1. Porwanas ada sebelum Anda jadi wartawan, jika Anda tidak ikut makan uang 
rakyat itu berarti Anda bisa tidur nyenyak. Tapi jika Anda sudah menjadi 
Wartawan sebelum ada Porwanas, tidak tahu kenapa Anda dulu membiarkan Porwanas 
ada, jadi sekarang sssstttt, jangan banyak bicara.
   
  2. Wartawan tidak harus mempunyai media yang jelas, misalnya jika Anda 
mencari berita dan hanya Anda sampaikan pada satu atau dua orangpun Anda layak 
disebut Wartawan. Dan bodrex bukanlah sebuah penipuan, melain 
ketidakprofesionalan. Bayangkan, betapa bodohnya orang mau memberi sesuatu pada 
wartawan tanpa alasan tertentu, orang yang mau diperas oleh bodrex, berarti ada 
yang tidak beres dengan orang tersebut. Dan tugas Andalah sebagai wartawan 
sejati untuk mengungkap ketidak beresan itu. jika begitu, berarti keberadaan 
bodrex bisa dimanfaatkan dengan kemampuannya mencium sesuatu yang tidak beres. 
Jadi anggap saja bodrex adalah bagian dari dunia jurnalistik seperti figuran 
dalam film, benalu dalam pohon, gelandangan dalam masyarakat, iklan dalam TV 
dan sebagainya.
   
  SEMUA HANYA MENJALANKAN PERANNYA SAJA
   
  salam damai
  Slave Without Master
  

Tomi Satryatomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Ahmad yang baik,

Terima kasih atas sentilan ini. Saya tak bisa bicara mewakili
kawan-kawan yang lain, tapi percayalah tidak membalas posting anda
tidak selalu berarti tidak memperhatikan. Saya tahu ada banyak kawan
yang bergerak secara konsisten untuk memberantas praktek suap pada
wartawan, baik dalam bentuk teri seperti amplop maupun kelas paus
seperti Porwanas.

Teruslah memposting. Insya Allah tetap banyak gunanya.

Wassalam
-- 
Tomi Satryatomo
http://www.trekearth.com/members/wisat
http://wisat.multiply.com

"We shall build good ship here,
at a profit if we can,
at a loss if we must,
but... always a good ship."

On 20/12/06, ahmad su'udi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>
> Bagi saya Porwanas adalah sebuah kesalahan besar dunia
> wartawan Indonesia (baca:PIW). Meskipun dilakukan oleh
> satu organisasi, namun Porwanas merupakan legitimasi
> bahwa semua wartawan penggerogot uang rakyat. Selain
> itu Porwanas terbukti menjadi ajang manipulasi
> profesi. Setiap digelar ajang ini ada puluhan oknum
> bukan wartawan diberi kartu biru PWI untuk bisa jadi
> atlet.
> Kenapa Anda sekalian tidak tergerak untuk bersuara,
> mengajak rekan sejawat yang sepikiran untuk bergerak
> menghentikan Porwanas? Antau Anda sekalian juga
> mendapat keuntungan dari kegiatan yang didanai uang
> rakyat puluhan miliar itu?
> Kasus wartawan tanpa media jelas atau bodrek. Mengapa
> Anda sekalian juga tak peduli. Seprofesional apapun
> Anda sebagai wartawan, percayalah, di pandangan umum,
> Anda disamakan dengan bondrek. Bagi saya bodrek itu
> sudah masuk ranah kriminal. Mereka memanfaatkan
> profesi wartawan untuk melakuka penipuan. Mengapa Anda
> sekalian membiarkan itu terus merebak?
>
> Sampai sekarang nyaris tidak ada langkah signifikan
> untuk menutup ruang gerak para pelaku kriminal atas
> nama bodrek. Akibatnya kelompok ini semakin lama terus
> berbiak dan kian membuat wajah jurnalistik Indonesia
> kia berlalat.
>
>
> Luah yang resah
>
> ahmad s.udi
>


         

                
---------------------------------
 The all-new Yahoo! Mail goes wherever you go - free your email address from 
your Internet provider.

Kirim email ke