Dear Ibu Muskitawati, Saya jawab dibawah tulisan Ibu:
On 6/14/07, muskita wati <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Andaikan N250 dulu selesai disertifikasi, bukan > > tidak mungkin akan terjual. > > Kalo memang N250 bisa lulus sertifikasi terbang, > artinya designnya memenuhi syarat untuk bisa terbang > bukan berarti bisa dijual. --------------------------------------------- Yang berbicara adalah Aerospace Engineer, dan kalau dilihat di footer-nya ada tulisan case4de GmbH (mungkin rekan-rekan disini ada yang ngerti apa artinya itu http://www.case4de.com/web_fr/index.php ) Silahkan baca kutipan berikut dgn lebih jelas. Memang benar CN 250 belum disertifikasi, namun hal itu karena terbentur masalah dana "IPTN (skrg PT DI) sudah membuat prototype N250 untuk keperluan flight test sebanyak 2 buah: PA1 dan PA2. Kedua pesawat ini lah yang mengikuti proses sertifikasi. saya agak ragu dengan statement komentator tadi bahwa pesawat yg dibuat Northrop tidak lulus sertifikasi. Pesawat manakah yang dimaksud?? (ask audience) Curiga saya, yang dimaksud oleh komentator bola tersebut adlh sertifikat untuk production line. Itupun ga masuk akal karena type certificate nya saja belum keluar. Proses sertifikasi bukan saja melakukan analisa atas hasil design yang dilakukan tetapi juga proses, testing dan dokumentasi. selain itu juga komponen yang dipakai dalam pesawat tersebut jg harus mendapat sertifikasi dimana merupakan vendor luar. sebagai contoh kursi pesawat harus mampu bertahan sampai dengan 15G. padahal manusia sendiri tidak ada yang sanggup menahan 10G. Diduga kelengkapan dokumen dari proses design lah yang menyebabkan terhambatnya proses sertifikasi. Singkatnya, kegagalan memperoleh sertifikasi bukan melulu karena kegagalan design. Lebih bagus kalau bapak komentator tadi menyertakan design mana yang salah (dan dasar argumentasinya). Saat itu beberapa review, N250 cukup unggul dikelasnya. ada sedikit kritik atas tingginya stall speed dibandingkan pesaing. tapi ini bukan kegagalan dus salah design. Satu hal lagi yang harus dicatat bahwa proses sertifikasi butuh biaya yang sangat besar. Proyek N250 ini sudah menelan 650 juta USD dan butuh 100 juta USD lagi untuk melengkapi proses sertifikasi.( http://www.seattletimes.com/news/business/html98/ind_032298.html) Proses sertifikasi belum selesai, dikantong udh ga ada duit. dan menurut saya memang itulah jalan yang harus ditempuh. ketika rakyat sedang kelaparan, tak bijak rasanya kalau dana dihabiskan untuk proyek ini. ada prioritas lain. walau kalau dilihat nilainya msh jauh dibandingkan dengan dana BLBI. Implikasinya jelas ketika proyek ini tidak lg dikucurkan dana, N250 tidak bisa masuk pasar dengan cepat. padahal speed time to market bagi industri pesawat penting. " Karena, kenyataannya pabrik Fokker bangkrut meskipun > semua produknya laku dijual, tetapi bukan cuma Fokker > yang bangkrut, juga pabrik pesawat Northrop tutup > bangkrut karena pesawatnya tak laku dijual kalah > bersaing bukan karena pesawatnya tidak lulus > sertifikasi terbang. > > Demikianlah, N250 tak perlu kita perbincangkan > designya karena sudah jelas pesawat ini berteknologi > kuno yang tidak layak dibuat oleh sebuah pabrik tetapi > cukup dibuat oleh para amatiran saja. Pesawat ini > designnya sudah salah sehingga tak lulus untuk test > bisa terbang dengan kata lain, kalo dipaksa terbang > ibarat layangan singit yang nubruk kekanan dan kekiri > apabila ada angin kencang yang datang. ---------------------------------------------------------------- Kalau dibilang kuno pada saat ini (bukan saat itu), menurut saya tidak kuno, namun dalam tulisan yang dikirim rekan alumni saya, memang ada disebutkan sebagai berikut (saya harap Anda membaca tulisan dgn teliti) "Habibie memang ingin me-review N250 karena dinilai design yang dahulu sudah tidak cocok dengan kondisi pasar saat ini dan proyeksi kedepan. Seperti EADS sudah mengeluarkan seri terbaru ATR42/72-500, Dash 8 keluar seri Dash-8 Q400. Dan jangan lupa bahwa tantangan sekarang juga datang dari Cina. Cina walaupun sudah memproduksi dan mendesign pesawat cukup banyak, so far hanya ada 2 pesawat yang mengantongi sertifikat dr FAA yaitu Y12 (sekelas twin otter) dan MA60 (sekelas N250, ATR 42). Menurut rencana Merpati pun akan beli 15 pesawat MA60 dan beberapa teknisinya sudah di training disana. bukankah ini juga merupakan demand bagi PT DI dgn pesawat komuternya?" Jadi untuk sekedar bisa terbang saja sudah tidak > lulus, bagaimana masih bisa bermimpi kalo punya > sertifikat bisa menjualnya???? Karena kalo cuma > sertifikat terbang bisa saja dipalsu, misalnya nyogok > kanan kiri atau bikin sertifikat yang ASPAL, aseli > tapi palsu. --------------------------------------------- Bodoh, untuk dapat sertifikasi terbang mana bisa nyogok. Dan kenyataannya, N250 bukan hanya tidak lulus > sertifikasi terbang, terbukti bahwa dipaksa terbang > dan dipaksa jual didalam negeri dengan hasilnya bahwa > semua (tak satupun) pesawat N250 akhirnya jatuh dengan > alasan cuaca buruk dan pesawat tidak bisa mendeteksi > cuaca. ------------------------------------------------------------ Maaf pak, tolong sebutkan datanya. Gila enggak tuh??? dengan jelas2 saya baca beritanya > dikompas, bahwa pesawat Habibie ini jatuh dengan juga > korbannya sekian puluh ikut mati. Dan kejadian yang > sama terjadi berulangkali, padahal menurut aturan > umum, sekali kecelakaan, maka semua pesawat lainnya > dilarang terbang. Sebaliknya dengan di Indonesia, > meskipun jatuh semuanya, tetap saja masih diterbangkan > sehingga tambah banyak korban yang jatuh dan jenis > pesawat ini akhirnya habis karena pabriknya yang tutup > sehingga tidak dibuat lagi yang akibatnya tidak ada > lagi yang jatuh. -------------------------------------------------------------- Kalau soal jatuh, Boeing 737 lebih banyak kali :) Jadi yang salah bukan sertifikasinya, tapi memang > designing-nya yang sama sekali tak mengikuti hukum > yang berlaku dalam memproduksi sebuah pesawat. ---------------------------------------------------------------- Tolong disebutkan letak design mana yang salah ? Ada rekan alumni yang bertanya hal itu.
