Saya orang awam juga gak tahan ingin komentar terhadap Prof. 
Dr. Amin Rais ini. 
Iya kenapa dia duduk sebagai ketua MPR selama 5 tahun tidak protes 
sama sekali mengenai isu Freeport seperti sekarang ini padahal sudah 
menkadi rahasia umum kalau Freeport itu gak bener. Dan terhadap 
kasus Indosat sewaktu dia masih menjabat tidak ada "greget"nya 
kan?...Saya seh setuju PERTAMINA tapi sayang sekali tidak 
memperhatikan Community Developmentnya. Terbukti masyarakat sekitar 
lebih suka Exxon karena pinter ambil hati masyarakat sekitarnya. Dan 
yang lebih keliahatan jelas mantan ketua MPR tidak nongol batang 
hidungnya dia Papua malah ngoceh di Jakarta. Piye toh?....Mungkin 
Beliau mau nyalonin jadi capres yang ketiga kali yee??? Kau sudah 
kalah 2-0 oleh rakyat Indonesia. Urus tuh RUU APP berani gak?..Takut 
ya ama "teman-temannya"???....RUU Anti Kemunafikan yang musti dibuat 
segera tuh..!!!....Kalau RUU APP itu jadi disahkan jangan kaget 
Internet nanti gak bisa jalan terus di Indonesia dan milis ini 
hilang, kasihan deh kite....Indonesia "bubar" bukan karena Exxon 
tapi karena sekelompok orang ngaku-ngaku tuhan padahal hantu...gak 
percaya yo wis gitu aja repot.....

--- In [email protected], Yanuar Alam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya mungkin termasuk sangat awam dengan yang namanya politik. 
Tapi saya jadi bertanya-tanya, kalau memang dari dulu Pak Amien Rais 
(sepertinya asli dari Padang ya... kalau melihat namanya) sudah 
menentang kebijakan pemerintah mengenai Freeport, kenapa pada waktu 
beliau jadi Ketua MPR koq tidak ada "sentakan" yang berarti untuk 
merealisasikan kritikannya itu ya? Or... I missed something here?
>    
>   Salam,
>   Yanuar
> 
> Wardoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>     Amien Rais "Bongkar Kejahatan Freeport" 
>     Tak ada yang berubah dari sosok Amien Rais. 
> Penampilannya yang sederhana, dan keberaniannya dalam mengeritik 
> penguasa, masih tetap melekat pada tokoh reformasi ini. Urusan 
> mengeritik penguasa, Amien tak main-main. Belakangan, lelaki 
kelahiran 
> Surakarta, 26 April 1944 ini, kembali melakukan gebrakan. Isu 
lawas 
> soal 
> korupsi, perusakan lingkungan dan penjarahan besar-besaran yang 
> dilakukan PT Freeport, sebuah perusahaan pertambangan asing, 
kembali ia 
> gulirkan. 
>   Dulu pada tahun 90-an, kritiknya soal Freeport menyebabkan ia 
> 'ditendang' dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) oleh 
> Suharto. Mengangkat isu ini menurut Amien, ibarat membentur tembok 
> tebal. 
>   Banyak pihak yang terlibat, terutama para pejabat bangsa ini dan 
> kepentingan asing. Kepada wartawan SABILI Artawijaya dan Rivai 
Hutapea, 
> mantan Ketua MPR-RI ini bicara blak-blakan soal Freeport. Berikut 
> wawancara lengkapnya yang berlangsung di pendopo dekat rumahnya di 
> Condong Catur, Yogyakarta, pada Selasa (31/01). 
> 
>   Apa yang melatarbelakangi Anda  kembali berteriak lantang soal 
> Freeport? 
>     Jadi pada awal reformasi saya betul-betul tidak bisa menerima 
sebagai 
> anak bangsa, sebagai umat, melihat kelakuan investor asing yang 
> mengeksploitasi kekayaan alam kita lewat industri pertambangan 
secara 
> sangat ugal-ugalan, sangat tidak masuk akal. Malah waktu itu saya 
> berhasil menguak pertambangan Busang, yang mestinya akan dibuka di 
> Kalimantan, kemudian andaikata penipuan Busang itu menjadi 
kenyataan, 
> maka mereka bisa menjual saham di New York dengan harga yang 
aduhai. 
> Sementara sesungguhnya Busang itu pepesan kosong belaka. Kemudian 
> setelah saya dengan izin Allah, berhasil membongkar kebohongan 
Busang 
> itu, saya mengarahkan bidikan saya ke kejahatan yang dilakukan 
oleh PT 
> Freeport McMoran disekitar Timika. Saya mendasarkan kritik saya 
bukan 
> hanya kata si Fulan dan si Fulanah,  atau berdasarkan qaala wa 
qiila, 
> tetapi saya memang datang sendiri ke pertambangan Freeport itu. 
Bahkan 
> saya sempat menginap disana dan saya relatif sudah menjelajahi 
selama 
> setengah hari keadaan pertambangan itu. Sebagai seorang anak 
bangsa 
> saya 
> betul-betul tidak bisa menerima bahwa ada wilayah kita yang diacak-
acak 
> oleh perusahaan Amerika secara sangat menghina, karena sebuah 
gunung 
> sudah lenyap menjadi danau yang sangat jelek. Kemudian entah 
berapa 
> luasnya tanah sekitar pertambangan sudah rusak total. Saya juga 
melihat 
> dengan mata kepala ada pipa besar yang dipasang dari pusat 
pertambangan 
> di Grasberg disekitar Tembaga Pura itu turun kebawah sepanjang 
seratus 
> kilometer sampai ke tepi laut Arafura. Kemudian ternyata pipa itu 
untuk 
> menggotong concentrate atau biji tambang emas, perak dan tembaga 
yang 
> kita tidak pernah tahu volume atau jumlahnya. Apalagi saya diberi 
tahu 
> bahwa jelas kali Freeport itu menggelapkan pembayaran pajaknya. 
Begitu 
> saya mengungkpa kenyataan ini sebagai sebuah kenyataan yang 
> bertentangan 
> dengan UUD 45, maka dua minggu kemudian (tahun 1993, red) saya 
> ditendang 
> dari ICMI oleh pak Harto. Setelah itu nampaknya Freeport sebentar 
> melakukan konsolidasi, tidak begitu mencolok mata, bahkan lantas 
satu 
> persen dari keuntungannya, katanya diberikan kepada masyarakat 
sekitar. 
> Tapi yang dikerjakan Freepor makin gila, yaitu ada pelipatan 
wilayah 
> yang dieksploitasi dengan izin pemerintah. Kemudian juga jumlah 
biji 
> tambang yang diangkut ke luar lebih banyak lagi. 
>   Selama saya jadi Ketua MPR hal ini tidak pernah saya pantau. 
Saya 
> pernah dibujuk oleh James Moffett pada musim panas tahun 1997 
waktu saya ada 
> di Washington. 
>   Dia terbang ke New Orleans, dan mengiming-imingi saya. 
> Kata dia, kalau mau saya akan diantar naik helikopter untuk tour 
ke 
> daerah pertambangan Freeport, dan saya akan diberi keterangan 
bahwa 
> Freeport tidak merusak ekologi atau lingkungan kita. Kemudian pada 
saat 
> bersamaan saya di New York ketemu dengan Henry Kissinger. Ternyata 
dia 
> salah satu Komisaris, dan dia dengan diplomasinya 
mengatakan, "Kalau 
> Anda melihat penyelewengan hukum, maka beri tahu saya. Saya akan 
> mengambil langkah koreksi." Tetapi semua itu tentu saja hanya 
> sandiwara, karena yang terjadi penjarahan Freeport makin gila 
menjarah kekayaan 
> kita. Karena itu dengan bismillah, nawaitu yang ikhlas, bukan niat 
> oposisi pada pemerintah, mari kita bersama-sama membongkar 
kejahatan di 
> Freeport ini. 
> 
>   Telah terjadi korupsi yang maha dahsyat di dunia pertambangan? 
>     Korupsi itu diartikan sebagai tindakan yang merugikan negara 
lewat 
> penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang. Jadi korupsi yang 
dimengerti 
> oleh KPK dan kita semua sudah betul, yaitu penyalahgunaan wewenang 
> untuk kepentingan pribadi dan merugikan negara. Yang terjadi di 
Freeport itu 
> memenuhi kriteria itu secara sangat telak. Negara dirugikan dalam 
> jumlah ratusan atau saya yakin ribuan triliun sejak akhir tahun 60-
an. Anda 
> bayangkan, sebuah gunung lenyap, kemudian sudah dihitung bahwa 
volume 
> ampas pertambangan, tailing, tanah, batu kerikil yang terbuang itu 
sama 
> dengan dua kali kerukan terusan Panama, sekitar 6 miliar ton. Ini 
> sebuah penghinaan nasional. Saya yakin sekali, kalau Freeport 
sebagai 
> perusahaan pertambangan babon bisa kita benahi, maka yang kecil-
kecil 
> seperti Newmont Minahasa, Newmont NTB, perusahaan Gas Tangguh, dan 
> lain-lain akan lebih bisa diperbaiki karena si babon itu telah 
lebih 
> dahulu dibenahi. Kalo yang babon ini tetap dibiarkan mengacak-acak 
> kekayaan alam kita, bahkan melakukan penghinaan nasional, maka 
saya 
> khawatir orang asing akan mencibir kita bahwa pemerintah kita 
masih 
> seperti dulu, masih bermental inlander, tidak berani mengangkat 
kepala 
> terhadap asing. Ini tentu meyedihkan sekali. Jadi korupsi maha 
dahsyat 
> ini harus kita lawan. 
> 
>   Korupsi dahsyat ini tertutup dengan gencarnya pemerintah 
mengusut 
> korupsi kelas ecek-ecek? 
>   Jadi ramenya pemerintah memberantas korupsi kecil-kecil, yang 
ratusan 
> juta, yang puluhan juta, sesungguhnya untuk menyembunyikan yang 
> besar-besar. 
>   Jadi rakyat kita ini dibodohi oleh pemerintah kita sendiri. Dan 
memang 
> rakyat kita sudah terkecoh, seolah-olah pemerintah sudah hebat 
dalam 
> memberantas korupsi. Setelah 15 bulan berkuasa, menurut Political 
and 
> Economic Risk Consultancy (PERC) lagi-lagi kita tetap nomor satu 
dalam 
> korupsi di kawasan Asia ini. 
>   Artinya, korupsi sejati masih tetap berlangsung. 
> Sekarang yang dikejar-kejar hanya korupsi kecil-kecilan, sehingga 
media 
> massa juga terkecoh, seolah-olah telah terjadi penanganan korupsi 
> secara massif dan sungguh-sungguh. Padahal yang terjadi kucing-
kucingan. 
> 
>   Anda pernah mengatakan korupsi di Freeport ini G to G (Goverment 
to 
> Goverment). Bisa dijelaskan? 
>     Memang ada pembiaran dari pemerintah kita terhadap bisnis yang 
juga 
> melibatkan pemerintah asing, yang jelas-jelas merusak. Seperti 
> diungkapkan oleh The New York Times, kemudian dimuat secara utuh 
di The 
> International Herald Tribun tanggal 28-29 Desember 2005.  Memang 
yang 
> mengamankan penjarahan kekayaan bangsa itu adalah aparat keamanan 
dan 
> pertahanan kita. 
>   Saya tidak mau menyebut nama, tetapi hitam diatas putih 
dikatakan ada 
> seorang mayor jenderal yang mendapatkan 150.000 US dollar dan ada 
> seorang perwira tinggi kepolisian dapat sekian ratus ribu dollar. 
>   Kemudian ada kolonel, mayor, kapten dan prajurit lain dapat 
amplop dari 
> Freeport untuk mengamankan supaya orang tidak bisa masuk dan 
mengetahui 
> hakikat kejahatan Freeport itu. Malah ada bukti otentik, sejak 
tahun 
> 1996 sampai tahun 2004, Freeport mengeluarkan biaya pengamanan 20 
juta 
> US dollar yang dibagi ke lembaga. Ini dibayarkan kepada aparat 
keamanan 
> kita untuk melindungi Freeport yang zalim itu untuk mengeruk 
kekayaan 
> kita. 
>   Ini yang saya heran kenapa kok dibiarkan. 
>   Pemerintah terkesan tunduk pada kepentingan asing? 
>   Ya, memang ada kepentingan asing yang sangat menghina di 
Freeport ini. 
> Ada dua jenis negara berkembang dalam menghadapi korporatokrasi 
yang 
> cenderung maling atau klepto. Saya setuju dengan Jhon Perkins 
bahwa 
> korporatokrasi itu ada tiga pilar, 
>   yaitu: Big coorporation, Goverment dan International Bank. Tiga 
elemen 
> ini berpacu untuk melakukan pengurasan kekayaan dunia ketiga. Nah, 
> disini ada negeri-negeri yang berani mengangkat kepala dan berani 
> mengatakan No! Terhadap korporatokrasi itu, seperti Thailand, 
India, 
> RRC, Malaysia. Kita termasuk negeri yang walaupun tidak mengatakan 
Yes! 
> Tapi tidak pernah mengatakan No! Sehingga begitu enaknya pihak 
asing 
> menjamah kekayaan negeri kita. Saya pernah  ceramah di Melbourne, 
saya 
> bertanya kepada perusahaan penambangan Australia, apakah salah 
saya 
> sebagai orang Indonesia itu mematok bahwa dalam kontrak karya itu 
> royalti yang kita terima itu bukan 15 persen, tapi 50 persen. 
>   Mereka mengatakan tidak ada yang salah dengan pendapat itu 
karena semau 
> tergantung dengan perjanjian. Tapi mengapa kita diam saja diberi 
15 
> persen, itupun saya yakin sekali pembukuannya sudah tidak betul, 
karena 
> kita tidak tahu apa yang terjadi disana. 
> 
>   Apakah SDM kita sudah mampu mengelola pertambangan, jika kita 
harus 
> lepas dari Freeport? 
>   Ada wartawan yang mengatakan, pak Amien, bukankah kita sudah 
> diuntungkan, karena mereka punya keahlian, mereka bawa mesin, 
mereka 
> bawa uang, kemudian kekayaan kita dikeruk, kita dapat 15 persen, 
ini 
> kan sudah lumayan. Saya katakan, kalau begitu apa bedanya dengan 
zaman 
> penjajahan. Penjajah itu datang bawa mesin, bawa keahlian, bawa 
modal, 
> kemudian kekayaan kita digotong, yang disisakan hanya untuk 
> pantes-pantesan saja. 
>   Sekarang kita sudah 60 tahun merdeka, sehingga Insya Allah sudah 
punya 
> keahlian. Banyak lulusan dari ITB, UGM dan lain-lain yang 
mengatakan 
> bahwa Freeport itu adalah pertambangan terbuka, tidak usah 
menggali 
> perut bumi, tetapi hanya memecah batu-batuan, lantas digerus 
dijadikan 
> biji tambang, kemudian jadi concentrate, kemudian menjadi batangan 
> emas. Ini sangat mudah. Kata mereka, otak Indonesia itu lebih 
mampu, mengapa 
> diberikan kepada Freeport. 
> 
>     Pemerintah kita tidak pernah mempersoalkan aspek pelanggaran 
yang 
> dilakukan oleh Freeport, terutama soal dampak lingkungan? 
> 
>     Saya kembali pada teori hukum yang elementer. Dalam dunia 
moral dan 
> hukum itu ada dua macam dosa dan kejahatan: Pertama, sin of crime 
of commission (Melakukan perbuatan 
> dosa atau jahat). Kedua, sin of crime of ommision (Dosa membiarkan 
> kejahatan). Jadi kalau pemerintah kita di depan matanya 
berlangsung 
> kejahatan yang dilakukan oleh pihak asing, tetapi diam saja, malah 
> memberikan peluang untuk berlangsungnya kejahatan itu, maka 
pemerintah 
> kita telah melakukan kejahatan atau dosa membiarkan sebuah 
kejahatan 
> berlangsung terus menerus. Jadi kalau saya melihat seorang 
perampok 
> melakukan perampokan lalu saya diam saja, maka saya termasuk 
melakukan 
> kejahatan ommisi, karena nggak berbuat apa-apa. Saya khawatir 
> pemerintah 
> kita dari masa ke masa kalau terus menjadi pemerintah komprador, 
yang 
> meladeni kepentingan asing yang merugikan bangsa, maka pemerintah 
itu 
> telah melakukan kejahatan. Disadari atau tidak. 
> 
>   Kalau begitu, membongkar Freeport sama dengan mengembalikan 
martabat 
> bangsa? 
>     Betul! Ini masalah bangsa Indonesia. Jadi saya 
menggelindingkan 
> masalah besar ini dalam rangka save the nation, menyelamatkan 
bangsa 
> dan masa depan bangsa. Saya tidak ada kepikiran isu ini menjadi 
gerakan 
> politik yang remeh temeh, apalagi ada dagag sapi. Itu selain lucu, 
> terhina. Ini adalah proyek besar menyelamatkan bangsa. 
> 
>   Seberapa parah imprealisme yang terjadi dalam kasus Freeport dan 
> lainnya saat ini? 
>   Saya kira cukup parah. Karena imprealisme itu berujung pada 
sebuah 
> bangsa kehilangan  kedaulatan dan kebebasannya untuk membangun 
dirinya 
> sendiri tanpa bantuan asing. Sekarang ini kita mengetahui bahwa 
kita 
> kehilangan kedaulatan kita. Untuk memecahkan masalah ekonomi 
nasional, 
> kita pernah mendatangkan 'dukun' 
>   IMF. Sekarangpun utang kita sudah menjerat kita. 
> Sekarang pun di kabinet itu sesungguhnya kembali di zaman IMF. 
Karena 
> menteri keuangannya, menteri perdagangan dan Meno Ekuinnya itu 
> orang-orang yang berorientasi pada IMF. Kemudian juga lihatlah, 
kita 
> ini tidak berani mengangkat kepala menuruti kemauan WTO (World 
Trade 
> Organization, red). Orang Jepang, orang Perancis, Kanada, Amerika, 
itu 
> petaninya dilindungi. Tapi disini petani kita begitu tengkurap 
> menghadapi WTO, sehingga apapun kata WTO kita kerjakan. Kita ini 
jadi 
> bangsa terjajah. Gula kita impor, disuruh impor paha ayam kita 
lakukan, 
> impor beras, naikan BBM dan lain-lain. Jadi sudah tidak ada 
kedaulatan 
> lagi. Sehingga kalau dibandingkan dengan pimpinan negara lain 
seperti 
> Ahmadinejad yang melawan Barat, Mahathir yang berani menegakan 
kepala 
> terhadap Barat, atau pemerintah Korea Utara yang juga demikian, 
India, 
> Cina, atau negara-negara Amerika Latinnya. Saat ini dibandingkan 
> negara-negara tersebut, Indonesia menjadi tontonan yang tidak 
lucu. 
> Negara yang sudah merdeka 60 tahun, tapi mentalitasnya masih 
seperti 
> inlander. Jadi mari kita kembali menjadi bangsa yang berdaulat, 
tanpa 
> tekanan pihak manapun. 
> 
>   Apakah ada kepentingan politik pribadi dibalik isu ini, misalnya 
> modal Anda di 2009 nanti? 
>   Pertanyaan Anda sudah banyak ditanyakan. Bahkan ada yang 
menyatakan, 
> "Pak Amien, Anda membedah soal Freeport ini secara sungguh-sungguh 
ini, 
> hanya karena menginginkan dana kampanye pilpres 2009 dari pak 
Ginandjar 
> Kartasasmita?" Saya gembira dengan komentar yang aneh-aneh ini. 
Tetapi 
> kita diajarkan oleh al-Qur'an, Faidza 'azamta fatawakkal 'alallah, 
> kalau 
> sudah bertekad tinggal bertawakkal pada Allah. Kalau diperjalan 
ada 
> pro-kontra, ada fitnah, itu sesuatu yang sangat biasa sekali. Nabi 
yang 
> sempurna saja itu dikatakan majnun, apalagi orang seperti Amien 
Rais. 
>   Al-Qur'an juga menyuruh kita untuk terus melakukan nahyi munkar. 
Kalau 
> kita dikritik lantas surut, maka yang keenakan ya yang korupsi 
itu. 
> Menurut saya, era Amien Rais itu sudah berlalu. Belakangan saya 
banyak 
> mengambil i'tibar (pelajaran, red) bahwa pemimpin itu harus 
istiqamah, 
> jangan sampai terjangkit penyakit nifaq (munafik, red). 
> 
> 
> 
> 
> Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
> *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** 
> 
> 
> 
>   SPONSORED LINKS 
>         Undergraduate business schools   Business school essay   
Business school and education     Top business schools   Best 
business schools   Business school minnesota 
>     
> ---------------------------------
>   YAHOO! GROUPS LINKS 
> 
>     
>     Visit your group "mm-ugm" on the web.
>     
>     To unsubscribe from this group, send an email to:
>  [EMAIL PROTECTED]
>     
>     Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of 
Service. 
> 
>     
> ---------------------------------
>   
> 
> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com
>









Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke