ronde pertama ...
 
penggemar mas amin Vs gus dur ya
siapa pemenangnya mari kita nilai bersama..

kartawiguna <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Maaf Pak Adhi address tersebut sudah "usang"...Dulu waktu
dia "kebelet" jadi presiden ada KOLOM AMIEN RAIS di detik.com tapi
setelah gagal tidak ada lagi. Mungkin bapak Adhi punya website Pak
Rais yang RESMI dari sepemilik PROF. D.R. AMIEN RAIS agar rakyat
bisa belajar politik dari seempunya gelar PROF. POLITIK...Mungkin
Gus Dur lebih baik karena ternyata dia lebih baik dalam memberikan
pendidikan politik kepada rakyatnya www.gusdur.net....diupdate
terus....Kalau masih ambisi didik donk rakyatnya..jangan hanya jadi
provokator aja dan jangan asal ngomong tanpa beri solusi....Orang
Papua demo di Plaza 89 Jakarta malah si PROF gak keliatan batang
hidungnya karena dia tau gak bakalan didengerin sama orang
Papua...Jadi mari kita liat apakah Amien Rais benar2 membela orang
Papua???...

--- In [email protected], "adhisetyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Buat Pak Yanuar Alam dan Pak Kartawiguna & mungkin rekan yang
lainnya
> smoga links di bawah ini bisa membantu bagi yang ingin mengetahui
> ttg Amien Rais, kebetulan aja saya ketemu di internet...
> http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/amien-rais/index.shtml
>
> Smoga bermanfaat,
> Thanx,
> Adhi
>
> --- In [email protected], "kartawiguna" <kartawiguna@> wrote:
> >
> > Saya orang awam juga gak tahan ingin komentar terhadap Prof.
> > Dr. Amin Rais ini.
> > Iya kenapa dia duduk sebagai ketua MPR selama 5 tahun tidak
protes
> > sama sekali mengenai isu Freeport seperti sekarang ini padahal
> sudah
> > menkadi rahasia umum kalau Freeport itu gak bener. Dan terhadap
> > kasus Indosat sewaktu dia masih menjabat tidak ada "greget"nya
> > kan?...Saya seh setuju PERTAMINA tapi sayang sekali tidak
> > memperhatikan Community Developmentnya. Terbukti masyarakat
> sekitar
> > lebih suka Exxon karena pinter ambil hati masyarakat sekitarnya.
> Dan
> > yang lebih keliahatan jelas mantan ketua MPR tidak nongol batang
> > hidungnya dia Papua malah ngoceh di Jakarta. Piye
toh?....Mungkin
> > Beliau mau nyalonin jadi capres yang ketiga kali yee??? Kau
sudah
> > kalah 2-0 oleh rakyat Indonesia. Urus tuh RUU APP berani
> gak?..Takut
> > ya ama "teman-temannya"???....RUU Anti Kemunafikan yang musti
> dibuat
> > segera tuh..!!!....Kalau RUU APP itu jadi disahkan jangan kaget
> > Internet nanti gak bisa jalan terus di Indonesia dan milis ini
> > hilang, kasihan deh kite....Indonesia "bubar" bukan karena Exxon
> > tapi karena sekelompok orang ngaku-ngaku tuhan padahal
hantu...gak
> > percaya yo wis gitu aja repot.....
> >
> > --- In [email protected], Yanuar Alam <ynalam@> wrote:
> > >
> > > Saya mungkin termasuk sangat awam dengan yang namanya politik.
> > Tapi saya jadi bertanya-tanya, kalau memang dari dulu Pak Amien
> Rais
> > (sepertinya asli dari Padang ya... kalau melihat namanya) sudah
> > menentang kebijakan pemerintah mengenai Freeport, kenapa pada
> waktu
> > beliau jadi Ketua MPR koq tidak ada "sentakan" yang berarti
untuk
> > merealisasikan kritikannya itu ya? Or... I missed something here?
> > >   
> > >   Salam,
> > >   Yanuar
> > >
> > > Wardoyo <wardoyo@> wrote:
> > >     Amien Rais "Bongkar Kejahatan Freeport"
> > >     Tak ada yang berubah dari sosok Amien Rais.
> > > Penampilannya yang sederhana, dan keberaniannya dalam
mengeritik
> > > penguasa, masih tetap melekat pada tokoh reformasi ini. Urusan
> > > mengeritik penguasa, Amien tak main-main. Belakangan, lelaki
> > kelahiran
> > > Surakarta, 26 April 1944 ini, kembali melakukan gebrakan. Isu
> > lawas
> > > soal
> > > korupsi, perusakan lingkungan dan penjarahan besar-besaran
yang
> > > dilakukan PT Freeport, sebuah perusahaan pertambangan asing,
> > kembali ia
> > > gulirkan.
> > >   Dulu pada tahun 90-an, kritiknya soal Freeport menyebabkan
ia
> > > 'ditendang' dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)
oleh
> > > Suharto. Mengangkat isu ini menurut Amien, ibarat membentur
> tembok
> > > tebal.
> > >   Banyak pihak yang terlibat, terutama para pejabat bangsa ini
> dan
> > > kepentingan asing. Kepada wartawan SABILI Artawijaya dan Rivai
> > Hutapea,
> > > mantan Ketua MPR-RI ini bicara blak-blakan soal Freeport.
> Berikut
> > > wawancara lengkapnya yang berlangsung di pendopo dekat
rumahnya
> di
> > > Condong Catur, Yogyakarta, pada Selasa (31/01).
> > >
> > >   Apa yang melatarbelakangi Anda  kembali berteriak lantang
soal
> > > Freeport?
> > >     Jadi pada awal reformasi saya betul-betul tidak bisa
> menerima
> > sebagai
> > > anak bangsa, sebagai umat, melihat kelakuan investor asing
yang
> > > mengeksploitasi kekayaan alam kita lewat industri pertambangan
> > secara
> > > sangat ugal-ugalan, sangat tidak masuk akal. Malah waktu itu
> saya
> > > berhasil menguak pertambangan Busang, yang mestinya akan
dibuka
> di
> > > Kalimantan, kemudian andaikata penipuan Busang itu menjadi
> > kenyataan,
> > > maka mereka bisa menjual saham di New York dengan harga yang
> > aduhai.
> > > Sementara sesungguhnya Busang itu pepesan kosong belaka.
> Kemudian
> > > setelah saya dengan izin Allah, berhasil membongkar kebohongan
> > Busang
> > > itu, saya mengarahkan bidikan saya ke kejahatan yang dilakukan
> > oleh PT
> > > Freeport McMoran disekitar Timika. Saya mendasarkan kritik
saya
> > bukan
> > > hanya kata si Fulan dan si Fulanah,  atau berdasarkan qaala wa
> > qiila,
> > > tetapi saya memang datang sendiri ke pertambangan Freeport
itu.
> > Bahkan
> > > saya sempat menginap disana dan saya relatif sudah menjelajahi
> > selama
> > > setengah hari keadaan pertambangan itu. Sebagai seorang anak
> > bangsa
> > > saya
> > > betul-betul tidak bisa menerima bahwa ada wilayah kita yang
> diacak-
> > acak
> > > oleh perusahaan Amerika secara sangat menghina, karena sebuah
> > gunung
> > > sudah lenyap menjadi danau yang sangat jelek. Kemudian entah
> > berapa
> > > luasnya tanah sekitar pertambangan sudah rusak total. Saya
juga
> > melihat
> > > dengan mata kepala ada pipa besar yang dipasang dari pusat
> > pertambangan
> > > di Grasberg disekitar Tembaga Pura itu turun kebawah sepanjang
> > seratus
> > > kilometer sampai ke tepi laut Arafura. Kemudian ternyata pipa
> itu
> > untuk
> > > menggotong concentrate atau biji tambang emas, perak dan
tembaga
> > yang
> > > kita tidak pernah tahu volume atau jumlahnya. Apalagi saya
> diberi
> > tahu
> > > bahwa jelas kali Freeport itu menggelapkan pembayaran
pajaknya.
> > Begitu
> > > saya mengungkpa kenyataan ini sebagai sebuah kenyataan yang
> > > bertentangan
> > > dengan UUD 45, maka dua minggu kemudian (tahun 1993, red) saya
> > > ditendang
> > > dari ICMI oleh pak Harto. Setelah itu nampaknya Freeport
> sebentar
> > > melakukan konsolidasi, tidak begitu mencolok mata, bahkan
lantas
> > satu
> > > persen dari keuntungannya, katanya diberikan kepada masyarakat
> > sekitar.
> > > Tapi yang dikerjakan Freepor makin gila, yaitu ada pelipatan
> > wilayah
> > > yang dieksploitasi dengan izin pemerintah. Kemudian juga
jumlah
> > biji
> > > tambang yang diangkut ke luar lebih banyak lagi.
> > >   Selama saya jadi Ketua MPR hal ini tidak pernah saya pantau.
> > Saya
> > > pernah dibujuk oleh James Moffett pada musim panas tahun 1997
> > waktu saya ada
> > > di Washington.
> > >   Dia terbang ke New Orleans, dan mengiming-imingi saya.
> > > Kata dia, kalau mau saya akan diantar naik helikopter untuk
tour
> > ke
> > > daerah pertambangan Freeport, dan saya akan diberi keterangan
> > bahwa
> > > Freeport tidak merusak ekologi atau lingkungan kita. Kemudian
> pada
> > saat
> > > bersamaan saya di New York ketemu dengan Henry Kissinger.
> Ternyata
> > dia
> > > salah satu Komisaris, dan dia dengan diplomasinya
> > mengatakan, "Kalau
> > > Anda melihat penyelewengan hukum, maka beri tahu saya. Saya
akan
> > > mengambil langkah koreksi." Tetapi semua itu tentu saja hanya
> > > sandiwara, karena yang terjadi penjarahan Freeport makin gila
> > menjarah kekayaan
> > > kita. Karena itu dengan bismillah, nawaitu yang ikhlas, bukan
> niat
> > > oposisi pada pemerintah, mari kita bersama-sama membongkar
> > kejahatan di
> > > Freeport ini.
> > >
> > >   Telah terjadi korupsi yang maha dahsyat di dunia
pertambangan?
> > >     Korupsi itu diartikan sebagai tindakan yang merugikan
negara
> > lewat
> > > penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang. Jadi korupsi yang
> > dimengerti
> > > oleh KPK dan kita semua sudah betul, yaitu penyalahgunaan
> wewenang
> > > untuk kepentingan pribadi dan merugikan negara. Yang terjadi
di
> > Freeport itu
> > > memenuhi kriteria itu secara sangat telak. Negara dirugikan
> dalam
> > > jumlah ratusan atau saya yakin ribuan triliun sejak akhir
tahun
> 60-
> > an. Anda
> > > bayangkan, sebuah gunung lenyap, kemudian sudah dihitung bahwa
> > volume
> > > ampas pertambangan, tailing, tanah, batu kerikil yang terbuang
> itu
> > sama
> > > dengan dua kali kerukan terusan Panama, sekitar 6 miliar ton.
> Ini
> > > sebuah penghinaan nasional. Saya yakin sekali, kalau Freeport
> > sebagai
> > > perusahaan pertambangan babon bisa kita benahi, maka yang
kecil-
> > kecil
> > > seperti Newmont Minahasa, Newmont NTB, perusahaan Gas Tangguh,
> dan
> > > lain-lain akan lebih bisa diperbaiki karena si babon itu telah
> > lebih
> > > dahulu dibenahi. Kalo yang babon ini tetap dibiarkan mengacak-
> acak
> > > kekayaan alam kita, bahkan melakukan penghinaan nasional, maka
> > saya
> > > khawatir orang asing akan mencibir kita bahwa pemerintah kita
> > masih
> > > seperti dulu, masih bermental inlander, tidak berani
mengangkat
> > kepala
> > > terhadap asing. Ini tentu meyedihkan sekali. Jadi korupsi maha
> > dahsyat
> > > ini harus kita lawan.
> > >
> > >   Korupsi dahsyat ini tertutup dengan gencarnya pemerintah
> > mengusut
> > > korupsi kelas ecek-ecek?
> > >   Jadi ramenya pemerintah memberantas korupsi kecil-kecil,
yang
> > ratusan
> > > juta, yang puluhan juta, sesungguhnya untuk menyembunyikan
yang
> > > besar-besar.
> > >   Jadi rakyat kita ini dibodohi oleh pemerintah kita sendiri.
> Dan
> > memang
> > > rakyat kita sudah terkecoh, seolah-olah pemerintah sudah hebat
> > dalam
> > > memberantas korupsi. Setelah 15 bulan berkuasa, menurut
> Political
> > and
> > > Economic Risk Consultancy (PERC) lagi-lagi kita tetap nomor
satu
> > dalam
> > > korupsi di kawasan Asia ini.
> > >   Artinya, korupsi sejati masih tetap berlangsung.
> > > Sekarang yang dikejar-kejar hanya korupsi kecil-kecilan,
> sehingga
> > media
> > > massa juga terkecoh, seolah-olah telah terjadi penanganan
> korupsi
> > > secara massif dan sungguh-sungguh. Padahal yang terjadi kucing-
> > kucingan.
> > >
> > >   Anda pernah mengatakan korupsi di Freeport ini G to G
> (Goverment
> > to
> > > Goverment). Bisa dijelaskan?
> > >     Memang ada pembiaran dari pemerintah kita terhadap bisnis
> yang
> > juga
> > > melibatkan pemerintah asing, yang jelas-jelas merusak. Seperti
> > > diungkapkan oleh The New York Times, kemudian dimuat secara
utuh
> > di The
> > > International Herald Tribun tanggal 28-29 Desember 2005. 
Memang
> > yang
> > > mengamankan penjarahan kekayaan bangsa itu adalah aparat
> keamanan
> > dan
> > > pertahanan kita.
> > >   Saya tidak mau menyebut nama, tetapi hitam diatas putih
> > dikatakan ada
> > > seorang mayor jenderal yang mendapatkan 150.000 US dollar dan
> ada
> > > seorang perwira tinggi kepolisian dapat sekian ratus ribu
> dollar.
> > >   Kemudian ada kolonel, mayor, kapten dan prajurit lain dapat
> > amplop dari
> > > Freeport untuk mengamankan supaya orang tidak bisa masuk dan
> > mengetahui
> > > hakikat kejahatan Freeport itu. Malah ada bukti otentik, sejak
> > tahun
> > > 1996 sampai tahun 2004, Freeport mengeluarkan biaya pengamanan
> 20
> > juta
> > > US dollar yang dibagi ke lembaga. Ini dibayarkan kepada aparat
> > keamanan
> > > kita untuk melindungi Freeport yang zalim itu untuk mengeruk
> > kekayaan
> > > kita.
> > >   Ini yang saya heran kenapa kok dibiarkan.
> > >   Pemerintah terkesan tunduk pada kepentingan asing?
> > >   Ya, memang ada kepentingan asing yang sangat menghina di
> > Freeport ini.
> > > Ada dua jenis negara berkembang dalam menghadapi
korporatokrasi
> > yang
> > > cenderung maling atau klepto. Saya setuju dengan Jhon Perkins
> > bahwa
> > > korporatokrasi itu ada tiga pilar,
> > >   yaitu: Big coorporation, Goverment dan International Bank.
> Tiga
> > elemen
> > > ini berpacu untuk melakukan pengurasan kekayaan dunia ketiga.
> Nah,
> > > disini ada negeri-negeri yang berani mengangkat kepala dan
> berani
> > > mengatakan No! Terhadap korporatokrasi itu, seperti Thailand,
> > India,
> > > RRC, Malaysia. Kita termasuk negeri yang walaupun tidak
> mengatakan
> > Yes!
> > > Tapi tidak pernah mengatakan No! Sehingga begitu enaknya pihak
> > asing
> > > menjamah kekayaan negeri kita. Saya pernah  ceramah di
> Melbourne,
> > saya
> > > bertanya kepada perusahaan penambangan Australia, apakah salah
> > saya
> > > sebagai orang Indonesia itu mematok bahwa dalam kontrak karya
> itu
> > > royalti yang kita terima itu bukan 15 persen, tapi 50 persen.
> > >   Mereka mengatakan tidak ada yang salah dengan pendapat itu
> > karena semau
> > > tergantung dengan perjanjian. Tapi mengapa kita diam saja
diberi
> > 15
> > > persen, itupun saya yakin sekali pembukuannya sudah tidak
betul,
> > karena
> > > kita tidak tahu apa yang terjadi disana.
> > >
> > >   Apakah SDM kita sudah mampu mengelola pertambangan, jika
kita
> > harus
> > > lepas dari Freeport?
> > >   Ada wartawan yang mengatakan, pak Amien, bukankah kita sudah
> > > diuntungkan, karena mereka punya keahlian, mereka bawa mesin,
> > mereka
> > > bawa uang, kemudian kekayaan kita dikeruk, kita dapat 15
persen,
> > ini
> > > kan sudah lumayan. Saya katakan, kalau begitu apa bedanya
dengan
> > zaman
> > > penjajahan. Penjajah itu datang bawa mesin, bawa keahlian,
bawa
> > modal,
> > > kemudian kekayaan kita digotong, yang disisakan hanya untuk
> > > pantes-pantesan saja.
> > >   Sekarang kita sudah 60 tahun merdeka, sehingga Insya Allah
> sudah
> > punya
> > > keahlian. Banyak lulusan dari ITB, UGM dan lain-lain yang
> > mengatakan
> > > bahwa Freeport itu adalah pertambangan terbuka, tidak usah
> > menggali
> > > perut bumi, tetapi hanya memecah batu-batuan, lantas digerus
> > dijadikan
> > > biji tambang, kemudian jadi concentrate, kemudian menjadi
> batangan
> > > emas. Ini sangat mudah. Kata mereka, otak Indonesia itu lebih
> > mampu, mengapa
> > > diberikan kepada Freeport.
> > >
> > >     Pemerintah kita tidak pernah mempersoalkan aspek
pelanggaran
> > yang
> > > dilakukan oleh Freeport, terutama soal dampak lingkungan?
> > >
> > >     Saya kembali pada teori hukum yang elementer. Dalam dunia
> > moral dan
> > > hukum itu ada dua macam dosa dan kejahatan: Pertama, sin of
> crime
> > of commission (Melakukan perbuatan
> > > dosa atau jahat). Kedua, sin of crime of ommision (Dosa
> membiarkan
> > > kejahatan). Jadi kalau pemerintah kita di depan matanya
> > berlangsung
> > > kejahatan yang dilakukan oleh pihak asing, tetapi diam saja,
> malah
> > > memberikan peluang untuk berlangsungnya kejahatan itu, maka
> > pemerintah
> > > kita telah melakukan kejahatan atau dosa membiarkan sebuah
> > kejahatan
> > > berlangsung terus menerus. Jadi kalau saya melihat seorang
> > perampok
> > > melakukan perampokan lalu saya diam saja, maka saya termasuk
> > melakukan
> > > kejahatan ommisi, karena nggak berbuat apa-apa. Saya khawatir
> > > pemerintah
> > > kita dari masa ke masa kalau terus menjadi pemerintah
komprador,
> > yang
> > > meladeni kepentingan asing yang merugikan bangsa, maka
> pemerintah
> > itu
> > > telah melakukan kejahatan. Disadari atau tidak.
> > >
> > >   Kalau begitu, membongkar Freeport sama dengan mengembalikan
> > martabat
> > > bangsa?
> > >     Betul! Ini masalah bangsa Indonesia. Jadi saya
> > menggelindingkan
> > > masalah besar ini dalam rangka save the nation, menyelamatkan
> > bangsa
> > > dan masa depan bangsa. Saya tidak ada kepikiran isu ini
menjadi
> > gerakan
> > > politik yang remeh temeh, apalagi ada dagag sapi. Itu selain
> lucu,
> > > terhina. Ini adalah proyek besar menyelamatkan bangsa.
> > >
> > >   Seberapa parah imprealisme yang terjadi dalam kasus Freeport
> dan
> > > lainnya saat ini?
> > >   Saya kira cukup parah. Karena imprealisme itu berujung pada
> > sebuah
> > > bangsa kehilangan  kedaulatan dan kebebasannya untuk membangun
> > dirinya
> > > sendiri tanpa bantuan asing. Sekarang ini kita mengetahui
bahwa
> > kita
> > > kehilangan kedaulatan kita. Untuk memecahkan masalah ekonomi
> > nasional,
> > > kita pernah mendatangkan 'dukun'
> > >   IMF. Sekarangpun utang kita sudah menjerat kita.
> > > Sekarang pun di kabinet itu sesungguhnya kembali di zaman IMF.
> > Karena
> > > menteri keuangannya, menteri perdagangan dan Meno Ekuinnya itu
> > > orang-orang yang berorientasi pada IMF. Kemudian juga
lihatlah,
> > kita
> > > ini tidak berani mengangkat kepala menuruti kemauan WTO (World
> > Trade
> > > Organization, red). Orang Jepang, orang Perancis, Kanada,
> Amerika,
> > itu
> > > petaninya dilindungi. Tapi disini petani kita begitu tengkurap
> > > menghadapi WTO, sehingga apapun kata WTO kita kerjakan. Kita
ini
> > jadi
> > > bangsa terjajah. Gula kita impor, disuruh impor paha ayam kita
> > lakukan,
> > > impor beras, naikan BBM dan lain-lain. Jadi sudah tidak ada
> > kedaulatan
> > > lagi. Sehingga kalau dibandingkan dengan pimpinan negara lain
> > seperti
> > > Ahmadinejad yang melawan Barat, Mahathir yang berani menegakan
> > kepala
> > > terhadap Barat, atau pemerintah Korea Utara yang juga
demikian,
> > India,
> > > Cina, atau negara-negara Amerika Latinnya. Saat ini
dibandingkan
> > > negara-negara tersebut, Indonesia menjadi tontonan yang tidak
> > lucu.
> > > Negara yang sudah merdeka 60 tahun, tapi mentalitasnya masih
> > seperti
> > > inlander. Jadi mari kita kembali menjadi bangsa yang
berdaulat,
> > tanpa
> > > tekanan pihak manapun.
> > >
> > >   Apakah ada kepentingan politik pribadi dibalik isu ini,
> misalnya
> > > modal Anda di 2009 nanti?
> > >   Pertanyaan Anda sudah banyak ditanyakan. Bahkan ada yang
> > menyatakan,
> > > "Pak Amien, Anda membedah soal Freeport ini secara sungguh-
> sungguh
> > ini,
> > > hanya karena menginginkan dana kampanye pilpres 2009 dari pak
> > Ginandjar
> > > Kartasasmita?" Saya gembira dengan komentar yang aneh-aneh
ini.
> > Tetapi
> > > kita diajarkan oleh al-Qur'an, Faidza 'azamta
> fatawakkal 'alallah,
> > > kalau
> > > sudah bertekad tinggal bertawakkal pada Allah. Kalau
diperjalan
> > ada
> > > pro-kontra, ada fitnah, itu sesuatu yang sangat biasa sekali.
> Nabi
> > yang
> > > sempurna saja itu dikatakan majnun, apalagi orang seperti
Amien
> > Rais.
> > >   Al-Qur'an juga menyuruh kita untuk terus melakukan nahyi
> munkar.
> > Kalau
> > > kita dikritik lantas surut, maka yang keenakan ya yang korupsi
> > itu.
> > > Menurut saya, era Amien Rais itu sudah berlalu. Belakangan
saya
> > banyak
> > > mengambil i'tibar (pelajaran, red) bahwa pemimpin itu harus
> > istiqamah,
> > > jangan sampai terjangkit penyakit nifaq (munafik, red).
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
> > > *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***
> > >
> > >
> > >
> > >   SPONSORED LINKS
> > >         Undergraduate business schools   Business school
essay  
> > Business school and education     Top business schools   Best
> > business schools   Business school minnesota
> > >    
> > > ---------------------------------
> > >   YAHOO! GROUPS LINKS
> > >
> > >    
> > >     Visit your group "mm-ugm" on the web.
> > >    
> > >     To unsubscribe from this group, send an email to:
> > >  [EMAIL PROTECTED]
> > >    
> > >     Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms
of
> > Service.
> > >
> > >    
> > > ---------------------------------
> > >  
> > >
> > >
> > >
> > > __________________________________________________
> > > Do You Yahoo!?
> > > Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection
around
> > > http://mail.yahoo.com
> > >
> >
>








Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.

Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***




SPONSORED LINKS
Undergraduate business schools Business school essay Business school and education
Top business schools Best business schools Business school minnesota


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke