Dear Gidion
 
salut untuk tulisan nya yang luar biasa
 
no comments kecuali mau sedikit ralat, saya bukan alumni yang berhasil
 
saya alumni yang berhasil dalam hal complain, ini saya setuju. saya bangga jadi tukang complain
 
terima kasih atas pemuatan surat ralat dan bantahan ini
 
terima kasih banyak
 
sumardy

Gidion Adi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Salam u teman2 seperguruan semua.

Agak susah mengolong-golongkan opini2 yang sudah
diberikan atas topik ini karena �spectrum opini� nya
luas, dan tidak terletak pada satu �continuum�.
Perdebatan sudah menjadi berkembang dan sedikit rancu
(walaupun justru menjadi semakin menarik). Saya
Saya coba �meng-construct� dan mengambil intinya dalam
bentuk pertanyaan or point2 berikut ini :

1)Apa yang membuat seorang alumni MM UGM (sbg
individu) itu berhasil ?
2)Apakah jika (beberapa) alumni MM UGM berhasil
(mempunyai pekerjaan OK, dll) berarti MM UGM
berhasil/OK/berkualitas?
3)Apakah jika (beberapa) alumni MM UGM belum mempunyai
pekerjaan yang tidak OK (atau malah belum memp.
pekerjaan) berarti MM UGM tidak OK?
4)Apakah ukuran/dasar menilai kualitas MM UGM? Dan
bagaimanakah sebenarnya kualitas MM UGM kita (sbg
institusi)?

Saya yakin temen2 sudah tahu jawaban yg benar gimana,
tapi believe it or not, e-mail/pendapat yg beredar
�secara tidak sadar- merancukan ke-empat point di
atas.
Beberapa e-mail/pendapat sebenarnya sedang
membicarakan point pertama, tetapi digunakan untuk
berargumentasi untuk point ke-2, or ke-3, or ke -4 dan
sebaliknya. Misalnya : Masukan dan informasi yang
bagus di e-mail Pak Chandra Setiawan angkatan 2 (wah
salut sekali Pak, sudah lama sekali tapi masih
memberikan perhatian terus), Gustiawan Fahmi (batch
24), Tasya Tan (32), Khrisna C, dll adalah berkaitan
dengan point 1. Mereka share kiat-kiat supaya
berhasil (time management, mengasah adversity
quotient, ubah mindset, dll : semuanya baik, dan saya
totally agree), dan juga memberikan diri sebagai bukti
nyata/menjadi teladan (bukti semacam ini tidak
terbantahkan). Nah, tapi hati-hati : jangan salah
mengambil kesimpulan! Semua hal itu (dan juga semua
alumni2 lain yg berhasil) belum tentu merupakan bukti
bahwa MM UGM itu berhasil (berkaitan dengan point 2),
tetapi lebih merupakan bukti bahwa nilai2 itu works
well, bahwa mereka mempunyai dan mengembangkan
kualitas2 dan karakter yang membuat mereka berhasil
(berkaitan/jawaban poin 1). Maksud saya, kita belum
tahu apakah keberhasilan itu lebih karena andil mereka
secara individu or karena andil MM- UGM yang berhasil
mentransform mereka (knowledge, character, attitude,
mindset, dll). Tentu kedua hal itu mempunyai andil
(kombinasi), begitu mungkin jawabnya, tetapi seperti
apa, bagaimana? Sebelum memastikan jawabannya saya
ingin pindah ke pendapat yg �berlawanan�.

Pendapat yang berlwanan adalah bahwa MM-UGM belum OK,
diragukan kualitasnya karena banyak alumninya belum
bekerja/mendapatkan pekerjaan yg layak. Saya juga
tidak setuju dengan pendapat ini. (Apalagi jika
alasannya adalah : �buktinya saya belum bekerja�).
Pertama karena harus diketahui dulu berapa banyak (%
dari total) alumni yg seperti itu? Kedua, ketidak
berhasilan itu lebih karena -lagi-lagi - masalah
individu or karena memang MM-UGM nggak delivering
value (yg bisa mentransform mahasiswanya menjadi lebih
OK), or karena �kata Sumardi- belum hoki saja? (temen
kita yg satu ini bikin saya ketawa- tapi ada
benarnya).

Jadi bagaimana bagaimana kualitas MM-UGM? Paling tidak
ada tiga pendekatan untuk mengetahui-nya:
1) Lihat output MM (dan bandingkan dengan �populasi�
acak yg tidak ikut MM)
2) Lihat dan bandingkan kualitas sebelum masuk MM
(input) dan outputnya
3) lihat/teliti prosesnya itu sendiri : apakah
bagian2nya, secara logical thingking, secara
�keilmuan�, secara akal sehat, secara �common sense�
sudah betul/belum.

Kebanyakan pendapat/e-mail yg beredar sebenarnya
menggunakan pendekatan pertama (kualitas output), tapi
tidak tuntas. Sekali lagi : kita tidak bisa bilang
MM-UGM hebat, dengan menyodorkan bukti beberapa alumni
yang sukses/OK, dan sebaliknya. Harus tahu berapa
persen yg sangat berhasil, berhasil, biasa-biasa saja,
dan tidak berhasil misalnya. Distribusinya bagaimana?
Sebab jika yang berhasil misalnya hanya sebesar
prsentase ekor/ujung pada distribusi normal, wah itu
berarti MM-UGM gives and transforms nothing! (saya
pribadi yakin MM-UGM tidak seperti itu, ini hanya
permisalan) Kenapa? Karena tanpa di-MM-in pun
populasi lulusan S1 dan orang yg sudah bekerja yg
diambil secara acak, dan diamati 2 tahun kemudian
(durasi kuliah MM), boleh jadi akan terdistribusi
(menurut level keberhasilan) secara �normal�
(sebagian kecil sekali hebat, 68% biasa2, dan sebgian
kecil sekali lagi gagal). Padahal proses pendidikan
dan pe-mintar-an yg dilakukan MM-UGM (dan institusi
lain) itu adalah proses yg sistematis (bukan acak,
apalagi
mengacak-acak) untuk membuat inputnya menjadi lebih
baik, yg dimulai sejak penrimaan, perkuliahan Pra MM,
MM, dan seluruh kegiatan penunjang lain. Harusnya
distribusinya berbeda.

Perhatikan 3 populasi berikut :
A : 100 lulusan S1 (fresh graduate or yg sudah kerja)
yg diambil scr acak.
B : 100 lulusan S1 (fresh graduate or yg sudah kerja)
yg diseleksi (eligible u ikut MM) tapi tidak usah ikut
MM (angap saja begitu : hypothetical population)
C: 100 lulusan S1 (fresh graduate or yg sudah kerja)
yg diseleksi (eligible u ikut MM) dan memang ikut MM
(ya kita-kita ini).
Amati selama sekian waktu. Seharusnya C better than A,
even B mungkin better than A! Jika jumlah alumni yg
berhasil pada A misalnya �say- 5 % dan 10%, maka pada
C harus lebih dari itu. Bagaimana distribusi lulusan
kita? Mbak Asih mungkin lebih tahu or MM UGM harus
mencari tahu!

Cara kedua, bandingkan input dan output nya. Bisa
dibuat distribusi/struktur input dan ouput,menurut
beberapa karakteristik misalnya, jumlah yg
bekerja/tidak bekerja, menurut besarnya gaji, dll.
Amati dan bandingkan. Seharusnya setelah lulus
(output) mereka lebih baik (in term of karakteristik2
tadi) daripada sebelum masuk (inputnya). Lha kalau
tidak �seperti yg dibilang Sumardi- ya buat apa
sekolah MM kan?
Intinya MM_UGM harus berhasil me�leverage� inputnya.
Yang pas masuk MM sudah hebat harus menjadi
�nggegirisi�/hebat sekali. (Ada beberapa alumni kita
seperti itu). Yang biasa harus menjadi hebat. Dan yg
agak kurang harus menjadi lumayan. Itulah proses
pendidikan. Itu semua bisa dlm hal : perubahan gaji,
posisi, tidak kerja > kerja, dsb. Kita masing2 bisa
mengukur diri sendiri, dan jika MM UGM mau serius mau
melakukan survey tentu alumni tidak keberatan
memberikan data masing-masing.

Cara ketiga (Amati prosesnya/sistemya sudah bener or
belum?) Kita semua pernah di sana kita tahu persis apa
yg OK dan belum OK di MM UGM. Soal infrastruktur ,
sarana fisik, dan fasilitas saya rasa MM UGM trmsk the
best (bagi yg sudah masuk MM UI, PPM, dll). Kualitas
dosen, beberapa amat sangat bagus (jumlah odsen kita
yg jadi anggota colleqioum doctor Prasetya Mulya
termasuk yg terbanyak), beberapa kurang. Dan banyak
hal positive lain. Apa hal yg kurang? Banyak juga (dan
sudah di kepala semua nih), tapi saya persilakan
temen2 mulai mengajukannya. Saya sebut dua hal saja :
1) Soal penerimaan (mendapatkan input), 2) soal
kurikulum yg mungkin harus selalu dievaluasi utnuk
menyesuaikan dengan kebutuhan2 terkini. Contoh soal
penerimaan adalah : kualitas input MM kurang baik.
Kualitas mhaswa yg diterima range-nya terlalu lebar
(saya kira ini disinggung juga oleh Tony Leonard).
Bisa karena proses penerimaan yg kurng serius,
standard kurang tinggi, atau standard sudah betul
tapi banyak pelanggaran masalah �eligibility� calon
mahasiswa oleh MM sendiri? Lha kalo banyak mahasiswa
yg terlalu nganeh-anehi perilakunya lha gmn proses
penerimaan dulu? Okelah gitu dulu, gantian temen2 lain
yg ngasih masukan.

Catatan u Mbak Asih.
Tanpa mengurangi penghargaan, hormat, dan terima kasih
atas apa yg telah dilakukan Mbak Asih yg baik selama
ini, saya ingin berterus terang:
1) Mbak Asih sebenarnya bisa menanggapi complain2
dengan lebih dingin (terlepas complain nya bener atau
gak bener). Don�t take it personnaly. Complain tidak
ditujukan kepada Mbak Asih scr pribadi tetapi ke
institusi. (memangnya isi complainnya itu apa sih Mbak
kok sampai begitu �terangsang�nya ?)
2) Saya juga tidak setuju dengan �pengaitan� bahwa yg
sudah berhasil tidak/jarang komplain sedangkan yg
tidak berhasil sering complain. Termasuk treatment
Mbak Asih kpd yg komplain dng bertanya �Kerjaanmu apa
seh?� Prestasimu seperti apa?� dsb. (terlalu ofensif
en sorry to say sedikit kurang etic ?). Seakan-akan,
implicitly kalo yg complain belum bekerja berarti
complainnya gak valid. Saya senang ketika Sumardy
(Sumarketer) yg dulu mhswa berprestasi dan sekarang
alumni yg berhasil ternyata termasuk yg complain ?.
Jika kita fine-fine aja dng pekerjaan kita (sudah
berhasil) terus kita menganggap MM udah OK, perfect,
itu akan membuat MM terlena, tidak ada improvement,
dan akhirnya yg rugi angkatan2 berikutnya. Kalo
kekurangan yg ada itu ada di depan mata, bisa
diketahui dengan akal sehat, masa nggak jadi
diomongkan hanya karena seseorang itu sudah sukses? ?
3) Masukan dari yg belum berhasil itu (mereka mungkin
cuman �belum� berhasil, bukan �tidak�) bisa sama
validnya dengan yg sudah berhasil. Kalaupu ada yg
kebangeten yg Mbak Asih pilah2 lah. Tapi nggak papa
Mbak, dapat dimengerti, mungkin Mbak Asih loadnya lagi
tinggi, ngurusi trll banyak hal.

OK deh gitu dulu, sudah capek aku nulis nih.
Buat semuanya saja, salam kenal dan no hard feeling ya
kalo ada bagian tulisan ini yg gimana2. Ambil saja
intinya. I believe you all got the point.
Buat Pak Chandra, jika terpanggil mau membuat
institusi pendidikan di Bali, mungkin kita bisa
diskusi, saya ada beberapa ide. Kontak saja saya kalo
pas berunjung ke Bali, mungkin kita bisa ketemuan dan
diskusi.
Ini juga berlaku buat temen2 lain, kalo ada ide2
ber-bisnis yg berkaitan dengan Bali. Let�s make a
business.
Sumardy, Yadi, Erna apa kabar?


Salam,

Gidion A N, A Happiness Maximizer
Batch 29, International Class.
(0361) 772877, 081325587977



__________________________________
Do you Yahoo!?
Dress up your holiday email, Hollywood style. Learn more.
http://celebrity.mail.yahoo.com





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/ExDolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/






"Control Your Destiny or Some One Else Will"


Do you Yahoo!?
Send a seasonal email greeting and help others. Do good.

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke