Saya meragukan kalau sampel itu hanya diambil dari kota, karena setahu saya
68 ribu keluarga yang disampel datanya didapat dari data BLT. Lihat disini:
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=298671&kat_id=3 yang jelas2
menunjukkan bahwa petani di pedesaan juga adalah bagian dari sampel.

Dan perhatikan lagi, bagaimana argumen ekonom dari TIB ini. Saya malas
menulis ulang karena kebetulan ada yang sudah pernah menuliskan hal ini.
http://nalarekonomi.blogspot.com/2006/09/masalah-tidak-transparannya-garis.html
Ini argumen mereka tahun lalu yang ternyata mirip lagu rekaman ulang yg
dinyanyikan tahun ini.

Imel saya mempertanyakan ada 2 alasan. Pertama, saat itu saya tidak tahu
banyak informasi (saya tidak bisa mengakses situs BPS... *sigh*).  Kedua,
agar publik tidak menelan berita bulat2 baik dari pemerintah maupun dari
lawan politiknya. Masing2 bisa punya hidden interests. Itu bisa dilihat dari
sensasi yang diinginkan dg mendramatisir polemik2 seperti ini.

Saya sendiri -saat ini- menilai bahwa -tampaknya- data BPS masih dalam range
of acceptance. Asumsinya berdasarkan apa yang diungkapkan oleh BPS mengenai
sampling dan metodologi. Tetapi apakah saya bergembira ria? Hmmm... menurut
saya, penurunan sekitar 1% angka kemiskinan ini dalam waktu satu tahun masih
sangat kecil, seharusnya bisa menurunkan lebih banyak.
Supaya tidak disalahpamahi, saya dasarkan hal ini dari data BPS demi menjaga
konsistensi. Jadi lupakan dulu apakah anda setuju kalau "miskin-nya BPS" ini
adalah "miskin-nya menurut si A si B dst". Itu perdebatan lain kamar.
Jadi kita bicara relativitas kondisi Maret 2006 dan Maret 2007.

Menurut kelompok Iman-Hendri-Drajad data BPS ini bohong karena "ditengah
mahalnya sembako, mana mungkin kemiskinan turun?"
Jadi lebih pake "rasa2". That's why I was questioning about their arguments,
not their feeling. Kalo feeling sadjah, semua sudah tau bagaimana feeling
mereka thd pemerintah. :D Lagipula jelas2 disebut bahwa susenas itu
dilakukan Maret 2007 pada saat harga minyak goreng juga belum naik, lha
kenapa membantahnya pake argumen minyak goreng?
<http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/03/ekonomi/3647810.htm>Tidak ada
klaim dari BPS bahwa data itu adalah angka bulan Juni.

Jadi menurut saya, assuming bahwa data BPS itu within the acceptance range,
maka pemerintah terlalu berlebihan untuk bergembira atau tergesa2
mencatatkan hal itu sebagai prestasi. Sebaliknya tuduhan bahwa BPS pembohong
oleh Indef ini patut disikapi kritis pula, walau saya yakin sebentar lagi
koran2 dan milis akan berhias berita yang berdasarkan tuduhan Indef ini.
Conspiracy theory is always sexy.

Saya pikir sebagai bagian dari masyarakat yang mempunyai kesempatan dan
kemampuan berpikir kritis, kita bersikap proporsional saja. Berikan kredit
pada yang berhak, jika ada prestasi pemerintah ya patut diakui, jika
pemerintah salah ya harus dikritisi. Kalau data memang begitu ya memang
begitu, tidak perlu repot untuk selalu bersikap menyalahkan. Yang perlu
diwaspadai adalah politisasi yang berlebihan oleh siapapun (baik pemerintah
maupun politikus).

Sayangnya banyak dari kita yang cenderung hanya mau percaya apa yg mau kita
percaya. Misalnya kalau kita adalah orang yang tengah bergelut dg beratnya
kompetisi dan hampir kalah, maka kita akan mempercayai teori konspirasi
neo-lib lewat MNC untuk menguasai RI. Tetapi kalau kita adalah bagian yang
mendapat berkah lewat globalisasi atau sedang bekerja di MNC dg bayaran
gede, mungkin akan bilang sebaliknya ;-) Padahal tidak ada yang 100%
benar... CMIIW.

just my two-cent,

salam
fau


On 7/5/07, IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Quote:
"..
*Jika angka itu diambil dari 44 kota di Indonesia, berarti tidak bisa
mewakili realitas. Kenapa ?
Karena sebagian besar penduduk miskin itu berada di pedesaan. Dengan
realitas seperti itu,
kenapa BPS dengan tega hati mengeluarkan angka kemiskinan yang menurun.
*.."

Maaf, saya cuma orang awam yang ikutan nimbrung diskusi, gpp ya.. Tolong
jangan dimintai
data".. karena saya gak tahu persis cara & metodenya.. :-)
Tapi berdasarkan tajuk rencana dari Suara Merdeka disebutkan data tersebut
(kemungkinan
besar) diambil dari 44 kota di Indonesia; dan tidak bisa mewakili
realitas.
Apakah ini masih kurang untuk menunjukkan 'ada yang kurang/tidak beres'
dari output BPS?

Kalau (ini misalkan saja) ada orang/lembaga non formal/di luar lembaga
resmi/pemerintah(an)
& bisa menunjukkan kesalahan BPS, misalnya, apakah lembaga tersebut bisa
menggantikan
BPS? Buat apa kita punya (dan membayar) lembaga resmi yang tidak
independen dan/atau
tidak bisa dipercaya? :-)

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

Kirim email ke