Ck ck ck ck....saya betul2 menyesali pengalaman pahit anda ini, bila di area 
kedutaan America sudah memang terpasang larangan utk memotret mungkin si 
Valasquez ber hak utk menegur dan memeriksa anda dan meminta kembali photo yg 
baru anda ambil diarea tsb, tetapi memberikan kesulitan yg beruntun hingga 
merugikan segala nya itu sudah diluar prosedur security saya pikir.
  Inilah contoh keangkuhan strategy Bush, " IF THERE IS ANY DOUBT TO SOMETHING, 
THEN CONSIDER IT DANGEROUS TO YOURSELF AND YOUR NATION" praduga Bush atas 
senjata kimia di Iraq mengkibatkan negri tsb jadi babak belur, walau ternyata 
tidak bisa dibuktikan America tetap menganggap dirinya paling benar dan ber hak 
utk mengendusi setiap gerak gerik negara manapun, dan sikap si Valasquez ini 
pun tak beda dengan sikap President nya.
   
  Bisakah anda menulis ke majalah Time atau Journal di America atas pengalaman 
anda ini? disitu biasanya ada kolom utk surat pembaca ( just a suggestion....).
   
  Anda tidak sendirian mengalami pelecehan spt ini, dulu saya dengan temen dari 
germany pergi ke Cirebon, dan temen saya tertarik pada sebuah pelabuhan kecil 
tempat perahu2 pemasok barang berlabuh ke wilayah lain, jenis2 perahu angkutan 
ini sudah begitu tua dan karatan (saya lupa nama tempat dan alamatnya) dermaga 
kecil ini begitu sepi, saya tidak melihat satu satpam pun disekitar situ, hoby 
saya dan temen sama dengan anda (photography), kami membidik apa saja, maklum 
bule melihat kapal kusam dan kecil dia langsung clak clik terus cameranya, 
entah dari arah mana seorang petugas menghampiri, menegur kami dgn keras dan 
merampas camera kami, tanpa ba bi bu dibuka paksanya camera kami dan seluruh 
pita film pun di tarik nya keluar...oohhhh kami hanya menutup mulut sedih 
sekali karena banyak photo2 didalam film itu yg kami dapatkan dari bali.
  Kami dibawa kekantor dan tentu saja tak ada satupun yg bisa bhs english 
membuat acara interogasi semakin melelahkan.
  Temen saya ingin sewa pengacara krn merasa dilecehkan, saya pikir saya bisa 
atasi ini tanpa lawyer, my defends was : tidak dipasang larangan utk memotret, 
lalu pintu gerbang terbuka lebar dan mobil2 keluar masuk seperti siapapun bisa 
masuk kesana utk melihat dermaga yg dekil ini, cara mereka yg kasar is so 
unnessecery, but anyway, kami terpaksa membuang waktu dalam kantor yg panas tak 
ber ac itu selama 2 jam menjawab semua stupid qoestions, lalu kehilangan photo2 
berharga yg kami ambil di bali dan lombok.
   
  Hope things are working out for you now, and again Im sorry you have to go 
through such an ordeal .
   
  salam' 
  omie 
   
  

radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
     

 Date: Thu, 4 Jan 2007 13:49:04 +0700
From: "Usep Suhud Natapura" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Pelecehan Hak Sipil Warga Indonesia oleh Kedutaan Amerika di Manila - 
Filipina




    Pelecehan Hak Sipil Warga Indonesia oleh Kedutaan Amerika di Manila - 
Filipina



Apa jadinya jika sebuah negara adidaya memanfaatkan kekuasaannya untuk 
menginjak hak-hak sipil dan menganggap bahwa hidup seorang individu tidak lebih 
penting dari kepentingannya? 

Liburan akhir tahun ini saya isi dengan melakukan perjalanan ke Malaysia dan 
Philippine. Saya terbang bersama Air Asia pada hari Sabtu, 23 Desember 2006 
dengan tujuan Kuala Lumpur.

Selasa, 26 Desember, saya melanjutkan perjalanan ke Philippine, dengan tujuan 
Manila yang mendarat di Clark Airport. Ini adalah kunjungan saya yang pertama 
kali ke Philippine. Air Asia tidak menyediakan jasa penerbangan langsung 
Jakarta-Manila. Saya rencanakan, akan kembali ke 
Kuala Lumpur tanggal 31 Desember untuk merayakan pergantian tahun dengan 
sejumlah teman.

Pemesanan semua tiket pesawat dan voucher hotel baik di Malaysia maupun di 
Filipina, saya lakukan melalui internet. Sehingga semua data akurat tentang 
saya tercantum baik di airline maupun di hotel-hotel yang saya pesan. 

Kamis, 28 Desember, saya mengunjungi Malate, sebuah kawasan turis yang sangat 
terkenal di Manila. Malate ini terletak di tepi Teluk Manila yang jika sore 
hingga larut malam, kawasan ini menjadi pasar malam yang sangat ramai 
dikunjungi oleh masyarakat lokal maupun turis asing. Bahkan sejumlah panggung 
hiburan didirikan untuk menghibur para pengunjung. Hari itu selain keluar masuk 
kawasan Malate, saya juga melintas Roxas Blv untuk melihat-lihat teluk. 

Kamis, 28 Desember itu juga, saya memutuskan pindah dari hotel di daerah 
Paranaque yang jauh kemana-mana [masih kawasan Metro Manila], ke Malate.

Photography adalah hobby saya. Kemana-mana selama liburan ini, saya membawa 
kamera untuk membuat banyak foto. Saya membawa dua kamera sekaligus, satu 
kamera digital dan satu kamera analog. Saya memotret apa saja. Jalanan, rambu 
lalu lintas, gedung-gedung, aktivitas orang, dll. Tak semua subject saya foto 
dengan serius. Kadang, sambil jalan bahkan tanpa melihat sama sekali pada 
subect yang saya bidik. Jika Anda memiliki hobi yang sama dengan saya, Anda 
akan maklum dengan apa yang saya lakukan. 

Setelah puas melihat teluk dan membuat beberapa foto di sana, saya berjalan 
menyusuri pedestrian. Rencana saya adalah mengunjungi Intramuros, sebuah 
kawasan bersejarah penuh bangunan tua di sebelah utara Malate. Di depan sebuah 
gedung yang tidak terlalu saya perhatikan, saya melihat seorang pria tua sedang 
menuntun anjing. Dengan gaya snapshot tanpa melakukan bidikan yang serius, saya 
memotret orang itu dengan anjingnya. 

Saya tidak menyadari bahwa gedung yang ternyata dijaga ketat itu adalah gedung 
kedutaan Amerika. Seorang tentara yang melihat apa yang saya lakukan, memanggil 
saya. Saya kemudian diajak masuk ke bangunan depan kedutaan. Seorang Amerika 
bernama Orlando Valasquez melakukan interogasi.

Saya sudah katakan bahwa apa yang saya lakukan sangat tidak berkaitan dengan 
kegiatan memata-matai gedung, apalagi kegiatan orang-orang di dalamnya. Selama 
tiga jam saya ditanya dengan berbagai pertanyaan yang diajukan masing-masing 
dua hingga tiga kali, seperti misalnya: sudah berapa kali mengunjungi Filipina 
[sekali], mengapa memilih Filipina untuk berlibur [what's wrong with 
Phillippine?], mengapa mampir ke KL dulu sebelum ke Manila [ask the airline], 
mengapa mesti check out tanggal 31 Desember [o, please], apakah ada orang 
Filipina yang saya kenal [Sure, Arroyo the Presiden], mengapa saya menyimpan 
sobekan karcis bioskop [come on]?. 

Pria Amerika yang bernama Orlando Valasquez itu juga membongkar isi handphone, 
isi dompet, memfoto copy semua dokumen seperti KTP, SIM, Passport, tiket 
pesawat, kartu kredit, termasuk juga membongkar buku catatan dan mengambil
kartu nama. Dia juga melakukan telepon ke hotel dimana saya tinggali, juga ke 
kantor di mana saya bekerja di Jakarta. 

Setelah lebih dari 3 jam itu, saya kemudian dilepas. Tanpa ada surat 
penggeledahan, tanpa ada pendampingan dari pihak mana pun.  Saya mengira urusan 
sudah selesai ketika sebelum saya pergi, orang Amerika yang bernama Orlando 
Valasques itu sempat berujar santai: "Enjoy Kuala Lumpur". Saya balas dengan 
ucapan: "Happy new year!" Bahkan, dia meyakinkan saya bahwa 'kasus' yang saya 
alami tak berhubungan dengan pihak imigrasi manapun. Tapi ternyata dia bohong. 

Minggu, 31 Desember, sesuai jadual, saya berencana keluar dari Phillippine 
untuk terbang ke KL, melalui Clark Airport. 

Orang Amerika bernama Orlando Valasques telah meminta petugas imigrasi 
Phillipine untuk kembali melakkan introgasi terhadap saya serta meminta 
film-film [baru/used] dan memory card dari camera digital saya. Bahkan carrier 
yang sudah masuk perut pesawat diturunkan kembali. Pada kesempatan itu, carrier 
maupun daypack saya tidak diperiksa. Tentu saja karena sudah melalui tahap 
scanning.

Seorang petugas dari NBI yang ikut melakukan introgasi, mengatakan bahwa 
keberadaan saya di Filipina, berhubungan 
dengan jaringan Jamaah Islamiah. Sadisnya lagi, saya dituduh membawa bom. Tentu 
saja saya kaget dan sempat berang pada petugas itu. Saya sempat katakan pada 
officer itu bahwa Orang kedutaan telah bohong dan saya tak percaya pada orang 
itu dan pada siapa pun juga. 

Saya minta pemeriksaan dipercepat karena saya tak mau ketinggalan pesawat. 
Ketika saya mulai percaya bahwa saya benar-benar sedang menghadapi masalah 
besar dan minta ada pendampingan dari KBRI, tepat ketika jadual pesawat tinggal 
landas lewat beberapa menit, Orang Amerika bernama Orlando Valasques menelpon 
orang imigrasi dan saya dinyatakan bebas. Sangat tidak masuk akal. Saya 
dinyatakan boleh pergi setelah pesawat yang satu-satunya terbang ke KL hari itu 
telah take off! 

Tak ada satu pun pihak yang bertanggung jawab bagaimana saya bisa membeli tiket 
pulang karena tiket yang saya beli sudah hangus tak terpakai. Tak ada satu 
pihak pun yang dapat menjelaskan kenapa saya tidak diperkenankan naik pesawat 
yang sudah saya pesan. Tak ada satu pihak pun yang dapat menjelaskan kenapa 
saya dituduh berkaitan dengan kegiatan JI. Tak ada satu pihak pun yang dapat 
menjelaskan kenapa saya dituduh membawa bom. 

Saya sama sekali tidak anti Amerika. Jika kemudian surat ini menjadi surat 
terbuka, supaya banyak pihak tahu bahwa atas nama ketakutan yang berlebihan, 
sebuah institusi super besar seperti Kedutaan Amerika merasa bebas melakukan 
pelecehan terhadap warga sipil. Atas nama ambisi pribadi untuk mendapat reward 
dari pemerintahnya, officer kedutaan bernama bernama Orlando Valasquez telah 
mengacaukan dan bahkan menyeret saya dalam masalah yang bisa sangat 
membahayakan keselamatan saya. Bagaimana mungkin dengan tanpa penemuan apapun 
yang mencurigakan ybs bisa membuat asumsi bahwa saya memiliki hubungan dengan 
Jemaah Islamiyah dan bahkan membawa barang telarang?

Kamis, 4 Januari 2007, dua orang dari Kedutaan Amerika di Jakarta berkunjung ke 
kantor saya. Berencana kembali melakukan introgasi tapi saya tak mau meladeni. 
Salah seorang dari mereka mengatasnamakan pribadi meminta maaf yang tentu saja 
tak berarti apa-apa dibandingkan dengan kemalangan yang saya derita. Saya telah 
berkorban tenaga, waktu, pikiran, biaya. Saya juga kehilangan kesempatan 
merayakan pergantian tahun baru bersama kawan-kawan yang sudah kami rencanakan 
jauh-jauh hari. Bahkan yang terburuk adalah, saya telah menjadi trauma jika 
melihat orang dengan seragam aparat. 

Apa anehnya, seorang turis di kawasan turis, di musim liburan, menenteng 
kamera, membuat foto-foto, yang kebetulan saja dilakukan di depan sebuah gedung 
bernama Kedutaan Amerika? Apa karena saya berasal dari Indonesia dan beragama 
Islam? Apakah ada hukum yang mengatur dan hukumannya apa? Bolehkan seorang 
sipil melakukan penggeledahan dan introgasi kepada sivil lain atas alasan apa 
pun? Apakah tindakan yang dilakukan oleh Kedutaan Amerika di Manila sudah 
sesuai prosedur? 
   

   
  Usep Suhud Natapura
  - Words & Images -

  

Kirim email ke