Terima kasih mas Adhisetyo....infonya sangat membantu kita dalam memahami 
sepak terjang Amien rais dari dulu zaman Orde Baru dg ICMI-nya sampai 
sekarang.........

----- Original Message ----- 
From: "adhisetyo" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, March 21, 2006 8:42 AM
Subject: [mm-ugm] Re: Amien Rais "Bongkar Kejahatan Freeport" smoga ini 
membantu


> Buat Pak Yanuar Alam dan Pak Kartawiguna & mungkin rekan yang lainnya
> smoga links di bawah ini bisa membantu bagi yang ingin mengetahui
> ttg Amien Rais, kebetulan aja saya ketemu di internet...
> http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/amien-rais/index.shtml
>
> Smoga bermanfaat,
> Thanx,
> Adhi
>
> --- In [email protected], "kartawiguna" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>
>> Saya orang awam juga gak tahan ingin komentar terhadap Prof.
>> Dr. Amin Rais ini.
>> Iya kenapa dia duduk sebagai ketua MPR selama 5 tahun tidak protes
>> sama sekali mengenai isu Freeport seperti sekarang ini padahal
> sudah
>> menkadi rahasia umum kalau Freeport itu gak bener. Dan terhadap
>> kasus Indosat sewaktu dia masih menjabat tidak ada "greget"nya
>> kan?...Saya seh setuju PERTAMINA tapi sayang sekali tidak
>> memperhatikan Community Developmentnya. Terbukti masyarakat
> sekitar
>> lebih suka Exxon karena pinter ambil hati masyarakat sekitarnya.
> Dan
>> yang lebih keliahatan jelas mantan ketua MPR tidak nongol batang
>> hidungnya dia Papua malah ngoceh di Jakarta. Piye toh?....Mungkin
>> Beliau mau nyalonin jadi capres yang ketiga kali yee??? Kau sudah
>> kalah 2-0 oleh rakyat Indonesia. Urus tuh RUU APP berani
> gak?..Takut
>> ya ama "teman-temannya"???....RUU Anti Kemunafikan yang musti
> dibuat
>> segera tuh..!!!....Kalau RUU APP itu jadi disahkan jangan kaget
>> Internet nanti gak bisa jalan terus di Indonesia dan milis ini
>> hilang, kasihan deh kite....Indonesia "bubar" bukan karena Exxon
>> tapi karena sekelompok orang ngaku-ngaku tuhan padahal hantu...gak
>> percaya yo wis gitu aja repot.....
>>
>> --- In [email protected], Yanuar Alam <ynalam@> wrote:
>> >
>> > Saya mungkin termasuk sangat awam dengan yang namanya politik.
>> Tapi saya jadi bertanya-tanya, kalau memang dari dulu Pak Amien
> Rais
>> (sepertinya asli dari Padang ya... kalau melihat namanya) sudah
>> menentang kebijakan pemerintah mengenai Freeport, kenapa pada
> waktu
>> beliau jadi Ketua MPR koq tidak ada "sentakan" yang berarti untuk
>> merealisasikan kritikannya itu ya? Or... I missed something here?
>> >
>> >   Salam,
>> >   Yanuar
>> >
>> > Wardoyo <wardoyo@> wrote:
>> >     Amien Rais "Bongkar Kejahatan Freeport"
>> >     Tak ada yang berubah dari sosok Amien Rais.
>> > Penampilannya yang sederhana, dan keberaniannya dalam mengeritik
>> > penguasa, masih tetap melekat pada tokoh reformasi ini. Urusan
>> > mengeritik penguasa, Amien tak main-main. Belakangan, lelaki
>> kelahiran
>> > Surakarta, 26 April 1944 ini, kembali melakukan gebrakan. Isu
>> lawas
>> > soal
>> > korupsi, perusakan lingkungan dan penjarahan besar-besaran yang
>> > dilakukan PT Freeport, sebuah perusahaan pertambangan asing,
>> kembali ia
>> > gulirkan.
>> >   Dulu pada tahun 90-an, kritiknya soal Freeport menyebabkan ia
>> > 'ditendang' dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) oleh
>> > Suharto. Mengangkat isu ini menurut Amien, ibarat membentur
> tembok
>> > tebal.
>> >   Banyak pihak yang terlibat, terutama para pejabat bangsa ini
> dan
>> > kepentingan asing. Kepada wartawan SABILI Artawijaya dan Rivai
>> Hutapea,
>> > mantan Ketua MPR-RI ini bicara blak-blakan soal Freeport.
> Berikut
>> > wawancara lengkapnya yang berlangsung di pendopo dekat rumahnya
> di
>> > Condong Catur, Yogyakarta, pada Selasa (31/01).
>> >
>> >   Apa yang melatarbelakangi Anda  kembali berteriak lantang soal
>> > Freeport?
>> >     Jadi pada awal reformasi saya betul-betul tidak bisa
> menerima
>> sebagai
>> > anak bangsa, sebagai umat, melihat kelakuan investor asing yang
>> > mengeksploitasi kekayaan alam kita lewat industri pertambangan
>> secara
>> > sangat ugal-ugalan, sangat tidak masuk akal. Malah waktu itu
> saya
>> > berhasil menguak pertambangan Busang, yang mestinya akan dibuka
> di
>> > Kalimantan, kemudian andaikata penipuan Busang itu menjadi
>> kenyataan,
>> > maka mereka bisa menjual saham di New York dengan harga yang
>> aduhai.
>> > Sementara sesungguhnya Busang itu pepesan kosong belaka.
> Kemudian
>> > setelah saya dengan izin Allah, berhasil membongkar kebohongan
>> Busang
>> > itu, saya mengarahkan bidikan saya ke kejahatan yang dilakukan
>> oleh PT
>> > Freeport McMoran disekitar Timika. Saya mendasarkan kritik saya
>> bukan
>> > hanya kata si Fulan dan si Fulanah,  atau berdasarkan qaala wa
>> qiila,
>> > tetapi saya memang datang sendiri ke pertambangan Freeport itu.
>> Bahkan
>> > saya sempat menginap disana dan saya relatif sudah menjelajahi
>> selama
>> > setengah hari keadaan pertambangan itu. Sebagai seorang anak
>> bangsa
>> > saya
>> > betul-betul tidak bisa menerima bahwa ada wilayah kita yang
> diacak-
>> acak
>> > oleh perusahaan Amerika secara sangat menghina, karena sebuah
>> gunung
>> > sudah lenyap menjadi danau yang sangat jelek. Kemudian entah
>> berapa
>> > luasnya tanah sekitar pertambangan sudah rusak total. Saya juga
>> melihat
>> > dengan mata kepala ada pipa besar yang dipasang dari pusat
>> pertambangan
>> > di Grasberg disekitar Tembaga Pura itu turun kebawah sepanjang
>> seratus
>> > kilometer sampai ke tepi laut Arafura. Kemudian ternyata pipa
> itu
>> untuk
>> > menggotong concentrate atau biji tambang emas, perak dan tembaga
>> yang
>> > kita tidak pernah tahu volume atau jumlahnya. Apalagi saya
> diberi
>> tahu
>> > bahwa jelas kali Freeport itu menggelapkan pembayaran pajaknya.
>> Begitu
>> > saya mengungkpa kenyataan ini sebagai sebuah kenyataan yang
>> > bertentangan
>> > dengan UUD 45, maka dua minggu kemudian (tahun 1993, red) saya
>> > ditendang
>> > dari ICMI oleh pak Harto. Setelah itu nampaknya Freeport
> sebentar
>> > melakukan konsolidasi, tidak begitu mencolok mata, bahkan lantas
>> satu
>> > persen dari keuntungannya, katanya diberikan kepada masyarakat
>> sekitar.
>> > Tapi yang dikerjakan Freepor makin gila, yaitu ada pelipatan
>> wilayah
>> > yang dieksploitasi dengan izin pemerintah. Kemudian juga jumlah
>> biji
>> > tambang yang diangkut ke luar lebih banyak lagi.
>> >   Selama saya jadi Ketua MPR hal ini tidak pernah saya pantau.
>> Saya
>> > pernah dibujuk oleh James Moffett pada musim panas tahun 1997
>> waktu saya ada
>> > di Washington.
>> >   Dia terbang ke New Orleans, dan mengiming-imingi saya.
>> > Kata dia, kalau mau saya akan diantar naik helikopter untuk tour
>> ke
>> > daerah pertambangan Freeport, dan saya akan diberi keterangan
>> bahwa
>> > Freeport tidak merusak ekologi atau lingkungan kita. Kemudian
> pada
>> saat
>> > bersamaan saya di New York ketemu dengan Henry Kissinger.
> Ternyata
>> dia
>> > salah satu Komisaris, dan dia dengan diplomasinya
>> mengatakan, "Kalau
>> > Anda melihat penyelewengan hukum, maka beri tahu saya. Saya akan
>> > mengambil langkah koreksi." Tetapi semua itu tentu saja hanya
>> > sandiwara, karena yang terjadi penjarahan Freeport makin gila
>> menjarah kekayaan
>> > kita. Karena itu dengan bismillah, nawaitu yang ikhlas, bukan
> niat
>> > oposisi pada pemerintah, mari kita bersama-sama membongkar
>> kejahatan di
>> > Freeport ini.
>> >
>> >   Telah terjadi korupsi yang maha dahsyat di dunia pertambangan?
>> >     Korupsi itu diartikan sebagai tindakan yang merugikan negara
>> lewat
>> > penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang. Jadi korupsi yang
>> dimengerti
>> > oleh KPK dan kita semua sudah betul, yaitu penyalahgunaan
> wewenang
>> > untuk kepentingan pribadi dan merugikan negara. Yang terjadi di
>> Freeport itu
>> > memenuhi kriteria itu secara sangat telak. Negara dirugikan
> dalam
>> > jumlah ratusan atau saya yakin ribuan triliun sejak akhir tahun
> 60-
>> an. Anda
>> > bayangkan, sebuah gunung lenyap, kemudian sudah dihitung bahwa
>> volume
>> > ampas pertambangan, tailing, tanah, batu kerikil yang terbuang
> itu
>> sama
>> > dengan dua kali kerukan terusan Panama, sekitar 6 miliar ton.
> Ini
>> > sebuah penghinaan nasional. Saya yakin sekali, kalau Freeport
>> sebagai
>> > perusahaan pertambangan babon bisa kita benahi, maka yang kecil-
>> kecil
>> > seperti Newmont Minahasa, Newmont NTB, perusahaan Gas Tangguh,
> dan
>> > lain-lain akan lebih bisa diperbaiki karena si babon itu telah
>> lebih
>> > dahulu dibenahi. Kalo yang babon ini tetap dibiarkan mengacak-
> acak
>> > kekayaan alam kita, bahkan melakukan penghinaan nasional, maka
>> saya
>> > khawatir orang asing akan mencibir kita bahwa pemerintah kita
>> masih
>> > seperti dulu, masih bermental inlander, tidak berani mengangkat
>> kepala
>> > terhadap asing. Ini tentu meyedihkan sekali. Jadi korupsi maha
>> dahsyat
>> > ini harus kita lawan.
>> >
>> >   Korupsi dahsyat ini tertutup dengan gencarnya pemerintah
>> mengusut
>> > korupsi kelas ecek-ecek?
>> >   Jadi ramenya pemerintah memberantas korupsi kecil-kecil, yang
>> ratusan
>> > juta, yang puluhan juta, sesungguhnya untuk menyembunyikan yang
>> > besar-besar.
>> >   Jadi rakyat kita ini dibodohi oleh pemerintah kita sendiri.
> Dan
>> memang
>> > rakyat kita sudah terkecoh, seolah-olah pemerintah sudah hebat
>> dalam
>> > memberantas korupsi. Setelah 15 bulan berkuasa, menurut
> Political
>> and
>> > Economic Risk Consultancy (PERC) lagi-lagi kita tetap nomor satu
>> dalam
>> > korupsi di kawasan Asia ini.
>> >   Artinya, korupsi sejati masih tetap berlangsung.
>> > Sekarang yang dikejar-kejar hanya korupsi kecil-kecilan,
> sehingga
>> media
>> > massa juga terkecoh, seolah-olah telah terjadi penanganan
> korupsi
>> > secara massif dan sungguh-sungguh. Padahal yang terjadi kucing-
>> kucingan.
>> >
>> >   Anda pernah mengatakan korupsi di Freeport ini G to G
> (Goverment
>> to
>> > Goverment). Bisa dijelaskan?
>> >     Memang ada pembiaran dari pemerintah kita terhadap bisnis
> yang
>> juga
>> > melibatkan pemerintah asing, yang jelas-jelas merusak. Seperti
>> > diungkapkan oleh The New York Times, kemudian dimuat secara utuh
>> di The
>> > International Herald Tribun tanggal 28-29 Desember 2005.  Memang
>> yang
>> > mengamankan penjarahan kekayaan bangsa itu adalah aparat
> keamanan
>> dan
>> > pertahanan kita.
>> >   Saya tidak mau menyebut nama, tetapi hitam diatas putih
>> dikatakan ada
>> > seorang mayor jenderal yang mendapatkan 150.000 US dollar dan
> ada
>> > seorang perwira tinggi kepolisian dapat sekian ratus ribu
> dollar.
>> >   Kemudian ada kolonel, mayor, kapten dan prajurit lain dapat
>> amplop dari
>> > Freeport untuk mengamankan supaya orang tidak bisa masuk dan
>> mengetahui
>> > hakikat kejahatan Freeport itu. Malah ada bukti otentik, sejak
>> tahun
>> > 1996 sampai tahun 2004, Freeport mengeluarkan biaya pengamanan
> 20
>> juta
>> > US dollar yang dibagi ke lembaga. Ini dibayarkan kepada aparat
>> keamanan
>> > kita untuk melindungi Freeport yang zalim itu untuk mengeruk
>> kekayaan
>> > kita.
>> >   Ini yang saya heran kenapa kok dibiarkan.
>> >   Pemerintah terkesan tunduk pada kepentingan asing?
>> >   Ya, memang ada kepentingan asing yang sangat menghina di
>> Freeport ini.
>> > Ada dua jenis negara berkembang dalam menghadapi korporatokrasi
>> yang
>> > cenderung maling atau klepto. Saya setuju dengan Jhon Perkins
>> bahwa
>> > korporatokrasi itu ada tiga pilar,
>> >   yaitu: Big coorporation, Goverment dan International Bank.
> Tiga
>> elemen
>> > ini berpacu untuk melakukan pengurasan kekayaan dunia ketiga.
> Nah,
>> > disini ada negeri-negeri yang berani mengangkat kepala dan
> berani
>> > mengatakan No! Terhadap korporatokrasi itu, seperti Thailand,
>> India,
>> > RRC, Malaysia. Kita termasuk negeri yang walaupun tidak
> mengatakan
>> Yes!
>> > Tapi tidak pernah mengatakan No! Sehingga begitu enaknya pihak
>> asing
>> > menjamah kekayaan negeri kita. Saya pernah  ceramah di
> Melbourne,
>> saya
>> > bertanya kepada perusahaan penambangan Australia, apakah salah
>> saya
>> > sebagai orang Indonesia itu mematok bahwa dalam kontrak karya
> itu
>> > royalti yang kita terima itu bukan 15 persen, tapi 50 persen.
>> >   Mereka mengatakan tidak ada yang salah dengan pendapat itu
>> karena semau
>> > tergantung dengan perjanjian. Tapi mengapa kita diam saja diberi
>> 15
>> > persen, itupun saya yakin sekali pembukuannya sudah tidak betul,
>> karena
>> > kita tidak tahu apa yang terjadi disana.
>> >
>> >   Apakah SDM kita sudah mampu mengelola pertambangan, jika kita
>> harus
>> > lepas dari Freeport?
>> >   Ada wartawan yang mengatakan, pak Amien, bukankah kita sudah
>> > diuntungkan, karena mereka punya keahlian, mereka bawa mesin,
>> mereka
>> > bawa uang, kemudian kekayaan kita dikeruk, kita dapat 15 persen,
>> ini
>> > kan sudah lumayan. Saya katakan, kalau begitu apa bedanya dengan
>> zaman
>> > penjajahan. Penjajah itu datang bawa mesin, bawa keahlian, bawa
>> modal,
>> > kemudian kekayaan kita digotong, yang disisakan hanya untuk
>> > pantes-pantesan saja.
>> >   Sekarang kita sudah 60 tahun merdeka, sehingga Insya Allah
> sudah
>> punya
>> > keahlian. Banyak lulusan dari ITB, UGM dan lain-lain yang
>> mengatakan
>> > bahwa Freeport itu adalah pertambangan terbuka, tidak usah
>> menggali
>> > perut bumi, tetapi hanya memecah batu-batuan, lantas digerus
>> dijadikan
>> > biji tambang, kemudian jadi concentrate, kemudian menjadi
> batangan
>> > emas. Ini sangat mudah. Kata mereka, otak Indonesia itu lebih
>> mampu, mengapa
>> > diberikan kepada Freeport.
>> >
>> >     Pemerintah kita tidak pernah mempersoalkan aspek pelanggaran
>> yang
>> > dilakukan oleh Freeport, terutama soal dampak lingkungan?
>> >
>> >     Saya kembali pada teori hukum yang elementer. Dalam dunia
>> moral dan
>> > hukum itu ada dua macam dosa dan kejahatan: Pertama, sin of
> crime
>> of commission (Melakukan perbuatan
>> > dosa atau jahat). Kedua, sin of crime of ommision (Dosa
> membiarkan
>> > kejahatan). Jadi kalau pemerintah kita di depan matanya
>> berlangsung
>> > kejahatan yang dilakukan oleh pihak asing, tetapi diam saja,
> malah
>> > memberikan peluang untuk berlangsungnya kejahatan itu, maka
>> pemerintah
>> > kita telah melakukan kejahatan atau dosa membiarkan sebuah
>> kejahatan
>> > berlangsung terus menerus. Jadi kalau saya melihat seorang
>> perampok
>> > melakukan perampokan lalu saya diam saja, maka saya termasuk
>> melakukan
>> > kejahatan ommisi, karena nggak berbuat apa-apa. Saya khawatir
>> > pemerintah
>> > kita dari masa ke masa kalau terus menjadi pemerintah komprador,
>> yang
>> > meladeni kepentingan asing yang merugikan bangsa, maka
> pemerintah
>> itu
>> > telah melakukan kejahatan. Disadari atau tidak.
>> >
>> >   Kalau begitu, membongkar Freeport sama dengan mengembalikan
>> martabat
>> > bangsa?
>> >     Betul! Ini masalah bangsa Indonesia. Jadi saya
>> menggelindingkan
>> > masalah besar ini dalam rangka save the nation, menyelamatkan
>> bangsa
>> > dan masa depan bangsa. Saya tidak ada kepikiran isu ini menjadi
>> gerakan
>> > politik yang remeh temeh, apalagi ada dagag sapi. Itu selain
> lucu,
>> > terhina. Ini adalah proyek besar menyelamatkan bangsa.
>> >
>> >   Seberapa parah imprealisme yang terjadi dalam kasus Freeport
> dan
>> > lainnya saat ini?
>> >   Saya kira cukup parah. Karena imprealisme itu berujung pada
>> sebuah
>> > bangsa kehilangan  kedaulatan dan kebebasannya untuk membangun
>> dirinya
>> > sendiri tanpa bantuan asing. Sekarang ini kita mengetahui bahwa
>> kita
>> > kehilangan kedaulatan kita. Untuk memecahkan masalah ekonomi
>> nasional,
>> > kita pernah mendatangkan 'dukun'
>> >   IMF. Sekarangpun utang kita sudah menjerat kita.
>> > Sekarang pun di kabinet itu sesungguhnya kembali di zaman IMF.
>> Karena
>> > menteri keuangannya, menteri perdagangan dan Meno Ekuinnya itu
>> > orang-orang yang berorientasi pada IMF. Kemudian juga lihatlah,
>> kita
>> > ini tidak berani mengangkat kepala menuruti kemauan WTO (World
>> Trade
>> > Organization, red). Orang Jepang, orang Perancis, Kanada,
> Amerika,
>> itu
>> > petaninya dilindungi. Tapi disini petani kita begitu tengkurap
>> > menghadapi WTO, sehingga apapun kata WTO kita kerjakan. Kita ini
>> jadi
>> > bangsa terjajah. Gula kita impor, disuruh impor paha ayam kita
>> lakukan,
>> > impor beras, naikan BBM dan lain-lain. Jadi sudah tidak ada
>> kedaulatan
>> > lagi. Sehingga kalau dibandingkan dengan pimpinan negara lain
>> seperti
>> > Ahmadinejad yang melawan Barat, Mahathir yang berani menegakan
>> kepala
>> > terhadap Barat, atau pemerintah Korea Utara yang juga demikian,
>> India,
>> > Cina, atau negara-negara Amerika Latinnya. Saat ini dibandingkan
>> > negara-negara tersebut, Indonesia menjadi tontonan yang tidak
>> lucu.
>> > Negara yang sudah merdeka 60 tahun, tapi mentalitasnya masih
>> seperti
>> > inlander. Jadi mari kita kembali menjadi bangsa yang berdaulat,
>> tanpa
>> > tekanan pihak manapun.
>> >
>> >   Apakah ada kepentingan politik pribadi dibalik isu ini,
> misalnya
>> > modal Anda di 2009 nanti?
>> >   Pertanyaan Anda sudah banyak ditanyakan. Bahkan ada yang
>> menyatakan,
>> > "Pak Amien, Anda membedah soal Freeport ini secara sungguh-
> sungguh
>> ini,
>> > hanya karena menginginkan dana kampanye pilpres 2009 dari pak
>> Ginandjar
>> > Kartasasmita?" Saya gembira dengan komentar yang aneh-aneh ini.
>> Tetapi
>> > kita diajarkan oleh al-Qur'an, Faidza 'azamta
> fatawakkal 'alallah,
>> > kalau
>> > sudah bertekad tinggal bertawakkal pada Allah. Kalau diperjalan
>> ada
>> > pro-kontra, ada fitnah, itu sesuatu yang sangat biasa sekali.
> Nabi
>> yang
>> > sempurna saja itu dikatakan majnun, apalagi orang seperti Amien
>> Rais.
>> >   Al-Qur'an juga menyuruh kita untuk terus melakukan nahyi
> munkar.
>> Kalau
>> > kita dikritik lantas surut, maka yang keenakan ya yang korupsi
>> itu.
>> > Menurut saya, era Amien Rais itu sudah berlalu. Belakangan saya
>> banyak
>> > mengambil i'tibar (pelajaran, red) bahwa pemimpin itu harus
>> istiqamah,
>> > jangan sampai terjangkit penyakit nifaq (munafik, red).
>> >
>> >
>> >
>> >
>> > Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
>> > *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***
>> >
>> >
>> >
>> >   SPONSORED LINKS
>> >         Undergraduate business schools   Business school essay
>> Business school and education     Top business schools   Best
>> business schools   Business school minnesota
>> >
>> > ---------------------------------
>> >   YAHOO! GROUPS LINKS
>> >
>> >
>> >     Visit your group "mm-ugm" on the web.
>> >
>> >     To unsubscribe from this group, send an email to:
>> >  [EMAIL PROTECTED]
>> >
>> >     Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
>> Service.
>> >
>> >
>> > ---------------------------------
>> >
>> >
>> >
>> >
>> > __________________________________________________
>> > Do You Yahoo!?
>> > Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
>> > http://mail.yahoo.com
>> >
>>
>
>
>
>
>
>
> Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
> *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
> 





Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke