wa'alaykum salam
@mbak endang :) tentunya klo dalam keadaan darurat bisa saja, dan dalam hal ini saya lebih menyoroti ke wanita bersuami :) klo yg belum, mungkin tidak ada konflik kepentingan sembari menyiapkan diri tapi di jaman skrg, sudah sangat jarang ketemu wanita yg mau jadi ibu rumah tangga dan alasannya biasanya kurang bisa dipertanggung jawabkan nah, klo ada dua pendapat berbeda, apakah kita tidak bisa memakai metoda komparasi?? dan saya juga yakin, klopun mereka yg berpendapat tentunya cuman bilang "boleh" padahal ada hukum yg jauh lebih besar dari itu, yaitu "kewajiban" wallahu'alam wassalam On 1/18/07, Endang Setiawati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu'alaykum Wr Wb Dear All, Ikut nimbrung ya... membaca artikel ini dari awal... membuat saya ingin bertanya... kepada ikhwan dan akhwat di milis ini... khususnya kepada Mas Risdy... bagaimana dengan saya ya Mas? Saya bekerja sebagai customer service.. ya... ga jauh beda dengan sekretaris... bukannya saya berambisi menjadi seorang wanita pekerja.. tapi saya ini tulang punggung keluarga Mas... kebetulan saya anak pertama dari tiga bersaudara... Bapak telah dipanggil oleh-Nya sejak saya duduk di bangku SD dan Ibu saya sudah tua, saya tidak tega melihatnya bekerja... oleh karena itu, untuk tetap survive... saya tidak punya pilihan lain selain tetap bekerja seperti ini... karena saya pun tidak memiliki skill apa2 selain akuntansi yang saya dapat dari bangku sekolah... klo jadi sekretaris atau pekerjaan lainnya yg tidak menuntut hijab tentunya gak perlu Mungkin untuk Mas Rusdy, jadi sekretaris atau cost. service seperti saya... tidak perlu, tapi lain halnya dg saya... ini sangat penting bagi saya & tentunya juga buat keluarga saya... untuk tetap survive.. (saya setuju dengan pendapat mbak Dija...). Dan tentunya saya berusaha untuk mencari tempat bekerja yang sesuai syar'i. Saya boleh menanggapi pendapat Mas Risdy yang satu lagi kan ? bahwa kaum hawa lebih cocok untuk mencetak generasi rabbani dan mencurahkan kasih sayang kepada suami dan anak2.. ( yang ini saya setuju sekali Mas...). Sebagai muslimah saya pun bercita-cita seperti itu, tapi untuk saat ini saya belum bisa melakukannya, karena saya belum menikah. Disamping belum ada calon, saya selalu berpikir ada ngga yah... seorang laki2 yang bisa menerima saya dan keluarga saya apa adanya? Saya juga berfikir.. kalau saya menikah nanti... bagaimana dengan Ibu dan adek2 saya? Aduh saya sungguh bingung... meski lepas dari semua itu saya memiliki keinginan untuk menyempurnakan setengah Dien. Maaf jadi curhat nih... Adakah ikhwan dan akhwat yang dapat memberi solusi atas masalah saya? Terima kasih. Wassalamu'alaykum Wr. Wb. Endang Setiawati On 1/17/07, Risdy <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Assalamu'alaykum > > mo ikutan komentar ... > setuju deh sama definisi wanita karirnya, dimana seorang wanita > hendaknya instrospeksi diri, sejauh mana peranannya diperlukan dalam > masyarakat > misalnya klo profesi seperti dokter misalnya saya kira penting, > terutama dalam menangani pasien2 wantia > klo jadi sekretaris atau pekerjaan lainnya yg tidak menuntut hijab > tentunya gak perlu > > saya juga pernah baca suatu artikel yg isinya juga mengambil hasil > quesioner di dunia barat, dimana pilihan menjadi wanita karir > disebabkan beratnya peran sebagai ibu rumah tangga, jadi kasarnya > hanya sebagai pelarian semata. > > apakah dengan menjadi ibu rumah tangga berarti menunjukkan > superioritas laki2?? dengan memaksa wanita bekerja seperti itu?? > saya kira tidak, karena yg namanya kaum hawa, yg sangat peka dan penuh > kasih sayang, tentunya lebih cocok mencetak generasi rabbani serta > mencurahkan kasih sayangnya kepada suami dan anak > > adapun dalil yg dipake buat pembenaran wanita karir saya kira kurang tepat > 1. status Siti Khadijah yg pengusaha, apakah menjadi owner harus serta > merta meninggalkan rumah atau bahkan meninggalkan tugasnya sebagai > istri?? saya kira bisa dilakukan di rumah, karenanya sewaktu blom > menikah dengan Rasulullahpun, Siti Khadijah justru menyuruh Muhammad > yg menjual barang2nya, jadi yg keluar sapa?? > 2. mengenai kisah Siti Aisyah yg ikut perang, tentu situasinya berbeda > donk dengan keadaan damai. > so, jangan pake dalil hanya untuk pembenaran > > wallahu'alam > > wassalam > > Rizts > > On 1/17/07, dija dija <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya pikir perlu ada penegasan antara wanita karir dengan wanita > pekerja. > > Semua wanita karir adalah wanita pekerja, tapi tidak semua wanita > pekerja > > adalah wanita karir. > > > > Wanita karir adalah mereka yang bekerja, tapi ia juga mengejar dan/atau > > mempertahankan suatu posisi/status sosial (aktualisasi diri), dan > cenderung > > untuk menomorduakan keluarga*). Bukan lagi semata untuk survive hidup. > > > > Kalau untuk menjadi wanita karir saya tidak setuju, tapi boleh wanita > itu > > bekerja untuk mencukupi kehidupannya atau tenaganya dibutuhkan dalam > suatu > > bidang, misal pengajar/tenaga medis/penjahit/tukang masak/pengasuh, > dlsb. > > > > Wah... kalo begitu wanita jadi terbelakang dong..? Siapa bilang? > > Menjadi pengajar ada ilmunya. > > Menjadi tenaga medis ada ilmunya > > Menjadi penjahit ada ilmunya. > > Dan pengasuh pun sebenarnya juga ada ilmunya. Tentunya bukan pengasuh > yang > > hanya bisa mendorong stroller dan mengganti popok. > > > > Mengurangi wanita keluar rumah untuk bekerja atau unjuk diri, saya kira > > tidak bisa semata hanya menuntut kesadaran dari pihak wanita. Perlu ada > > kerjasama dengan pihak laki-laki. > > > > Laki-laki (terutama yang menjadi kepala keluarga), tentunya tidak boleh > > malas bekerja. (Disamping wanita juga tidak menuntut melebihi kemampuan > > laki-laki). > > Dan laki-laki juga jangan malas mendidik kaum wanita. Karena wanita itu > > dasarnya memang bengkok, tapi jika tidak diluruskan maka ia akan tetap > > bengkok. (Disamping wanita jangan tidak mau untuk dididik) > > Laki-laki juga tidak boleh memanfaatkan superioritasnya untuk memperdaya > > atau mendzalimi wanita. (Disamping wanita juga jangan mau untuk > > 'dimanfaatkan' laki-laki). > > > > ====== > > Weeee... yang nulis ini, ngapain tuh kerja di luar? > > Kalo yang nulis ini insyaAllah bukan wanita karir, tapi wanita pekerja > > (meskipun alhamdulillah, posisinya agak naik dari tahun pertama), di > tempat > > yang diusahakan sedemikian rupa untuk sesuai syar'i dan mendapat ijin > dari > > ortu. > > Dan jika suatu hari harus lepas jabatan, insyaAllah akan legowo, dan > tidak > > kena *post power sindrome. *:D* > > > > *Begitu kira-kira. > > > > > > note: > > *) "Feminisme berarti memilih antara karir atau keluarga" (dinisbatkan > > kepada Hillary Clinton - belum ketemu sumber langsungnya) > > > > > > wassalam, > > dija > > > > > > > > > > > > -- > Risdy > > Jln. Waruga Jaya Gg. Bahagia No. 129B Telp. 022-2020641 Bandung 40559 > > Handphone: 08562302121 > Office : 022-6054262 > > > > >
-- Risdy Jln. Waruga Jaya Gg. Bahagia No. 129B Telp. 022-2020641 Bandung 40559 Handphone: 08562302121 Office : 022-6054262 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam Google Groups yaitu "Media Muslim Group". (Group Situs www.mediamuslim.info) Untuk mengirim artikel, pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya kirimkan email ke [email protected] Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi http://groups.google.com/group/mediamusliminfo Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
