Indra: Bung, sadarkah kalau Anda mengetik tanpa
melihat langsung ke Freeport atau Newmont (tapi hanya
membaca penelitian, mungkin cuma dari internet bukan
dokumen aseli penelitian tersebut)? Bacakah titik koma
hingga tuntas? Sadarkah kalau email Anda yang
mengumbar penelitian dari seluruh dunia itu hanya
menyilet luka lebih dalam bagi rakyat Minahasa?
Dokumen penelitian itu tidak dipublikasikan ke
masyarakat sana, yang tak bisa akses ke internet.
Punya komputer pun tidak, Bung.

amartien: Berita mengenai hasil laboratorium2 tsb. ada
di surat2 kabar Indonesia.  Seperti yang saya sudah
tulis di posting saya sebelum ini, sayangnya, banyak
opini2 yang ditulis di media yang 'melupakan' hal ini.

Inddra: Coba dibalik, kalau ada sepupu atau nenek Anda
hidup dan berkudis seumur hidup di sana, apa Anda akan
membeberkan dokumen yang kian memberatkan hidup
saudara-saudara Anda? 

amartien: Saya akan mencari tahu apa yang menyebabkan
hal tsb. 

Permulaan dari pada hal ini adalah pada waktu seorang
penduduk menderita penyakit dan kemudian seorang
dokter umum di Manado mengatakan bahwa itu adalah
dikarenakan oleh merkuri, tanpa melaksanakan
penyelidikan lebih lanjut.  Kemudian dari sini
berkembang dan hasilnya kita sudah tahu semua, yaitu
dengan dibawanya Newmont ke pengadilan. 

Indra: Saya tak punya saudara sedarah di sana, tapi
tepa selira sedikit lah. Have some sense. 

amartien: lookn into a mirror.

Indra:
PS. 
1. Government failure memang sudah berakar-urat di
Indonesia, tapi jangan hanya disalahkan. Dikoreksi,
Bung. 

amartien:
Setuju.  Saya tidak bisa melihat bagaimana 'koreksi'
itu jika anda dan orang2 yang sependapat dg. anda
ngotot bahwa Newmont mencemarkan perairan di teluk
Buyat.  Meng koreksi sesuatu adalah dengan kembali ke
persoalan asalnya.  Yaitu, selidiki mengapa orang tsb.
sakit seperti itu. Seperti yang saya sebut diatas,
diagnosa dokter yang per-tama2 memeriksa orang sakit
tsb. hanyalah diagnosa tanpa penyelidikan di
laboratorium, dan dimana dokter tsb. sama sekali bukan
ali mengenai penyakit Minamata.


Indra:2. Ugh, Freeport itu tak hanya tembaga tapi emas
juga (btw, mekanisme emas untuk stabilitas ekonomi
dunia pernah tahu 'kan?) Karena gak bisa baca kontrak
perpanjangan Freeport (kontrak dalam Bahasa Inggris,
d'uh) makanya bagi hasil Indonesia cuma keraknya aja.
Bisakah lawyer kampung bertarung global? Btw, anggaran
negara untuk bayar lawyer (aka staf ahli) hanya 12
juta per bulan potong pajak dan harus warga negara
Indonesia ber-KTP. (pernah tahu mekanisme APBN kita
yang bolong-bolong kayak keju nikmat buat tikus
koruptor?) Think macro, Bung.

amartien:
Saya tahu mengenai kontrak mengontrak pem. Indonesia. 
Yang ikut andil dari pem. Indonesia didalam negosiasi
kontrak pastilah meminta bayaran.  Disitulah kuncinya
jika seandainya kontrak bagi hasil menurut anda tidak
sepadan.

Freeport, ataupun perusahaan luar negeri dari manapun
juga, tidak bisa berbuat apa2 di indonesia jika itu
tidak dijinkan didalam perjanjian dengan pemerintah
indonesia.  

Seperti yang saya sudah bilang sebelum ini, banyak
sekali orang Indo yang pandai2. Saya selalu senang
sekali melihat banyaknya tenaga ahli Indonesia
terpakai di luar negeri.  Bahkan ada juga orang
indonesia yang sampai bekerja di Indonesia dengan
dasar gaji orang Amrik (umpamanya).  jadi dia itu
bekerja di Indonesia, tetapi gaji dollar.  Hebat
sekali bukan?  saya pun sangat bangga akan mereka2
itu.  Berbunga hati melihat mereka, ter-lebih2 lagi
ada dari mereka2 itu yang jauh lebih muda dari saya.
(Nulis ini pun sambil senyum senang).

jadi sekali lagi, janganlah berpikiran begitu minder
mengenai kepandaian orang2 Indonesia.  Banyak yang
pandai.  Fakta adalah bahwa jika pem. Indonesia
memberikan kontrak kerja ke suatu perusahaan, baik
perusahaan itu adalah perusahaan domestik maupun luar
negeri, kontrak besar maupun kecil, banyak sekali
pengeluaran 'yang terselubung', yang kemudian
akhir2-nya merugikan rakyat Indonesia sendiri, tetapi
menjadikan bank account pejabat yang terlibat kontrak
tsb. menjadi membengkak.  






--- Sociopathos Limited <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Bung, sadarkah kalau Anda mengetik tanpa melihat
> langsung ke Freeport atau Newmont (tapi hanya
> membaca penelitian, mungkin cuma dari internet bukan
> dokumen aseli penelitian tersebut)? Bacakah titik
> koma hingga tuntas? Sadarkah kalau email Anda yang
> mengumbar penelitian dari seluruh dunia itu hanya
> menyilet luka lebih dalam bagi rakyat Minahasa?
> Dokumen penelitian itu tidak dipublikasikan ke
> masyarakat sana, yang tak bisa akses ke internet.
> Punya komputer pun tidak, Bung.
> 
> Coba dibalik, kalau ada sepupu atau nenek Anda hidup
> dan berkudis seumur hidup di sana, apa Anda akan
> membeberkan dokumen yang kian memberatkan hidup
> saudara-saudara Anda? 
> 
> Saya tak punya saudara sedarah di sana, tapi tepa
> selira sedikit lah. Have some sense. 
> 
> Indra Razak
> 
> 
> PS. 
> 1. Government failure memang sudah berakar-urat di
> Indonesia, tapi jangan hanya disalahkan. Dikoreksi,
> Bung. 
> 2. Ugh, Freeport itu tak hanya tembaga tapi emas
> juga (btw, mekanisme emas untuk stabilitas ekonomi
> dunia pernah tahu 'kan?) Karena gak bisa baca
> kontrak perpanjangan Freeport (kontrak dalam Bahasa
> Inggris, d'uh) makanya bagi hasil Indonesia cuma
> keraknya aja. Bisakah lawyer kampung bertarung
> global? Btw, anggaran negara untuk bayar lawyer (aka
> staf ahli) hanya 12 juta per bulan potong pajak dan
> harus warga negara Indonesia ber-KTP. (pernah tahu
> mekanisme APBN kita yang bolong-bolong kayak keju
> nikmat buat tikus koruptor?) Think macro, Bung.

Kirim email ke