Refleksi: Cerita Adnan Oktar alias Harun Yahya alias John Aron dalam versi 
Indonesia.

http://www.tribun-timur.com/view.php?id=48789&jenis=Opini 
      Selasa, 11-09-2007  
      Opini Tribun
     
      Nabi Adam di Tengah Arus Teori Evolusi 
      Oleh: Abdul Haris Booegies, Peminat Masalah Sosial 

      Dalam Al Quran tidak disebutkan secara tegas jika Nabi Adam sebagai 
awwalul basyar (manusia pertama). Jejak Nabi Adam yang cucu-cicitnya sekarang 
hidup melebihi enam miliar jiwa dengan 2.000 generasi, seolah repot dilacak. 
Bahkan, eksistensi Nabi Adam dalam Kalam Ilahi menimbulkan kontroversi lantaran 
terpercik dialog Allah dengan malaikat. Percakapan tersebut diwarnai nada tidak 
setuju malaikat.
        
      Diktum protes malaikat berbunyi: "Mengapa Engkau hendak menempatkan 
khalifah di bumi yang justru akan membuat kerusakan sembari menumpahkan darah" 
(al-Baqarah: 30). 
      Malaikat yang menegaskan adanya pertumpahan darah di bumi memacu 
kegatalan nalar sehingga dipastikan ada sekelompok makhluk berperadaban sebelum 
penciptaan Adam Alaihissalam. Sebab, tidak mungkin malaikat mengetahui sifat 
jahat suatu makhluk kalau ia belum pernah menyaksikannya. 

      Teori Darwin 
      Wacana lalu bertambah seru saat Charles Robert Darwin menerbitkan kitab 
On the Origin of Species by Means of Natural Selection or the Preservation of 
Favoured Races in the Struggle of Life pada 1859. Pustaka itu sebenarnya tidak 
menandaskan bila manusia berasal dari monyet. 

      Sebagai ilmuwan, Darwin cukup berhati-hati. Apalagi, ada mata rantai yang 
hilang (missing link). Tokoh naturalis Inggris tersebut tidak sekalipun 
menyebut evolusi dalam The Origin of Species. Darwin hanya memaparkan seleksi 
alam sebagai faktor perubahan biologis. 

      Tak dinyana, opini publik ternyata gencar meributkan jika manusia 
merupakan hasil evolusi binatang. Sebagian percaya kalau makhluk yang mengalami 
evolusi itulah yang dilihat malaikat. Nabi Adam yang dicitrakan manusia pertama 
ditahbiskan sebagai buah sempurna evolusi. 

      Kini, tesis Darwin yang banyak menjadi acuan mulai redup seiring derasnya 
romantika sains serta teknologi. Hukum evolusi mengalami benturan bertubi-tubi. 
Di Amerika Serikat, teori Darwin dinilai mengandung banyak keterangan yang 
tidak memiliki bukti. Perlawanan terhadap konsep evolusi di negeri Paman Sam 
didasari prinsip intelligent design. Postulat tersebut merangkai ide bila 
kerumitan dan keteraturan dunia diyakini berkat adanya peran intelligent cause 
alias Zat Maha-Pengatur. 

      Teori Darwin sukar dinalar gara-gara monyet sebagai mamalia yang 
tergolong famili Pongidae, punya 48 kromosom. Sementara manusia yang 
diistilahkan homo sapiens memiliki 46 kromosom. Hatta, mustahil monyet bisa 
bertransformasi menjadi manusia. 
      Secara biologis, manusia berbeda dengan monyet. Alhasil, menimbulkan 
semburan perselisihan. Di samping itu, juga bertentangan dengan spirit agama. 
Teori evolusi malahan menyisakan pertanyaan ekstrem. Jika insan bumi lahir dari 
gurat evolusi, berarti sampai hari ini perubahan tetap berlangsung. Manusia 
pasti terus-menerus berganti rupa. 


      Peradaban Jin 
      Di masa sekarang, menyeruak pertanyaan fenomenal. Siapakah yang dilihat 
oleh malaikat melakukan pertumpahan darah di muka bumi? Dalam menelusuri 
misteri tersebut, maka, pijakannya dibawa pada 13,7 miliar tahun yang silam. 
Ketika itu, dentuman besar (big bang) terjadi. Sepuluh miliar tahun 
pascadentuman besar, planet-planet pun bermunculan. 

      Nun jauh, di antara gumpalan gas serta debu antariksa, sebuah bola 
berpijar kemudian mengorbit matahari. Benda yang lantas dikenal sebagai bumi 
tersebut lalu bergasing di Tata Surya. 
      Bumi pada empat miliar tahun lampau, masih merah. Gunung berapi saling 
bersahutan seraya menyemburkan karbon dioksida dan belerang ke atmosfir. 
Makhluk awal yang kemudian mendiami bumi ialah ganggang biru. Mereka memakai 
energi surya dengan gas di atmosfir guna meramu makanan. Ganggang biru lantas 
memproduksi oksigen. Syahdan, muncul mitochondrion yang memanfaatkan oksigen. 
Mitochondrion lalu leluasa hidup dalam sel-sel semua makhluk hidup. 

      Sekitar 3,4 miliar tahun dibutuhkan buat mengubah struktur geografi 
dunia. Bumi kemudian berangsur-angsur berpanorama indah dengan gunung, rimba, 
lautan, danau, serta sungai yang berkelak-kelok. Fase itu dinamakan periode 
kehidupan pertama. 

      Sekitar 600 juta tahun yang silam, bumi lantas tertata rapi dan indah. 
Desir ombak di laut nan luas serta sepoi bayu yang menyapa tetumbuhan merupakan 
simfoni merdu kehidupan. Zaman tersebut dinamakan the land before time. 

      Di era itu, golongan jin akhirnya tiba di bumi. Muhammad Isa Dawud, 
penulis populer Mesir yang tersohor di Indonesia dengan buku Dialog dengan Jin 
Muslim, berargumentasi kalau jin pernah mendiami planet biru ini. Mereka 
berkuasa di dunia selama setengah juta tahun. 

      Pada kurun waktu kekuasaan jin, marak terjadi pembangkangan terhadap 
syariat Allah. Penipuan, perkosaan, penindasan, dan pembunuhan, merupakan 
pemandangan sehari-hari. Mereka doyan menyelewengkan kebenaran. 

      Budaya hidup bangsa jin merisaukan. Mereka mengidap virus kronis pada 
eksistensinya. Logika lempang dibengkokkan, metode datar dilubangi. Mereka tak 
ubahnya gerombolan monster dengan hukum ala mafia. Bumi yang merona indah 
akhirnya terancam oleh tirani jin yang melampaui batas toleransi. 

      Allah lalu mengutus militer terminator dari jamaah malaikat. Balatentara 
tersebut menyerang jin dari segala penjuru. Khaos maha-mengerikan memaksa jin 
terbirit-birit mencari perlindungan. 
      Invasi malaikat berhasil memusnahkan jin yang tidak mau tunduk pada titah 
Allah. Sejak itu, peradaban jin sekonyong-konyong amblas. Sedangkan segelintir 
jin yang selamat spontan melarikan diri ke samudera. Kelak, iblis yang aslinya 
bernama Azazil membangun kekaisaran setan di atas laut. 

      Alkisah, pada abad kedelapan Masehi, iblis bersua dengan Dajjal di Segi 
Tiga Bermuda. Keduanya kemudian meracik konspirasi demi menggelincirkan 
anak-cucu Nabi Adam. Manusia bakal dihempaskan ke lembah nista lewat ajaran 
sesat seperti komunisme, liberalisme, sufisme, sekularisme, kapitalisme, 
teologi pluralis, atau Darwinisme. 

      Agenda Komunis 
      Al Quran bukan buku statistik yang menampung aneka angka. Pusaka Ilahi 
tersebut sekadar pengantar bagi orang-orang berakal guna menelisik fenomena di 
balik ayat-ayatnya. 

      Al-Quran tidak menegaskan Nabi Adam sebagai manusia pertama karena 
deretan sejarah yang dibangun dengan kejujuran akan menghadirkan kebenaran bila 
Nabi Adam memang insan pertama. 

      Banyak komplotan ilmuwan maupun agamawan mendengungkan survival of the 
fittest dalam memahami teori evolusi. Mereka percaya bahwa yang bertahan hidup 
cuma yang kuat. 

      Pada intinya, survival of the fittest tidak berlaku dalam hukum evolusi. 
Sebab, sampai kini belum pernah ada kucing yang lahir dengan tanduk di kepala. 
Padahal, kucing sering dizalimi dengan cara ditelantarkan.

      Sejak Nabi Adam diturunkan ke planet ini pada tarikh 5872 sebelum Masehi, 
belum sekalipun anatomi manusia bermetamorfosis. Orang-orang yang berhasil 
melewati masa suram tetap tidak berubah wujud. Rumpun Arab, Yunani, 
Skandinavia, Tiongkok, Aborigin, Bugis, Eskimo, atau Indian, tidak jua bisa 
bertransformasi menjadi individu sakti semacam Hulk, Fantastic Four, Spider-Man 
maupun Batman. Sejarah belum pernah mencatat ada orang yang bersalin rupa 
menjadi superhero dengan flight-pack (perangkat terbang) di punggungnya. 

      Sesungguhnya, kadar insan tidak ditentukan oleh fisik dalam mengarungi 
kehidupan. Potensi yang paling utama yakni visi mengenai kehidupan. Tubuh Nabi 
Adam yang berasal dari surga tidak dilengkapi sayap serta sirip. Ia hanya punya 
creative mind sebagai identitas kompetitif dalam mengelola tantangan alam. 
      Dasar ilmiah teori evolusi yang masih mentah sering menyentak sanubari 
karena penyebarannya sangat kencang ke seluruh pelosok negeri. 

      Publikasi global itu kiranya erat-terkait dengan campur tangan komunis 
yang berpaham atheis. Antek-antek komunis memanfaatkan isu tersebut buat 
menghilangkan Tuhan. Ihwal itu diakui oleh Georgi Valentinovich Plekhanov. 
Sebab, agama samawi mendeklarasikan jika Allah yang menciptakan manusia. 
Sementara desain evolusi menafikan Tuhan dalam aneka penciptaan. Padahal, tak 
ada landasan ilmiah kalau kehidupan kuno yang sederhana pada periode bahari 
merupakan cikal-bakal makhluk hidup modern yang begitu kompleks.

      Bila ada orang mengimani teori evolusi, berarti ia minus harga diri. 
Karena, tidak malu berasal dari monyet. Islam dengan kemuliaannya memaklumatkan 
jika segenap penduduk dunia merupakan titisan Nabi Adam, manusia pertama. 

Kirim email ke