Saya tidak setuju dengan pelarangan acara Smackdown di TV.
Maaf, bukannya saya tidak bersimpati dengan para korban dan keluarganya dan
saya pun sama sekali bukan penggemar acara tersebut, sungguh. Namun saya hanya
cemas bahwa pelarangan acara Smackdown akan menjadi pintu bagi
pelarangan-pelarangan acara lainnya yang mungkin dinilai membawa impact buruk
bagi masyarakat. Kita tahu memang banyak sekali acara sampah di TV, namun
jangan dipungkiri bahwa sampah itu ada penggemarnya juga. Saya hanya ingin
mengatakan, berhentilah menyalahkan TV! Katakanlah acara Smackdown mengandung
unsur kekerasan, memengaruhi anak-anak, lalu timbullah korban. Bagaimana nanti
kalau ada film yang menampilkan adegan kekerasan (jangan prejudice bahwa semua
adegan kekerasan dalam film itu pasti tidak baik karena banyak film bertema
kekerasan yang sangat berkualitas macam Scarface, Godfather, bahkan film seri
CSI yang cerdas itu dan sebagainya), lalu ditiru anak-anak dan
menimbulkan korban, lalu orangtuanya protes dan dilaranglah semua film yang
ada kekerasannya di TV. Maka akan semakin terbataslah kesempatan kita
menyaksikan film-film bermutu yang ada adegan kekerasannya. Bagaimana pula
dengan siaran olahraga tinju misalnya? Cabang olahraga yang diakui namun tak
dapat dipungkiri jelas ada unsur kekerasannya. Saya ingat, sewaktu kecil saya
dan teman-teman sebaya begitu menggandrungi siaran olahraga tinju ketika Elyas
Pical sedang jaya-jayanya. Namanya anak-anak, sehabis nonton Ely meng-KO Caesar
Polanco saya dan teman-teman menggelar adu tinju dengan sarung tinju seadanya
dan tanpa mengindahkan bobot tubuh untuk menentukan lawan. Saya mendapat lawan
yang lebih muda namun bobotnya lebih besar dari saya. Saya pun kena hook telak
dan KO. Untungnya saya tidak apa-apa. Dan tak ada seorang teman pun yang
mengalami nasib yang lebih buruk selain KO sejenak. Tetapi seandainya waktu itu
ada diantara kami yang gegar otak atau lebih parah lagi, lalu
orangtua kami menuntut ke TVRI agar siaran tinju tidak disiarkan, atau bahkan
lebih parah lagi, olahraga tinju dilarang sama sekali seperti di Swedia, apakah
itu suatu tindakan yang adil? Bagaimana pula dengan siaran olahraga cabang bela
diri yang lain? Sekali lagi, kenapa menyalahkan TV? Kan sudah ada
batasan-batasannya seperti waktu tayang, rating umur dsb, jadi kalau stasiun
TV-nya melanggar ketentuan itu, inilah yang bisa dikenakan sanksi atau
semacamnya. Namun pelarangan atau penghentian acara, ini saya rasa betul-betul
tidak adil. Menyalahkan acara TV untuk suatu tragedi sudah menjadi lagu lama
yang berulang-ulang. Habis nonton film merangsang lalu memerkosa, habis nonton
film perampokan lalu dapat ide merampok dan sebagainya. Habis nonton acara
sirkus dan akrobat lalu anak kita meniru dan celaka. Apakah solusinya melarang
semua itu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan? Tidakkah yang lebih
tepat adalah kontrol diri sendiri, pengawasan keluarga dan
semacamnya? Sebaiknya dampingi saja anak-anak kita kalau nonton acara
Smackdown dan sebagainya, selama menonton berikan penjelasan bahwa pertandingan
ini dilakukan oleh orang profesional, sebagaimana halnya pertunjukan sirkus,
yang tidak boleh dicoba-coba, ataupun kalau mau mencoba ya perlu kursus bela
diri khusus dulu dan sebagainya. Melarang hanya akan menambah populer
acara-acara semacam itu dan akan menjadi kegiatan ilegal yang justru menambah
keasyikkan bagi anak-anak. Dan untuk acara-acara sampah yang lainnya,
tinggal jangan ditonton kalau memang kita rasakan tidak ada manfaatnya. Kalau
tidak ditonton kan lama-lama mati sendiri programnya. So stop blaming TV. Just
take a look in the mirror.
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.