Assalamualaikum Wr. Wb., Satalah mambaco ulasan Ibuk dibawah ko, tasingguang pribadi ambo dek baliau, tapi sangek batarimo kasih awak ado urang awak yang hebat sarupo baliau ko.
Sambia lalu maucapkan salamaik masuak baliak ka Palanta yang istimewa ko untuak Rangkayo Rahima, moga2 batambah matang dan samparono pribadi dan ilmunyo. Wass, syb. Kita dan Negara Lain Oleh Hj Rahmiana Zein, PhD Oleh admin padek 1 Rabu, 15-Juni-2005, 10:33:37 8 klik Negara Indonesia termasuk Sumatera Barat tertinggal dan mundur dalam berbagai bidang karena tidak mau belajar dari pengalaman seiring berjalannya waktu. Busung lapar atau gizi buruk kembali mendera, meskipun kita pernah surplus pangan. Polio kembali merebak, meskipun diklaim penyakit polio pernah hilang dari Indonesia. Dalam bidang pendidikan dulu kita mengajar ke Malaysia, sekarang ilmuan kita yang pergi belajar ke Malaysia. Padahal dilihat dari umur Negara, antara Indonesia dan Malaysia tidak jauh berbeda, tetapi mereka mau belajar secara cepat untuk mengatasi ketertinggalan bangsanya dalam berbagai bidang ilmu dengan cara meningkatkan alokasi anggaran untuk pendidikan. Pendidikan mendapat prioritas tertinggi. Untuk ukuran Indonesia dalam bidang pendidikan Sumatera Barat juga sudah mulai tertinggal, Nun jauh dipelosok Sibolga sana, ada sekolah unggul yang cukup dikenal, sementara di Sumatera Barat mana?. Apalgi jika dibandingkan dengan Bali, yang pelajar SMUnya selalu ikut olimpiade dan nilai rataan SPMBnya jauh di atas pelajar Sumatera Barat. Sementara Sumatera Barat terlena dengan kejayaan masa lalu, kemudian menomorduakan masalah pendidikan, lebih mendahulukan penampilan luar, meskipun dalamnya tak lagi terurus, gedung-gedung dibangun dengan megah, jika perlu dengan merombak yang lama meskipun masih sangat layak pakai, taman-taman diganti, meskipun yang lama masih layak hidup, tetapi jika dilihat kedalam, isi bangunan tak ada fasilitas apapun, kamar mandipun tak berair. Dari prespektif budaya, mayoritas penduduk kita adalah pemeluk agam Islam, agama yang di dalamnya terkandung ajaran-ajaran yang sempurna di dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat, tetapi tidak kunjung sadar dan mengaplikasikan atau menggunakan ajaran ini secara benar di dalam kehidupan. Banyak hal dalam budaya kehidupan mereka sehari-hari tidak mencerminkan perilaku seorang muslim. Citra bangsa yang korup dan tak tahu malu telah melekat dan mengikis citra seorang muslim yang beretika dan menjunjung tinggi kejujuran. Jika kita melihat ke luar, bangsa Jepang misalnya yang notabene dalam pendidikan formalnya tidak terdapat kurikulum pelajaran agama mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai ke perguruan tinggi, justru memanfaatkan ajaran Islam yang susungguhnya, santun, jujur, bekerja keras dan rajin serta mau belajar dari kesalahan masa lalu dan tidak pernah meninggalkan akar budaya. Pengalaman tinggal selama 8 tahun di Negeri sakura tersebut memberi pelajaran banyak hal pada saya, bagaimana cara orang Jepang mengejar ketertinggalannya dibandingkan bangsa lain dengan cara memegang teguh akar budaya mereka, bekerja keras, santun dan jujur. Saya mempunyai 3 pengalaman yang sangat berbekas hingga kini. Pertama adalah ketika 2 orang putra saya yang belajar dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore di sekolah, harus melaksanakan shalat zuhur dan ashar, meskipun orang Jepang bukan orang yang memeluk Islam, tetapi kepedulian dan rasa hormat pada kepercayaan ataupun agama bangsa lain mereka perlihatkan dengan memberikan tempat khusus untuk shalat. Kedua dalam masalah kejujuran, ketika saya ketinggalan dompet tangan dalam perjalanan dari Nagoya ke Toyota, dengan kereta api, karena dompet yang di dalamnya terdapat sejumlah uang tertinggal di stasiun sebelumnya. Ketika kembali, seorang nenek menyarankan agar pergi ke kantor polisi dekat stasiun. Setelah disebutkan ciri dompet dan isinya, polisi mengembalikan dalam keadaan untuh. Pengalaman ketiga dalam hal kerja keras, saya lihat setiap hari mahasiswa, dosen dan Profesor bekerja keras di laboratorium. Semuanya bekerja keras dan sepertinya diburu waktu. Ketika hal ini ditanyakan pada profesor pembimbing saya ia menjawab Bangsa kami pernah kelaparan, ketika kami kalah perang, kami pernah makan ubi hanya sekali sehari ketika pangan tak cukup, meskipun sekarang kami sudah punya uang, kami sudah cukup pangan, tapi hal ini tak membuat kami bermalas-malasan. Jika kami lalai, maka satu saat kami akan kembali seperti dulu, kembali miskin dan menjadi bangsa yang kalah, sungguh menyakitkan kata mereka, ujarnya. Saya menilai mereka adalah bangsa yang mau belajar dan selalu belajar, dan sebenarnya ini sesuai ajaran Al-Quran dalam surat Al-Ashr (ayat 1-3), Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasehati supaya menetapi kesabaran Pepatah Sedikit bicara banyak bekerja, harus mulai ditanamkan kembali, bukan banyak bicara tapi sedikit kerja atau tak ada kerjaan sama sekali. Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan kerja keras mungkin akan mengatakan KUPER alias kurang pergaulan serta sombong dan tidak mau bergaul. Ini juga mestinya menjadi perhatian wanita karir yang juga berstatus rangkap sebagai ibu rumah tangga dan sebagai pekerja, untuk bis amembagi waktu antara kerja dan keluarga. Silaturrahim sangat perlu, tetapi akan sangat bagus jika diikuti sifat suka bekerja keras dan jujur. Di dalam surat Al-Insyirah (Kelapangan) Allah berfirman yang artinya, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Akan selalu ada titik terang di tengah kegelapan, seperti kata pepatah, There is always silver linning behind the cloud. Jika kita renungkan, semuanya ini akan dapat kita lakukan asal hati nurani kita punya kemauan dan keinginan untuk selalu berbuat baik sesuai dengan ajaran Al-Quran dan Sunnah Nabi. Insyah Allah. Semoga harapan yang terpendam dapat dibangkitkan kembali oleh pemimpin Sumatera Barat ke depan. Untuk itu mari kita bersama-sama bekerja keras seayun selangkah menyumbangkan pikiran-pikiran membangun pola hidup bangsa yang maju, berbudaya dan menjalankan ajaran agama secara benar. Pemimpin harus bisa membawa rakyatnya merubah pandangan negatif bangsa luar terhadap bangsa kita. Oleh karena itu jangan salah dalam memilih pemimpin 27 Juni ini. Mari sama-sama kita mencermati track-record pasangan calon pemimpin (Gubernur dan Wakil Gubernur) atau bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota. Bukan hanya track record pengalaman dalam memimpin, tetapi juga ada tidaknya cacat dalam priode kepemimpinan yang telah mereka lalui. Mudah-mudahan harapan rakyat untuk melihat Sumatera Barat menjadi daerah yang maju, terpandang, aman, sejahtera dan berbudaya akan menjadi kenyataan. Amin Prof Dr Hj Rahmiana Zein, Guru Besar Universitas Andalas _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

