Ketika dunia politik diisi oleh orang-orang oportunis yang tidak
pernah percaya tuhan, agama dan kehidupan hari akhir, maka jadilah
kehidupan umat manusia amburadul Sebab merekalah yang mengambil
kebijakan politik sehingga melahirkan secara zhohir beragam azab dan
bencana di atas.

Sayangnya, orang-orang shalih yang percaya kepada Allah dan paham
kitab suci, umumnya malah lari menghindar dari dunia politik.
Alih-alih menyelamatkan umat, mereka malah mencari tempat berlindung
sendiri-sendiri di balik liang kecil sambil memendam kepala di dalam
tanah. Memejamkan mata dan berpikir seolah semua ini terjadi begitu
saja dan merupakan takdir Allah.

Sayangnya orang-orang yang bersih dan suci ini nyaris tidak mau
mengotori tangannya dengan kerja dan usaha terlebih dahulu, sehingga
mereka lebih memilih untuk bersembunyi di dalam pesantren dan lembaga
pendidikan. Membangun tembok benteng untuk sekedar melindungi diri
mereka sendiri. Adapun nasib umat Islam secara keseluruhan yang
menjadi korban kebobrokan kebijakan politik srigala culas, seolah
tidak pernah menjadi agenda pembicaraan.

Lucunya, di tengah kehancuran yang nyata seperti ini, di mana semua
sepakat bahwa penyebabnya memang politk kotor para penguasa bejat,
masih saja ada yang berpaham untuk menjauhkan diri dari upaya
memperbaikinya. Bahkan mereka malah mengeluarkan fatwa yang
mengharamkan umat Islam berupaya mengantisipasi kebejatan kebijakan
politik. Fatwa-fatwa itu seolah mengatakan bahwa beramar makruf dan
nahi munkar tepat di titik permasalahannya adalah hal yang haram.

Fatwa haramnya berpolitik dan mendirikan partai pendobrak kejahilan
seakan mengandung pesan bahwa kalau mau beramar makruf dan nahi
mungkar, jangan pada inti masalahnya, cukup pada masalah cabang dan
ranting-rantingnya saja. Jangan tebang akar pohon permasalahannya,
cukup setiap hari menyapu membersihkan sampahnya saja.

Padahal bila umat Islam bersatu dengan dimulai dari para ulama dan
tokohnya, mereka duduk bersama dan menyamakan langkah, insya Allah
dunia politik itu bisa dikuasai dengan baik oleh orang-orang yang
shalih. Sehingga semua kebijakan politik yang lahir tidak lain adalah
bentuk nyata dari semangat bahwa Islam adalah rahmatan lil 'alamin.

Wassallaam,
Budi-pc
  ----- Original Message ----- 
  From: Al-Mahmud Abbas 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, August 01, 2007 10:59 AM
  Subject: Re: [mediacare] Zainal Maarif Contoh Amoral Yang Memalukan !!!




  Amin..amin.. ketidak produktivan pejabat negara adalah :
  SIBUK MENGAMANKAN POSISI JABATANNYA DENGAN TINDAKAN2 YANG TIDAK ADA 
KORELASINYA DENGAN TUGAS POKOKNYA.
  Kenapa ?? karena ketika mau jadi pejabat sistemnya begitu dan sistem yang 
sedang dan masih terus berjalan adalah sistem yang iklimnya seperti itu.
  Kapan mau/bisa berubah ??? kita hanya bisa bertanya kepada rumput yang 
bergoyang. WALLAHU'ALAM BISAWAB, kalau Tuhan masih menyayangi bangsa yang super 
munafik ini barangkali masih diberiNya kesempatan untuk taubat nasional. 

  Wassalam.

  On 8/1/07, Hafsah Salim <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
    Zainal Maarif Contoh Amoral Yang Memalukan !!!

    Wakil Partai Bintang Reformasi ini betul2 amoral unethical dan tak
    punya malu sama sekali. Manusia ini hanyalah satu contoh dari semua
    wakil partai2 agama Islam yang memenuhi jabatan2 kenegaraan yang 
    katanya mewakili umatnya.

    Mulanya dia secara sembunyi2 melakukan skandal sex, karena partai yang
    diwakilinya merasa malu, dia lalu ditarik dari jabatan posisinya oleh
    partai yang diwakilinya. Permohonan penarikan mundur ini harus 
    terlebih dahulu disetujui oleh presiden SBY, dan SBY memang tidak
    merasa perlu untuk terlibat urusan internal partai PBR ini dan dia
    hanya bisa menyetujui usul PBR untuk penarikan wakilnya ini.

    Lucunya, Zainal Maarif ini justru marah dan dendam kepada SBY bukan 
    kepada PBR yang menarik dirinya, dia mengharapkan SBY menolak usul PBR
    yaitu partainya sendiri yang ingin menarik wakilnya itu. Untuk
    melampiaskan dendamnya, Zainal Maarif ini menyebar fitnah keberbagai
    media tentang pernikahan SBY sebelum masuk AkMil. Benar2 stupid, dia 
    mengharapkan dengan yang dikatakannya terbongkarnya rahasia SBY, DPR
    bisa mengusulkan MPR untuk melakukan proses impeachment atau pemecatan
    presiden secara tidak terhormat.

    Ketua DPR Agung Laksono yang menerima document yang katanya sangat 
    rahasia ini dari Zainal Maarif jadi naik pitam dan menolak usul Zainal
    Maarif yang me-maksa2 dirinya untuk menyodorkan bukti2 ini ke MPR
    untuk diteruskan menjadi proses impeachment atau pemecatan presiden
    secara tidak hormat. Benar2 memalukan sikap Zainal Maarif yang idiot 
    ini, CD orang nikah diserahkan kepadanya, padahal yang menikah itupun
    tidak jelas orangnya, dan yang menyatakan pernikahan itu juga tidak
    jelas hubungannya dengan orang yang menikah dalam CD itu.

    Menurut ketua DPR, urusan pribadi orang menikah kenapa harus dijadikan 
    bahan pemecatan???? Tanggal pernikahannya tidak dicantumkan, surat
    nikahnya juga tak ada copy-nya, dimana menikahnya juga tidak
    dijelaskan. Lalu apanya yang dianggap melanggar etika ??? SBY
    menikah cuma dengan satu isteri tidak melakukan Poligamy, juga tidak 
    terlibat skandal perzinahan seperti halnya Zainal Maarif yang berzinah
    dengan businesswoman yang mengharapkan bisa memenangkan tender2
    melalui jabatan Zainal Maarif.

    Yang paling parah, Zainal Maarif sudah dinasihatkan oleh banyak 
    penasihat hukumnya bahwa tindakannya itu amoral dan sama sekali tidak
    memungkinkan dia untuk menang bisa melemparkan tuduhan bohong ini,
    malah akan jadi bumerang dia bisa dipenjarakan atas tuduhan fitnah dan
    dia dipaksa ganti rugi dimana semua harta bendanya bisa disita hingga
    jatuh miskin. Tetapi karena pengertian dan pemahamannya tentang
    hukum, tentang moral, dan tentang etika sangar rendahnya, dia tetap
    menjebloskan dirinya kedalam perangkapnya sendiri. Dia meneruskan 
    fitnahnya katimbang meminta maaf. Dia tidak tahu dimana kesalahan
    dirinya, tetapi dia merasa tahu dan yakin akan kesalahan SBY yang
    dituntutnya. Padahal, andaikata SBY melakukan kesalahan, maka yang
    menuntut harusnya DPR/MPR bukan Zainal Maarif, dan sekarang pihak DPR 
    saja sudah menolak untuk melanjutkan memperbincangkan fitnah ini, lalu
    apa yang masih bisa diharapkan oleh Zainal Maarif ini ???

    Zainal Maarif hanyalah satu dari puluhan contoh wakil2 dari partai2
    Islam yang bergelimangan memenuhi jabatan wakil2 rakyat maupun jabatan 
    pejabat2 pemerintahan yang sama sekali tidak produktive bahkan
    kontra-produktive. Seperti sudah saya jelaskan dalam tulisan2
    sebelumnya, semua partai2 agama Islam seharusnya dilarang untuk ikut
    kontest merebut jabatan karena pengetahuannya sebatas hanya agama 
    Islam yang tidak mengenal etika politik maupun ilmu kenegaraan. 
    Syariah Islam bukanlah ilmu politik dan tidak mengenal system
    kenegaraan yang kita kenal sekarang ini.

    Ny. Muslim binti Muskitawati.






   

Kirim email ke