Saya setuju dengan anda.

Anak-anak memang adalah ibarat tanah subur untuk menampung benih-benih 
rohani. Maka tidak salah, umumnya Gereja-gereja, menyelenggarakan Ibadah 
khusus bagi anak-anak, yang dinamai Sekolah Minggu. Di sanalah mereka 
dididik tentang ajaran-ajaran Alkitab. Kepada mereka diperkenalkan siapa 
Yesus dan orang-orang beriman lainnya dalam bentuk cerita, drama, atau 
gambar-gambar. Cara pendekatannya disesuaikan dengan usia mereka. Saya 
yakin sekali seyakin, yakinnya di Sekolah Minggu manapun tidak pernah 
ada kesempatan para pendidik untuk membahas apalagi untuk menjatuhkan 
atau menjelekkan agama lain. Biasanya prosedur SM itu mirip dengan 
ritual di Gereja buat orang dewasa (bernyanyi, berdoa menerima pengajaran).

Bulan Agustus yl. saya berkunjung ke Indonesia dan menginap di rumah 
teman. Keluarga ini beragama Kristen, punya pembantu beragama Islam.  
Suami/istri, kedua teman saya bekerja (suami pegawai, istri pramugari). 
Si pembantu mereka ini sangat rajin sembahyang baik subuh maupun magrib. 
Mereka masih punya anak perempuan berusia 2 1/2 thn.yang otomatis lebih 
banyak menghabiskan waktu dengan pembantu di rumah sehari-harinya. 
Setiap sore saat Azan break acara TV si anak menyaksikan baik di TV 
demikian pembantunya akan naik ke lantai atas untuk sembahyang.

Saya jadi tertawa, ketika menyaksikan anak yang bijak ini satu kali. 
Sore itu dia duduk di depan TV dengan si Mbaknya bersama-sama menonton 
TV. Tiba-tiba saya mendengar suaranya yang lucu berkata: Mbak gih 
cembahyang dah maglib, Ika juga ambil ail udu yah! katanya sambil 
menirukan tayangan di TV itu. Ketika si Mbaknya naik ke kamarnya di atas 
sambil tersenyum simpul, si Ika kecil masih mengingatkan mbaknya di 
tangga, mbak janan takut ya, di atas juga ada Yesus ya! teriaknya 
bagaikan penasehat yang meyakinkan diri sendiri, bahwa mbaknya pasti 
kembali kepadanya habis sembahyang.

Ketika saya menceritakan cerita yang buat saya lucu dan menarik itu pada 
orangtuanya, mereka hanya tertawa. Si anak ini sudah terbiasa melihat 
orangtuanya tidak akan meninggalkan tempat tidur sebelum mereka berdoa 
bersama termasuk dengan si anak. Demikian juga sebelum si anak tidur 
selalu diajak berdoa bersama. Kehidupan rohani mereka semakin 
menyuburkan hati anak ini untuk menerima hal-hal yang rohani, tapi 
karena dia masih 21/2 tahun dia belum bisa membedakan ajaran Islam dari 
ajaran Kristiani, namun orangtuanya tidak pernah berkata, mengambil air 
wudu itu adalah ajaran yang menyesatkan dan bukan ajaran Yesus.

Anak ini juga pintar dan suka nyanyi, maka sepanjang hari saya akan 
mendengarkan senandungnya, menyanyikan lagu-lagu yang dia dapat dari SM. 
seperti Yesus cintaku, Dia cinta kau, kau cinta Dia sambil 
memperagakannya pada si mbaknya. Kalau mbaknya pergi belanja, dia akan 
wanti-wanti mbaknya: Mbak ati-ati ya, ada Tuan Yesus, jangan takut ya!

Perayaan Natal yang dirayakan di TV selama 'sebulan' telah membuat 
mereka kebakaran jenggot. Bagaimana dengan acara Azan pagi dan sore yg 
ditayangkan semua TV setiap hari sepanjang tahun di seluruh Indonesia? 
Benteng apakah yang dapat dipakai keluarga kristen selama ini?

Maaf karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam, dapat diterima 
bahwa mayoritas pembantupun adalah Islam. Jarang sekali umat kristen 
yang mampu membayar pembantu, mempekerjakan orang kristen, melainkan 
orang Islam, karena selain tidak pilih kasih, mencari pembantu kristen 
itu susah. Maka kenyataan, sebaliknya anak-anak orang beragama Islam 
jarang sekali bersentuhan dengan pengaruh kristiani. Mana ada keluarga 
Islam yang menerima pembantu dari latar belakang kristen?

Pantaskah saudara-saudara yang beraga Islam mengalami ketakutan demikian?

Syalom
Roslina


Al-Mahmud Abbas wrote:
>
>
> Begitulah kalau wawasan dan spiritualitas hanya sebatas jengkal, tidak 
> ada penghayatan mendalam arti dan makna agama. Jadi ketika anaknya 
> bilang pengin masuk kristen gara2 nonton TV sudah kebakaran jenggot 
> bagaikan mau digarong dan dikeroyok seribu syaiton, lantaran tak tahu 
> apa dan bagaimana ilmu agama dan tidak tahu bagaimana memberi tahu 
> tentang agama-agama kepada anak-anaknya. Tetangga saya orang kristen 
> tidak pernah heboh ketika anaknya pinten adzan dan menirukan sholat 
> gara2 setiap hari melihatnya di TV, bahkan dengan santainya menjadi 
> bahan obrolan tanpa sedikitpun kelihatan khawatir anaknya masuk Islam.
> Saya kira tidak perlu dibesar-besarkan selama kita masih sepakat 
> sebagai negara Pancasila yang mengakui agama-agama lain sebagai agama 
> yang baik dan mengajarkan kebaikan. Proteksi memang perlu dilakukan 
> tetapi akan lebih baik tidak perlu dengan menyulut kebencian yang 
> mengotori nurani.
>
> Wassalam.
>
>
> On 1/9/07, *sobratsobat* <[EMAIL PROTECTED] 
> <mailto:[EMAIL PROTECTED]>> wrote:
>
>     Aku forward email dari milis Sabili soal kristenisasi. Buatku jelas
>     kalau isu ini telah dengan seenak udelnya diartikan sesuai dengan
>     selera orang yang bersangkutan. Judulnya saja pakai tanda tanya,
>     artinya yang nulis juga belon yakin tapi sudah melempar isu. Ini bukan
>     lagi kesalehan dalam beragama tapi kebencian dan kecurigaan.
>
>     -----Original Message-----
>     From: [EMAIL PROTECTED] <mailto:sabili%40yahoogroups.com>
>     [mailto: [EMAIL PROTECTED] <mailto:sabili%40yahoogroups.com>]
>     On Behalf
>     Of A Nizami
>     Sent: 09 Januari 2007 18:17
>     To: media dakwah; sabili; padhang-mbulan; Saksi
>     Subject: [Sabili] Kristenisasi Lewat Program Natal di TV?
>
>     Assalamu'alaikum wr wb,
>     Bulan Desember dan 1 Januari lalu ada 3 momen penting.
>     Tanggal 25 Desember: Natal, 30 Desember: Idul Adha, dan 1 Januari:
>     Tahun Baru Masehi.
>
>     Ternyata sejak awal bulan Desember hingga tanggal 8 Januari kemarin
>     gaung Natal masih muncul di TV-TV Swasta. Entah itu lewat lagu-lagu
>     natal, film-film natal, ucapan2 natal, serta acara perayaan Natal.
>
>     Idul Adha yang merupakan hari besar ummat Islam nyaris terendam oleh
>     acara natal di TV. Seolah-olah mayoritas penduduk Indonesia ini bukan
>     Muslim.
>
>     Begitu gencarnya acara Natal di TV hingga sebulan lebih, sampai-sampai
>     anak saya, Hana, yang berusia kurang dari 5 tahun berkata, "Ma aku mau
>     masuk Kristen" Istri saya dan saya segera memberi tahu bahwa
>     orang-orang Kristen itu musyrik. Mereka menyembah 3:
>     Tuhan yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus.
>     Sementara Islam menyembah hanya 1 Tuhan yang Maha Kuasa.
>
>     Dengan kejadian itu, ada baiknya kita mewaspadai acara TV terutama
>     jika memasuki bulan Desember. Sepertinya acara natal di TV yang
>     jor-joran sebulan penuh (bahkan bisa lebih) sudah jauh dari kewajaran.
>
>     Demikian pula hiasan-hiasan natal di mal-mal di mana penjaga toko yang
>     mayoritas muslim disuruh mengenakan topi Santa Claus. Sangat
>     menyedihkan.
>
>     Ada baiknya surat ini kita renungi:
>
>     Al Kafiruun:
>
>     1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
>     2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
>     3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah 4. Dan aku tidak
>     pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah 5. dan kamu tidak pernah
>     (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
>     6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
>
>     ===
>
>
>  

Kirim email ke