Assalamu'alaikum wr. wb.,

Pada dasarnya, penghormatan kepada pemimpin adl penghormatan kepada manusia. 
Jika si pemimpin adl muslim, berikan salam sbg wujud penghormatan. Apabila dia 
non-muslim, krn tdk diperbolehkan mengucapkan salam, maka tdk keliru jika kita 
memberikan penghormatan dg gaya simbolik. Anggukkan kepala, berikan senyum, 
atau lambaikan tanganmu. 

Tapi bendera adl benda tak hidup. Benda mati, lugasnya. Akankah engkau memberi 
hormat pd benda yg nyata2 mati?

Apabila "Zaman sekarang ini cara berpikir orang beda dengan zaman jahiliyah", 
dikaitkan dg ihwal penghormatan pd bendera, berkenan kiranya engkau menunjukkan 
di mana letak perbedaannya?

Bukankah, dlm pandanganku, sungguh aneh apabila di zaman 'modern' spt sekarang 
ini kita justru masih memberikan hormat pd benda tak hidup?

Juga, Saudariku, agar kian terang pemahaman kita, tunjukkanlah kepadaku 
dalil/argumentasi bhw menghormati bendera adl sesuatu yg diperbolehkan dlm 
Islam?

Allahu a'lam.

Wassalam,
Reza
--- On Mon, 8/16/10, Rara Marulent <[email protected]> wrote:

From: Rara Marulent <[email protected]>
Subject: Re: Bls: [muslim_binus] Awas, syirik!
To: [email protected]
Date: Monday, August 16, 2010, 1:58 PM










        











Kalau hormat bendera ngak boleh, hormat komandan upacara dll juga ngak boleh. 
Zaman sekarang ini cara berpikir orang beda dengan zaman jahiliyah.

--- Pada Jum, 6/8/10, Reza Amriel <[email protected]> menulis:

Dari: Reza Amriel <[email protected]>
Judul: Re: Bls: [muslim_binus] Awas, syirik!
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 6 Agustus, 2010, 2:52 PM







 



    
      
      
      Penyembahan berhala jg pelampiasan rasa sayang 'umat' kepada 'tuhan'nya, 
lho.

Pd zaman Nabi dan sahabat, Islam jg pny semacam bendera. Panji, tepatnya. 
Sesuatu yg dibawa di barisan terdepan saat perang. Tapi tdk ada penghormatan 
thdp bendera, betapapun bendera itu adl simbol kubu Islam sekalipun.

Rasa sayang pada bangsa, sgt wajar (Satu hadits bercerita ttg pentingnya 
kecintaan pd bangsa, walaupun hadits itu dinilai dhaif oleh banyak ulama). Tapi 
pengekspresian kasih sayang tdk blh keliru, kan?

Hayo, masih ada2 saja? Hehehe.....

Allahu a'lam.



--- On Thu, 8/5/10, Rara Marulent <[email protected]> wrote:

From: Rara Marulent <[email protected]>
Subject: Bls: [muslim_binus] Awas,
 syirik!
To: [email protected]
Date: Thursday, August 5, 2010, 9:33 AM








        









Ada ada saja. Menurut saya kecendrungan syirik (atau musryk, ya?!) sering 
terjadi pada jiarah makam keramat. Hormat bendera itukan hanya pelampiasan rasa 
sayang kita sama tanah air

--- Pada Sen, 2/8/10, Reza Amriel <[email protected]> menulis:

Dari: Reza Amriel <[email protected]>
Judul: [muslim_binus] Awas, syirik!
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 2 Agustus, 2010, 1:26 PM







 



    
      
      
      Assalamu'alaikum wr. wb.,

17 Agustus sebentar lagi datang. Di RT, di Kelurahan, di sekolah, di kampus, 
pasti akan ada upacara bendera lagi.

Sambil melongok ke luar jendela, menyaksikan sekumpulan mahasiswa baru BINUS 
sdg berlatih mengibarkan bendera, saya membatin, "Syirikkah memberikan 
penghormatan pada bendera?"

Hm, saya cinta Indonesia. Saya menghargai jasa besar pahlawan. Saya masih acap 
tersenyum, membayangkan bu Fatmawati sedang menjahit sang saka. Tapi, 
meletakkan ujung telunjuk di sisi dahi sambil menatap pengerekan bendera, saya 
pilih tidak.

Hemat saya, penghormatan pd bendera, mirip dg penghormatan pd berhala.

Allahu
 a'lam.

Wassalam,
Reza



      

    
     



 












    
    







 




      

    
     



 












    
    







 




      

Kirim email ke