Huahahahahaha ....

Nampaknya warga negara republik tulalit ini masih suka bergunjing 
soal poligami? Pada sok tau semuanya! Mau nikah monogami kek, mau 
nikah poligami kek, itu pilihan manajemen keluarga seseorang yg 
tidak melanggar aturan/norma. Dan kita tak berhak ikut campur, 
ribut, apalagi kalo sampai memfitnah.

Kalo seseorang punya istri kemudian berselingkuh bin zinah, itu 
jelas melanggar aturan/norma sebagemana pernah dilakukan oleh salah 
seorang mantan presiden negara adidaya dulu yg hampir di-
impeachment. Ingat kasus 'le whisky'? Heheheheh ....

Tapi, setelah presiden itu membuat klarifikasi, ternyata ngga jadi 
di-impeach, karena warganya sadar bahwa itu persoalan keluarga sang 
presiden dan beliau sudah meminta maaf secara gentleman.

Nah warga republik tulalit ini kenapa mesti ribut kalo ada orang yg 
pilih nikah poligami? Itu yg melanggar aturan/norma dan minta maaf 
saja ngga diributin, kenapa yg ngga melanggar aturan/norma agama 
diributin? Tobat dech! Buang-buang waktu tau!

DT





--- In [email protected], manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> 
> Memang justifikasi murahan seperti itu yang selalu mengagetkan 
saya: "berpoligami dengan tujuan untuk menghindari zinah." Kok enak 
betul, ya? lalu di mana letak tanggung jawab dan komitmen pada istri 
pertama? Tak masuk hitungankah?
> 
> Tak mungkinlah kalo orang masih cinta betul pada istrinya akan 
mengambil istri baru. Kalo ambil istri baru, berarti cintanya sudah 
di-transfer ke istri baru. Tak ada keadilan di sini. Preferensi 
sudah dialihkan ke daun muda. Sangat simple dan gamblang.
> 
> manneke


Kirim email ke