Walaikumsalam Wr Wb Saudara Reza dan semua, Dari saya yang bercetak tebal --- Pada Rab, 18/8/10, Reza Amriel <[email protected]> menulis:
Dari: Reza Amriel <[email protected]> Judul: Re: Bls: [muslim_binus] Awas, syirik! Kepada: [email protected] Tanggal: Rabu, 18 Agustus, 2010, 12:54 PM Assalamu'alaikum wr. wb., Pada dasarnya, penghormatan kepada pemimpin adl penghormatan kepada manusia. Jika si pemimpin adl muslim, berikan salam sbg wujud penghormatan. Apabila dia non-muslim, krn tdk diperbolehkan mengucapkan salam, maka tdk keliru jika kita memberikan penghormatan dg gaya simbolik. Anggukkan kepala, berikan senyum, atau lambaikan tanganmu. Maksud saya, hormat komandan gerakannya juga sama sewaktu hormat bendera sewaktu upacara. Jadi sama2 tidak boleh?! Masa hormat komandan sewaktu upacara dengan anggukkan kepala, berikan senyum, atau lambaikan tangan. Lucu banget pasti. Tapi bendera adl benda tak hidup. Benda mati, lugasnya. Akankah engkau memberi hormat pd benda yg nyata2 mati? Saya bila bepergian mengunjungi pulau yang sangat cantik dan sepi biasanya langsung berbaring telungkup di pantai seolah2 ingin merengkuh pulau tersebut dan juga sering sambil teriak. My island . . . my island . . . . Ngak boleh juga, donk. Ini malah lebih parah dari hormat bendera yang kebanyakan hanya basa-basi. Apabila "Zaman sekarang ini cara berpikir orang beda dengan zaman jahiliyah", dikaitkan dg ihwal penghormatan pd bendera, berkenan kiranya engkau menunjukkan di mana letak perbedaannya? Beda banget. Zaman sekarang bila ada yang mengubur bayinya hidup2 seperti zaman jahiliyah pasti banyak yang mengecam. Bukankah, dlm pandanganku, sungguh aneh apabila di zaman 'modern' spt sekarang ini kita justru masih memberikan hormat pd benda tak hidup? Memang aneh. Tapi itulah namanya juga upacara, acara seremonial yang tentu tujuannya untuk meningkatkan nasinalisme. Seperti halnya aneh juga bila orang mau memberi kado harus dibungkus dengan cantik padahal akhirnya hanya untuk dirobek. Banyak yang aneh di dunia ini bila mau melihat dari anehnya. Juga, Saudariku, agar kian terang pemahaman kita, tunjukkanlah kepadaku dalil/argumentasi bhw menghormati bendera adl sesuatu yg diperbolehkan dlm Islam? Tidak ada dalil yang membolehkan bukan berarti dilarang. Tidak ada dalil mengenai mengendari mobil bukan berarti kita lantas dilarang mengendari mobil tapi harus naik unta. Allahu a'lam. Menurut saya yang musryk itu bila kita hormat bendera sambil meminta sesuatu kepada bendera tersebut seperti halnya banyak dilakukan oleh orang2 yang berziarah ke makam2 yang dikeramatkan. Wassalam, Reza --- On Mon, 8/16/10, Rara Marulent <[email protected]> wrote: From: Rara Marulent <[email protected]> Subject: Re: Bls: [muslim_binus] Awas, syirik! To: [email protected] Date: Monday, August 16, 2010, 1:58 PM Kalau hormat bendera ngak boleh, hormat komandan upacara dll juga ngak boleh. Zaman sekarang ini cara berpikir orang beda dengan zaman jahiliyah. --- Pada Jum, 6/8/10, Reza Amriel <[email protected]> menulis: Dari: Reza Amriel <[email protected]> Judul: Re: Bls: [muslim_binus] Awas, syirik! Kepada: [email protected] Tanggal: Jumat, 6 Agustus, 2010, 2:52 PM Penyembahan berhala jg pelampiasan rasa sayang 'umat' kepada 'tuhan'nya, lho. Pd zaman Nabi dan sahabat, Islam jg pny semacam bendera. Panji, tepatnya. Sesuatu yg dibawa di barisan terdepan saat perang. Tapi tdk ada penghormatan thdp bendera, betapapun bendera itu adl simbol kubu Islam sekalipun. Rasa sayang pada bangsa, sgt wajar (Satu hadits bercerita ttg pentingnya kecintaan pd bangsa, walaupun hadits itu dinilai dhaif oleh banyak ulama). Tapi pengekspresian kasih sayang tdk blh keliru, kan? Hayo, masih ada2 saja? Hehehe..... Allahu a'lam. --- On Thu, 8/5/10, Rara Marulent <[email protected]> wrote: From: Rara Marulent <[email protected]> Subject: Bls: [muslim_binus] Awas, syirik! To: [email protected] Date: Thursday, August 5, 2010, 9:33 AM Ada ada saja. Menurut saya kecendrungan syirik (atau musryk, ya?!) sering terjadi pada jiarah makam keramat. Hormat bendera itukan hanya pelampiasan rasa sayang kita sama tanah air --- Pada Sen, 2/8/10, Reza Amriel <[email protected]> menulis: Dari: Reza Amriel <[email protected]> Judul: [muslim_binus] Awas, syirik! Kepada: [email protected] Tanggal: Senin, 2 Agustus, 2010, 1:26 PM Assalamu'alaikum wr. wb., 17 Agustus sebentar lagi datang. Di RT, di Kelurahan, di sekolah, di kampus, pasti akan ada upacara bendera lagi. Sambil melongok ke luar jendela, menyaksikan sekumpulan mahasiswa baru BINUS sdg berlatih mengibarkan bendera, saya membatin, "Syirikkah memberikan penghormatan pada bendera?" Hm, saya cinta Indonesia. Saya menghargai jasa besar pahlawan. Saya masih acap tersenyum, membayangkan bu Fatmawati sedang menjahit sang saka. Tapi, meletakkan ujung telunjuk di sisi dahi sambil menatap pengerekan bendera, saya pilih tidak. Hemat saya, penghormatan pd bendera, mirip dg penghormatan pd berhala. Allahu a'lam. Wassalam, Reza
