dunsanak Andi, angko itu, dari pak Dr Qurtubi, istilah ekonominyo , pada bisnis migas, hukum ekonomi persaingan bebas akan menyebabkan harga murah tak berlaku.
malah integrasi hulu hilir /monopoli murni akan menyebabkan BBM murah, bila banyak perusahaan di rantai bisnis hulu ke hilirnya ( dari pengeboran minyak sampai jual bensin di pom bensin ), akan bertambah cost nya, karena pada setiap rantai proses akan terjadi pertambahan biaya. hal tsb tak begitu terjadi pada bisnis yg rantai bisnisnya satu perusahaan saja. jadi kenaikan 30% , adalah karena banyak pemain /perusahaan di rantai bisnis migas tsb. ambo kiro kondisi Indonesia, yo malaysia dan singapura agak berbeda, karena malaysia dan singapura punya kebijakan ekonomi pengelolaan kekayaan negara yg lebih bagus ( mensejahterakan rakyat ). Malaysia tak didikte IMF, singapura bebas pula. Sedangkan Indonesia, melakukan kebijakan tsb karena tekanan IMF , jadi ekonomi pasar murni tak berlaku. efek liberalisasi bisnis migas di Indonesia berbeda efeknya dg di Malaysia/singapura. sekian mungkin tambahan dari ambo wassalam HM Jkt --- In [EMAIL PROTECTED], "si_andi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dunsanak Hendra, kok dapek ditambah saketek, dari ma datang angko > 30% sampai 40% ko? Apo ko dek subsidi minyak ka bahabihkan bana? > > Kalau di tampek ambo, minyak macam Pertamax nan tanpa timbal tu > sekitar S$1.18 (Rp 6200) saliter. Dek biasonyo urang pom bensin > mandiskon rato-rato 5%, jatuahnyo sekitar Rp 5900 saliter. Cuma itu > lah tamasuak pajak pamarentah 49 sen (Rp 2500) jadi mungkin harago > sabananyo Rp 3400 saliter. > > ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ___________________________________________________

