Pendapat Fira ini rasanya perlu didengar oleh personel Bola, tapi sayangnya 
Fira memberi masukannya tidak jelas. Apa yang dimaksud dengan "memberi nuance 
pada komentarnya"? Jika "nuance" Fira sama dengan "nuance" di kepala saya, maka 
berarti 'subtle difference'. Elaborasi atau contoh dari "memberi nuance" tentu 
akan lebih membantu kita memahami pendapat Fira, bukan?
   
  Yang kedua adalah pernyataan bahwa wartawan Bola menganggap diri mereka 
adalah dewanya sepakbola. Akan sangat mencerdaskan kita semua kalau Fira mau 
mengelaborasi pernyataan ini lagi.
   
  Kesimpulan saya: dalam emailnya, Fira mengajukan argumentasi yang jelas 
merupakan ad hominem, penyerangan argumentasi berdasarkan fakta irelevan orang 
yang mengeluarkan argumentasi, dalam hal ini Dedi R. dan wartawan Bola. Ini 
jelas satu bentuk fallacy. Soalnya yang dibahas dalam email Fira bukan 
pendapatnya, melainkan identitas personalnya. Tidak saya temukan sama sekali 
pendapat dan komentar mana dari Dedi Rinaldi yang Fira maksud.
   
  Sayang sekali.
   
  Linus Martir
   
  
lostdevin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          > He..he...
> Kalau saya mengikuti gaya berpikir anda, saya akan bilang jangan-
jangan anda karyawan BOLA yang sudah mapan dan tidak pernah mau 
belajar lagi? Kacau kan?
> 
> Mari hilangkan perjudice dan cobalah anda menyimak lagi komentar-
komentar para wartawan BOLA di televisiterutama Dedi R (untung sudah 
menghilang) dibanding komentator dari media lainnya. Seperti ToWel 
misalnya. Saya denger dia alumni BOLA juga ya? Tapi toh dia mau 
belajar memberi nuance pada komentarnya.
> 
> Kalau ini dianggap masukan ya syukur. Tapi saya kok ragu, karena 
wartawan BOLA kan menganggap diri mereka sebagai dewanya sepakbola.
> 
> Apakah saya "karyawan sakit hati BOLA"? Mungkin. Tapi apakah 
dengan kemakmuran BOLA seperti sekarang ada juga karyawan yang sakit 
hati? Ada apa nih di BOLA? He..he..
> 
> fira
> 
>



         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke