Sanak
Adi, anggap iko sharing, injan sampai tasingguang yo.
-----Original Message-----
From: syafwardi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, August 02, 2004 12:12 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; Darul Makmur
Subject: RE: [EMAIL PROTECTED] Siapa Kah Kita ?
From: syafwardi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, August 02, 2004 12:12 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; Darul Makmur
Subject: RE: [EMAIL PROTECTED] Siapa Kah Kita ?
Assalamualaikum ww..
Walai
kumussalam. WW
Adi
Pernyataan Bapak tidak sepenuhnya benar juga pak Darul. Proses
rekruitmen karyawan, baik swasta ataupun pegawai negeri sekarang sudah banyak
yang melalui proses yang bagus.
<DM>
Ya
tentu makin lama makin bagus, tapi ini kan juga tetap proses untuk jadi pegawai
kan?
Adi
Mungkin Bapak bisa tanya kepada orang-orang yang telah melalui tes seperti
di: Bank Indonesia, Deplu, Depkeu, Telkom, Pertamina, Caltex, Bank-bank serta
instansi-instansi terkemuka lainnya, disana IPK hanya syarat untuk ikut serta,
setelah itu mereka di tes lagi: TPA, IQ, psikotest, diskusi, kesehatan dan
wawancara, barulah dari sana diambil orang-orang yang terbaik. Jadi yang ditanya
itu memang kemampuannya secara keseluruhan, bukan hanya titel. Bahkan ada
instansi yang sampai menyewa konsultan SDM untuk melakukan
rekruitmen.
<DM>
Benar
kan? Tanpa Ijazah, tidak boleh ikut test lainnya. Jadi syarat utamanya adalah
berhasil tammat sekolah konvesional kan?
Adi
Jadi jangan dipikir penerimaan pegawai itu cuma berdasarkan titel pak,
salah besar, kalau omongan Bapak ini diketahui oleh: konsultan SDM, para pencari
kerja, orang-orang yang telah melewati proses tes untuk mencari kerja,
manajer-manajer SDM perusahaan, divisi SDM di departemen-departemen, bank serta
instansi lainnya, mereka-mereka bisa protes.
<DM>
Maaf
dinda Adi, kebetulan saya lama juga berkecimpung di Personlia, perusahaan yang
bercokol do Jl Kebun Sirih dekat jalan kereta api.
Adi
Begitu lho pak Darul kalau dalam konteks pemikiran yang agak luas,
tapi kalau mau melihat dalam pemikiran sempit, pertemuan alumni, obrolan di
warung, carito-carito di ateh bendi, ataupun forum non formal lainnya, pasti
yang dinilai adalah titel seseorang bukan kemampuannya.
Tentang peringkat SMA berdasarkan banyaknya lulusannya yang diterima di PT,
itu sangat wajar sekali kalau hal tersebut menjadi salah satu indikator
keberhasilan suatu SMA. SMA yang mempunyai lulusan yang lebih banyak diterima di
PT berarti lebih berhasil secara akademis ya khan?
<DM>
Ya
kalau dipandang secara pendidikan formal yang ada. Tapi boleh kan jika dipandang
dari kaca mata yang lain. Anda pernah dengar kan sejarah Einstein ang
dikeluarkan dari sekolah. Dan kisah Om Liem yang tidak kuliah? Dan banyak lagi,
yang kadang untuk ngomong saja susah, tapi dia punya karyawan yang
pintar-pintar.
Adi
Kalau untuk yang terakhir, saya tidak bisa komentar pak, karena konteksnya
mungkin udah agak beda. tapi yang pasti, kalau konteksnya sudah non formal,
sudah pasti yang dipakai penilaian yang non formal juga, jadi wajar-wajar aja
pak, kalau dalam suatu organisasi, pemimpin dipilih berdasrkan titelnya, bukan
kemampuannya, apalagi kemampuannya untuk inilah dan itulah.
Pak, emang ada business owner yang bodoh? ga ada lho pak, business owner
manapun, mereka tetap memikirkan keuntungan dalam setiap kegiatan yang dia
lakukan, dan keuntungannya ga selalu dalam bentuk materi, mungkin ketenaran,
publisitas ataupun jaga relasi, yang pada ujung-ujungnya nanti juga akan
mendatangkan keuntungan.
<DM>
Kalau
sudah begini, nampaknya anda telah mulai mau merubah kaca mata sekali-sekali.
Ingat koin itu bermata dua. Yang memberi titel bodoh ini adalah kaca mata
sekolah formal. Kalau tidak bisa matematik, kimia, biologi, sejarah dll,
maka dia bernilai merah dan dianggap bodoh, tidak berprestasi. Pada hal prestasi
dapat juga dicapai tanpa menguasai ilmu-ilmu seperti yang disebutkan tadi dan
sejenisnya, kan? Malah orang yang berprestasi di Olah Raga, seni, ??? dan
bisnis banyak juga yang berkatagori bodoh tsb diatas.
Adi
Jadi begitu lho pak Darul pendapat saya, tapi ini cuma pendapat pribadi
pak, bisa bener dan bisa salah juga, tapi kalau tentang info nya, semua benar
pak. Kembali ke topik awal, kalau kita sudah tahu siapa kita, dimana kita
berada, apa yang kita ketahui dan apa yang kita lakukan sudah sesuai dengan
posisi kita, berarti kita sudah tidak bodoh lagi.
<DM>
100
bulat untuk anda. Yang dipersoalkan adalah selama ini yang dibilang orang
pintar, kalau dia juara diklas dengan mata pelajaran standar yang sekitar 10 s/d
12 subject. Kalau sebaliknya tentu dianggap bodoh. Dari sinilah kata-kata bodoh
yang pernah di forward oleh sanak Ronal.
Perlu diingat, manusia itu sudah ditakdirkan untuk survive
dalam hidup. Bila dia dianggap bodoh oleh sistim pendidikan nasional, maka dia
akan mencari tempat yang bisa dia berprestasi. Sering orang ini menjalankan
usaha sendiri, dan menyewa (menggaji) orang lain untuk menjalankan usahanya. Orang lain tersebut
kebetulan orang pintar yang dapat menyelesaikan PT, walau demikian orang
terakhir ini kan tetap pegawai kan?
Adi
Sekian, terimakasih, wassalam dan hormat saya,
Adi
Wass.
WW
Darul
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ___________________________________________________

