Dian, mempertanyakan soal standar peliputan Hidayatullah adalah "kewajiban" kita yang berpikiran sehat. Lantaran berita- berita yang menjadi positioning media sejenis ini memang berada dalam wilayah sensitif dalam kehidupan masyarakat. Apakah ini mengandaikan bahwa masyarakat mudah termakan opini media seperti Hidayatullah? Tergantung masyarakat yang mana.
Jika ada anggota masyarakat yang konsumsinya hanya media-media seperti hidayatullah, maka dia tidak punya media dan opini pembanding, akibatnya dia bisa saja terpengaruh oleh berita semacam itu. dan masyarakat jenis ini bukannya sedikit. Saya lihat banyak. Apalagi media2 seperti itu didistribusikan hampir seperti multi level marketing. Artinya ia didistribusikan/dipromosikan sebagai majalah "umat" melalui para tokohnya, sehingga masyarakat yang berada dalam lingkar panutannya turut mengkonsumsi majalah tersebut. Lepas dari itu, tetap saja media semacam ini perlu banyak2 dikritisi karena nuansa propaganda dan sektariannya yang kental. Begitupun media2 sektarian di agama lain juga harus kita cermati. Saya berpendapat forum klarifikasi pemurtadan tetap perlu ada, namun ia tidak berdiri berseberangan dengan forum anti pemurtadan, justru menjadi mitranya. Di sinilah kesempatan kerjasama antar agama justru dibangun. Saya rasa kedua belah pihak akan diuntungkan dg kerjasama semacam ini; permasalahan dibuka secara fair dandua arah, dicermati bersama-sama, dirunut bersama dan dicarikan solusinya bersama. --- In [email protected], "Rahadian Permadi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > MOD: > Mas Rahadian, tolong komentarnya di c/c juga ke ZAMANKU. Trims > > > Saya hendak memfokuskan persoalan ini ke masalah berita sebelum Radityo > membuat catatan kecil di bawah posting untuk melanjutkan diskusi ini ke > milis zamanku. > > Sampai saat ini saya belum dengar bahwa ada upaya klarifikasi yang > dilakukan oleh pihak Kristen melalui media tentang praktek kristenisasi > ini. Barangkali memang ada tetapi mungkin saya tidak mengetahuinya. > > Berita ini menjadi meresahkan lantaran dua hal. Pertama dari sisi > berita, sebagian orang menganggap bahwa berita model Hidayatullah adalah > pembentukan opini. Kesadaran masyarakat dibentuk oleh > informasi-informasi yang ada. Dengan kata lain, media membentuk > kesadaran masyarakat. Sehingga sebagian orang menolak model berita > semacam ini dan meminta untuk membuat berita yang baik sebagai bagian > dari pemenuhan hak masyarakat atas informasi. > > Namun persoalan dari argumen ini adalah pengandaian bahwa masyarakat > memiliki kesadaran semu sehingga begitu mudah dibentuk oleh media. > Padahal pengalaman masyarakat sendiri untuk hidup bersama, sekalipun > bentuknya berbeda, membuktikan bahwa berita semacam ini tidak sampai > merubah opini tentang bagaimana hidup berdampingan dengan yang lain. > > Mungkin usulan untuk membuat forum klarifikasi seperti yang dicetuskan > Aquino tidak perlu. Nantinya akan membuat persoalan menjadi islam versus > kristen. Ada baiknya barangkali organisasi-organisasi independen yang > bergerak dibidang informasi membuat semacam media watch. Namun ini juga > bukan persoalan mudah. Sebab jika ada pertanyaan mengenai mutu media itu > sendiri, misalnya dalam kasus Hidayatullah, sangat mungkin akan dituduh > sebagai bagian dari skenario kristenisasi. Atau bahkan lebih parah lagi, > menuduh gagasan pluralisme menyimpan agende tersembunyi. Ini bisa > dilihat dari postingan Ida tentang temannya yang diceramahi oleh > kelompok Islam. Kalau skenario ini memang terjadi persoalannya bukan > lagi masalah berita tetapi sudah ideologis. > > Persoalan kedua adalah masalah isu itu sendiri. Kristenisasi tampaknya > memang dipakai sebagai wacana untuk mengkonsolidasikan gerakan Islam. > Tentu saja tidak semua kelompok Islam. Tetapi dari pengamatan saya, > beberapa kelompok seperti DDI dan FPI misalnya menggunakan wacana > Kristenisasi. Sesungguhnya ini mengingatkan kita kepada Suharto yang > mengangkat-angkat PKI dan Komunisme sebagai ancaman, sekalipun > kenyataannya sangat sulit untuk bangkit lagi (memang komunisme dan > 'kristenisasi' adalah dua hal yang berbeda namun proses penggunaannya > sebagai wacana adalah serupa). > > > > > --- In [email protected], "aquino" <aquino@> wrote: > > > > Ketakutan soal kristenisasi terjadi karena: > > > > 1. Kurang mengenal akrab siapa itu orang kristen > > 2. memang ada praktek2 kristenisasi > > > > > > > > Kurang mengenal akrab tentang kristen; ada banyak jenis kristen, yang > satu > > sama lain bisa dianggap sebagai agama yang berbeda. Katolik misalnya, > tidak > > mengenal pembaptisan instan. Untuk menjadi katolik, orang harus > belajar dulu > > selama 1 tahun. Kalau dia terlalu banyak bolos, harus mengulang > setahun > > lagi. Teman saya yang secara baik2 pindah agama mau masuk katolik > harus > > mengulang pelajaran agama katoliknya selama 3 kali alias 3 tahun > sebelum > > akhirnya dibaptis. Itu karena dia sering bolos pelajaran. Kecuali yang > mau > > dibaptis sedang sakit keras dan hampir meninggal, umumnya gereja > katolik > > tidak mengenal baptis saat itu juga. Kristen lainnya setahu saya bisa > > langsung dibaptis, walaupun beberapa juga mengidealkan adanya > pelajaran > > agama sebelum masuk kristen. > > > > > > > > Banyaknya jenis kristen ini mengakibatkan umat butuh gereja yang > > bermacam-macam. Umat katolik dg kristen pantekosta misalnya, masing2 > butuh > > gereja sendiri (seperti kata Ida Khouw) dan tidak bisa beribadat dalam > satu > > gereja. Oleh karena itulah banyak gereja yang dibangun walaupun > jemaatnya > > sedikit. > > > > > > > > Praktek kristenisasi sampai sekarang memang ada, namun saya tidak tahu > > seberapa intensnya dan dilakukan oleh golongan yang mana - karena > setiap > > agama punya golongan yang sering dikatakan sebagai golongan radikal. > Namun > > yang jelas ketakutan terhadap kristenisasi dibesar-besarkan untuk > > kepentingan politis dan penggalangan dukungan umat. Siapa yang tampil > > membela umat ke depan tentu yang akan dapat nama. Maka bahaya yang > (sering) > > diciptakan adalah antara lain kristenisasi. Sehingga gereja yang > berdiri > > baik-baik dicurigai sebagai misi kristenisasi. Bukti-bukti thd tuduhan > > kristenisasi kurang diteliti dg baik. Berita Hidayatullah yang di > forward > > kader PKS di milis ini misalnya tidak mencoba mencari pihak kristennya > dan > > mengklarifikasi berita yang dimaksud. Begitu banyak berita-berita > kabur > > semacam ini. Contohnya lagi penemuan 3 buah buku bergambar kristen > dalam > > ratusan buku sumbangan korban gempa di Yogya dianggap sebagai > kristenisasi, > > padahal dari segi proporsi saja sudah tidak representatif kalau itu > dibilang > > kristenisasi. > > > > > > > > Dari kaum kristen sendiri tidak cerdas menangani isu ini, mereka diam > saja > > sehingga seolah-olah membenarkan bahwa kristenisasi ada. Jika kelompok > Islam > > punya Forum Anti Pemurtadan, mungkin ada baiknya kelompok kristen > bikin > > Forum Klarifikasi Pemurtadan, yang bekerja sama erat dg Forum Anti > > Pemurtadan.Jika ada pemurtadan dg tipu muslihat seperti dikabarkan > > Hidayatullah, maka harus segera ditindak dan diambil langkah hukum. > > > > > > > > Dari sisi teologis, kasus-kasus semacam ini menunjukkan bahwa memang > > pengakuan terhadap pluralitas adalah situasi yang tidak bisa > ditawar-tawar > > lagi. Karena kristenisasi maupun Islamisasi (sebetulnya kita banyak > menutup > > mata terhadap islamisasi - padahal jauh lebih gencar daripada > kristenisasi. > > Di mall-mall atau di banyak tempat buku-buku yang sifatnya > "menggoyahkan" > > iman kristen banyak dijumpai, dan diterbitkan sebagian oleh penerbit2 > > berafiliasi Islam) bersumber dari anggapan teologis bahwa mereka yang > ada di > > luar agamaku adalah kafir, sehingga perlu diselamatkan. Dengan > mengakui > > bahwa keselamatan ada di dalam agama lain, maka sebetulnya kita bisa > > mencegah kristenisasi atau islamisasi yang sangat mengganggu kehidupan > > berbangsa. > > > > > > > > Dalam postingan Ida ada hal yang menarik; yaitu ide jangan- jangan isu > > kristenisasi disebarkan dalam rangka pecah-belah. Artinya bisa jadi > ada > > pihak2 yang berperan sebagai kristen dan pura2 mau mengkristenkan umat > lain > > dg cara2 yang vulgar dan menimbulkan amarah. Mengingat konflik2 > sektarian di > > tanah air sering terjadi, bukan tidak mungkin hal ini yang terjadi. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > _____ > > > > From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On > Behalf > > Of Rahadian Permadi > > Sent: 07 Januari 2007 17:14 > > To: [email protected] > > Subject: [mediacare] Re: Geger "Kristenisasi" di Depok > > > > > > > > Sudah berkali-kali berita semacam ini diposting. Dari beberapa yang > saya > > baca memang berasal dari satu sumber Hidayatullah. Ada baiknya jika > pihak > > gereja sendiri diberikan ruang untuk bicara. Namun tampaknya sumber > berasal > > dari satu pihak saja. Barangkali memang ada kelompok Kristen yang > radikal > > tetapi saya belum melihat mereka melakukan Kristenisasi. > > > > Pada paragraf terakhir, Ade menulis bahwa "berita-berita buruk semacam > ini > > justru dapat kita manfaatkan untuk perbaikan di masa depan." Masih > belum > > jelas apa maksud berita buruk yang anda maksud? Apakah maksudnya > > kristenisasi itu adalah berita buruk atau penulisan beritanya yang > buruk? > > > > Saya juga ingin tahu bagaimana pendapat Wido si pengirim berita > tentang > > persoalan ini? > > > > > > > > > > --- In [email protected], adenina@ wrote: > > > > > > Rekan-rekan. > > > Saya risau sekali dengan komunikasi yang terjalin soal isu > kristenisasi > > ini. > > > Saya berasumsi bahwa para peserta milis ini tergolong kaum > berpendidikan > > > yang diharapkan justru bisa mengarahkan masyarakat luas untuk hidup > dengan > > > penuh kedamaian. > > > Tapi kentara sekali bahwa banyak peserta diskusi yang mengedepankan > emosi > > > seraya mengabaikan substansi masalah. > > > Saya rasa, berita dari hidayatullah itu justru perlu diangkat secara > luas, > > > selama kita bersedia membicarakannya secara dingin. > > > Maksud saya begini: > > > > > > Pertama-tama, kalau berita itu benar, saya rasa itu persoalan > serius. Dan > > > kita ditantang untuk menjawab sebuah pertanyaan besar: apakah layak > > > penyebaran agama dilakukan dengan cara menipu dan mengiming- imingi > > > anak-anak? Apakah penyebaran agama layak dapat dilakukan dengan > prinsip > > > 'tujuan menghalalkan cara'. Saya akan menjawab tidak. Lebih dari itu > saya > > > menyarankan agar kita bersama-sama menyuarakan penolakan terhadap > > > bentuk-bentuk penyebaran agama dengan cara tidak etis semacam itu. > > > > > > Kedua, kalau berita itu benar, apakah model penyebaran agama semacam > itu > > > mewakili arus utama dalam organisasiu-organisasi Kristen, atau > sekadar > > > mewakili kalangan ekstrem tertentu. Sepanjang yang saya ketahui, ini > > > adalah gaya kalangan radikal Kristen tertentu dan bukan ciri > mainstream > > > Kristen. Karena itu, sebagaimana layaknya kita harus membedakan > antara > > > arus utama umat islam dengan kelompok radikal Islam, kita juga tidak > > > mudah2 menuduh apa yang terjadi sebagai kesalahan umat Kristen > secara > > > umum. Dalam hal ini, saya menyarankan juga teman-teman beragama > Kristen > > > bisa menjelaskan secara proporsional kepada umat non-Kristen tentang > kaum > > > Kristen eksklusif tersebut. > > > > > > Ketiga, bagaimana kalau berita itu ternyata tidak benar? Karena itu, > > > alih-alih langsung bereaksi keras, yang bisa dipertanyakan adalah > > > kesahihan berita Hidayatullah tersebut. Apakah ini ditulis dengan > gaya > > > 'jurnalisme katanya' seperti yang secara sangat memalukan terjadi > dalam > > > kasus pemberitaan 'adam air' , atau memang dengan mengikuti > > > prinsip-prinsip jurnalistik yang benar. Kalau tidak salah sih, > berita ini > > > tidak ditulis dengan peliputan berimbang (cover both sides). > Akibatnya > > > akurasi dan kebojektifannya pun mungkin bisa diragukan. > > > > > > Saya rasa dengan bersikap lebih hati-hati semacam ini, berita- berita > buruk > > > semacam ini justru dapat kita manfaatkan untuk perbaikan di masa > depan. > > > Kalau setiap berita buruk dihadapi dengan cercaan, saya kuatir kita > justru > > > tidak cukup siap menghadapi kondisi-kondisi yang mensyaratkan > respons > > > bersama. > > > > > > Salam > > > > > > ade% > > > > > >
