Mengemukakan pendapat itu adalah hal biasa, memaksakan orang lain menerima pendapat kita, baru tidak biasa, jadi setiap pendapat memang harus didisclose..
Diskusi ini memang terinspirasi dari postingan anda, tapi yang dibahas juga masalah yang sangat-sangat umum, jadi tidak murni juga membahas postingan anda, dan juga berarti tidak perlu juga tahu sumber postingan anda, terlalu naif juga kalau yang dibahas adalah postingan anda.
Saya juga tidak mau membahas lagi, lebih baik galak-galak se awak le, ancak lah carito-carito ambuih-ambuih se awak....
Kirim an lah carito galak-galak baliak sdr Ronal, bia ado gunonyo bagi awak basamo, demi kemajuan daerah awak, ndak usahlah awak badiskusi yang serius-serius bana..
 
"Ronal Chandra \"RR\"" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya bingung, mana yang orang bodoh dan orang pintar
dalam diskusi ini. " selalu diakhiri dengan kata2 ini
pendapat saya lho" seperti ingin mendisclose bahwa ini
pendapat saya boleh terima boleh juga tidak.

tapi kenapa tulisan saya jadi polemik yh ? bukankan si
penulis juga dengan kemampuan berpikirnya yang
terbatas mungkin!,sedang berpendapat dalam sebuah
tulisan orang bodoh dan orang pintar ? boleh kan ?
jadi jangan menyalahkan dong!

Silahkan anda berpendapat, gunakan kata2 yang baik
diskusi dengan ilmu, dari pertama kali anda bertanya
sumber dan asal postingan saya ( saya berpikir apa
anda bisa trus berdikusi dengan baik kalou isi materi
dan sumber dokumen tidak diperhatikan dengan baik ? )

Afwan saya tidak ingin berpolemik dalam hal ini,
anggap saja si penulis sedang berpendapat, kalou
bagaimana masalah orang dalam menerima sebuah
pendapat, saya sarankan baca bagaimana luqman mendidik
anaknya ;-)

Wassalam
Ronal Chandra
--- syafwardi <[EMAIL PROTECTED]>wrote:

> Assalamualaikum ww..
>
> Pernyataan Bapak tidak sepenuhnya benar juga pak
> Darul. Proses rekruitmen karyawan, baik swasta
> ataupun pegawai negeri sekarang sudah banyak yang
> melalui proses yang bagus.
> Mungkin Bapak bisa tanya kepada orang-orang yang
> telah melalui tes seperti di: Bank Indonesia, Deplu,
> Depkeu, Telkom, Pertamina, Caltex, Bank-bank serta
> instansi-instansi terkemuka lainnya, disana IPK
> hanya syarat untuk ikut serta, setelah itu mereka di
> tes lagi: TPA, IQ, psikotest, diskusi, kesehatan dan
> wawancara, barulah dari sana diambil orang-orang
> yang terbaik. Jadi yang ditanya itu memang
> kemampuannya secara keseluruhan, bukan hanya titel.
> Bahkan ada instansi yang sampai menyewa konsultan
> SDM untuk melakukan rekruitmen.
> Jadi jangan dipikir penerimaan pegawai itu cuma
> berdasarkan titel pak, salah besar, kalau omongan
> Bapak ini diketahui oleh: konsultan SDM, para
> pencari kerja, orang-orang yang telah melewati
> proses tes untuk mencari kerja, manajer-manajer SDM
> perusahaan, divisi SDM di departemen-departemen,
> bank serta instansi lainnya, mereka-mereka bisa
> protes.
> Begitu lho pak Darul kalau dalam konteks pemikiran
> yang agak luas, tapi kalau mau melihat dalam
> pemikiran sempit, pertemuan alumni, obrolan di
> warung, carito-carito di ateh bendi, ataupun forum
> non formal lainnya, pasti yang dinilai adalah titel
> seseorang bukan kemampuannya.
> Tentang peringkat SMA berdasarkan banyaknya
> lulusannya yang diterima di PT, itu sangat wajar
> sekali kalau hal tersebut menjadi salah satu
> indikator keberhasilan suatu SMA. SMA yang mempunyai
> lulusan yang lebih banyak diterima di PT berarti
> lebih berhasil secara akademis ya khan?
> Kalau untuk yang terakhir, saya tidak bisa komentar
> pak, karena konteksnya mungkin udah agak beda. tapi
> yang pasti, kalau konteksnya sudah non formal, sudah
> pasti yang dipakai penilaian yang non formal juga,
> jadi wajar-wajar aja pak, kalau dalam suatu
> organisasi, pemimpin dipilih berdasrkan titelnya,
> bukan kemampuannya, apalagi kemampuannya untuk
> inilah dan itulah.
> Pak, emang ada business owner yang bodoh? ga ada lho
> pak, business owner manapun, mereka tetap memikirkan
> keuntungan dalam setiap kegiatan yang dia lakukan,
> dan keuntungannya ga selalu dalam bentuk materi,
> mungkin ketenaran, publisitas ataupun jaga relasi,
> yang pada ujung-ujungnya nanti juga akan
> mendatangkan keuntungan.
> Jadi begitu lho pak Darul pendapat saya, tapi ini
> cuma pendapat pribadi pak, bisa bener dan bisa salah
> juga, tapi kalau tentang info nya, semua benar pak.
> Kembali ke topik awal, kalau kita sudah tahu siapa
> kita, dimana kita berada, apa yang kita ketahui dan
> apa yang kita lakukan sudah sesuai dengan posisi
> kita, berarti kita sudah tidak bodoh lagi.
>
> Sekian, terimakasih, wassalam dan hormat saya,
>
> Adi
>
>
>
>
> Darul Makmur <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
> Assalamulaikum WW
>
> Yang sempit itu kami yang dahulu membicarakan atau
> anda?
>
> Dimana saja, dalam pernerimaan pegawai (negeri),
> dirapat alumni, malah sampai memilih pacar, sering
> yang ditanya titelnya apa? bukan kemampuannya. Malah
> sekolah SMA diukur peringkatnya, seberapa banyak
> tamattannya yang diterima di PT.
>
> Pernahkah suatu pemilihan atau penilaian
> dikatagorikan kepada seberapa besar orang tersebut
> dapat mempekerjakan orang lain. Malah yang dinilai
> dimana dia bekerja dan jabatan apa? Yang nota bene
> dia adalah digaji untuk jerih payah yang dijualnya
> kepada orang bodoh ........ eh salah business owner.
>
> Wassalam WW
> St.P
>
> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Behalf Of syafwardi
> Sent: Friday, July 30, 2004 6:22 PM
>
>
> Assalamualaikum Wr Wb
>
> Ijazah memang jadi syarat, tp itu bukan ukuran
> pintar dan bodohnya seseorang, termasuk di negara
> RI. juara, ranking atau apalah juga bukan ukuran
> pintar ataupun bodoh seseorang.
> Jangan terlalu menyempitkan pemahaman tentang
> sesuatu, dan juga jangan selalu menganggap bahwa
> negara kita tertinggal, disini harus jelas apakah
> memang negara yang tertinggal atau kita yang tidak
> tahu akan perkembangan dan kemajuan yang telah
> terjadi di negara kita ini.
> Makasih..
>
> Wss,
> Adi
>
> ____________________________________________________
> Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda,
> silahkan ke:
> http://rantaunet.org/palanta-setting
> ___________________________________________________
>
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We
finish.>
____________________________________________________
> Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda,
> silahkan ke:
> http://rantaunet.org/palanta-setting
> ___________________________________________________


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
___________________________________________________


_______________________________________________
Syafwardi
Financial Market Analysis Division
Center for Government Bonds Management
Ministry of Finance, Republic of Indonesia
Building B, 8th floor Jl. Dr. Wahidin no. 1 Jakarta
Telp. 021-3810175 Fax. 021-3846516
_____________________________________________________


Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail is new and improved - Check it out!
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting 
___________________________________________________

Kirim email ke