Menonton Badai pasti berlalu ( bpb ) – versi modern di abad Tekno Kapitalis 
popular sekarang ini. Untuk Selera para penonton mendapatkan apa yang biasa di 
dapatkan ketika menonton sinetron Tv – “apa adanya” – di pastikan penonton akan 
mendapatkan semua keinginan tersebut dari Cerita hingga ke teknikal produksi 
film BPB.
   
  Keberanian sutradara, Teddy mengunakan style Handheld/Drift/Shaking camera 
untuk BPB  patut di bilang “Gila” dan ‘BEDA untuk sebuah Film BPB.  paling 
enggak, kemungkinan ‘’dapat’ memberikan efek modern di bandingkan BPB versi 
asli. Namun di sayangkan -  pendekatan style seperti yang di inginkan Teddy 
malah membuat jalannya film menjadi tidak mulus. Di beberapa adegan cukup 
memberi effect “ Asik” yang bisa membuat PUSING penonton menatap layar 21. 
kemungkinan terjadinya banyak goyangan camera yang tidak di inginkan pada saat 
produksi, Cameraman  masih mengunakan Steady cam ‘Manual” alias di panggul.
   
  Cinematography BPB dengan style Komposisi gambar yang selalu padat sebetulnya 
bagus untuk medium TV sepertinya terlalu di paksakan untuk Film. Kasihan untuk 
para pemain yang di ambil Close Up - kesan Melar dengan terpotongnya Head room 
menjadi tontonan yang Lucu. 
   
  Cinematography menjadi kekurangan utama dari pengambaran ( BPB ) sangat 
banyak shot-shot yang out of focus dan begitu miskin tata cahaya untuk film 
classic sekelas Badai Pasti berlalu. 
   
  Film BPB di era Masyarakat Film Indonesia mengembalikan Piala citra - Apakah 
memang harus serba MINIMALIS? dari artistic – lightning hingga cerita yang di 
paksakan Minimalist. Tetapi, untuk jualan Rokok LA jelas tidak minimalis - Hard 
Sell sekali.
   
  Menonton awal BPB penonton akan merasakan Kesan bertele-tele di berbagai 
adegan – Leo – Joni dan Siska saat liburan telah mengiring penonton hampir 30 
an menit hanya untuk proses “sembuh” dari patah hati – Untung ada Winky yang 
semangkin Matang memberikan warna tersendiri hingga mampu mengurangi kelemahan 
acting dari Gino V Bastian. 
   
  Kalau saja proses Audio Mixing bisa di lakukan dengan baik mungkin suara 
‘’cempreng” Gino V Bastian bisa di perbaiki dengan tools audio filter yang ada. 
Pada saat adegan party malah terdengar cukup jelas efek antara original tepuk 
tangan pemain dengan efek tepuk tangan dari CD library.
   
  Konsistensi alur cerita juga menjadi kelemahan yang telah memaksa penonton 
berkerut – editing yang tidak manis dan dragging berlebihan. Salah satunya 
adegan saat leo meluapkan ekpresi kepergian siska di tengah hujan dengan style 
fast cut edit ala nayato – di looping alias di ulang-ulang. Begitu juga 
perpindahan adegan yang cukup membuat binggung penonton. Meskipun cutting style 
telah modern. Adegan di toko buku ketika leo mengajak menemani siska ke dokter 
tiba-tiba adegan telah berpindah siska sudah di ruang tunggu registrasi Dokter. 
Cukup membuat binggung.
   
  Walaupun cerita BPB lemah dan bertele-tele di bagian awal menjelang 
berakhirnya film cukup menarik. Akhirnya Badai Pasti Berlalu bagus buat di 
tonton di TV. Sebagai sebuah Product BPB telah memenuhi segala persyaratan 
untuk sebuah SINETRON di TV. 
   
   
  Salam

 
---------------------------------
Sucker-punch spam with award-winning protection.
 Try the free Yahoo! Mail Beta.

Kirim email ke