Teman-teman,

Saya mendapat e-mail dari Sri Yanuarti (Yanu), peneliti LIPI, pengurus pusat 
AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia), dan istri dari wartawan Kompas Bambang 
Wisodo, via milis AIPI. Isinya berkenaan dengan kasus pemecatan Bambang Wisudo 
oleh manajemen Kompas, terkait soal serikat pekerja di Kompas. Yanu adalah 
rekan saya di AIPI, sedangkan Wisudo adalah juga rekan sesama pendiri AJI 
(Aliansi Jurnalis Independen), dan dulu juga saya pernah sama-sama kerja di 
Kompas.

Saya sangat terkesan, bahwa menghadapi saat-saat sulit dan penuh tekanan, Yanu, 
Wisudo dan keluarga tetap tenang dan tabah. Artinya, perjuangan serikat pekerja 
ini bukan semata-mata urusan Wisudo, tetapi sejak awal sudah disadari dan 
didukung penuh oleh istri/keluarga. Tentu dengan berbagai risikonya.

Dalam kondisi ekonomi dan politik sekarang, di mana nuansa pragmatisme dan 
oportunisme, kepentingan mau enak sendiri, masih sangat kuat, saya merasa salut 
bahwa masih ada orang-orang yang berjuang untuk idealismenya. 

Kalau Wisudo mau hidup enak dan nyaman di Kompas, perusahaan media yang sudah 
sangat mapan di Indonesia (koran terbesar dan paling berpengaruh), sebetulnya 
bisa saja. Kompas adalah salah satu dari sedikit media yang menyediakan pensiun 
buat karyawannya. Namun, Wisudo memilih jalan lain, dan kini dia menanggung 
risiko perjuangannya. Yakni, dipecat oleh manajemen Kompas.   

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, dan tidak ingin menduga-duga. 
Yang jelas, Wisudo dkk akan terus berjuang, di dalam Kompas maupun di luar 
Kompas. Salah satu alternatifnya tentu lewat jalur hukum (LBH). 

Di sini saya menilai, tindakan represif terhadap aspirasi karyawan yang sah, 
seperti dialami Wisudo, tidak akan menghasilkan dampak yang baik bagi 
perusahaan. Namun, yang jauh lebih merugikan Kompas sebetulnya adalah masalah 
reputasi dan image, yang terkait dengan visi dan misi Kompas, yang merupakan 
akar keberadaan perusahaan yang didirikan PK Oyong (alm) dan Jakob Oetama ini. 

Bukankah Kompas adalah perusahaan media yang selama ini (lihat tajuk 
rencana/editorialnya) sering mengangkat isu-isu demokratisasi, keterbukaan, 
hak-hak asasi, dan sebagainya? Bukankah Kompas menganut dan meyakini 
nilai-nilai "humanisme transendental"? Apakah itu sekadar gincu, dan bukan 
genuine values yang dianut Kompas, mengingat secara internal ternyata 
nilai-nilai itu masih dipertanyakan, karena tidak terimplementasi? 

Jika demikian halnya, bagaimana Kompas sebagai institusi dan bagian 
utama/tulang punggung KKG (Kelompok Kompas Gramedia) akan melangkah memasuki 
abad baru dunia informasi dan globalisasi, dengan segala dinamika perubahan, 
tantangan, ancaman, jika tanpa dukungan akar nilai-nilai mendasar, yang memberi 
makna pada keberadaannya? 

Selama ini, perekat yang mempertahankan keutuhan KKG adalah figur Pak Jakob 
Oetama (JO), sebagai generasi pendiri yang memiliki wawasan kuat ke depan, 
nasionalisme, kharisma, wibawa dan intelektualitas. Namun, dengan segala hormat 
atas kekuatan manajerialnya, JO tidak akan memimpin KKG selama-lamanya. 

Lalu bagaimana KKG dan Kompas akan melangkah jika nanti ditinggalkan JO, 
sementara core values yang menjadi landasan berdirinya dan suksesnya lembaga 
Kompas, justru mengalami erosi karena langkah-langkah "pragmatis-oportinistis" 
jangka pendek? Bukan tidak mungkin, langkah-langkah semacam ini akan diteruskan 
oleh para pimpinan Kompas/KKG pasca JO nanti. Mereka adalah generasi baru, yang 
mungkin kurang menghayati nilai-nilai awal yang ditanamkan generasi pendiri.

Mempertimbangkan hal itu, saya berharap, Pak Jakob dengan segala kearifannya, 
sebagai figur yang menjadi panutan dan dihormati di KKG dan Kompas, dapat ikut 
campur tangan melakukan intervensi. Karena yang dipertaruhkan di sini BUKAN 
cuma nasib Wisudo, Yanu dan keluarga, tetapi nasib dan survivabilitas dari KKG, 
Kompas, dan nilai-nilai luhur (core values) yang selama ini dianut, diyakini, 
dihayati, dan terbukti telah membesarkan Kompas.

Selain itu, yang dipertaruhkan bahkan juga bukan nasib sekian ribu karyawan 
Kompas dan KKG, tetapi jutaan stakeholders yang berkaitan dengan keberadaan 
institusi media besar ini, termasuk para pembaca Kompas di seluruh pelosok 
Indonesia. Peran media sangat penting untuk kemajuan negeri ini. Peran vital 
media seperti Kompas masih amat dibutuhkan, untuk ikut menggalang dukungan dari 
jutaan rakyat Indonesia -- yakni, mereka yang masih punya idealisme dan niat 
baik-- untuk bersama-sama menyelamatkan Indonesia.   

Sekali lagi, saya berharap, agar Pak Jakob, yang saya anggap sebagai salah satu 
guru saya dalam ilmu jurnalistik dan wawasan kewartawanan, bersedia untuk turun 
tangan langsung, demi kebaikan dan kelangsungan institusi KKG dan Kompas, 
beserta nilai-nilai luhur yang selama ini memberi makna pada keberadannya.  


Wasalam,
Satrio Arismunandar

(mantan jurnalis Kompas, yang dibesarkan di Kompas pada 1988-1995, dan selama 
itu banyak belajar tentang ilmu jurnalistik dan kearifan dari guru-guru saya di 
Kompas)


=========================================================================
(dari milis AIPI, ditulis oleh Yanu:)

Saya ucapakan Terimakasih atas dukungan yang
diberikan Mas Rio terhadap saya dan keluarga.
Perlakukan yang diberikan jajaran manajement Kompas
terhadap suami saya, adalah satu resiko yang sudah
kami hitung sejak lama. Perjuangan suami saya Wis
(Bambang Wisudo) tentang pemilikan saham karyaam
bukanlah perjuangan yang dilakukan dalam hitungan
hari. 
Delapan tahun sudah, ia dan teman-temannya di
Perkumpulan karyawan Kompas melakukan perjuangannya
untuk menuntut mengembalian saham 20% yang diambil
oleh perusahaan tanpa sepengetahuan karyawan. Selama
itu pula, kami sudah terbiasa dengan berbagai
kebijakan dari management Kompas untuk melakukan
berbagai penjegalan atas apa yang diperjuangkan suami
saya dan kawan-kawan. 
Berkaca dari kasus Albert Kuhon, Mas Rio dan Mas
Yudha, saya sadar betul bahwa pemecatan terhadap suami
saya bukan tidak mungkin akan terjadi. Namun perlakuan
dan tindakan para jajaran pimpinan kompas yang
menggunakan cara-cara kekerasan yang brutal dan
primitif adalah jauh dari banyangan kami. 
Sebagai salah satu pilar demokrasi sekaligus
intitusi yang menyuarakan serta menggembar-gemborka n
persoalan HAM dan Demokrasi maka tidak sepantasnya
Kompas melakukan tindakan brutal dan primitif (dengan
melakukan penyeretan dan penyekapan) dalam proses
pemutusan hubungan kerja. Bahkan sejauh yang saya
tahu, pemecatan terhadap buruh linting di pabrik 
rokokpun masih dilakukan cara-cara yang sangat sopan. 
Sungguh suatu hal yang sangat ironis bagi Kompas
yang bangga dengan logonya "Menyuarakan Amanat Hati
Nurani Rakyat", perlakuan dan tindakan terhadap
karyawannya justru jauh dari apa yang selama ini
ditulis besar-besar di bawah kata KOMPAS.
Jika saya sedih terhadap kasus suami saya, itu
bukanlah karena suami saya dipecat dari Kompas tapi
justru karena gambaran Kompas sebagai media tempat
suami saya berkarya selama ini adalah Kompas telah
mengkhianati dari nilai-nilainya sendiri. Kompas yang
impikan oleh suami saya, yang pernah menjadi cita-cita
suami saya, ternyata tidak lebih dan tidak kurang
dibandingkan pabrik sandal jepit. 
Saya justru bangga bahwa karena ditengah
gemerlapnya fasilitas materi yang bisa dinikmati
wartawan kompas, suami saya masih kukuh untuk
menyatakan kebenaran, untuk menggugat hak-hak karyawan
yang telah dirampas oleh perusahaan. Dengan itu pula
kami dapat tetap melangkah dengan kepala tegak dan
hati ringan saat kami meninggalkan kantor Kompas malam
itu, karena Kompas tidak lebih dan tidak kurang
dibandingkan pabrik sandal jepit.
Salam
Yanu (Istri Bambang Wisudo)


 
____________________________________________________________________________________
Any questions? Get answers on any topic at www.Answers.yahoo.com.  Try it now.


Web:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Klik: 

http://mediacare.blogspot.com

atau

www.mediacare.biz

Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke