Pak Danny salah, yang benar memang AS.. karena AS sudah memprediksi bahwa
kalaupun bantuan diberikan lebih ke Indonesia maka oleh Indonesia
kemungkinan sebagian toh akan diberikan kepada (untuk membantu)
'saudara2nya' di Palestina. Jadi dari pada jalannya muter2 jangan2 malah
habis dikorup lebih baik langsung saja. Mungkin juga jangan2 AS sudah bisik2
dengan para tokoh di sini... (????!!!!!!!!!!!!!!).. ihik..ihik... lucu
kwadrat kan ?.

Wassalam.


On 1/14/07, Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

   DL - Haaah ..... bantuan AS ke Palestina lebih banyak dibanding bantuan
AS ke Indonesia? Mungkin itu sebabnya AS dicaci-maki setan oleh muslim
Indonesia, AS bagi-bagi duitnya sedikit sih ke Indonesia, he he he.
Anyway, lucu kok tingkah laku muslim Indonesia, bolehlah jadi bahan tontonan
banyolan dari luar negeri sini, ihik ihik .......... :-).


SUARA PEMBARUAN DAILY
------------------------------
The Global Nexus

Palestina Lebih Prioritas daripada RI

*Christianto Wibisono*

Pada 15 Desember 2006 *Or- ganization of Economic Cooperation and
Development* (OECD) mengumumkan ranking prioritas bantuan luar negeri AS
ke Dunia Ketiga.

Diluar Irak dan Afghanistan, Indonesia masuk sebagai juru kunci dari 10
besar. Dan yang mengejutkan, Palestina di nomor 9 memperoleh bantuan US$ 180
juta. Sedang Indonesia hanya US$ 161 juta.

Karena penduduk Indonesia lebih dari 220 juta, maka jelas per kapita
bantuan AS ke Palestina jauh berlipat ganda dibanding Indonesia.

Bantuan ke Irak melebihi US$ 10 miliar begitu pula Afghanistan US$ 1,4
miliar. Di luar dua negara yang sedang perang itu, maka Sudan menduduki
ranking pertama dengan US$ 771 juta, Ethiopia 625 juta, Mesir 397 juta,
Pakistan 362 juta, Yordania 354 juta , Kolumbia 334 juta Uganda 242 juta,
Serbia/Montenegro 181 juta.

Setelah Palestina dan Indonesia, maka 8 negara lain ialah Haiti US$ 154
juta, Eritrea dan Congo masing masing 141 juta, Kenya 138 juta, Afrika
Selatan 137 juta, Meksiko 129 juta, Zambia 124 juta, dan Nigeria 120 juta.

Angka bantuan itu di luar bantuan militer yang jelas sangat besar untuk
Pakistan dan Mesir dalam perang teror maupun dalam perimbangan terhadap
Israel.

Perkembangan mutakhir kemelut internal Palestina mengungkapkan bahwa Mesir
memberi bantuan kepada kelompok Fatah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas untuk
menandingi Hamas.

Sebanyak 2.000 laras senjata laras otomatis dan 22.000 dengan dua juta
peluru diserahkan melalui Mesir kepada kelompok Fatah.

Sementara di Teheran, Wali Kota Mohamad Baqer Qalibaf, pensiunan Marsekal
Angkatan Udara, menguasai DPRD Teheran dan hanya menyisakan dua kursi untuk
klik pendukung Presiden Ahmadinejad.

Qalibaf sangat populer karena memperbaiki jalan raya Teheran yang
berkubang, membersihkan sampah, dan membangun rekreasi kanak-kanak di daerah
kumuh di selatan Teheran.

Ahmadinejad dinilai hanya pintar berpidato mengutuk AS, tapi tidak
melakukan tindakan konkret bagi perbaikan ekonomi dan nasib penduduk miskin
Iran.

Menghadapi Iran, elite politik Arab Saudi juga terpecah dua. Waperdam dan
Menhan Pangeran Sultan termasuk garis keras yang tidak ingin melihat Iran
menjadi polisi regional Timur Tengah bersenjata nuklir. Sementara kubu Menlu
Saud al Faisal bisa menerima dialog dengan Teheran.

Akibatnya terjadi dualisme politik Arab Saudi yang tercermin dalam heboh
pergantian Dubes Arab Saudi di Washington DC. Selama 22 tahun, Pangeran
Bandar (putra Pangeran Sultan) menjadi dubes terlama di Ibukota AS.

Baru 15 bulan lalu ia digantikan oleh Pangeran Turki bin Faisal (saudara
dari Menlu Pangeran Saud) yang ditarik dari Dubes di London. Sebelumnya
Turki adalah Kepala Dinas Intelijen Arab Saudi, yang mengatur pengungsian
keluarga Bin Laden dari AS , segera setelah teror 911.

Pangeran Bandar tetap mondar mandir ke Washington bahkan Dubes Turki bin
Faisal tidak tahu menahu kedatangan apalagi misi Bandar ke Ibukota AS.

Ternyata Bandar melakukan manuver langsung ke Gedung Putih untuk tidak
terlalu moderat dalam menghadapi Iran.

Dubes Turki al Failsal mengundurkan diri dan akan diganti oleh diplomat
muda Adel Al Jubier alumnus Georgetown University Washington DC. Adel sudah
menjadi jubir dan *public relations* andal untuk Arab Saudi, bahkan sejak
era Dubes Bandar bin Sultan.

*Diplomasi Global*

Di tengah percaturan diplomatik global yang serba "selingkuh" itu,
bagaimana Indonesia bisa mencuat agar bisa mempunyai *leverage *atau *bargaining
position* yang kuat dan memperoleh prioritas dalam ranking kepentingan
global AS.

Eduardo Lachica, mantan kolumnis *The Wall Street Journal adalah* pengagum
Susilo Bambang Yudhoyono.

Ia heran mengapa ide cemerlang Yudhoyono tentang Irak yang dilontarkan di
Bogor tidak bergema. Saya menyatakan bahwa orang di Indonesia semua sibuk
dan was-was kalau ada insiden dalam kunjungan mampir Bush ke Bogor.

Jadi orang tidak mempunyai gagasan, wawasan, atau wacana untuk
memanfaatkan pertemuan itu secara substansial. Kecuali mengamankan teater
diplomatik itu secara audio visual.

Substansi apa yang mestinya diperjuangkan oleh Indonesia dalam diplomasi
global yang begitu rumit bila kita terjebak pada sikap apriori anti-AS,
anti-Bush, anti-Barat, anti-asing dan segala macam retorika yang lebih Hamas
dari Hamas, lebih Hezbollah dari Hezbollah, dan mungkin lebih Arab dari Arab
Saudi sendiri.

Hamas dan Hezbollah pun sekarang harus belajar berdiplomasi jika ingin
memasuki medan kekuasaan politik dan tidak bisa lagi mengandalkan teorisme
atau kekerasan.

Fatah di bawah Mahmoud Abbas sekarang malah menjadi mitra yang dipercaya
AS dalam melahirkan Palestina yang bersedia berkoeksistensi dengan Israel.

Mesir dan Yordania dengan cerdik berdiplomasi dengan Israel dan kemudian
menagih kuitansi bantuan militer ekonomi ke AS, yang jumlahnya tercermin
dalam ranking yang diumumkan OECD. Begitu pula Pakistan dan India, semuanya
berbentuk kemitraan strategis bernilai miliaran dolar.

Pertanyaan Eduardo Lachica yang gagasannya untuk mengorbitkan ide
perdamaian Timur Tengah dari Jakarta tentu sulit saya jawab karena publik
dan elite di Jakarta, dalam persaingan domestik kadang-kadang tidak
memperhitungkan kepentingan nasional secara arif bijaksana.

*Lebih Agresif*

Artinya, kalau Riyadh, Kairo, dan Amman berhati-hati dalam menyambut
kemenangan Hezbollah yang berarti dominasi Iran di Timur Tengah yang semakin
kokoh, maka elite Jakarta tampaknya malah lebih agresif dari Arab Saudi,
Mesir, dan Yordania dalam "mengagungkan Teheran" sebagai kiblat dan model
kekuatan *mbalelo* anti-AS.

Dengan permainan diplomatik seperti itu, tentu saja Jakarta sulit "menjual
agenda strategis".

Penasihat Presiden Dr Syahrir menyatakan tidak akan mungkin kekuatan
ekstremis radikal merebut kekuasaan di Indonesia. Kekuatan moderat, toleran,
dan pluralis akan tetap dominan, mayoritas, dan menentukan politik luar
negeri RI.

Mudah-mudahan optimisme Bung Syahrir benar dan Jakarta bisa tegak punya
misi, visi, dan strategi sendiri untuk mengutamakan kepentingan nasional
Indonesia ketimbang menjadi "antek" siapapun.

Mungkin kalau nanti ada waktu Eduardo Lachica yang akan berkunjung ke
Jakarta untuk menjual ide *Jakarta Plan for Middle East Peace Settlement*,
bisa bertemu Dr Syahrir dan juga Presiden Yudhoyono.

Tentu saja semua itu harus bermuara konkret supaya Indonesia, tidak
sekadar jadi "anak bawang". Melainkan benar benar memperoleh posisi 
dan*intangible
* maupun *tangible benefit* yang setara dengan posisinya. Lucu sekali
kalau demo di depan Hotel Indonesia memaki AS dan membela Palestina.

Sementara Palestinanya sendiri kebagian bantuan yang jauh berlipat ganda
dari RI yang malah cuma jadi *footnote *dalam daftar bantuan AS. Semua
hanya gara-gara kita kurang bisa berdiplomasi, tapi ahli dalam demonstrasi
hura maki tanpa manfaat.

Penulis adalah pengamat masalah internasional

------------------------------
*Last modified: 8/1/07*

GIF image

Kirim email ke