waduh pada bicara politik nanti kena "cekal" lho. Biarkan panggung politik tetap show seperti panggung sandiwara, maklum aja negara ketoprak humor semuanya jadi humor. kita liat saja realisasinya bagaimana kelanjutannya di akan datang, daripada dibahas hanya bikin "panas" mending kita bicara yang benar2 "panas" seperti bakmi godog prawirotaman, nasi goreng pakualaman. Hot yang bikin enak. ----- Original Message ----- From: "kartawiguna" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Friday, March 17, 2006 11:55 PM Subject: [mm-ugm] Re: Amien Rais "Bongkar Kejahatan Freeport"???
> Saya orang awam juga gak tahan ingin komentar terhadap Prof. > Dr. Amin Rais ini. > Iya kenapa dia duduk sebagai ketua MPR selama 5 tahun tidak protes > sama sekali mengenai isu Freeport seperti sekarang ini padahal sudah > menkadi rahasia umum kalau Freeport itu gak bener. Dan terhadap > kasus Indosat sewaktu dia masih menjabat tidak ada "greget"nya > kan?...Saya seh setuju PERTAMINA tapi sayang sekali tidak > memperhatikan Community Developmentnya. Terbukti masyarakat sekitar > lebih suka Exxon karena pinter ambil hati masyarakat sekitarnya. Dan > yang lebih keliahatan jelas mantan ketua MPR tidak nongol batang > hidungnya dia Papua malah ngoceh di Jakarta. Piye toh?....Mungkin > Beliau mau nyalonin jadi capres yang ketiga kali yee??? Kau sudah > kalah 2-0 oleh rakyat Indonesia. Urus tuh RUU APP berani gak?..Takut > ya ama "teman-temannya"???....RUU Anti Kemunafikan yang musti dibuat > segera tuh..!!!....Kalau RUU APP itu jadi disahkan jangan kaget > Internet nanti gak bisa jalan terus di Indonesia dan milis ini > hilang, kasihan deh kite....Indonesia "bubar" bukan karena Exxon > tapi karena sekelompok orang ngaku-ngaku tuhan padahal hantu...gak > percaya yo wis gitu aja repot..... > > --- In [email protected], Yanuar Alam <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Saya mungkin termasuk sangat awam dengan yang namanya politik. > Tapi saya jadi bertanya-tanya, kalau memang dari dulu Pak Amien Rais > (sepertinya asli dari Padang ya... kalau melihat namanya) sudah > menentang kebijakan pemerintah mengenai Freeport, kenapa pada waktu > beliau jadi Ketua MPR koq tidak ada "sentakan" yang berarti untuk > merealisasikan kritikannya itu ya? Or... I missed something here? > > > > Salam, > > Yanuar > > > > Wardoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Amien Rais "Bongkar Kejahatan Freeport" > > Tak ada yang berubah dari sosok Amien Rais. > > Penampilannya yang sederhana, dan keberaniannya dalam mengeritik > > penguasa, masih tetap melekat pada tokoh reformasi ini. Urusan > > mengeritik penguasa, Amien tak main-main. Belakangan, lelaki > kelahiran > > Surakarta, 26 April 1944 ini, kembali melakukan gebrakan. Isu > lawas > > soal > > korupsi, perusakan lingkungan dan penjarahan besar-besaran yang > > dilakukan PT Freeport, sebuah perusahaan pertambangan asing, > kembali ia > > gulirkan. > > Dulu pada tahun 90-an, kritiknya soal Freeport menyebabkan ia > > 'ditendang' dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) oleh > > Suharto. Mengangkat isu ini menurut Amien, ibarat membentur tembok > > tebal. > > Banyak pihak yang terlibat, terutama para pejabat bangsa ini dan > > kepentingan asing. Kepada wartawan SABILI Artawijaya dan Rivai > Hutapea, > > mantan Ketua MPR-RI ini bicara blak-blakan soal Freeport. Berikut > > wawancara lengkapnya yang berlangsung di pendopo dekat rumahnya di > > Condong Catur, Yogyakarta, pada Selasa (31/01). > > > > Apa yang melatarbelakangi Anda kembali berteriak lantang soal > > Freeport? > > Jadi pada awal reformasi saya betul-betul tidak bisa menerima > sebagai > > anak bangsa, sebagai umat, melihat kelakuan investor asing yang > > mengeksploitasi kekayaan alam kita lewat industri pertambangan > secara > > sangat ugal-ugalan, sangat tidak masuk akal. Malah waktu itu saya > > berhasil menguak pertambangan Busang, yang mestinya akan dibuka di > > Kalimantan, kemudian andaikata penipuan Busang itu menjadi > kenyataan, > > maka mereka bisa menjual saham di New York dengan harga yang > aduhai. > > Sementara sesungguhnya Busang itu pepesan kosong belaka. Kemudian > > setelah saya dengan izin Allah, berhasil membongkar kebohongan > Busang > > itu, saya mengarahkan bidikan saya ke kejahatan yang dilakukan > oleh PT > > Freeport McMoran disekitar Timika. Saya mendasarkan kritik saya > bukan > > hanya kata si Fulan dan si Fulanah, atau berdasarkan qaala wa > qiila, > > tetapi saya memang datang sendiri ke pertambangan Freeport itu. > Bahkan > > saya sempat menginap disana dan saya relatif sudah menjelajahi > selama > > setengah hari keadaan pertambangan itu. Sebagai seorang anak > bangsa > > saya > > betul-betul tidak bisa menerima bahwa ada wilayah kita yang diacak- > acak > > oleh perusahaan Amerika secara sangat menghina, karena sebuah > gunung > > sudah lenyap menjadi danau yang sangat jelek. Kemudian entah > berapa > > luasnya tanah sekitar pertambangan sudah rusak total. Saya juga > melihat > > dengan mata kepala ada pipa besar yang dipasang dari pusat > pertambangan > > di Grasberg disekitar Tembaga Pura itu turun kebawah sepanjang > seratus > > kilometer sampai ke tepi laut Arafura. Kemudian ternyata pipa itu > untuk > > menggotong concentrate atau biji tambang emas, perak dan tembaga > yang > > kita tidak pernah tahu volume atau jumlahnya. Apalagi saya diberi > tahu > > bahwa jelas kali Freeport itu menggelapkan pembayaran pajaknya. > Begitu > > saya mengungkpa kenyataan ini sebagai sebuah kenyataan yang > > bertentangan > > dengan UUD 45, maka dua minggu kemudian (tahun 1993, red) saya > > ditendang > > dari ICMI oleh pak Harto. Setelah itu nampaknya Freeport sebentar > > melakukan konsolidasi, tidak begitu mencolok mata, bahkan lantas > satu > > persen dari keuntungannya, katanya diberikan kepada masyarakat > sekitar. > > Tapi yang dikerjakan Freepor makin gila, yaitu ada pelipatan > wilayah > > yang dieksploitasi dengan izin pemerintah. Kemudian juga jumlah > biji > > tambang yang diangkut ke luar lebih banyak lagi. > > Selama saya jadi Ketua MPR hal ini tidak pernah saya pantau. > Saya > > pernah dibujuk oleh James Moffett pada musim panas tahun 1997 > waktu saya ada > > di Washington. > > Dia terbang ke New Orleans, dan mengiming-imingi saya. > > Kata dia, kalau mau saya akan diantar naik helikopter untuk tour > ke > > daerah pertambangan Freeport, dan saya akan diberi keterangan > bahwa > > Freeport tidak merusak ekologi atau lingkungan kita. Kemudian pada > saat > > bersamaan saya di New York ketemu dengan Henry Kissinger. Ternyata > dia > > salah satu Komisaris, dan dia dengan diplomasinya > mengatakan, "Kalau > > Anda melihat penyelewengan hukum, maka beri tahu saya. Saya akan > > mengambil langkah koreksi." Tetapi semua itu tentu saja hanya > > sandiwara, karena yang terjadi penjarahan Freeport makin gila > menjarah kekayaan > > kita. Karena itu dengan bismillah, nawaitu yang ikhlas, bukan niat > > oposisi pada pemerintah, mari kita bersama-sama membongkar > kejahatan di > > Freeport ini. > > > > Telah terjadi korupsi yang maha dahsyat di dunia pertambangan? > > Korupsi itu diartikan sebagai tindakan yang merugikan negara > lewat > > penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang. Jadi korupsi yang > dimengerti > > oleh KPK dan kita semua sudah betul, yaitu penyalahgunaan wewenang > > untuk kepentingan pribadi dan merugikan negara. Yang terjadi di > Freeport itu > > memenuhi kriteria itu secara sangat telak. Negara dirugikan dalam > > jumlah ratusan atau saya yakin ribuan triliun sejak akhir tahun 60- > an. Anda > > bayangkan, sebuah gunung lenyap, kemudian sudah dihitung bahwa > volume > > ampas pertambangan, tailing, tanah, batu kerikil yang terbuang itu > sama > > dengan dua kali kerukan terusan Panama, sekitar 6 miliar ton. Ini > > sebuah penghinaan nasional. Saya yakin sekali, kalau Freeport > sebagai > > perusahaan pertambangan babon bisa kita benahi, maka yang kecil- > kecil > > seperti Newmont Minahasa, Newmont NTB, perusahaan Gas Tangguh, dan > > lain-lain akan lebih bisa diperbaiki karena si babon itu telah > lebih > > dahulu dibenahi. Kalo yang babon ini tetap dibiarkan mengacak-acak > > kekayaan alam kita, bahkan melakukan penghinaan nasional, maka > saya > > khawatir orang asing akan mencibir kita bahwa pemerintah kita > masih > > seperti dulu, masih bermental inlander, tidak berani mengangkat > kepala > > terhadap asing. Ini tentu meyedihkan sekali. Jadi korupsi maha > dahsyat > > ini harus kita lawan. > > > > Korupsi dahsyat ini tertutup dengan gencarnya pemerintah > mengusut > > korupsi kelas ecek-ecek? > > Jadi ramenya pemerintah memberantas korupsi kecil-kecil, yang > ratusan > > juta, yang puluhan juta, sesungguhnya untuk menyembunyikan yang > > besar-besar. > > Jadi rakyat kita ini dibodohi oleh pemerintah kita sendiri. Dan > memang > > rakyat kita sudah terkecoh, seolah-olah pemerintah sudah hebat > dalam > > memberantas korupsi. Setelah 15 bulan berkuasa, menurut Political > and > > Economic Risk Consultancy (PERC) lagi-lagi kita tetap nomor satu > dalam > > korupsi di kawasan Asia ini. > > Artinya, korupsi sejati masih tetap berlangsung. > > Sekarang yang dikejar-kejar hanya korupsi kecil-kecilan, sehingga > media > > massa juga terkecoh, seolah-olah telah terjadi penanganan korupsi > > secara massif dan sungguh-sungguh. Padahal yang terjadi kucing- > kucingan. > > > > Anda pernah mengatakan korupsi di Freeport ini G to G (Goverment > to > > Goverment). Bisa dijelaskan? > > Memang ada pembiaran dari pemerintah kita terhadap bisnis yang > juga > > melibatkan pemerintah asing, yang jelas-jelas merusak. Seperti > > diungkapkan oleh The New York Times, kemudian dimuat secara utuh > di The > > International Herald Tribun tanggal 28-29 Desember 2005. Memang > yang > > mengamankan penjarahan kekayaan bangsa itu adalah aparat keamanan > dan > > pertahanan kita. > > Saya tidak mau menyebut nama, tetapi hitam diatas putih > dikatakan ada > > seorang mayor jenderal yang mendapatkan 150.000 US dollar dan ada > > seorang perwira tinggi kepolisian dapat sekian ratus ribu dollar. > > Kemudian ada kolonel, mayor, kapten dan prajurit lain dapat > amplop dari > > Freeport untuk mengamankan supaya orang tidak bisa masuk dan > mengetahui > > hakikat kejahatan Freeport itu. Malah ada bukti otentik, sejak > tahun > > 1996 sampai tahun 2004, Freeport mengeluarkan biaya pengamanan 20 > juta > > US dollar yang dibagi ke lembaga. Ini dibayarkan kepada aparat > keamanan > > kita untuk melindungi Freeport yang zalim itu untuk mengeruk > kekayaan > > kita. > > Ini yang saya heran kenapa kok dibiarkan. > > Pemerintah terkesan tunduk pada kepentingan asing? > > Ya, memang ada kepentingan asing yang sangat menghina di > Freeport ini. > > Ada dua jenis negara berkembang dalam menghadapi korporatokrasi > yang > > cenderung maling atau klepto. Saya setuju dengan Jhon Perkins > bahwa > > korporatokrasi itu ada tiga pilar, > > yaitu: Big coorporation, Goverment dan International Bank. Tiga > elemen > > ini berpacu untuk melakukan pengurasan kekayaan dunia ketiga. Nah, > > disini ada negeri-negeri yang berani mengangkat kepala dan berani > > mengatakan No! Terhadap korporatokrasi itu, seperti Thailand, > India, > > RRC, Malaysia. Kita termasuk negeri yang walaupun tidak mengatakan > Yes! > > Tapi tidak pernah mengatakan No! Sehingga begitu enaknya pihak > asing > > menjamah kekayaan negeri kita. Saya pernah ceramah di Melbourne, > saya > > bertanya kepada perusahaan penambangan Australia, apakah salah > saya > > sebagai orang Indonesia itu mematok bahwa dalam kontrak karya itu > > royalti yang kita terima itu bukan 15 persen, tapi 50 persen. > > Mereka mengatakan tidak ada yang salah dengan pendapat itu > karena semau > > tergantung dengan perjanjian. Tapi mengapa kita diam saja diberi > 15 > > persen, itupun saya yakin sekali pembukuannya sudah tidak betul, > karena > > kita tidak tahu apa yang terjadi disana. > > > > Apakah SDM kita sudah mampu mengelola pertambangan, jika kita > harus > > lepas dari Freeport? > > Ada wartawan yang mengatakan, pak Amien, bukankah kita sudah > > diuntungkan, karena mereka punya keahlian, mereka bawa mesin, > mereka > > bawa uang, kemudian kekayaan kita dikeruk, kita dapat 15 persen, > ini > > kan sudah lumayan. Saya katakan, kalau begitu apa bedanya dengan > zaman > > penjajahan. Penjajah itu datang bawa mesin, bawa keahlian, bawa > modal, > > kemudian kekayaan kita digotong, yang disisakan hanya untuk > > pantes-pantesan saja. > > Sekarang kita sudah 60 tahun merdeka, sehingga Insya Allah sudah > punya > > keahlian. Banyak lulusan dari ITB, UGM dan lain-lain yang > mengatakan > > bahwa Freeport itu adalah pertambangan terbuka, tidak usah > menggali > > perut bumi, tetapi hanya memecah batu-batuan, lantas digerus > dijadikan > > biji tambang, kemudian jadi concentrate, kemudian menjadi batangan > > emas. Ini sangat mudah. Kata mereka, otak Indonesia itu lebih > mampu, mengapa > > diberikan kepada Freeport. > > > > Pemerintah kita tidak pernah mempersoalkan aspek pelanggaran > yang > > dilakukan oleh Freeport, terutama soal dampak lingkungan? > > > > Saya kembali pada teori hukum yang elementer. Dalam dunia > moral dan > > hukum itu ada dua macam dosa dan kejahatan: Pertama, sin of crime > of commission (Melakukan perbuatan > > dosa atau jahat). Kedua, sin of crime of ommision (Dosa membiarkan > > kejahatan). Jadi kalau pemerintah kita di depan matanya > berlangsung > > kejahatan yang dilakukan oleh pihak asing, tetapi diam saja, malah > > memberikan peluang untuk berlangsungnya kejahatan itu, maka > pemerintah > > kita telah melakukan kejahatan atau dosa membiarkan sebuah > kejahatan > > berlangsung terus menerus. Jadi kalau saya melihat seorang > perampok > > melakukan perampokan lalu saya diam saja, maka saya termasuk > melakukan > > kejahatan ommisi, karena nggak berbuat apa-apa. Saya khawatir > > pemerintah > > kita dari masa ke masa kalau terus menjadi pemerintah komprador, > yang > > meladeni kepentingan asing yang merugikan bangsa, maka pemerintah > itu > > telah melakukan kejahatan. Disadari atau tidak. > > > > Kalau begitu, membongkar Freeport sama dengan mengembalikan > martabat > > bangsa? > > Betul! Ini masalah bangsa Indonesia. Jadi saya > menggelindingkan > > masalah besar ini dalam rangka save the nation, menyelamatkan > bangsa > > dan masa depan bangsa. Saya tidak ada kepikiran isu ini menjadi > gerakan > > politik yang remeh temeh, apalagi ada dagag sapi. Itu selain lucu, > > terhina. Ini adalah proyek besar menyelamatkan bangsa. > > > > Seberapa parah imprealisme yang terjadi dalam kasus Freeport dan > > lainnya saat ini? > > Saya kira cukup parah. Karena imprealisme itu berujung pada > sebuah > > bangsa kehilangan kedaulatan dan kebebasannya untuk membangun > dirinya > > sendiri tanpa bantuan asing. Sekarang ini kita mengetahui bahwa > kita > > kehilangan kedaulatan kita. Untuk memecahkan masalah ekonomi > nasional, > > kita pernah mendatangkan 'dukun' > > IMF. Sekarangpun utang kita sudah menjerat kita. > > Sekarang pun di kabinet itu sesungguhnya kembali di zaman IMF. > Karena > > menteri keuangannya, menteri perdagangan dan Meno Ekuinnya itu > > orang-orang yang berorientasi pada IMF. Kemudian juga lihatlah, > kita > > ini tidak berani mengangkat kepala menuruti kemauan WTO (World > Trade > > Organization, red). Orang Jepang, orang Perancis, Kanada, Amerika, > itu > > petaninya dilindungi. Tapi disini petani kita begitu tengkurap > > menghadapi WTO, sehingga apapun kata WTO kita kerjakan. Kita ini > jadi > > bangsa terjajah. Gula kita impor, disuruh impor paha ayam kita > lakukan, > > impor beras, naikan BBM dan lain-lain. Jadi sudah tidak ada > kedaulatan > > lagi. Sehingga kalau dibandingkan dengan pimpinan negara lain > seperti > > Ahmadinejad yang melawan Barat, Mahathir yang berani menegakan > kepala > > terhadap Barat, atau pemerintah Korea Utara yang juga demikian, > India, > > Cina, atau negara-negara Amerika Latinnya. Saat ini dibandingkan > > negara-negara tersebut, Indonesia menjadi tontonan yang tidak > lucu. > > Negara yang sudah merdeka 60 tahun, tapi mentalitasnya masih > seperti > > inlander. Jadi mari kita kembali menjadi bangsa yang berdaulat, > tanpa > > tekanan pihak manapun. > > > > Apakah ada kepentingan politik pribadi dibalik isu ini, misalnya > > modal Anda di 2009 nanti? > > Pertanyaan Anda sudah banyak ditanyakan. Bahkan ada yang > menyatakan, > > "Pak Amien, Anda membedah soal Freeport ini secara sungguh-sungguh > ini, > > hanya karena menginginkan dana kampanye pilpres 2009 dari pak > Ginandjar > > Kartasasmita?" Saya gembira dengan komentar yang aneh-aneh ini. > Tetapi > > kita diajarkan oleh al-Qur'an, Faidza 'azamta fatawakkal 'alallah, > > kalau > > sudah bertekad tinggal bertawakkal pada Allah. Kalau diperjalan > ada > > pro-kontra, ada fitnah, itu sesuatu yang sangat biasa sekali. Nabi > yang > > sempurna saja itu dikatakan majnun, apalagi orang seperti Amien > Rais. > > Al-Qur'an juga menyuruh kita untuk terus melakukan nahyi munkar. > Kalau > > kita dikritik lantas surut, maka yang keenakan ya yang korupsi > itu. > > Menurut saya, era Amien Rais itu sudah berlalu. Belakangan saya > banyak > > mengambil i'tibar (pelajaran, red) bahwa pemimpin itu harus > istiqamah, > > jangan sampai terjangkit penyakit nifaq (munafik, red). > > > > > > > > > > Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini? > > *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** > > > > > > > > SPONSORED LINKS > > Undergraduate business schools Business school essay > Business school and education Top business schools Best > business schools Business school minnesota > > > > --------------------------------- > > YAHOO! GROUPS LINKS > > > > > > Visit your group "mm-ugm" on the web. > > > > To unsubscribe from this group, send an email to: > > [EMAIL PROTECTED] > > > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of > Service. > > > > > > --------------------------------- > > > > > > > > > > __________________________________________________ > > Do You Yahoo!? > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > > http://mail.yahoo.com > > > > > > > > > > > > Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini? > *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** > Yahoo! Groups Links > > > > > > > Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini? *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
