Begitulah nasib jadi buruh, mau shalat pun susah. Nasib yang sama 
terjadi pada buruh kerah putih yang bekerja di kantor2 megah. Oleh 
karena itu, sudah saatnya bangsa Indonesia berhenti jadi buruh. 
Investasi manufaktur tidak membawa rakyat kepada kesejahteraan. Buruh 
pabrik hanya dihitung sebagai komponen biaya dari suatu proses 
manufaktur. Jadi, kalau ada buruh yang lebih murah, untuk apa tetap 
membayar buruh yang harganya mahal? Pastinya investor selalu mencari 
tenaga kerja paling murah. Bahkan kalau suatu saat nanti harga operasi 
robot bisa lebih murah drpd manusia, maka tidak perlu lagi menyewa 
buruh manusia.

Dalam rangkaian proses produksi: Desain-Manufaktur-Marketing, proses 
Desain dan Marketing membawa keuntungan yang lebih besar drpd 
manufaktur. Upah tenaga Desain dan Marketing seperti kita ketahui, jauh 
lebih tinggi drpd buruh di pabrik. Sudah waktunya org2 Indonesia 
beralih menjadi tenaga Desain dan Marketing. Mudah2an Pemerintah cepat 
tanggap dengan membangun lebih banyak sekolah Desain dan Bisnis.

Lebih bagus lagi, kalau orang Indonesia bisa lebih banyak yang menjadi 
Pengusaha. Kalau perlu pekerjakan buruh2 murah dari negara2 seperti 
Vietnam dan China. Seperti cerita Pak Danar dan Nyonya Hafsah, mereka 
bisa bekerja seperti robot, tidak perlu shalat dan mungkin juga waktu 
makan bisa dibatasi.

Btw, di sini (di Eropa juga), gedung sekolah menyediakan tempat ibadah 
bersama yang bisa digunakan untuk shalat.




----------------------------------------------------------
Re: Pabrik Sepatu Nike Hengkang 15000 Buruh Demo Sia2
Posted by: "RM Danardono HADINOTO" [EMAIL PROTECTED] rm_danardono
Date: Mon Jul 16, 2007 1:20 am ((PDT))

Celakanya, perusahaan perusahaan di Indonesia harus bersaing ketat 
dengan negara-negara yang ketat dalam cost calculation: RRC, Vietnam 
dll.

Disini, di Eropa, juga tak dikenal istirahat diluar waktu 
istirahat, itupun dihitung tepat, time is money. Herannya, jutaan 
pekerja migran dari Turki dan negara negara Muslim, termasuk 
Indonesia disini tak ada yang protest tuh? Mereka bekerja dengan 
rajinnya, seperti teman teman yang non Muslim.

Anggota staff saya yang Muslim, ada empat orang, Persia, Lebanon, 
Turki dan Mesir, tak pernah yang shalat, bekerja non stop seperti 
yang lainnya.

Perusahaan perusahaan Eropa juga harus mati-matian berkalkulasi 
agar tak amblas ditelan RRC..

Salam

Danardono




--- In [email protected], "Hafsah Salim" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Pabrik Sepatu Nike Hengkang 15000 Buruh Demo Sia2
> 
> Enggak ada investor yang mau membayar buruhnya untuk bershalat 5
> waktu.  Mau shalat jangan jadi buruh, mau kerja dipabrik jadi buruh
> jangan bershalat.  Apalagi investor dipaksa menyediakan berbagai 
macam
> dana untuk kegiatan buruhnya beragama seperti menyediakan tempat
> shalat, tempat wudhu dll.  Nike mengambil keputusan yang tepat, 
cabut
> dari negara Allah ini, biarkan saja Allah yang memberi mereka gaji.
> 
> Kembali ada investor satu lagi yang cabut dari negara penuh bencana
> ini.  Lebih dari 15 ribu buruh telah menambah jumlah pengangguran di
> Indonesia.  Pemerintah RI menahan pemilik pabrik sepatu ini, 
tentunya
> melanggar peraturan tindakan ini.
> 
> Seperti yang sudah berulangkali saya tulis dan saya peringatkan 
kepada
> pemerintah RI dan orang2 Indonesia, bahwa agama Islam itu racun, 
racun
> bagi investor, racun bagi produktivitas umatnya, racun bagi 
kemampuan
> berpikir logis dan rasional, bahkan racun bagi kesatuan dan 
persatuan
> bangsa ini.
> 
> Sekarang kembali investor besar yang sulit didapat ini hengkang dari
> negara angan2.  Sebabnya hanya dikatakan kualitas buruhnya buruk,
> padahal kalo mau secara detail diperinci penyebab utamanya adalah
> Syariah biadab ini yang selalu merugikan perusahaan.  Terlalu banyak
> kegiatan keimanan dan juga pungutan untuk kepentingan keimanan yang
> menyebabkan kualitas kerja buruh memburuk.  Biaya buruh Cina masih
> lebih mahal, tapi kerjanya benar2 bagaikan robot, tidak perlu 
shalat 5
> waktu, produktifitasnya sangat tinggi, akibatnya meskipun harga
> buruhnya mahal tapi produktivitas buruhnya tinggi, dan sewa tanahnya
> rendah disertai bebas dari pungutan2 dari mesjid2, otomatis investor
> bisa mengeruk keuntungan yang jauh lebih tinggi katimbang negara 
yang
> menyembah Allah ini.
> 
> Kalo kemudian investor ini cabut, ber-kaok2lah buruhnya, padahal
> sebelum cabut seharusnya mereka menyadarinya, dan pemerintah perlu
> membimbing dan menjelaskannya kalo agama Islam itu merupakan batu
> sandung yang merusak produksi sehingga mereka yang masih mau shalat
> sebaiknya jangan kerja jadi pengangguran saja, tapi mereka yang 
memang
> cuma mau kerja tanpa shalat diutamakan untuk diterima jadi pegawai,
> jangan dibalik, buruh yang diterima justru yang cuma memanfaatkan 
jam
> kerja untuk shalat.  Enggak ada perusahaan yang mau membayar buruh
> untuk waktunya bershalat.
> 
> Ny. Muslim binti Muskitawati.

Kirim email ke