Ahmad yang baik, Terima kasih atas sentilan ini. Saya tak bisa bicara mewakili kawan-kawan yang lain, tapi percayalah tidak membalas posting anda tidak selalu berarti tidak memperhatikan. Saya tahu ada banyak kawan yang bergerak secara konsisten untuk memberantas praktek suap pada wartawan, baik dalam bentuk teri seperti amplop maupun kelas paus seperti Porwanas.
Teruslah memposting. Insya Allah tetap banyak gunanya. Wassalam -- Tomi Satryatomo http://www.trekearth.com/members/wisat http://wisat.multiply.com "We shall build good ship here, at a profit if we can, at a loss if we must, but... always a good ship." On 20/12/06, ahmad su'udi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bagi saya Porwanas adalah sebuah kesalahan besar dunia > wartawan Indonesia (baca:PIW). Meskipun dilakukan oleh > satu organisasi, namun Porwanas merupakan legitimasi > bahwa semua wartawan penggerogot uang rakyat. Selain > itu Porwanas terbukti menjadi ajang manipulasi > profesi. Setiap digelar ajang ini ada puluhan oknum > bukan wartawan diberi kartu biru PWI untuk bisa jadi > atlet. > Kenapa Anda sekalian tidak tergerak untuk bersuara, > mengajak rekan sejawat yang sepikiran untuk bergerak > menghentikan Porwanas? Antau Anda sekalian juga > mendapat keuntungan dari kegiatan yang didanai uang > rakyat puluhan miliar itu? > Kasus wartawan tanpa media jelas atau bodrek. Mengapa > Anda sekalian juga tak peduli. Seprofesional apapun > Anda sebagai wartawan, percayalah, di pandangan umum, > Anda disamakan dengan bondrek. Bagi saya bodrek itu > sudah masuk ranah kriminal. Mereka memanfaatkan > profesi wartawan untuk melakuka penipuan. Mengapa Anda > sekalian membiarkan itu terus merebak? > > Sampai sekarang nyaris tidak ada langkah signifikan > untuk menutup ruang gerak para pelaku kriminal atas > nama bodrek. Akibatnya kelompok ini semakin lama terus > berbiak dan kian membuat wajah jurnalistik Indonesia > kia berlalat. > > > Luah yang resah > > ahmad s.udi >
