Wa'alaikumsalam.Wr.Wb.

Hmmm....sudah lama saya perhatikan diskusi masalah
Fenomena kuliyah DN ( Dalam negeri ) dan LN ( Luar
negeri ini ).

Mungkin disini saya yang masih sangat muda dalam dunia
pendidikan ( saya cuman baru mengajar 1 tahun tok,
walau pegawai sdh 5 thn, karena saya banyak di
tugaskan belajar di LN saja ), ingin memberi pendapat
sesuai dengan apa yang saya rasakan dan amati sepintas
saja, tidak keseluruhan terjun kelapangan. Jadi
pendapat ini sifatnya sangat subjektif.

Saya bisa mengerti apa nan disampaikan oleh sanak kita
Zulfikri. Bisa jadi karena beliau ini melihat
dosen-dosennya atau dari universitas lain, yang
kebetulan sebagaimana yang disampaikan sanak Zul
tersebut, melihat fenomena tammatan LN cenderung
bersifak kapilatis atau mungkin yang dimaksud banyak
berfikiran bebas, seperti orang kapitalis, atau
Eropah, Amerika dan semacam itu. 

Saya bisa mengerti ini dan memang melihat dan
mendengar langsung realita semacam ini. Saya sudah
dari dulu memang mendengar istilah " Cuci otak ini ".

Dari sudut lain, sanak Z mengatakan bahwa segi ilmu
itu sifatnya " bebas nilai ".

Saya setuju itu. Karena sesuai dengan hadist
rasulullah SAW yang sangat terkenal dikalangan kita
ummat Islam begini bunyinya : Uthlubul'ilma walau
bisshini " ( Tuntutlah ilmu itu walau kenegeri China
sekalipun ).

Jadi pada dasarnya, menuntut ilmu apa saja, dan kita
mempelajari apa saja di perbolehkan oleh agama islam (
sesuai pula dengan perintah dari Allah SWT pada ayat
yang pertama kali turun " Iqra" ( Bacalah ). 

Maksudnya bacalah apa saja yang bermanfaat asal dengan
dimulai nama Allah. baca, pelajari  apa saja dari ilmu
itu dan dari negeri mana sajapun. Asal jangan sampai
lupa kaitkan dengan nama Allah, pasti kita akan
selamat. Pasti kita tidak akan terikut gaya barat yang
lebih cenderung kapitalis dan sebagainya itu.

Dan sebaiknya justru bila kita mempelajari akan suatu
ilmu ada baiknya mempelajarinya kenegeri asalnya.
Alias pelajarilah ilmu itu keakar-akarnya supaya ngak
tanggung-tanggung. Lihat dari negeri mana ilmu itu
bersumber, cari sampai kesana.

Ulama zaman dahulu, Ibnu Sina ( kedokteran ), Ibnu
Rusd ( matematika, Aljabar ), dan masih sangat banyak
yang lainnya, mereka itu dalam menuntut ilmu sampai
berjalan keberbagai negeri lain.

namun kita lihat apakah mereka terpengaruh dengan
ajaran atau adat dari negara yang mereka kunjungi
itu..? Saya kita tidak !. Semua ini karena apa..?
Mereka sudah punya dasar agama yang kuat, walau mereka
pelajari ilmu Antariksa sekalipun dari negara Amerika,
Ilmu obat-obatan tradisionil , yang berasal dari
tetumbuhan mereka banyak berdagang sekaligus belajar
di negeri China itu. 

Tapi apakah mereka terpengaruh..? Tidak,..malah
merekalah yang membawa kaum ditempat mereka belajar
itu kearah mereka, mereka ajarkan Islam dinegeri itu,
sementara mereka pulang selain bawa hasil dagangan ,
ilmu dari negara tersebut sekaligus mengajak mereka
mengenal Islam. Subhanallah !

Itu realita kebanyakan ilmuwan islam zaman dahulu
kala. Sekarang kita lihat realita ilmuwan atau
agamawan kita zaman sekarang, apakah semacam itu..?

Ini semua tergantung kepribadian masing-masing yang
mana kepribadian itu tergantung dari milieunya,
didikan dari kecil, keluarganya, juga masyarakat yang
dipergaulinya sehari-hari.

Kalau saja didikannya dari kecil sudah mantap,
keluarganya orang yang taat beragama, lingkungan yang
di jalaninya selama ini adalah lingkungan baik, taat
beragama, dan tidak arogan, kemanapun ia dicampakkan,
kenegeri antah berantah dan kapitalis tak kenal tuhan
sekalipun ia akan teguh pada prinsip dirinya, tak
terpengaruh gaya barat yang serba bebas dalam banyak 
hal.

Saya punya teman di Jepang, dosen di Unand dan sedang
ambil program doktoral bagian Pertanian di jepang itu,
memang mengakui betapa berat menghadapi problema
pergaulan sex bebas dinegara jepang itu, namun ia
mencoba tetap bertahan, lagian dalam dirinya sudah
punya dasar agama yang kuat.

Beliau juga mengakui dalam pendidikan di Indonesia
masalah sarana dan prasarana ini sangat minim sekali.
labor-labor semacam di negara lain sulit didapatkan di
Indo, sehingga sangat sulit mengajarkan mahasiswa ilmu
yang diperdapatnya di negara asing tersebut.

lantas bagaimana solusi dari fenomena pendidikan kita
yang semakin tepuruk dari negara lain, jangankan dari
negara yang sudah maju itu, dari negara yang dulunya
sama-sama termasuk negara berkembang saja kita sudah
kalah. 

Kita memang kalah dari malaysia, padahal dulu mereka
banyak yang menuntut ilmu dinegara Indonesia.

Tapi ketahuilah wahai saudara-saudara ku sekalian,
pada hakikatnya dari segi kecerdasan otak masyarakat
Indonesia yang berpendidikan jauh lebih cerdas
ketimbang dari negara lain seperti malaysia,
Singapore, Brunai, Thailand, Philiphina, dan lainnya
itu. Sungguh sepanjang saya mengenal orang-orang Asia
lainnya seperti Jepang itu juga di Mesir ini, saya
melihat otak orang-orang Indonesia jauh lebih encer.

Hanya saja kita bangsa Indonesia ini banyak terbuai,
banyak malasnya, banyak santai tidak tahu arti dari
nilai waktu itu. banyak berfoya-foya, gaya hidup mewah
padahal kemewahan hasil hutang yang dipakai, beda
dengan negara malaysia, mereka hidup hemat, rajin,
tahu nilai waktu itu. Disitu letak kelemahan kita. 

Solusi menurut saya : 

1 ) Di dirikan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Tammatan
Luar negeri di Indonesia itu yang mana mungkin
tepatnya berpusat di jakarta, atau dimana saja yang
mudah dijangkau oleh berbagai daerah, sehingga kalau
ada diskusi , seminar dan pertemuan untuk membicarakan
masalah negara Indonesia dan fenomena pendidikannya
dari berbagai bidang dapat sama-sama di rembukkan,
untuk mencapai satu kata mufakat demi kemajuan
pendidikan dimasa yang akan datang, bila bertemu dalam
suatu pertemuan ang memang sudah direncanakan dengan
matang.

2 ), Silahkan saja belajar ke LN asal benar-benar
kalau belajar itu tepat sesuai dengan asal sumber dari
ilmu itu. jangan pula belajar agama perginya ke
Amerika, yah itu sudah salah kaprah, masak belajar
agama ke Amerika sana..? belajar Islam sampai
keakar-akarnya yah di Timteng ini, terutama di Al
Azhar universitas Islam tertua, atau di Timteng
lainnya.

Belajar ilmu teknologi, pergilah ke negara barat sana,
namun sebelum pergi kesana bekali dulu ilmu bela diri
( bukan ilmu karate yang saya maksudkan disini tapi
ilmu bela diri yang sifatnya tidak akan merusak otak
dan pikiran kita )


Belajar ilmu kedokteran, ilmu pertanian dan sebagainya
itu silahkan kalau ada kesempatan pergilah kenegara
asalnya, asal syaratnya  bekali dulu ilmu bela diri
itu, agar kita tak terbawa pemikiran gaya kapitalis
yang liberal itu. 


3 ), Kalau sudah punya bekal " Ilmu bela diri  ",
cobalah banyak-banyak ikuti internet yang ada di
Indonesia, bergaullah dengan masyarakat Indonesia yang
ada di dunia maya itu, karena ini pengaruhnya cukup
besar sekali dalam perasaan cinta bangsa atau daerah
itu sendiri. 

Dengan cara komunikasi dengan orang-orang yang ada di
Indo itu, kita dapat mengetahui apa kehendak bangsa
kita dari kita yang belajar di LN itu, mereka maunya
apa dari kita..? 

Dan orang-orag yang ada di Indopun jangan merasa
minder dengan mereka -mereka yang tammatan LN, dekati
mereka, jangan ada rasa kesal, iri, atau buruk sangka
pada mereka, manusia itu kalau didekati akan baik koq.
Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta ,
jangan di jauhi, maka ia akan semakin jauh. 

Lihat aja kucing, dielus-elus ia mengikuti, patuh dan
sayang pada tuannya, cobalah kalau dinjak kaki kucing
itu, pasti  ia akan mencakar kita, meski kita tuannya
sekalipun. Kucing ngak peduli, yang penting  ia sakit
diinjak kakinya,maka secara spontan pula ia akan
mencakar orang yang menginjak itu. 

Itu saja kucing yang ngak berakal, apalagi manusia
yang berakal, punya harga diri dan perasaan, maka nya
cobalah siapa saja yang tammatan LN itu kita dekati,
kita pergauli ia dengan baik, saya kira manusia
bagaimanapun jahatnya ia punya perasaan sayang dan
cinta juga koq..? Allahua'lam kalau manusia yang sudah
terkunci mati, mata hatinya.

Sebagai pengalaman saya mengajar setahun kemaren di
BKT, saya juga menyesalkan mengapa tammatan IAIN di
Indo itu yang  akan S2, dan sudah tahunan mengajar di
sekolah itu, koq masih belum mampu menjadi seorang
guru yang benar-benar lihai dalam mendidik muridnya..?

Saya heran kala itu pada beberapa orang guru, yang
ketika akan mengajar muridnya besok, malamnya baru
lihat buku dan kamus untuk mengajarkan materi itu pada
muridnya. wah..saya kaget ..masak guru mempelajari
dulu materi itu dan baru lihat kamus..?

Saya rasa sebagai seorang guru, atau dosen, hendaklah
benar-benar sudah menguasai betul materi itu, kalau
pun melihat buku-buku atau kamus, hanya sekedar
sebagai bahan tambahan saja, bukan benar-benar baru
ingin mempelajari isi buku tersebut. 

Bagaimana akan mengajarkan siswa, sementara sang dosen
atau guru, baru saja malam memahaminya..? 

Ini dikarenaka apa,..? Karena selama pendidikannya di
universitas itu  ia sangat tergantung dan terfokus
pada apa yang diajarkan guru atau dosennya saja, dan
tatkala menulis skrpsi ia lebih suka menyalin, atau
menciplak diktat dosen yang lama, atau siswa yang
lama.

Ini belajar yang salah menurut saya, seharusnya sang
siswa sudah terbiasa dari masa siswanya banyak
belajar, dan baca  buku-buku lain, tidak terfokus pada
apa yang diajarkan dosen atau guru disekolah aja.

Begitu juga bidang eksakta dan pelajaran yang
membutuhkan eksprimen-eksprimen di lapangan, butuh
analisis langsung , harus sering ke labor buat
penelitian itu, keluar lapangan, saya kira di negara
maju seperti Jepang sudah cukup hebat dalam hal ini.

4 ), Nah untuk mengikuti metode praktek langsung
seperti dinegara maju ini maka universitas-universitas
di Indo itu yang harus di pikirkan oleh kita
masyarakat Indo juga, yang konglomerat, yang kaya,
lebih utamanya adalah pemerintah yang lebih besar dan
punya potensi untuk ini, lebih memikirkan ke hal
semacam ini dan memenuhi peralatan pembelajaran di
sekolah atau universitas seperti yang ada di LN.

5 ), Saya kira soal tenaga dosen , kita ngak kalah koq
dari LN. Kita punya dosen-dosen yang hebat. Cuman
yah..karena merek aterbiasa hidup makmur dinegara lain
itu, pas tiba pulang di Indo, tidak dihargai, digaji
sedanya, bahkan sering kurang, akhirnya kan ia
mikir,..ngapain pulang kalau toh sudah capek-capek
sekolah di LN, jadi orang melarat juga..?

Ilmu sih ilmu harus di sumbangkan pada negara kita,
tapi mereka itu juga butuh hidup lebih layak lagi
bukan ?

Saya kira fenomena yang dihadapi oleh mereka yang
belajar di LN itu, pada dasarnya sama yang saya
rasakan. Mereka yang di LN itu, pada hakikatnya cinta
Indonesia, cinta negara sendiri, tapi bagaimana ia
hidup kalau ia selalu dimusuhi, atau diirikan oleh
masyarakat sekelilingnya, teman sejawat, teman
kerjanya, saling menjatuhkan. 


Maaf mungkin ini terjadi pada orang lain kali, yang
saya sendiri, alhamdulilah masyarakat ditempat saya
tinggal sangat menyayangi saya, termasuk para preman
pemuda di kampung itu, menjaga dan menghormati saya,
begitupun teman-teman kerja saya sendiri, ngak ada
yang iri koq, meski ada, pada mulanya tapi setelah
saya dekati, saya baiki, semua pada sayang, dan malah
membantu saya, saya cuman menduga, bisa saja itu
terjadi pada orang lain, karena merasa di sisihkan
dari teman-teman yang ada di kantor tempat ia
mengajar, karena ia dari LN, mana sifat arogannya juga
ada, sedikit-sedikit bilang kalau saya di USA, Di
Jepang dan di german di Marocco, atau di mana saja
begini--begitu..

 Iyah..saya ngerti orang jadi gondok semua, tapi
cobalah, kalau kita bersikap positive thinking saja
pada orang tersebut. Dan coba ajak diskusi bagaimana
penyelesaiannya, jangan malah di musuhi atau di
sisihkan dari teman-teman lainnya, malah tambah arogan
lagi ia, percayalah itu. Kucing aja kalau di injak
mencakar kan..?

Cobalah saling mengambil solusi terbaik dari fenomena
pendidikan Indonesia kedepan itu agar lebih maju
bagaimana ?

Saya kira ngak ada salahnya orang-orang belajar ke LN
mana sajapun, asalkan bekali dia " Ilmu bela diri tadi
". ( Ilmu Agama, rasa cinta kampung, negara dan tanah
airnya )

saya aja,.kalau saya mampu anak-anak saya akan saya
kuliyahkan ke LN, tapi tetap didikan kebangsaannya
saya masukkan ia SD, SMP, SMA di pendidikan Indonesia.
Anak2 saya meski di Mesir, tetap mereka belajar
sebagaimana apa yang dipelajari oleh orang-orang yang
ada di Indo.

Hanya kelebihan dan tambahan anak-anak saya, mungkin
dari segi bahasa atau pergaulan dari banyak negara,
mereka sudah terbiasa, bahwa hidup iini banyak
perbedaannya, beda agama, bangsa, daerah adat
istiadat, makanan tatacara, dan segala macamnya itu,
sehingga pemikirannya jauh lebih luas, akan jelas
berbeda dengan anak-anak yang ada kelebihan dan
kekurangannya. 

Bukankah sudah dikatakan dalam pepatah " jauh berjalan
banyak dilihat lama hidup banyak dirasa ". 
Allah berfirman : " Maka berjalan lah kamu di
permukaan bumi Allah ini ".
Dengan banyak berjalan, bukan arti kata sekedar
raun-raun atau foya-foya habiskan duit saja, tapi
berjalan dalam menuntut ilmu baik itu ilmu Formal,
atau non formal, maka kita jauh lebih dewasa dalam
menilai sesuatu.

Mungkin ini saja dulu, silahkan ditanggapi kalau ada
yang kurang setuju, akan lebih saya jelaskan lagi.

Wassalam. Rahima. Lc ( 35 ), 


Kampung ayah kalimantan Tengah, kampung ibu kamang
Hilir Bukittinggi. saya lahir di P. Siantar, besar di
Siantar, masa remaja di Padang Panjang, dewasa di
Mesir, menikah sama orang Pitalah, Pdg panjang, semua
bermacam ragam , tidak pada satu tempat saja,
berbeda-beda hidup dan kehidupan saya, bergaul dengan
orang jahat, orang baik, berbagai daerah dan berbagai
negara, berpemikiran liberal,dan fundamentalis,
ekstrim, dan segala macamnya, namun semua saya hadapi,
dan mencoba mengerti prinsip dan sikap mereka, namun
tetap tak segemingpun dari pergaulan itu melemahkan
prinsip hidup saya pribadi. 

Selagi saya mampu berdakwah akan saya lakukan, selagi
saya mampu untuk mengatakan kebenaran dari Allah dan
rasulNya, akan saya lakukan itu semua demi Allah saja.
Tapi tetap saya tak punya hak dan kuasa untuk memberi
hidayah pada siapapun, atau memaksakan kebenaran yang
saya yakini pada orang lain. 

Biarkan aja, yang man atugas saya dah tersampaikan,
tinggal kita lagi yang mempertanggung jawabkan
perbuatan kita masing-masing. namun hubungan baik ,
saya tap jaga siapun orangnya, kafir sekalipun,
sayatetap biasa dari segi pergaulan, tapi segi akidah
dan agama, saya akan teguh sebagaiman saya.


Sebagai manusia zoon social, zoon politicon, akan
bersikap baik terus, bila salah minta maaf, sebagai
sesama muslim hubungan silaturahmi akan tetap saya
pelihara.


Bagimu adalah pendapatmu, bagiku juga pendapatku.
bagimu agamamu, bagiku juga agamaku. Mau ikut saya
silahkan, tak ikut juga tak apa, namun saya tak akan
mengikuti ajaranmu. Itu saja. Saya kalau jalan ngak
suka belok-belok lurus aja, karena tujuan saya cuman
satu aja, jalan shirathal mustaqim, buat menuju Allah.




--- Z Chaniago <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Assalamu'alaikum WW
> 
> Mamanda Rangkayo Mulie...
> 
> Lai ambo pahamo prolog dari Mamanda...., tetapi nan
> ambo bahas adolah hanya 
> solusi dan mamanda tawarkan......okay...
> 
>


                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Check out the new Yahoo! Front Page. 
www.yahoo.com 
 


____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke