Assalamu'alaikum wr. wb.,

Tanggapan saya adl kalimat2 di bawah karakter bold, ya. Ini sekaligus respon 
utk rekan muslim Binus yg ikut tukar pikiran pd surel terpisah.

Wassalam,
Reza

--- On Fri, 8/20/10, Rara Marulent <[email protected]> wrote:

From: Rara Marulent <[email protected]>
Subject: Re: Bls: [muslim_binus] Awas, syirik!
To: [email protected]
Date: Friday, August 20, 2010, 2:41 PM










        











Walaikumsalam Wr Wb Saudara Reza dan semua,
Dari saya yang bercetak tebal 

--- Pada Rab, 18/8/10, Reza Amriel <[email protected]> menulis:

Dari: Reza Amriel <[email protected]>
Judul: Re: Bls: [muslim_binus] Awas, syirik!
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 18 Agustus, 2010, 12:54 PM







 



    
      
      
      Assalamu'alaikum wr. wb.,

Pada dasarnya, penghormatan kepada pemimpin adl penghormatan kepada manusia. 
Jika si pemimpin adl muslim, berikan salam sbg wujud penghormatan. Apabila dia 
non-muslim, krn tdk diperbolehkan mengucapkan salam, maka tdk keliru jika kita 
memberikan penghormatan dg gaya simbolik. Anggukkan kepala, berikan senyum, 
atau lambaikan tanganmu. 



Maksud saya, hormat komandan gerakannya juga sama sewaktu hormat bendera
 sewaktu upacara. Jadi sama2 tidak boleh?! Masa hormat komandan sewaktu 
upacara dengan anggukkan kepala, berikan senyum, atau lambaikan tangan. 
Lucu banget pasti.

Lambaikan tangan bukan berarti "daagg...daaggg" :)
Komandan adl pemimpin. Namun ketika pemimpin melakukan sesuatu yg tdk memiliki 
dasar dlm Islam, jelas tdk boleh diikuti.

Tapi bendera adl benda tak hidup. Benda mati, lugasnya. Akankah engkau memberi 
hormat pd benda yg nyata2 mati?

Saya bila bepergian mengunjungi pulau yang sangat cantik dan sepi biasanya 
langsung berbaring telungkup di pantai seolah2 ingin merengkuh pulau tersebut 
dan juga sering sambil teriak. My island . . . my island . . . . Ngak boleh 
juga, donk. Ini malah lebih parah dari hormat bendera yang kebanyakan hanya 
basa-basi.

Yg baik adl memuji Allah, "Subhanallah, alhamdulillah."
Nah, kalau menghormati bendera kebanyakan hanya basa-basi, maka semakin kuat 
argumentasi saya bhw ini adl kesia-siaan perilaku. Dlm Islam, kita diajarkan 
utk menghindari kesia-siaan.

Juga, jika kebanyakan adl hanya basa-basi, berarti ada yg bukan basa-basi? 
Apakah itu?

Apabila "Zaman sekarang ini cara berpikir orang beda dengan zaman jahiliyah", 
dikaitkan dg ihwal penghormatan pd bendera, berkenan kiranya engkau menunjukkan 
di mana letak perbedaannya?

Beda banget. Zaman sekarang bila ada yang mengubur bayinya hidup2 seperti zaman 
jahiliyah pasti banyak yang mengecam.

Hahaha. Ini pemberian contoh yg keluar konteks. Di dalam tukar pikiran kita 
ini, yaitu ttg penghormatan bendera, apa gerangan pembeda antara zaman 
jahiliyah dan zaman modern? Jangan2 justru lbh byk kesamaan; bedanya di zaman 
Jahiliah ada penghormatan thdp berhala, sementara sekarang penghormatan thdp 
berhala yg semakin bervariasi bentuknya.

Merespon mslh bayi: 
Di zaman jahiliyah pun banyak yg mengecam orang2 yg mengubur para bayi, 
terutama ibu para bayi perempuan itu sendiri. Di zaman sekarang, justru tdk 
sedikit para ibu yg menggorok leher bayinya sendiri. Jadi, sekali lagi, jangan2 
deja vu; apa yg kita lakukan hari ini banyak kemiripannya dg semasa Jahiliyah 
dahulu kala.


Bukankah, dlm pandanganku, sungguh
 aneh apabila di zaman 'modern' spt sekarang ini kita justru masih memberikan 
hormat pd benda tak hidup?

Memang aneh. Tapi itulah namanya juga upacara, acara seremonial yang tentu 
tujuannya untuk meningkatkan nasinalisme. Seperti halnya aneh juga bila orang 
mau memberi kado harus dibungkus dengan cantik padahal akhirnya hanya untuk 
dirobek. Banyak yang aneh di dunia ini bila mau melihat dari anehnya.

Upacara utk meningkatkan nasionalisme, tdk keliru, menurut saya. Namun upacara 
yg spt apa? Jika upacara diisi dg berdoa bg keselamatan bangsa, saya sepakat. 
Tapi selain itu, saya belum (tdk?) menemukan bentuk2 praktiknya spt yg telah 
diajarkan oleh Nabi Muhammad berkenaan dg dasar2 kehidupan sbg bangsa.

Juga, Saudariku, agar kian terang
 pemahaman kita, tunjukkanlah kepadaku dalil/argumentasi bhw menghormati 
bendera adl sesuatu yg diperbolehkan dlm Islam?

Tidak ada dalil yang membolehkan bukan berarti dilarang. Tidak ada dalil 
mengenai mengendari mobil bukan berarti kita lantas dilarang mengendari mobil 
tapi harus naik unta.

Saudariku, lagi2, aku melihat penyederhanaan dlm contoh yg engkau berikan. 
Namun, berhubung jam istirahatku telah berakhir, aku kembali dulu ya ke 
tugas2ku. Ada waktu ke depan, aku akan kembali bertukar pikiran dgmu.

Allahu a'lam.

Wassalam,
Reza

Allahu a'lam.
Menurut saya yang musryk itu bila kita hormat bendera sambil meminta sesuatu 
kepada bendera tersebut seperti halnya banyak dilakukan oleh orang2 yang 
berziarah ke makam2 yang dikeramatkan. 

Wassalam,
Reza

--- On Mon, 8/16/10, Rara Marulent <[email protected]> wrote:

From: Rara Marulent <[email protected]>
Subject: Re: Bls: [muslim_binus] Awas, syirik!
To: [email protected]
Date: Monday, August 16, 2010, 1:58 PM








        









Kalau hormat bendera ngak boleh, hormat komandan upacara dll juga ngak boleh. 
Zaman sekarang ini cara berpikir orang beda dengan zaman jahiliyah.

--- Pada Jum, 6/8/10, Reza Amriel <[email protected]> menulis:

Dari: Reza Amriel <[email protected]>
Judul: Re: Bls: [muslim_binus] Awas, syirik!
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 6 Agustus, 2010, 2:52 PM







 



    
      
      
      Penyembahan berhala jg pelampiasan rasa sayang 'umat' kepada 'tuhan'nya, 
lho.

Pd zaman Nabi dan sahabat, Islam jg pny semacam bendera. Panji, tepatnya. 
Sesuatu yg dibawa di barisan terdepan saat perang. Tapi tdk ada penghormatan 
thdp bendera, betapapun bendera itu adl simbol kubu Islam sekalipun.

Rasa sayang pada bangsa, sgt wajar (Satu hadits bercerita ttg pentingnya 
kecintaan pd bangsa, walaupun hadits itu dinilai dhaif oleh banyak ulama). Tapi 
pengekspresian kasih sayang tdk blh keliru, kan?

Hayo, masih ada2 saja? Hehehe.....

Allahu a'lam.



--- On Thu, 8/5/10, Rara Marulent <[email protected]>
 wrote:

From: Rara Marulent <[email protected]>
Subject: Bls: [muslim_binus] Awas,
 syirik!
To: [email protected]
Date: Thursday, August 5, 2010, 9:33 AM








        









Ada ada saja. Menurut saya kecendrungan syirik (atau musryk, ya?!) sering 
terjadi pada jiarah makam keramat. Hormat bendera itukan hanya pelampiasan rasa 
sayang kita sama tanah air

--- Pada Sen, 2/8/10, Reza Amriel <[email protected]> menulis:

Dari: Reza Amriel <[email protected]>
Judul: [muslim_binus] Awas, syirik!
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 2 Agustus, 2010, 1:26 PM







 



    
      
      
      Assalamu'alaikum wr. wb.,

17 Agustus sebentar lagi datang. Di RT, di Kelurahan, di sekolah, di kampus, 
pasti akan ada upacara bendera lagi.

Sambil melongok ke luar jendela, menyaksikan sekumpulan mahasiswa baru BINUS 
sdg berlatih mengibarkan bendera, saya membatin, "Syirikkah memberikan 
penghormatan pada bendera?"

Hm, saya cinta Indonesia. Saya menghargai jasa besar pahlawan. Saya masih acap 
tersenyum, membayangkan bu Fatmawati sedang menjahit sang saka. Tapi, 
meletakkan ujung telunjuk di sisi dahi sambil menatap pengerekan bendera, saya 
pilih tidak.

Hemat saya, penghormatan pd bendera, mirip dg penghormatan pd berhala.

Allahu
 a'lam.

Wassalam,
Reza



      

    
     



 












    
    







 




      

    
     



 












    
    







 




      

    
     



 












    
    







 




      

Kirim email ke