Buat Pak Yanuar Alam dan Pak Kartawiguna & mungkin rekan yang lainnya smoga links di bawah ini bisa membantu bagi yang ingin mengetahui ttg Amien Rais, kebetulan aja saya ketemu di internet... http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/amien-rais/index.shtml
Smoga bermanfaat, Thanx, Adhi --- In [email protected], "kartawiguna" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya orang awam juga gak tahan ingin komentar terhadap Prof. > Dr. Amin Rais ini. > Iya kenapa dia duduk sebagai ketua MPR selama 5 tahun tidak protes > sama sekali mengenai isu Freeport seperti sekarang ini padahal sudah > menkadi rahasia umum kalau Freeport itu gak bener. Dan terhadap > kasus Indosat sewaktu dia masih menjabat tidak ada "greget"nya > kan?...Saya seh setuju PERTAMINA tapi sayang sekali tidak > memperhatikan Community Developmentnya. Terbukti masyarakat sekitar > lebih suka Exxon karena pinter ambil hati masyarakat sekitarnya. Dan > yang lebih keliahatan jelas mantan ketua MPR tidak nongol batang > hidungnya dia Papua malah ngoceh di Jakarta. Piye toh?....Mungkin > Beliau mau nyalonin jadi capres yang ketiga kali yee??? Kau sudah > kalah 2-0 oleh rakyat Indonesia. Urus tuh RUU APP berani gak?..Takut > ya ama "teman-temannya"???....RUU Anti Kemunafikan yang musti dibuat > segera tuh..!!!....Kalau RUU APP itu jadi disahkan jangan kaget > Internet nanti gak bisa jalan terus di Indonesia dan milis ini > hilang, kasihan deh kite....Indonesia "bubar" bukan karena Exxon > tapi karena sekelompok orang ngaku-ngaku tuhan padahal hantu...gak > percaya yo wis gitu aja repot..... > > --- In [email protected], Yanuar Alam <ynalam@> wrote: > > > > Saya mungkin termasuk sangat awam dengan yang namanya politik. > Tapi saya jadi bertanya-tanya, kalau memang dari dulu Pak Amien Rais > (sepertinya asli dari Padang ya... kalau melihat namanya) sudah > menentang kebijakan pemerintah mengenai Freeport, kenapa pada waktu > beliau jadi Ketua MPR koq tidak ada "sentakan" yang berarti untuk > merealisasikan kritikannya itu ya? Or... I missed something here? > > > > Salam, > > Yanuar > > > > Wardoyo <wardoyo@> wrote: > > Amien Rais "Bongkar Kejahatan Freeport" > > Tak ada yang berubah dari sosok Amien Rais. > > Penampilannya yang sederhana, dan keberaniannya dalam mengeritik > > penguasa, masih tetap melekat pada tokoh reformasi ini. Urusan > > mengeritik penguasa, Amien tak main-main. Belakangan, lelaki > kelahiran > > Surakarta, 26 April 1944 ini, kembali melakukan gebrakan. Isu > lawas > > soal > > korupsi, perusakan lingkungan dan penjarahan besar-besaran yang > > dilakukan PT Freeport, sebuah perusahaan pertambangan asing, > kembali ia > > gulirkan. > > Dulu pada tahun 90-an, kritiknya soal Freeport menyebabkan ia > > 'ditendang' dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) oleh > > Suharto. Mengangkat isu ini menurut Amien, ibarat membentur tembok > > tebal. > > Banyak pihak yang terlibat, terutama para pejabat bangsa ini dan > > kepentingan asing. Kepada wartawan SABILI Artawijaya dan Rivai > Hutapea, > > mantan Ketua MPR-RI ini bicara blak-blakan soal Freeport. Berikut > > wawancara lengkapnya yang berlangsung di pendopo dekat rumahnya di > > Condong Catur, Yogyakarta, pada Selasa (31/01). > > > > Apa yang melatarbelakangi Anda kembali berteriak lantang soal > > Freeport? > > Jadi pada awal reformasi saya betul-betul tidak bisa menerima > sebagai > > anak bangsa, sebagai umat, melihat kelakuan investor asing yang > > mengeksploitasi kekayaan alam kita lewat industri pertambangan > secara > > sangat ugal-ugalan, sangat tidak masuk akal. Malah waktu itu saya > > berhasil menguak pertambangan Busang, yang mestinya akan dibuka di > > Kalimantan, kemudian andaikata penipuan Busang itu menjadi > kenyataan, > > maka mereka bisa menjual saham di New York dengan harga yang > aduhai. > > Sementara sesungguhnya Busang itu pepesan kosong belaka. Kemudian > > setelah saya dengan izin Allah, berhasil membongkar kebohongan > Busang > > itu, saya mengarahkan bidikan saya ke kejahatan yang dilakukan > oleh PT > > Freeport McMoran disekitar Timika. Saya mendasarkan kritik saya > bukan > > hanya kata si Fulan dan si Fulanah, atau berdasarkan qaala wa > qiila, > > tetapi saya memang datang sendiri ke pertambangan Freeport itu. > Bahkan > > saya sempat menginap disana dan saya relatif sudah menjelajahi > selama > > setengah hari keadaan pertambangan itu. Sebagai seorang anak > bangsa > > saya > > betul-betul tidak bisa menerima bahwa ada wilayah kita yang diacak- > acak > > oleh perusahaan Amerika secara sangat menghina, karena sebuah > gunung > > sudah lenyap menjadi danau yang sangat jelek. Kemudian entah > berapa > > luasnya tanah sekitar pertambangan sudah rusak total. Saya juga > melihat > > dengan mata kepala ada pipa besar yang dipasang dari pusat > pertambangan > > di Grasberg disekitar Tembaga Pura itu turun kebawah sepanjang > seratus > > kilometer sampai ke tepi laut Arafura. Kemudian ternyata pipa itu > untuk > > menggotong concentrate atau biji tambang emas, perak dan tembaga > yang > > kita tidak pernah tahu volume atau jumlahnya. Apalagi saya diberi > tahu > > bahwa jelas kali Freeport itu menggelapkan pembayaran pajaknya. > Begitu > > saya mengungkpa kenyataan ini sebagai sebuah kenyataan yang > > bertentangan > > dengan UUD 45, maka dua minggu kemudian (tahun 1993, red) saya > > ditendang > > dari ICMI oleh pak Harto. Setelah itu nampaknya Freeport sebentar > > melakukan konsolidasi, tidak begitu mencolok mata, bahkan lantas > satu > > persen dari keuntungannya, katanya diberikan kepada masyarakat > sekitar. > > Tapi yang dikerjakan Freepor makin gila, yaitu ada pelipatan > wilayah > > yang dieksploitasi dengan izin pemerintah. Kemudian juga jumlah > biji > > tambang yang diangkut ke luar lebih banyak lagi. > > Selama saya jadi Ketua MPR hal ini tidak pernah saya pantau. > Saya > > pernah dibujuk oleh James Moffett pada musim panas tahun 1997 > waktu saya ada > > di Washington. > > Dia terbang ke New Orleans, dan mengiming-imingi saya. > > Kata dia, kalau mau saya akan diantar naik helikopter untuk tour > ke > > daerah pertambangan Freeport, dan saya akan diberi keterangan > bahwa > > Freeport tidak merusak ekologi atau lingkungan kita. Kemudian pada > saat > > bersamaan saya di New York ketemu dengan Henry Kissinger. Ternyata > dia > > salah satu Komisaris, dan dia dengan diplomasinya > mengatakan, "Kalau > > Anda melihat penyelewengan hukum, maka beri tahu saya. Saya akan > > mengambil langkah koreksi." Tetapi semua itu tentu saja hanya > > sandiwara, karena yang terjadi penjarahan Freeport makin gila > menjarah kekayaan > > kita. Karena itu dengan bismillah, nawaitu yang ikhlas, bukan niat > > oposisi pada pemerintah, mari kita bersama-sama membongkar > kejahatan di > > Freeport ini. > > > > Telah terjadi korupsi yang maha dahsyat di dunia pertambangan? > > Korupsi itu diartikan sebagai tindakan yang merugikan negara > lewat > > penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang. Jadi korupsi yang > dimengerti > > oleh KPK dan kita semua sudah betul, yaitu penyalahgunaan wewenang > > untuk kepentingan pribadi dan merugikan negara. Yang terjadi di > Freeport itu > > memenuhi kriteria itu secara sangat telak. Negara dirugikan dalam > > jumlah ratusan atau saya yakin ribuan triliun sejak akhir tahun 60- > an. Anda > > bayangkan, sebuah gunung lenyap, kemudian sudah dihitung bahwa > volume > > ampas pertambangan, tailing, tanah, batu kerikil yang terbuang itu > sama > > dengan dua kali kerukan terusan Panama, sekitar 6 miliar ton. Ini > > sebuah penghinaan nasional. Saya yakin sekali, kalau Freeport > sebagai > > perusahaan pertambangan babon bisa kita benahi, maka yang kecil- > kecil > > seperti Newmont Minahasa, Newmont NTB, perusahaan Gas Tangguh, dan > > lain-lain akan lebih bisa diperbaiki karena si babon itu telah > lebih > > dahulu dibenahi. Kalo yang babon ini tetap dibiarkan mengacak- acak > > kekayaan alam kita, bahkan melakukan penghinaan nasional, maka > saya > > khawatir orang asing akan mencibir kita bahwa pemerintah kita > masih > > seperti dulu, masih bermental inlander, tidak berani mengangkat > kepala > > terhadap asing. Ini tentu meyedihkan sekali. Jadi korupsi maha > dahsyat > > ini harus kita lawan. > > > > Korupsi dahsyat ini tertutup dengan gencarnya pemerintah > mengusut > > korupsi kelas ecek-ecek? > > Jadi ramenya pemerintah memberantas korupsi kecil-kecil, yang > ratusan > > juta, yang puluhan juta, sesungguhnya untuk menyembunyikan yang > > besar-besar. > > Jadi rakyat kita ini dibodohi oleh pemerintah kita sendiri. Dan > memang > > rakyat kita sudah terkecoh, seolah-olah pemerintah sudah hebat > dalam > > memberantas korupsi. Setelah 15 bulan berkuasa, menurut Political > and > > Economic Risk Consultancy (PERC) lagi-lagi kita tetap nomor satu > dalam > > korupsi di kawasan Asia ini. > > Artinya, korupsi sejati masih tetap berlangsung. > > Sekarang yang dikejar-kejar hanya korupsi kecil-kecilan, sehingga > media > > massa juga terkecoh, seolah-olah telah terjadi penanganan korupsi > > secara massif dan sungguh-sungguh. Padahal yang terjadi kucing- > kucingan. > > > > Anda pernah mengatakan korupsi di Freeport ini G to G (Goverment > to > > Goverment). Bisa dijelaskan? > > Memang ada pembiaran dari pemerintah kita terhadap bisnis yang > juga > > melibatkan pemerintah asing, yang jelas-jelas merusak. Seperti > > diungkapkan oleh The New York Times, kemudian dimuat secara utuh > di The > > International Herald Tribun tanggal 28-29 Desember 2005. Memang > yang > > mengamankan penjarahan kekayaan bangsa itu adalah aparat keamanan > dan > > pertahanan kita. > > Saya tidak mau menyebut nama, tetapi hitam diatas putih > dikatakan ada > > seorang mayor jenderal yang mendapatkan 150.000 US dollar dan ada > > seorang perwira tinggi kepolisian dapat sekian ratus ribu dollar. > > Kemudian ada kolonel, mayor, kapten dan prajurit lain dapat > amplop dari > > Freeport untuk mengamankan supaya orang tidak bisa masuk dan > mengetahui > > hakikat kejahatan Freeport itu. Malah ada bukti otentik, sejak > tahun > > 1996 sampai tahun 2004, Freeport mengeluarkan biaya pengamanan 20 > juta > > US dollar yang dibagi ke lembaga. Ini dibayarkan kepada aparat > keamanan > > kita untuk melindungi Freeport yang zalim itu untuk mengeruk > kekayaan > > kita. > > Ini yang saya heran kenapa kok dibiarkan. > > Pemerintah terkesan tunduk pada kepentingan asing? > > Ya, memang ada kepentingan asing yang sangat menghina di > Freeport ini. > > Ada dua jenis negara berkembang dalam menghadapi korporatokrasi > yang > > cenderung maling atau klepto. Saya setuju dengan Jhon Perkins > bahwa > > korporatokrasi itu ada tiga pilar, > > yaitu: Big coorporation, Goverment dan International Bank. Tiga > elemen > > ini berpacu untuk melakukan pengurasan kekayaan dunia ketiga. Nah, > > disini ada negeri-negeri yang berani mengangkat kepala dan berani > > mengatakan No! Terhadap korporatokrasi itu, seperti Thailand, > India, > > RRC, Malaysia. Kita termasuk negeri yang walaupun tidak mengatakan > Yes! > > Tapi tidak pernah mengatakan No! Sehingga begitu enaknya pihak > asing > > menjamah kekayaan negeri kita. Saya pernah ceramah di Melbourne, > saya > > bertanya kepada perusahaan penambangan Australia, apakah salah > saya > > sebagai orang Indonesia itu mematok bahwa dalam kontrak karya itu > > royalti yang kita terima itu bukan 15 persen, tapi 50 persen. > > Mereka mengatakan tidak ada yang salah dengan pendapat itu > karena semau > > tergantung dengan perjanjian. Tapi mengapa kita diam saja diberi > 15 > > persen, itupun saya yakin sekali pembukuannya sudah tidak betul, > karena > > kita tidak tahu apa yang terjadi disana. > > > > Apakah SDM kita sudah mampu mengelola pertambangan, jika kita > harus > > lepas dari Freeport? > > Ada wartawan yang mengatakan, pak Amien, bukankah kita sudah > > diuntungkan, karena mereka punya keahlian, mereka bawa mesin, > mereka > > bawa uang, kemudian kekayaan kita dikeruk, kita dapat 15 persen, > ini > > kan sudah lumayan. Saya katakan, kalau begitu apa bedanya dengan > zaman > > penjajahan. Penjajah itu datang bawa mesin, bawa keahlian, bawa > modal, > > kemudian kekayaan kita digotong, yang disisakan hanya untuk > > pantes-pantesan saja. > > Sekarang kita sudah 60 tahun merdeka, sehingga Insya Allah sudah > punya > > keahlian. Banyak lulusan dari ITB, UGM dan lain-lain yang > mengatakan > > bahwa Freeport itu adalah pertambangan terbuka, tidak usah > menggali > > perut bumi, tetapi hanya memecah batu-batuan, lantas digerus > dijadikan > > biji tambang, kemudian jadi concentrate, kemudian menjadi batangan > > emas. Ini sangat mudah. Kata mereka, otak Indonesia itu lebih > mampu, mengapa > > diberikan kepada Freeport. > > > > Pemerintah kita tidak pernah mempersoalkan aspek pelanggaran > yang > > dilakukan oleh Freeport, terutama soal dampak lingkungan? > > > > Saya kembali pada teori hukum yang elementer. Dalam dunia > moral dan > > hukum itu ada dua macam dosa dan kejahatan: Pertama, sin of crime > of commission (Melakukan perbuatan > > dosa atau jahat). Kedua, sin of crime of ommision (Dosa membiarkan > > kejahatan). Jadi kalau pemerintah kita di depan matanya > berlangsung > > kejahatan yang dilakukan oleh pihak asing, tetapi diam saja, malah > > memberikan peluang untuk berlangsungnya kejahatan itu, maka > pemerintah > > kita telah melakukan kejahatan atau dosa membiarkan sebuah > kejahatan > > berlangsung terus menerus. Jadi kalau saya melihat seorang > perampok > > melakukan perampokan lalu saya diam saja, maka saya termasuk > melakukan > > kejahatan ommisi, karena nggak berbuat apa-apa. Saya khawatir > > pemerintah > > kita dari masa ke masa kalau terus menjadi pemerintah komprador, > yang > > meladeni kepentingan asing yang merugikan bangsa, maka pemerintah > itu > > telah melakukan kejahatan. Disadari atau tidak. > > > > Kalau begitu, membongkar Freeport sama dengan mengembalikan > martabat > > bangsa? > > Betul! Ini masalah bangsa Indonesia. Jadi saya > menggelindingkan > > masalah besar ini dalam rangka save the nation, menyelamatkan > bangsa > > dan masa depan bangsa. Saya tidak ada kepikiran isu ini menjadi > gerakan > > politik yang remeh temeh, apalagi ada dagag sapi. Itu selain lucu, > > terhina. Ini adalah proyek besar menyelamatkan bangsa. > > > > Seberapa parah imprealisme yang terjadi dalam kasus Freeport dan > > lainnya saat ini? > > Saya kira cukup parah. Karena imprealisme itu berujung pada > sebuah > > bangsa kehilangan kedaulatan dan kebebasannya untuk membangun > dirinya > > sendiri tanpa bantuan asing. Sekarang ini kita mengetahui bahwa > kita > > kehilangan kedaulatan kita. Untuk memecahkan masalah ekonomi > nasional, > > kita pernah mendatangkan 'dukun' > > IMF. Sekarangpun utang kita sudah menjerat kita. > > Sekarang pun di kabinet itu sesungguhnya kembali di zaman IMF. > Karena > > menteri keuangannya, menteri perdagangan dan Meno Ekuinnya itu > > orang-orang yang berorientasi pada IMF. Kemudian juga lihatlah, > kita > > ini tidak berani mengangkat kepala menuruti kemauan WTO (World > Trade > > Organization, red). Orang Jepang, orang Perancis, Kanada, Amerika, > itu > > petaninya dilindungi. Tapi disini petani kita begitu tengkurap > > menghadapi WTO, sehingga apapun kata WTO kita kerjakan. Kita ini > jadi > > bangsa terjajah. Gula kita impor, disuruh impor paha ayam kita > lakukan, > > impor beras, naikan BBM dan lain-lain. Jadi sudah tidak ada > kedaulatan > > lagi. Sehingga kalau dibandingkan dengan pimpinan negara lain > seperti > > Ahmadinejad yang melawan Barat, Mahathir yang berani menegakan > kepala > > terhadap Barat, atau pemerintah Korea Utara yang juga demikian, > India, > > Cina, atau negara-negara Amerika Latinnya. Saat ini dibandingkan > > negara-negara tersebut, Indonesia menjadi tontonan yang tidak > lucu. > > Negara yang sudah merdeka 60 tahun, tapi mentalitasnya masih > seperti > > inlander. Jadi mari kita kembali menjadi bangsa yang berdaulat, > tanpa > > tekanan pihak manapun. > > > > Apakah ada kepentingan politik pribadi dibalik isu ini, misalnya > > modal Anda di 2009 nanti? > > Pertanyaan Anda sudah banyak ditanyakan. Bahkan ada yang > menyatakan, > > "Pak Amien, Anda membedah soal Freeport ini secara sungguh- sungguh > ini, > > hanya karena menginginkan dana kampanye pilpres 2009 dari pak > Ginandjar > > Kartasasmita?" Saya gembira dengan komentar yang aneh-aneh ini. > Tetapi > > kita diajarkan oleh al-Qur'an, Faidza 'azamta fatawakkal 'alallah, > > kalau > > sudah bertekad tinggal bertawakkal pada Allah. Kalau diperjalan > ada > > pro-kontra, ada fitnah, itu sesuatu yang sangat biasa sekali. Nabi > yang > > sempurna saja itu dikatakan majnun, apalagi orang seperti Amien > Rais. > > Al-Qur'an juga menyuruh kita untuk terus melakukan nahyi munkar. > Kalau > > kita dikritik lantas surut, maka yang keenakan ya yang korupsi > itu. > > Menurut saya, era Amien Rais itu sudah berlalu. Belakangan saya > banyak > > mengambil i'tibar (pelajaran, red) bahwa pemimpin itu harus > istiqamah, > > jangan sampai terjangkit penyakit nifaq (munafik, red). > > > > > > > > > > Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini? > > *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** > > > > > > > > SPONSORED LINKS > > Undergraduate business schools Business school essay > Business school and education Top business schools Best > business schools Business school minnesota > > > > --------------------------------- > > YAHOO! GROUPS LINKS > > > > > > Visit your group "mm-ugm" on the web. > > > > To unsubscribe from this group, send an email to: > > [EMAIL PROTECTED] > > > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of > Service. > > > > > > --------------------------------- > > > > > > > > > > __________________________________________________ > > Do You Yahoo!? > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > > http://mail.yahoo.com > > > Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini? *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
