Bung, terima kasih Anda 'mengkritisi' masyarakat Buyat dan rumor merkuri  tanpa 
ada pretensi. Sayangnya, Anda hanya mengutip berita-berita di koran tentang 
penelitian itu, tanpa pernah membaca dokumen penelitian itu hingga titik 
komanya. Kesalahan umum yang selalu membuat saya takjub. Kok bisa ya? 

Indra Razak
(aseli orang Indonesia, bukan penggiat NGO)


PS: 
Saya berbagi sedikit data dan informasi yang harus dibaca dengan kepala dingin.

Data 1: Tim kajian Menneg LH juga mengakui bahwa kadar arsenik (bukan merkuri) 
yang ada di daerah sekitar Pante Buyat lebih tinggi dan harus dikaji lebih 
lanjut. Silakan buka dokumen resmi Menneg LH yang mudah didapat di 
Internet:[http://www.menlh.go.id/i/art/pdf_1098163289.pdf]
 
Data 2: Tentang dampak arsenik, merkuri, dkk dalam jangka waktu tertentu (NMR 
beroperasi sejak 1996) perlu kajian kesehatan dan genetis khusus. Beban 
anggaran tidak dipusatkan di Depkes, lagipula hanya staf Depkes (jabatan: 
non-eselon) yang jadi anggota tim Menneg LH ini. (sumber: orang dalam Depkes)

Data 3: Saat pengadilan memutuskan, belum ada kajian lebih lanjut karena 
anggaran (di departemen manapun) untuk kajian arsenik dan substansi lain 
(terutama tentang dampak kesehatan/genetis) belum turun. 

Kesimpulan sementara: Luka rakyat Buyat adalah murni karena birokrasi Indonesia 
Raya. As simple as that, tapi maaf, luka itu jangan ditambah lebar, Bung.


PSS: 
Koreksi pasar hanya butuh sebuah kebijakan dan sepaket peraturan. Dalam waktu 
singkat, industri ikut apa kata Pemerintah. 
 Koreksi pemerintah? Butuh waktu lebih lama dan a long list of unbearable 
efforts.
 
 Belum ada memang penelitian berapa banyak orang Indonesia yang pandai secara 
akademis dan emosional (lulusan Binus atau ITB atau UI) yang merangkak karier 
di birokrasi. Yang saya tahu memang banyak dekan dan rektor 'loncat' jadi 
menteri atau dirjen. Saya malah ingat beberapa tahun silam, kawan-kawan saya 
yang tidak lulus ITB UI dkk, atau tak mampu bayar masuk ke Trisakti Binus dkk 
(boro-boro terbang ke luar negeri), akhirnya memilih masuk STAN (sebuah lembaga 
pendidikan yang menghabiskan uang rakyat yang seharusnya diliberalisasi saja, 
kata Prof Didik Rachbini di satu forum tahun lalu). Lihat kasus IPDN? Sebuah 
kampus lain dengan anggaran negara (baca: uang rakyat) yang menerapkan 
militerisme dari ujung kaki hingga dalam otak. Jadi, butuh waktu lama untuk 
mengkoreksi pemerintah.


amartien <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  Indra: 
Bung, sadarkah kalau Anda mengetik tanpa
 melihat langsung ke Freeport atau Newmont (tapi hanya
 membaca penelitian, mungkin cuma dari internet bukan
 dokumen aseli penelitian tersebut)? Bacakah titik koma
 hingga tuntas? Sadarkah kalau email Anda yang
 mengumbar penelitian dari seluruh dunia itu hanya
 menyilet luka lebih dalam bagi rakyat Minahasa?
 Dokumen penelitian itu tidak dipublikasikan ke
 masyarakat sana, yang tak bisa akses ke internet.
 Punya komputer pun tidak, Bung.
 
 amartien: Berita mengenai hasil laboratorium2 tsb. ada
 di surat2 kabar Indonesia.  Seperti yang saya sudah
 tulis di posting saya sebelum ini, sayangnya, banyak
 opini2 yang ditulis di media yang 'melupakan' hal ini.
 
 Inddra: Coba dibalik, kalau ada sepupu atau nenek Anda
 hidup dan berkudis seumur hidup di sana, apa Anda akan
 membeberkan dokumen yang kian memberatkan hidup
 saudara-saudara Anda? 
 
 amartien: Saya akan mencari tahu apa yang menyebabkan
 hal tsb. 
 
 Permulaan dari pada hal ini adalah pada waktu seorang
 penduduk menderita penyakit dan kemudian seorang
 dokter umum di Manado mengatakan bahwa itu adalah
 dikarenakan oleh merkuri, tanpa melaksanakan
 penyelidikan lebih lanjut.  Kemudian dari sini
 berkembang dan hasilnya kita sudah tahu semua, yaitu
 dengan dibawanya Newmont ke pengadilan. 
 
 Indra: Saya tak punya saudara sedarah di sana, tapi
 tepa selira sedikit lah. Have some sense. 
 
 amartien: lookn into a mirror.
 
 Indra:
 PS. 
 1. Government failure memang sudah berakar-urat di
 Indonesia, tapi jangan hanya disalahkan. Dikoreksi,
 Bung. 
 
 amartien:
 Setuju.  Saya tidak bisa melihat bagaimana 'koreksi'
 itu jika anda dan orang2 yang sependapat dg. anda
 ngotot bahwa Newmont mencemarkan perairan di teluk
 Buyat.  Meng koreksi sesuatu adalah dengan kembali ke
 persoalan asalnya.  Yaitu, selidiki mengapa orang tsb.
 sakit seperti itu. Seperti yang saya sebut diatas,
 diagnosa dokter yang per-tama2 memeriksa orang sakit
 tsb. hanyalah diagnosa tanpa penyelidikan di
 laboratorium, dan dimana dokter tsb. sama sekali bukan
 ali mengenai penyakit Minamata.
 
 Indra:2. Ugh, Freeport itu tak hanya tembaga tapi emas
 juga (btw, mekanisme emas untuk stabilitas ekonomi
 dunia pernah tahu 'kan?) Karena gak bisa baca kontrak
 perpanjangan Freeport (kontrak dalam Bahasa Inggris,
 d'uh) makanya bagi hasil Indonesia cuma keraknya aja.
 Bisakah lawyer kampung bertarung global? Btw, anggaran
 negara untuk bayar lawyer (aka staf ahli) hanya 12
 juta per bulan potong pajak dan harus warga negara
 Indonesia ber-KTP. (pernah tahu mekanisme APBN kita
 yang bolong-bolong kayak keju nikmat buat tikus
 koruptor?) Think macro, Bung.
 
 amartien:
 Saya tahu mengenai kontrak mengontrak pem. Indonesia. 
 Yang ikut andil dari pem. Indonesia didalam negosiasi
 kontrak pastilah meminta bayaran.  Disitulah kuncinya
 jika seandainya kontrak bagi hasil menurut anda tidak
 sepadan.
 
 Freeport, ataupun perusahaan luar negeri dari manapun
 juga, tidak bisa berbuat apa2 di indonesia jika itu
 tidak dijinkan didalam perjanjian dengan pemerintah
 indonesia.  
 
 Seperti yang saya sudah bilang sebelum ini, banyak
 sekali orang Indo yang pandai2. Saya selalu senang
 sekali melihat banyaknya tenaga ahli Indonesia
 terpakai di luar negeri.  Bahkan ada juga orang
 indonesia yang sampai bekerja di Indonesia dengan
 dasar gaji orang Amrik (umpamanya).  jadi dia itu
 bekerja di Indonesia, tetapi gaji dollar.  Hebat
 sekali bukan?  saya pun sangat bangga akan mereka2
 itu.  Berbunga hati melihat mereka, ter-lebih2 lagi
 ada dari mereka2 itu yang jauh lebih muda dari saya.
 (Nulis ini pun sambil senyum senang).
 
 jadi sekali lagi, janganlah berpikiran begitu minder
 mengenai kepandaian orang2 Indonesia.  Banyak yang
 pandai.  Fakta adalah bahwa jika pem. Indonesia
 memberikan kontrak kerja ke suatu perusahaan, baik
 perusahaan itu adalah perusahaan domestik maupun luar
 negeri, kontrak besar maupun kecil, banyak sekali
 pengeluaran 'yang terselubung', yang kemudian
 akhir2-nya merugikan rakyat Indonesia sendiri, tetapi
 menjadikan bank account pejabat yang terlibat kontrak
 tsb. menjadi membengkak.  
 





 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke