Sambungan.

Harga minyak memang sangat sulit ditentukan. Karena begitu banyak faktor
yang mempengaruhi harga, harga minyak selalu menjadi awal bahasan disetiap
kursus para akhli minyak. Kalau kita sekarang menjadi net importer crude oil
maka kita harus berfikir adalah membeli minyak bukan lagi menjual minyak.

Dari sejarah melakukan kegiatan perminyakan, Indonesia dianggap sudah jauh
lebih awal melakukannya dibanding banyak negara-negara lainnya. Kegiatan
pertama kalau tidak salah adalah yang dilakukan di Brandan olah BPM (nama
maskapai perminyakan Belanda di Indonesia - Batavia) di abad 19, lupa
tahunnya. Tetapi apa yang kita peroleh setelah kita mewarisi
perusahaan-perusahaan besar yang dibangun Belanda? Pertamina saat ini kalah
pamornya dibanding Petronas yang umurnya jauh lebih muda.

Kembali ke harga minyak untuk "rakyat"? rakyat dalam tanda petik. Kalau kita
ingin adil tentunya kita harus mulai berfikir berapa yang pantas untuk
semuanya secara adil dan sesuai dengan kebutuhan meneluruh dan untuk
kesejahteraan jangka panjang. Kenapa jawabannya begitu rumit? karena memang
minyak menghasilkan beraneka ragam produk yang dipergunakan oleh rakyat yang
berbeda. Ada aftur untuk pesawat terbang, ada solar untuk industri dan
transportasi berat, ada premium untuk banyak mobil dan motor, ada minyak
tanah untuk rumah tangga dan sebagian industri.

Jadi kalau kita beli dengan harga $40+ per barrel, kita jual dengan harga
sekarang jelas rugi. Kita sudah setuju setiap usaha industri atau niaga
sebaiknya dilakukan oleh perusahaan, kalau rugi terus-terusan tidak ada
perusahaan yang akan hidup lama. Kita berharap perusahaan minyak kita,
seperti Pertamina atau Expan dll bisa hidup dan jaya kedepan, sehingga kita
tidak akan terus menerus iri dengan Petronas. Sebelumnya Pertamina selalu
bangga dengan produksi mereka, karena selain perusahaan mereka juga
perantara antara Pemerintah dengan perusahaan minyak asing. Jadi produk yang
dihasilkan oleh perusahaan asing bisa di claim sebagai bagian dari produksi
mereka.

Dimata perusahaan kelas dunia Pertamina cukup diperhitungkan sebagai
produsen minyak yang bisa menghasilkan diatas 1 juta barrel perhari. Hal
seperti ini biasanya dalam psikologi perusahaan atau organisasi membuat kita
sebagai manusia menjadi tidak sensitip terhadap persaingan. Sekarang
Pertamina dalam kondisi ini dan juga mewarisi predikat sebagai pelaksana
untuk memenuhi kebutuhan perminyakan di Indonesia menjadi sulit, karena dia
pun harus bertanggung jawab sebagai perusahaan yang tujuannya adalah membuat
keuntungan.

Bersambung

Wassalam,
Ridwan




----- Original Message -----
From: "hdmessa" <[EMAIL PROTECTED]>

cut
> > Dunsanak Hendra, kok dapek ditambah saketek, dari ma datang angko
> > 30% sampai 40% ko? Apo ko dek subsidi minyak ka bahabihkan bana?
> >
> > Kalau di tampek ambo, minyak macam Pertamax nan tanpa timbal tu
> > sekitar S$1.18 (Rp 6200) saliter. Dek biasonyo urang pom bensin
> > mandiskon rato-rato 5%, jatuahnyo sekitar Rp 5900 saliter. Cuma itu
> > lah tamasuak pajak pamarentah 49 sen (Rp 2500) jadi mungkin harago
> > sabananyo Rp 3400 saliter.
> >
> >
>
>
> ____________________________________________________
> Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
> http://rantaunet.org/palanta-setting
> ___________________________________________________
>


____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting 
___________________________________________________

Kirim email ke