak tangan yang terlihat. Jadi kalau pake jilbab sebenarnya
wajib. Tapi kalau pake burqa atau penutup wajah, sebenarnya , yang saya tahu,
ga' wajib). Sekarang bagaimana mau mengakkan HAM kalau untuk melaksanakan
kewajibannya, menjalankan perintah Tuhannya, suatu umat harus dilarang-larang.
Khan sama aja menghalang-halangi suatu umat untuk menjalankan hak dia yang
paling dasar yaitu beragama. Sekarang gimana nih, teman-teman yang dari dulu
mengagung-agungkan HAM? Mana HAM yang anda junjung tinggi itu apabila anda
mendukung larangan tersebut? Jangan jadi orang yang munafik. Tegakkan HAM
secara adil, tanpa pandang bulu. Kalau anda mendukung larangan tersebut, maka
mungkin almarhum Munir, aktivis HAM yang sangat saya hormati, akan
menangis di alam sana melihat ketidakadilan ini.
Salam Peace, Love and Honesty.
manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya sudah lihat dan saya tahu burqa itu seperti apa. Persoalannya
bukan terletak pada bentuk pakaiannya, melainkan pada pembatasan kebebasan
warga negara untuk memilih dan menentukan sendiri pakaian seperti apa yang
cocok bagi dirinya. Lain halnya jika pemaiakan burqa itu adalah hasil dari
pemaksaan, yang jika tak dipatuhi maka individunya disakiti atau diancam
keselamatan jiwanya.
saya juga cinta kebebasan, tetapi kebebasan yang konsisten, bukan yang tebang
pilih, apalagi atas dasar bias dan prasangka agama. Dari pihak mana pu itu
datangnya.
Mari kita merenung sama-sama.
manneke
MOD:
Kok saya melihatnya dari dua sisi: "pakaian atau busana biasa" dan "pakaian
atau busana bernuansa agama". Mungkin kalau Bung Manneke melihatnya dari kedua
sisi itu bisa memberikan penilaian yang pas.
Saya sendiri ngeri kalau di Eropa nantinya timbul ketakutan yang luar biasa
terhadap Islam, sehingga kalau mereka hidupnya terlalu ekslusif malah nantinya
diusir, sama seperti orang Eropa dulu melihat orang-orang Yahudi. Kalau dibasmi
seperti zaman Nazi mungkin tidak, tapi yang lebih ramah mungkin diusir ke
negeri asal masing-masing.
-----Original Message-----
> Date: Tue Nov 21 10:19:56 PST 2006
> From: "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: [mediacare] Re: Belanda Berencana Larang Jilbab
> To: [email protected]
>
> Lihat gambar terlampir dan silahkan merenung untuk dipahami.
>
>
> ----- Original Message -----
> From: manneke
> To: [email protected]
> Sent: Tuesday, November 21, 2006 8:39 AM
> Subject: [mediacare] Re: Belanda Berencana Larang Jilbab
>
>
> Saya mencoba melihat secara fair mengenai soal ini, ya. Eropa juga selalu
> komentar kok kalau di negara-negara Asia terjadi sesuatu yang tak berkenan
> buat mereka. kalau logika Anda ini mau dipakai secara konsisten, buat apa EU
> repot-repot ngurusin Aung San Suu Kyi di Myanmar? Atau pakai menyatakan
> prihatin atas kudeta militer di Thailand?
> Mereka yang selalu teriak-teriak tentang Islam dengan garang dan agresif
> jelas tidak sepenuhnya benar. Tapi ini tidak berarti bahwa kubu yang
> melakukan oposisi terhadap agresifitas itu sudah pasti benar.
>
> manneke
>
---------------------------------
Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.