Perlu dipertanyakan juga zaman edan itu yang seperti apa? Menurut saya kalau 
menyikapi segala sesuatu dengan kacamata yang mempertahankan nilai-nilai dan 
norma yang perlu di up-date dan tidak bisa terbuka pada perubahan lingkungan, 
mungkin kita bukan masuk zaman edan, namun zaman purba.

Saya senang ada yang memberikan reaksi pada pemikiran saya, meski bersebrangan. 
Jadi saya nggak cuma onani pikiran (maaf kalau istilahnya nggak enak untuk 
sebagian orang, karena saya belum menemukan kata yang mampu mengekspresikan 
sama dengan kata itu), ada yang mau merespon. 

Kalaupun pemikiran saya dianggap edan, saya merasa tidak, karena saya tidak 
menyarankan anak kecil dibekali kondom, namun perempuan yang sudah mengalami 
menstruasi perlu tidak sekedar dibekali pengetahuan bagaimana membersihkan diri 
saja dan konsekuensi dari perilaku seksnya, namun juga perlu tahu apa haknya 
atas tubuhnya. Bahwa seks itu sendiri adalah kenikmatan tidak bisa dipungkiri, 
lalu buat pada dibohongi apalagi ditakut-takuti, perempuan tidak perlu takut 
dengan hasratnya, namun dia harus tahu kenapa hasrat itu muncul dan bagaimana 
itu berhubungan dengan menstruasinya. Kalau dia sudah paham, maka dia sudah 
bisa berdiskusi untuk mengetahui hak atas tubuhnya, bagaimana dia ingin 
menghargai tubuhnya, dengan siapakah dia akan berbagi kenikmatan seksnya serta 
semua konsekuensinya termasuk aborsi dan segala konsekuensinya, bahwa dia pun 
punya hak atas kenikmatan itu dan kenapa seks yang lebih aman dengan 
menggunakan kondom itu penting bagi keselamatan nyawa dan tubuh dia serta hak 
tawar dalam menikmati tubuh serta seksualitasnya. Bukan dengan memberangus 
kenyamanan tubuh perempuan dan menjadikannya polisi moral dirinya dan laki-laki 
sekitarnya, kalo begini sih bagi saya seperti Taliban versi baru saja.

nb: mungkin anda salah dengan orang lain, kebetulan saya belum pernah masuk 
fakultas kedokteran, karena saya (meski menghormati profesi dokter) tidak 
tertarik menyelesaikan masalah hanya dari seni gen, otak dan DNA, it's just not 
me. ;0)

GAYa NUSANTARA
Mojo Kidul I # 11A
Surabaya 60285
East Java-Indonesia

Phone/fax: + 62 31 591 4668
  ----- Original Message ----- 
  From: manneke 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, March 13, 2007 1:58 PM
  Subject: [mediacare] Re: Serem



  He he he, yang ngomong Dekan Fakultas Kedokteran lagi. Apa nggak edan? 
Mending dengerin ramalan Joyoboyo aja deh. Paling enggak ramalannya akan 
datangnya zaman edan sudah terbukti :)

  manneke

  -----Original Message-----

  > Date: Mon Mar 12 20:50:27 PDT 2007
  > From: "GAYa NUSANTARA" <[EMAIL PROTECTED]>
  > Subject: Re: [mediacare] Re: Serem
  > To: [email protected]
  >
  > Salah satu yang diharapkan dari media sebagai salah satu alat hegemoni 
adalah kemampuannya untuk menyampaikan suatu informasi yang akurat dan tidak 
timpang. Namun, saya rasa itu memang masih merupakan perjalanan yang masih 
sangat jauh untuk di capai.
  > 
  > Semua tulisan membicarakan rekan kita kaum muda, tapi saya tidak melihat 
adanya media menyorot kaum muda untuk bersuara atas keadaan yang dimaksudkan. 
Bukankah ini menjadikan mereka yang merasa sudah tua (bukan dewasa lho ya, tua) 
sekali lagi seperti sedang menjejalkan sirih yang sudah dikunyah olehnya dan 
mekasa kaum muda untuk menelan. Apalagi menggunakan kata gairah seksual pada 
remaja sebagai beringas sementara yang tua tidak? Oh c'mon lah kita tahu bahwa 
kaum tua pun tidak kalah beringas dengan gairah seksual mereka. Siapa lagi yang 
doyan beli viagra dan segala obat perangsang kalau bukan mereka yang sudah 
tidak remaja lagi...Jangan memandang hanya kaum muda kita saja yang tidak mampu 
berpikir kritis dan bijak, berapa bapak-bapak yang senang jajan ke lokalisasi 
tanpa kondom dan tertulas HIV kemudian memberikan bonus itu pada istri 
tercinta? Justru sekarang ini saya lihat kaum muda kita mulai mau terbuka pada 
pemahaman mengenai seksualitas serta konsekuensinya, darip ada kaum tua yang 
merasa sudah makan asem garam kehiduan.
  > 
  > Anyway, saya secara pribadi tidak melihat perilaku maupun gairah seksual 
remaja dan orang tua perlu dibedakan dan disalah-salahkan, karena it's human 
nature, secara biologis kala menjelang menstruasi perempuan memang akan lebih 
bergairah secara seksual, baik itu tua maupun muda. Kala sperma sudah banyak 
laki-laki pun akan memiliki kecenderungan mudah terangsang dan bergairah pula 
secara seksual. Dan tidak ada hubungannya antara gairah seksual dan semakin 
mudanya usia menstruasi, ini karena semakin baiknya gizi pada kaum muda kita, 
tidak ada hubungan dengan gairah seksual, duh please deh...
  > 
  > Yang lebih menjadi masalah bagi saya dari tulisan di bawah adalah adanya 
penyikapan pada tubuh perempuan (meski tidak ditulis, tampak jelas yang selalu 
dipermasalahkan berpakaian minim selalu perempuan, maklum kalau laki-laki pamer 
udel nggak ada yang mempermasalahkan). Kenapa perempuan selalu diletakkan 
sebagai polisi atas birahi laki-laki? Kalau laki-laki mudah terangsang, maka 
merekalah yang perlu berbenah diri. Bagi saya secara pribadi bagaimana 
seseorang berpakaian tergantung pada bagaimana seseorang merasa nyaman dengan 
keadaannya, kalau dengan rok mini dan tank top dia merasa lebih pede saya 
merasa itu tidak seharusnya menjadi masalah. 
  > 
  > Justru saya melihat masih lemahnya penghormatan para rekan adam (terutama 
yang mudah mata gelap, maklum mungkin pendidikan seksualitasnya minim ato nggak 
ada sama sekali) pada tubuh perempuan. Sudah terlalu lama tubuh perempuan 
dijadikan objek seksual mereka, sehingga ketika melihat sedikit bagian dari 
perut dan paha saja birahi sudah memuncak. You know what? itu justru yang 
menjadi masalah, it has to stop! Sementara perempuan justru tidak boleh punya 
objek seksual, mereka akan dicap murahan kalau begitu, padahal laki-laki kalau 
tertawa-tawa sambil bergosip mengenai tubuh perempuan tidak ada yang merasa itu 
perlu dipermasalahkan, this also has to stop!
  > 
  > Kalau mau bicara seksualitas, ayolah kita perlu sedikit jujur, baik agama 
maupun norma sudah tidak lagi mampu menakut-nakuti kaum muda untuk menggali 
seksualitas mereka. Jangan berpikir bahwa keluarga berantakan pasti 
menghasilkan anak yang nggak keruan, karena dari keluarga yang terlihat baik 
dan saleh pun sering saya dapati anak yang sudah matang seksualitasnya 
(kebetulan saya konselor), karena mereka merasa 'aman' dari kecaman. Bagaimana 
kaum muda kita mau menahan gairah seksual mereka ketika mereka tahu yang doyan 
pakai ayam abu-abu adalah pak ini, pak itu, yang memadati lokalisasi juga para 
kaum adam yang sudah tidak muda lagi. Wong contohnya mereka dapati sendiri dari 
mereka yang justru tidak muda lagi, kalau sudah gini bagaimana?
  > 
  > Pada dasarnya yang sangat dibutuhkan oleh kaum muda kita adlan informasi 
yang benar dan tepat mengenai seksualitas, tanpa ada tendensius untuk 
menakut-nakuti mereka (seperti terlalu banyak masturbasi akan membuat mereka 
mandul, aduh please deh, begitu mereka tahu kalau ini boongan, maka hilanglah 
sudah kepercayaan mereka pada kaum tua dan mereka akan mencari informasi yang 
mereka butuhkan sendiri). Saya justru menyarankan pendidikan seksualitas, 
sehingga mereka tahu apa hak dan kewajiban mereka sebagai kaum muda. Kita nggak 
bisa bilang kamu masih muda selibat dulu, tapi kita bisa bilang, kalau memang 
sudah tidak bisa dibendung lagi, lakukan hubungan seks yang lebih aman, yaitu 
menggunakan kondom. Kalau kondom masih terus dikecam dengan norma yang 
berlebihan, maka penularan IMS dan HIV serta tingginya angka penguguran 
kandungan serta kelahiran yang tidak diinginkan akan menjadi dilema tanpa akhir.
  > 
  > GAYa NUSANTARA
  > Mojo Kidul I # 11A
  > Surabaya 60285
  > East Java-Indonesia
  > 
  > Phone/fax: + 62 31 591 4668
  > ----- Original Message ----- 
  > From: ati gustiati 
  > To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] 
  > Sent: Tuesday, March 13, 2007 3:24 AM
  > Subject: [mediacare] Re: Serem

  >> Sumar Sastrowardoyo <[EMAIL PROTECTED]> 
  > 
  > Serem, Berpakaian Minim
  > 
  > a.. Picu perilaku seks bebas 
  > b.. Usia belasan hamil duluan 
  > Banjarmasin, BPost
  > Pakaian tipis, minim dan terbuka menjadi salah satu faktor timbulnya 
perilaku seks bebas. Sebab hal itu mampu memancing gairah seks lawan jenis. 
Oleh karena itu, peran sekolah, agama dan keluarga diharapkan mampu mengarahkan 
gaya berpakaian remaja.
  > 
  > "Akibat provokasi pornografi yang sedemikian terbuka, terus-menerus dan 
melampaui batas, otomatis menimbulkan perilaku seks bebas. Apalagi sekarang 
ini, remaja kita sangat mudah tergoda dengan perilaku seks bebas," jelas Taufik 
R Nasihun.
  > 
  > Penjelasan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung 
(Unissula) Semarang disampaikan dalam semina r kesehatan bertema Reproduksi 
Sehat, Bahaya Seks Bebas Ditinjau Dari Aspek Medis, Psikiatri dan Islam, Sabtu 
(10/3), yang diselenggarakan SMAN 1 Banjarmasin di aula sekolah itu. Seminar 
diikuti pelajar SMA/SMK se-Kota Banjarmasin.
  > 
  > Secara biologis, kata dia, remaja sudah siap melakukan hubungan seks. 
Namun, secara emosional, tingkat kematangan seks mereka masih perlu pembinaan 
dan arahan agar tidak berperilaku menyimpang, apalagi sampai hamil di luar 
nikah. 
  > 
  > Agar mereka mengenal lebih jauh dampak dari perilaku seks bebas tersebut, 
lanjutnya, kampus yang ia pimpin terus berusaha menyampaikan kepada remaja 
tentang dampak yang ditimbulkan dari seks bebas tersebut.
  > 
  > Dokter Pudjiati, ketua pelaksana seminar menambahkan, kalau dulu, seorang 
perempuan mendapatkan haid pertama (menarche) usia 17 tahun, sekarang perempuan 
sudah mendapat haid pertama usia 10-12 tahun, bahkan sembilan tahun.
  > 
  > Oleh karenanya, timpal Ahmadi NH, Kabag Psikiatri Unissula, peran orangtua, 
guru dan BK (bimbingan konseling) di sekolah harus jalan. Karena siswa, apalagi 
yang sudah mulai masuk masa pubersitas perlu dibekali pola pikir sesuai aturan 
dan agama. 
  > 
  > "Termasuk dalam hal berpakaian, agar tidak sampai merangsang lawan jenis. 
Untuk itu, sekolah dan orangtua perlu memberikan aturan sedemikian rupa tentang 
tata cara berpakaian anak-anaknya," katanya. 
  > 
  > Karena perilaku seksual remaja di negara-negara maju dan berkembang, 
umumnya melakukan hubungan seksual pada usia belasan tahun yang kemudian 
cenderung mengakhiri kehamilannya dengan cara menggugurkan kandungan. Kemudian 
memilih menikah usia yang relatif tua dan sering menderita infeksi penyakit 
menular seksual. 
  > 
  > "Untuk itu perlu dilakukan penghayatan agama yang memadai, lingkungan dan 
teman bergaul diperhatikan, serta pendidikan yang memadai. Termasuk mereka yang 
kawin lambat, kalau tidak diimbangi dengan agama dikhawatirkan bisa terjerumus 
dengan perbuatan yang menyimpang (seks bebas)," katanya. mdn
  > 
  > 
  > 
  > ----------------------------------------------------------
  > 8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time
  > with theYahoo! Search movie showtime shortcut.
  > 
  > 
  > 
  > 
  > ----------------------------------------------------------
  > 8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time
  > with theYahoo! Search movie showtime shortcut. 
  > 
  > 
  > 
  > 
  > ----------------------------------------------------------
  > 
  > 
  > No virus found in this incoming message.
  > Checked by AVG Free Edition.
  > Version: 7.5.446 / Virus Database: 268.18.8/714 - Release Date: 3/8/2007 
10:58 AM



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition.
  Version: 7.5.446 / Virus Database: 268.18.10/720 - Release Date: 3/12/2007 
7:19 PM

Kirim email ke