GODAM JADI KANGGET,

Wah, ternyatah wartawan senior kita,

bukanlah wartawan tukang cari nasi hajah

diah punyak idealismeh jurnalistik pulak?

saluut deh sama eluh Mund,

sakmogah idelistiknyah enggak kau

jual kepada golongan Zarqawih,

kerana dikau punyak posisih senioren,

bisak jadi BIANG KEROK KEJOLIMAN YANG

BERKEDOKAN UGAMAK.

hehehe..ngomong2, daku punyak

temen si Ben Azhar, dari media Panji Masarakat tuh?

diah ituh ustad,seniman dan pengajar ugamak islam pulak,

dimana daku pernah ke rumahnyah,

kerana diah kubonceng pulang,

saktelah kubilang padanyah.

Kang bennyh,lebih baek sayah bonceng yah!!

dari pada naek bis kota dari Lapangan Banteng,.

tempo ituh.

ituhlah kemesrahanku dengan satu ustad moslim

yang enggak haram jaddahan.

dan YANG membuatku hurmat dan tunduk

kepada si ustad yang enggak nyabul inih.

adalah Rumahnyah di pangke buat

NGEMONG ANAK ANAK YATIM PIATUH.

nah..moslim ginian yang membuatku impoten

berkata kata tak santun ituh!!!


--- In [email protected], Satrio Arismunandar 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Oh, jangan khawatir!
> Selama pengalaman saya 7 tahun di Kompas, saya tahu, umumnya orang 
Kompas akan memilih tutup mulut dan main aman dalam situasi genting 
(ini mungkin kecenderungan di banyak media, bukan cuma Kompas). Saya 
tidak menyalahkan mereka. Tapi, tak usah mengharapkan ada pernyataan 
terbuka di milis atau media tentang kasus yang menimpa Wisudo dari 
mereka. 
> 
> Kalau dibilang dendam, tidak ada. Sampai saat ini saya tetap 
berhubungan baik dengan teman-teman di Kompas. Waktu saya menikah 
(sesudah saya keluar/dipaksa mundur dari Kompas), saya juga 
mengundang Pak Jakob Oetama. Dan beliau juga datang kok! 
> 
> Sesudah saya keluar dari Kompas, sejumlah tulisan yang saya kirim 
juga pernah dimuat di Kompas. Jadi saya yakin, pimpinan Kompas dan 
Pak Jakob juga tidak punya dendam pada saya. Kami berdua sama-sama 
tahu, apa yang terjadi pada 1995, ketika saya dipaksa mundur dari 
Kompas adalah karena TEKANAN REZIM SOEHARTO. Kompas tak punya 
pilihan lain dan tak punya kekuatan menolak tekanan Menteri 
Penerangan Harmoko waktu itu dan para pimpinan PWI Pusat dan PWI 
Jakarta (waktu itu diketuai Tarman Azzam). Ingat, jika Kompas 
bandel, bisa dibreidel kapan saja waktu itu! Jadi, ketika saya 
dipaksa keluar waktu itu, kami sama-sama tahu, alasannya adalah 100% 
pertimbangan politik. Karena Pak Jakob pun mengakuyi, tidak ada satu 
pun kesalahan yang saya lakukan sebagai KARYAWAN.
> 
> Tempat saya bekerja sekarang lebih baik dari Kompas? Bung, saya 
sudah pernah bekerja 3 suratkabar nasional (Pelita, Kompas, Media 
Indonesia), 1 majalah berita mingguan (D&R), dan 1 stasiun TV 
(Trans), dan kesimpulan saya tidak ada tempat bekerja yang sempurna. 
Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri.  
> 
> Pernyataan saya di bawah ini justru berasal dari rasa cinta saya 
pada Kompas, karena saya tahu nilai-nilai luhur yang ditanamkan para 
pendiri Kompas (almarhum PK Oyong) sangat berharga untuk 
dipertahankan. Dan Kompas tidak akan bertahan lama, dan akan turun 
posisinya menjadi sekedar sebagai bisnis cari untung biasa, manakala 
nilai-nilai keutamaan yang ditanamkan para pendiri Kompas yang awal 
itu ditinggalkan atau disisihkan. 
> 
> Pak Jakob Oetama dan sejumlah senior saya di Kompas adalah guru-
guru saya dalam ilmu jurnalistik. Saya tidak pernah mengingkari hal 
itu dan tetap menghormati mereka sampai sekarang. Jadi, kritik dan 
saran yang saya sampaikan justru saya maksudkan untuk kebaikan 
Kompas, para karyawannya (bukan cuma Wisudo), dan menyelamatkan 
nilai-nilai para pendirinya, yang mungkin saja sekarang terlanda 
erosi akibat tuntutan kapitalistik. Kompas punya arti dan makna, 
karena nilai-nilai itu, yang saya anggap jauh lebih penting dari 
masalah pribadi. 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: dimastakha <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Monday, December 11, 2006 10:54:12 PM
> Subject: [mediacare] Re: Imbauan bagi Pak Jakob Oetama - tentang 
nilai-nilai Kompas
> 
> Bung, cobalah lebih balance. Anda kan wartawan senior, tidak usah
> terjadi hanya percaya satu sumber. Jika itu terjadi, tentu 
memalukan
> bukan?
> Tanya juga teman2 di Kompas, apa yang sesungguhnya terjadi.
> Jangan terkesan Bung ada dendam terhadap Kompas?
> Serta, apakah tempat Anda bekerja saat ini lebih baik dari Kompas?
> 
> salam
> dimast,
> ikut prihatin juga
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Satrio Arismunandar
> <satrioarismunandar @...> wrote:
> >
> > Teman-teman,
> > 
> > Saya mendapat e-mail dari Sri Yanuarti (Yanu), peneliti LIPI,
> pengurus pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia), dan istri 
dari
> wartawan Kompas Bambang Wisodo, via milis AIPI. Isinya berkenaan
> dengan kasus pemecatan Bambang Wisudo oleh manajemen Kompas, 
terkait
> soal serikat pekerja di Kompas. Yanu adalah rekan saya di AIPI,
> sedangkan Wisudo adalah juga rekan sesama pendiri AJI (Aliansi
> Jurnalis Independen), dan dulu juga saya pernah sama-sama kerja di 
Kompas.
> > 
> > Saya sangat terkesan, bahwa menghadapi saat-saat sulit dan penuh
> tekanan, Yanu, Wisudo dan keluarga tetap tenang dan tabah. Artinya,
> perjuangan serikat pekerja ini bukan semata-mata urusan Wisudo, 
tetapi
> sejak awal sudah disadari dan didukung penuh oleh istri/keluarga.
> Tentu dengan berbagai risikonya.
> > 
> > Dalam kondisi ekonomi dan politik sekarang, di mana nuansa
> pragmatisme dan oportunisme, kepentingan mau enak sendiri, masih
> sangat kuat, saya merasa salut bahwa masih ada orang-orang yang
> berjuang untuk idealismenya. 
> > 
> > Kalau Wisudo mau hidup enak dan nyaman di Kompas, perusahaan 
media
> yang sudah sangat mapan di Indonesia (koran terbesar dan paling
> berpengaruh) , sebetulnya bisa saja. Kompas adalah salah satu dari
> sedikit media yang menyediakan pensiun buat karyawannya. Namun, 
Wisudo
> memilih jalan lain, dan kini dia menanggung risiko perjuangannya.
> Yakni, dipecat oleh manajemen Kompas. 
> > 
> > Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, dan tidak ingin
> menduga-duga. Yang jelas, Wisudo dkk akan terus berjuang, di dalam
> Kompas maupun di luar Kompas. Salah satu alternatifnya tentu lewat
> jalur hukum (LBH). 
> > 
> > Di sini saya menilai, tindakan represif terhadap aspirasi 
karyawan
> yang sah, seperti dialami Wisudo, tidak akan menghasilkan dampak 
yang
> baik bagi perusahaan. Namun, yang jauh lebih merugikan Kompas
> sebetulnya adalah masalah reputasi dan image, yang terkait dengan 
visi
> dan misi Kompas, yang merupakan akar keberadaan perusahaan yang
> didirikan PK Oyong (alm) dan Jakob Oetama ini. 
> > 
> > Bukankah Kompas adalah perusahaan media yang selama ini (lihat 
tajuk
> rencana/editorialny a) sering mengangkat isu-isu demokratisasi,
> keterbukaan, hak-hak asasi, dan sebagainya? Bukankah Kompas 
menganut
> dan meyakini nilai-nilai "humanisme transendental" ? Apakah itu 
sekadar
> gincu, dan bukan genuine values yang dianut Kompas, mengingat 
secara
> internal ternyata nilai-nilai itu masih dipertanyakan, karena tidak
> terimplementasi? 
> > 
> > Jika demikian halnya, bagaimana Kompas sebagai institusi dan 
bagian
> utama/tulang punggung KKG (Kelompok Kompas Gramedia) akan melangkah
> memasuki abad baru dunia informasi dan globalisasi, dengan segala
> dinamika perubahan, tantangan, ancaman, jika tanpa dukungan akar
> nilai-nilai mendasar, yang memberi makna pada keberadaannya? 
> > 
> > Selama ini, perekat yang mempertahankan keutuhan KKG adalah figur
> Pak Jakob Oetama (JO), sebagai generasi pendiri yang memiliki 
wawasan
> kuat ke depan, nasionalisme, kharisma, wibawa dan intelektualitas.
> Namun, dengan segala hormat atas kekuatan manajerialnya, JO tidak 
akan
> memimpin KKG selama-lamanya. 
> > 
> > Lalu bagaimana KKG dan Kompas akan melangkah jika nanti 
ditinggalkan
> JO, sementara core values yang menjadi landasan berdirinya dan
> suksesnya lembaga Kompas, justru mengalami erosi karena
> langkah-langkah "pragmatis-oportini stis" jangka pendek? Bukan 
tidak
> mungkin, langkah-langkah semacam ini akan diteruskan oleh para
> pimpinan Kompas/KKG pasca JO nanti. Mereka adalah generasi baru, 
yang
> mungkin kurang menghayati nilai-nilai awal yang ditanamkan generasi
> pendiri.
> > 
> > Mempertimbangkan hal itu, saya berharap, Pak Jakob dengan segala
> kearifannya, sebagai figur yang menjadi panutan dan dihormati di 
KKG
> dan Kompas, dapat ikut campur tangan melakukan intervensi. Karena 
yang
> dipertaruhkan di sini BUKAN cuma nasib Wisudo, Yanu dan keluarga,
> tetapi nasib dan survivabilitas dari KKG, Kompas, dan nilai-nilai
> luhur (core values) yang selama ini dianut, diyakini, dihayati, dan
> terbukti telah membesarkan Kompas.
> > 
> > Selain itu, yang dipertaruhkan bahkan juga bukan nasib sekian 
ribu
> karyawan Kompas dan KKG, tetapi jutaan stakeholders yang berkaitan
> dengan keberadaan institusi media besar ini, termasuk para pembaca
> Kompas di seluruh pelosok Indonesia. Peran media sangat penting 
untuk
> kemajuan negeri ini. Peran vital media seperti Kompas masih amat
> dibutuhkan, untuk ikut menggalang dukungan dari jutaan rakyat
> Indonesia -- yakni, mereka yang masih punya idealisme dan niat 
baik--
> untuk bersama-sama menyelamatkan Indonesia. 
> > 
> > Sekali lagi, saya berharap, agar Pak Jakob, yang saya anggap 
sebagai
> salah satu guru saya dalam ilmu jurnalistik dan wawasan 
kewartawanan,
> bersedia untuk turun tangan langsung, demi kebaikan dan 
kelangsungan
> institusi KKG dan Kompas, beserta nilai-nilai luhur yang selama ini
> memberi makna pada keberadannya. 
> > 
> > 
> > Wasalam,
> > Satrio Arismunandar
> > 
> > (mantan jurnalis Kompas, yang dibesarkan di Kompas pada 1988-
1995,
> dan selama itu banyak belajar tentang ilmu jurnalistik dan kearifan
> dari guru-guru saya di Kompas)
> > 
> > 
> >
> ============ ========= ========= ========= ========= ========= 
========= =======
> > (dari milis AIPI, ditulis oleh Yanu:)
> > 
> > Saya ucapakan Terimakasih atas dukungan yang
> > diberikan Mas Rio terhadap saya dan keluarga.
> > Perlakukan yang diberikan jajaran manajement Kompas
> > terhadap suami saya, adalah satu resiko yang sudah
> > kami hitung sejak lama. Perjuangan suami saya Wis
> > (Bambang Wisudo) tentang pemilikan saham karyaam
> > bukanlah perjuangan yang dilakukan dalam hitungan
> > hari. 
> > Delapan tahun sudah, ia dan teman-temannya di
> > Perkumpulan karyawan Kompas melakukan perjuangannya
> > untuk menuntut mengembalian saham 20% yang diambil
> > oleh perusahaan tanpa sepengetahuan karyawan. Selama
> > itu pula, kami sudah terbiasa dengan berbagai
> > kebijakan dari management Kompas untuk melakukan
> > berbagai penjegalan atas apa yang diperjuangkan suami
> > saya dan kawan-kawan. 
> > Berkaca dari kasus Albert Kuhon, Mas Rio dan Mas
> > Yudha, saya sadar betul bahwa pemecatan terhadap suami
> > saya bukan tidak mungkin akan terjadi. Namun perlakuan
> > dan tindakan para jajaran pimpinan kompas yang
> > menggunakan cara-cara kekerasan yang brutal dan
> > primitif adalah jauh dari banyangan kami. 
> > Sebagai salah satu pilar demokrasi sekaligus
> > intitusi yang menyuarakan serta menggembar-gemborka n
> > persoalan HAM dan Demokrasi maka tidak sepantasnya
> > Kompas melakukan tindakan brutal dan primitif (dengan
> > melakukan penyeretan dan penyekapan) dalam proses
> > pemutusan hubungan kerja. Bahkan sejauh yang saya
> > tahu, pemecatan terhadap buruh linting di pabrik 
> > rokokpun masih dilakukan cara-cara yang sangat sopan. 
> > Sungguh suatu hal yang sangat ironis bagi Kompas
> > yang bangga dengan logonya "Menyuarakan Amanat Hati
> > Nurani Rakyat", perlakuan dan tindakan terhadap
> > karyawannya justru jauh dari apa yang selama ini
> > ditulis besar-besar di bawah kata KOMPAS.
> > Jika saya sedih terhadap kasus suami saya, itu
> > bukanlah karena suami saya dipecat dari Kompas tapi
> > justru karena gambaran Kompas sebagai media tempat
> > suami saya berkarya selama ini adalah Kompas telah
> > mengkhianati dari nilai-nilainya sendiri. Kompas yang
> > impikan oleh suami saya, yang pernah menjadi cita-cita
> > suami saya, ternyata tidak lebih dan tidak kurang
> > dibandingkan pabrik sandal jepit. 
> > Saya justru bangga bahwa karena ditengah
> > gemerlapnya fasilitas materi yang bisa dinikmati
> > wartawan kompas, suami saya masih kukuh untuk
> > menyatakan kebenaran, untuk menggugat hak-hak karyawan
> > yang telah dirampas oleh perusahaan. Dengan itu pula
> > kami dapat tetap melangkah dengan kepala tegak dan
> > hati ringan saat kami meninggalkan kantor Kompas malam
> > itu, karena Kompas tidak lebih dan tidak kurang
> > dibandingkan pabrik sandal jepit.
> > Salam
> > Yanu (Istri Bambang Wisudo)
> > 
> > 
> > 
> >
> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> > Any questions? Get answers on any topic at www.Answers. 
yahoo.com. 
> Try it now.
> >
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> 
_____________________________________________________________________
_______________
> Do you Yahoo!?
> Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
> http://new.mail.yahoo.com
>


Kirim email ke