Bung Adijoyo ini bisa saja.....
Yang penting kan bukan dari saya, tapi agenda karyawan Kompas sendiri tentang 
masa depan perusahaannya.... Saya kan sekarang orang luar, walau dulu pernah di 
Kompas. 

Biarlah teman-teman di Kompas sendiri menentukan, dan kita akan lihat apakah 
pilihan itu juga baik untuk para stakeholders dan khalayak pembacanya...

Di Trans TV, agenda saya belum kesampaian kok. Yakni, jadi bintang sinetron dan 
main bersama Luna Maya....ha..ha... (bercanda!)



----- Original Message ----
From: Adijoyo Adidoyo <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, December 10, 2006 12:42:06 PM
Subject: [mediacare] Re: Imbauan bagi Pak Jakob Oetama - tentang nilai-nilai 
Kompas

Bung Satrio,

Saya pribadi setuju 100% dengan uraian Anda tentang nilai2 Kompas dan 
kemana Kompas akan melangkah jika Pak Jakob Oetama berpulang ke 
Rahmatullah.

Hal ini memang harus menjadi perenungan oetama Pak Jacob Oetama dan 
rekan2 di Kompas.

Namun, kami juga ingin bertanya apa kira2 AGENDA Bung Satrio 
selanjutnya untuk Kompas? Setelah beberapa agenda Anda cukup sukses 
diterapkan di TransTV

salam
Doyo

--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Satrio Arismunandar 
<satrioarismunandar @...> wrote:
>
> Teman-teman,
> 
> Saya mendapat e-mail dari Sri Yanuarti (Yanu), peneliti LIPI, 
pengurus pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia), dan istri dari 
wartawan Kompas Bambang Wisodo, via milis AIPI. Isinya berkenaan 
dengan kasus pemecatan Bambang Wisudo oleh manajemen Kompas, terkait 
soal serikat pekerja di Kompas. Yanu adalah rekan saya di AIPI, 
sedangkan Wisudo adalah juga rekan sesama pendiri AJI (Aliansi 
Jurnalis Independen), dan dulu juga saya pernah sama-sama kerja di 
Kompas.
> 
> Saya sangat terkesan, bahwa menghadapi saat-saat sulit dan penuh 
tekanan, Yanu, Wisudo dan keluarga tetap tenang dan tabah. Artinya, 
perjuangan serikat pekerja ini bukan semata-mata urusan Wisudo, 
tetapi sejak awal sudah disadari dan didukung penuh oleh 
istri/keluarga. Tentu dengan berbagai risikonya.
> 
> Dalam kondisi ekonomi dan politik sekarang, di mana nuansa 
pragmatisme dan oportunisme, kepentingan mau enak sendiri, masih 
sangat kuat, saya merasa salut bahwa masih ada orang-orang yang 
berjuang untuk idealismenya. 
> 
> Kalau Wisudo mau hidup enak dan nyaman di Kompas, perusahaan media 
yang sudah sangat mapan di Indonesia (koran terbesar dan paling 
berpengaruh) , sebetulnya bisa saja. Kompas adalah salah satu dari 
sedikit media yang menyediakan pensiun buat karyawannya. Namun, 
Wisudo memilih jalan lain, dan kini dia menanggung risiko 
perjuangannya. Yakni, dipecat oleh manajemen Kompas. 
> 
> Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, dan tidak ingin 
menduga-duga. Yang jelas, Wisudo dkk akan terus berjuang, di dalam 
Kompas maupun di luar Kompas. Salah satu alternatifnya tentu lewat 
jalur hukum (LBH). 
> 
> Di sini saya menilai, tindakan represif terhadap aspirasi karyawan 
yang sah, seperti dialami Wisudo, tidak akan menghasilkan dampak yang 
baik bagi perusahaan. Namun, yang jauh lebih merugikan Kompas 
sebetulnya adalah masalah reputasi dan image, yang terkait dengan 
visi dan misi Kompas, yang merupakan akar keberadaan perusahaan yang 
didirikan PK Oyong (alm) dan Jakob Oetama ini. 
> 
> Bukankah Kompas adalah perusahaan media yang selama ini (lihat 
tajuk rencana/editorialny a) sering mengangkat isu-isu demokratisasi, 
keterbukaan, hak-hak asasi, dan sebagainya? Bukankah Kompas menganut 
dan meyakini nilai-nilai "humanisme transendental" ? Apakah itu 
sekadar gincu, dan bukan genuine values yang dianut Kompas, mengingat 
secara internal ternyata nilai-nilai itu masih dipertanyakan, karena 
tidak terimplementasi? 
> 
> Jika demikian halnya, bagaimana Kompas sebagai institusi dan bagian 
utama/tulang punggung KKG (Kelompok Kompas Gramedia) akan melangkah 
memasuki abad baru dunia informasi dan globalisasi, dengan segala 
dinamika perubahan, tantangan, ancaman, jika tanpa dukungan akar 
nilai-nilai mendasar, yang memberi makna pada keberadaannya? 
> 
> Selama ini, perekat yang mempertahankan keutuhan KKG adalah figur 
Pak Jakob Oetama (JO), sebagai generasi pendiri yang memiliki wawasan 
kuat ke depan, nasionalisme, kharisma, wibawa dan intelektualitas. 
Namun, dengan segala hormat atas kekuatan manajerialnya, JO tidak 
akan memimpin KKG selama-lamanya. 
> 
> Lalu bagaimana KKG dan Kompas akan melangkah jika nanti 
ditinggalkan JO, sementara core values yang menjadi landasan 
berdirinya dan suksesnya lembaga Kompas, justru mengalami erosi 
karena langkah-langkah "pragmatis-oportini stis" jangka pendek? Bukan 
tidak mungkin, langkah-langkah semacam ini akan diteruskan oleh para 
pimpinan Kompas/KKG pasca JO nanti. Mereka adalah generasi baru, yang 
mungkin kurang menghayati nilai-nilai awal yang ditanamkan generasi 
pendiri.
> 
> Mempertimbangkan hal itu, saya berharap, Pak Jakob dengan segala 
kearifannya, sebagai figur yang menjadi panutan dan dihormati di KKG 
dan Kompas, dapat ikut campur tangan melakukan intervensi. Karena 
yang dipertaruhkan di sini BUKAN cuma nasib Wisudo, Yanu dan 
keluarga, tetapi nasib dan survivabilitas dari KKG, Kompas, dan nilai-
nilai luhur (core values) yang selama ini dianut, diyakini, dihayati, 
dan terbukti telah membesarkan Kompas.
> 
> Selain itu, yang dipertaruhkan bahkan juga bukan nasib sekian ribu 
karyawan Kompas dan KKG, tetapi jutaan stakeholders yang berkaitan 
dengan keberadaan institusi media besar ini, termasuk para pembaca 
Kompas di seluruh pelosok Indonesia. Peran media sangat penting untuk 
kemajuan negeri ini. Peran vital media seperti Kompas masih amat 
dibutuhkan, untuk ikut menggalang dukungan dari jutaan rakyat 
Indonesia -- yakni, mereka yang masih punya idealisme dan niat baik-- 
untuk bersama-sama menyelamatkan Indonesia. 
> 
> Sekali lagi, saya berharap, agar Pak Jakob, yang saya anggap 
sebagai salah satu guru saya dalam ilmu jurnalistik dan wawasan 
kewartawanan, bersedia untuk turun tangan langsung, demi kebaikan dan 
kelangsungan institusi KKG dan Kompas, beserta nilai-nilai luhur yang 
selama ini memberi makna pada keberadannya. 
> 
> 
> Wasalam,
> Satrio Arismunandar
> 
> (mantan jurnalis Kompas, yang dibesarkan di Kompas pada 1988-1995, 
dan selama itu banyak belajar tentang ilmu jurnalistik dan kearifan 
dari guru-guru saya di Kompas)
> 
> 
> 
============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= ====
===
> (dari milis AIPI, ditulis oleh Yanu:)
> 
> Saya ucapakan Terimakasih atas dukungan yang
> diberikan Mas Rio terhadap saya dan keluarga.
> Perlakukan yang diberikan jajaran manajement Kompas
> terhadap suami saya, adalah satu resiko yang sudah
> kami hitung sejak lama. Perjuangan suami saya Wis
> (Bambang Wisudo) tentang pemilikan saham karyaam
> bukanlah perjuangan yang dilakukan dalam hitungan
> hari. 
> Delapan tahun sudah, ia dan teman-temannya di
> Perkumpulan karyawan Kompas melakukan perjuangannya
> untuk menuntut mengembalian saham 20% yang diambil
> oleh perusahaan tanpa sepengetahuan karyawan. Selama
> itu pula, kami sudah terbiasa dengan berbagai
> kebijakan dari management Kompas untuk melakukan
> berbagai penjegalan atas apa yang diperjuangkan suami
> saya dan kawan-kawan. 
> Berkaca dari kasus Albert Kuhon, Mas Rio dan Mas
> Yudha, saya sadar betul bahwa pemecatan terhadap suami
> saya bukan tidak mungkin akan terjadi. Namun perlakuan
> dan tindakan para jajaran pimpinan kompas yang
> menggunakan cara-cara kekerasan yang brutal dan
> primitif adalah jauh dari banyangan kami. 
> Sebagai salah satu pilar demokrasi sekaligus
> intitusi yang menyuarakan serta menggembar-gemborka n
> persoalan HAM dan Demokrasi maka tidak sepantasnya
> Kompas melakukan tindakan brutal dan primitif (dengan
> melakukan penyeretan dan penyekapan) dalam proses
> pemutusan hubungan kerja. Bahkan sejauh yang saya
> tahu, pemecatan terhadap buruh linting di pabrik 
> rokokpun masih dilakukan cara-cara yang sangat sopan. 
> Sungguh suatu hal yang sangat ironis bagi Kompas
> yang bangga dengan logonya "Menyuarakan Amanat Hati
> Nurani Rakyat", perlakuan dan tindakan terhadap
> karyawannya justru jauh dari apa yang selama ini
> ditulis besar-besar di bawah kata KOMPAS.
> Jika saya sedih terhadap kasus suami saya, itu
> bukanlah karena suami saya dipecat dari Kompas tapi
> justru karena gambaran Kompas sebagai media tempat
> suami saya berkarya selama ini adalah Kompas telah
> mengkhianati dari nilai-nilainya sendiri. Kompas yang
> impikan oleh suami saya, yang pernah menjadi cita-cita
> suami saya, ternyata tidak lebih dan tidak kurang
> dibandingkan pabrik sandal jepit. 
> Saya justru bangga bahwa karena ditengah
> gemerlapnya fasilitas materi yang bisa dinikmati
> wartawan kompas, suami saya masih kukuh untuk
> menyatakan kebenaran, untuk menggugat hak-hak karyawan
> yang telah dirampas oleh perusahaan. Dengan itu pula
> kami dapat tetap melangkah dengan kepala tegak dan
> hati ringan saat kami meninggalkan kantor Kompas malam
> itu, karena Kompas tidak lebih dan tidak kurang
> dibandingkan pabrik sandal jepit.
> Salam
> Yanu (Istri Bambang Wisudo)
> 
> 
> 
> 
____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
____________ __
> Any questions? Get answers on any topic at www.Answers. yahoo.com. 
Try it now.
>





 
____________________________________________________________________________________
Any questions? Get answers on any topic at www.Answers.yahoo.com.  Try it now.

Kirim email ke