|
Assalamu'alikum wr wb.,
Saya tambahkan sedikit untuk memperkaya pembahasan
kita mengenai kemampuan manusia itu begitu kompleks sehingga ijazah dalam
proses pendidikan formal belum tentu bisa mengukur kemampuan seseorang. Banyak
contoh seperti yang sedikit disampaikan oleh pak Darul. Saya dengar -
tolong koreksi apabila salah, Gus Dur pun terkenal pintar tapi dropout dalam
pendidikan formal. Bocoran test IQ sebagai capres nya mendapatkan nilai
tertinggi; kalau ini betul, sungguh hebat bagi seseorang dengan dua kali
terserang stroke.
Kenapa Perusahaan, Dinas Pemerintahan dan Konsultan
SDM masih mempergunakan ijazah sebagai salah satu syarat? Karena sampai sekarang
baru itu yang secara luas yang lazim dipergunakan dan disyahkan oleh Pemerintah.
Dalam proses berikutnya, karena disadari ijazah saja tidak cukup, ditambahkan
seperti psycho-test, interview, pengalaman, referensi dari orang dan perusahaan
yang dapat dipercaya, yang semuanya dapat dipergunakan sebagai
pertimbangan.
Perusahaan yang "pintar" tidak akan mempergunakan
ijazah sebagai syarat mutlak. Contohnya, apabila untuk sebuah posisi dibutuhkan
seorang senior engineer yang berpengalaman untuk sebuah perusahaan konstruksi
khusus. Bisa saja seorang kandidat akan lebih diperhitungkan meskipun tidak
lulus insinyur penuh, tapi terbukti bertahun tahun berhasil sebagai engineer
yang dimaksud dalam sebuah perusahaan yang memang leading di sketor industri
tersebut.
Wassalam,
Ridwan
|
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ___________________________________________________

