Kalau mengikuti berita ini, kok rasanya gak adil juga ya porsi pemberitaannya. Kan memang sudah tradisi kita, kalau ada kecelakaan, tak peduli penyebab kecelakaannya apa dan siapa, yang yang besar atau yang lebih kuat yang selalu disalahkan dan yang digebuki massa. Mobil dan motor tabrakan, pasti salah mobil. Motor tabrak sepeda atau tabrak pejalan kaki, yang salah selalu motor. Tidak peduli apakah pejalan kakinya nyebrang sembarangan atau tiba2 muncul, pokoke sing gede sing disalahken.
Kasus ini juga kan sama. Kita seakan tidak mau peduli duduk permasalahan yang sebenarnya. Yang bawa senjata selalu salah. Tapi ingat, kedua belah pihak sama2 bawa senjata loh di sini. Bedanya cuma marinir senjata api, massa senjata tajam. Tapi marinir kan memang kemana2 kalau lagi jam tugasnya ya selalu bawa senjata ? Lalu yang harus ditanyakan, massanya ngapain datang beramai-ramai bawa clurit ? Kalau mengenai apa yang dikatakan pak Ruhut soal etnis tertentu itu, ya mungkin saja memang benar kalau ada etnis tersebut yang terlibat. Kan memang lokasinya dekat sekali dengan daerah asal etnis tersebut. Tapi mungkin tidak harus serta merta menunjuk etnisnya, tapi lebih ke perseorangannya. Tapi kalau kita semua mau lebih teliti lagi, masyarakat dari etnis yang disebutkan itu memang benar banyak sekali menebar permasalahan di banyak tempat. Dan sebagian besar adalah masalah tanah, batas tanah, dan rumah tempat tinggal. Dan sebagian besar adalah masalah pendudukan tanah atau rumah milik orang lain dengan tidak sah. Coba saja cek. Sebut saya rasis, dalam kasus ini saya tidak keberatan. Tapi coba lakukan riset, segala kriminalitas dan semua perselisihan yang terjadi. Dan buat statistic berdasarkan asal daerah pihak yang terlibat. Regards. Paulus T On 6/6/07, Sociopathos Limited <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
1. Siapa Ruhut itu? (pernah miskin gak dia?) 2. Kalau 'dikompori' etnis lain, nanti etnis itu bukannya malah marah di tempat lain lalu rusuh di mana-mana, kemudian isu permasalahan tidak lagi di masalah utama "RAKYAT MATI TERTEMBAK MARINIR" 3. Ini standar divide et impera, bukan? Apapun alasannya, faktanya adalah: 1. korban telah jatuh 2. marinir yang membunuh itu tidak berada di daerah operasi militer Selain itu, lihatlah TV, para tersangka itu masih muda. Anak lelaki muda dikasih senapan, ibarat diberikan alat vital oleh Yang Maha Kuasa agar dipakai untuk tunjukkan ke-macho-annya. Boys will be boys. Jangan perlebar masalah, Pak. Mari kita betulkan bersama, misalnya: 1. beri kadet TNI kita mata pelajaran HAM 2. ajari mereka main komputer (ada game tembak-tembakan SIMS yang lebih konstruktif strategis daripada nembak beneran) 3. latih kesabaran mereka dengan konsisten, banyak metode untuk latih kesabaran Jangan perlebar masalah, Pak Ruhut. Rakyat sudah sengsara nih... Indra
