Assalamu'alaikum Rahima,
Terima kasih Padang Sahara 3 nya, meskipun masih kurang puas ( saya
memang punya hobi membaca tulisan orang yang bepergian sambil
membayangkan saya berada disana ha haha ).
Betul Ima, yang Ima ceritakan itu adalah Mesir, yang sisitim
pemerintahannya juga sama dengan Indonesia. Saya dengar dari kenalan
yang sudah kembali dari belajar di Mesir juga begitu, meskipun
birokrasinya juga payah, korupsinya ( tapi tak sehebat Indo kali ) dan
katanya malas orang Mesir mirip mirip orang Indonesia Juga. Tapi tradisi
keilmuannya yang bukan main . Bukankah papyrus sudah dipakai oleh orang
Mesir pada zaman predynastic ( phase terakir zaman tersebut adalah kira
kira 3200 - 3000 th sebelum nabi Isa lahir ), sebagai tempat untuk
menulis, sedangkan kertas baru ditemukan China sekitar 2000 thn yang
lalu. Sejarah dari budaya mereka itulah yang mungkin menyebabbkan
kesadaran yang tinggi akan ilmu , itu sebabnya mereka menggratiskan
sekolah, buku dijual murah. Setelah Islam masuk ke Mesir mereka tinggal
melanjutkan. Kalau di Indo tidak saja gas yang selangit ( sekarang 50.
000, tapi buku lebih selangit lagi, bagaimana orang kita mau belajar
baik ilmu umum maupun ilmu agama ). Saya pernah mengundang seorang
doctor ahli tafsir dan juga doctor ahli kebidanan dari Mesir yang waktu
itu sedang mengajar di IAIN beberapa tahun yang lalu untuk berceramah
ditempat pertemuan kita ( luar biasa untuk standar Indonesia ,
keahliannya Ima ). Dia sangat sederhana, betul betul seorang ulama pikir
saya. Waktu itu yang saya takutkan adalah, berapa saya harus membayar
dia ( karena saya yang ngundang ), karena kadang yang hadir sedikit,
jadi duitnya juga kan sedikit. Tahu Ima apa katanya waktu saya
sampaikan ke dia. Haram, haram, maksudnya dia haram menerima uang untuk
berceramah dalam hal agama. Saya tanya sama yang sudah pernah ngundang
dia, memang begitu. Jadi saya belikan dia sebuah scarf batik untuk
kerudung isterinya. Waktu saya sampaikan jangan kecewa kalau yang hadir
sedikit, dia bilang satu orangpun saya akan berceramah. Tidak dibayar,
satu orang yang hadir juga mau, betul ulama pikir saya. Kalau di Indo
semakin hebat orangnya semakin tinggi bayarannya. Saya baru ketemu satu
orang yang lansung menyerahkan amplop itu kembali ke yayasan yang
dibina oleh pengajian tersebut. Ima, mungkinkah di Indo lebih banyak
orang yang paham agama yang munafik dari di Mesir, dan mungkinkah di
Indo banyak mereka itu yang memperjual belikan ayat ayat Allah, sehingga
mungkin dakwah harus ditujukan kepada mereka dulu, baru orang awam.
Wallahualam bissawab. Saat ini, dikoran pagi Republika saya baca
"Bekas Menteri Agama Said Aqil Munawar jadi tersangka korupsi
penyelenggaraan ibadah haji. ".
Sekian dulu Ima nanti kita sambung lagi.
Wassalam
Isna
Perlu diketahui, walaupun Mesir tanah gersang, tapi
alhamdulillah, kami dan mungkin kebanyakan dari
masyarakat Mesir masih bisa makan dan harga bahan
sandang pangan kebutuhan primer cukup murah sekali,
terjangkau oleh rakyat Mesir yang miskin sekalipun,
bahkan dipedesaan sekalipun anak-anak pada sekolah(oh
yah, saya lupa menceritakan bahwa ketika pulangnya bis
kami mogok, sehingga kami selama dua jam bergabung
dengan masyarakat disana).
Kami bertanya anak-anak ini sekolah apa kagak?
ternyata penduduk Mesir masih sekolah dengan gratis,
mulai dari tingkat SD- Universitas, saya sudah lama
tahu akan hal ini dan sering bercita-cita alangkah
bahagianya kalau di Indonesia sekolah gratis,
kebutuhan primer murah-murah, jadi ortu hanya
memikirkan makan saja.(walau ada sekolah yang bayar,
tapi itupun tidak mahal, lagian biasanya penduduk
asing yang sekolah disana).
Jujur aja, di Mesir buahan sangat murah, sayuran
apalagi, dan buahannya saya lihat bagus-bagus jarang
ada yang busuk. Kalau beli juice, akan dikasih benar2
juice asli tanpa syrup sama sekali(bundo Nismah
tatkala kerumah saya suguhkan mengatakan enak sekali
juice, serasa asli, akhirnya kami bawa beneran tempat
jual juice buahan disepanjang jalan dengan harga
sangat murah). Semua serba murah, yang mahal hanyalah
kebutuhan sekunder atau lux, berupa alat-alat
elektronik. kapan yah,.Indonesia yang kaya raya bisa
segalanya murah,..ini malah naik tiap saat.
Katanya gas dapur untuk masak juga mahal sekali,
terakhir saya di BKT (2001) harga gas satu tabung itu
Rp 30.000. Sementara di Mesir kita pakai gas persis
aliran listrik dan sangat murah, ada juga yang tabung
tapi lihat daerahnya. Saya ngeri2 tinggal di Indonesia
dengan kondisi semua serba mahal. Air mahal, padahal
kita banyak sumber air.
Ini negara Mesir. negara Padang pasir, tokh..rakyatnya
banyak yang sekolah dan makan. Jangan kita ambil
contoh jepang, Amrik yang kaya raya, wajar mereka
makmur, karena mereka kaya raya. Ini Mesir negara
serba apa adanya. Tapi hidup kebanyakan masyarakatnya
lumayan baik, pada sekolah gratis.
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________