Dunsanak Taufiq dan rekans,
Saya bukanlah pengurus LKAAM dan bukan pula ahli sosiologi. Saya hanya
peminat biasa, dan juga sedang mencari tahu beberapa hal mengenai sejarah masa
lalu. Di bawah saya teruskan sebuah postingan seorang rekan beberapa tahun yang
lalu, yang membuat saya heran: bagaimana bisa penyebaran Suku Melayu ini
sedemikian rupa dan telah menjadi identitas dominan bagi suatu wilayah di
tenggara benua Asia.
Orang Minang sendiri tentunya bukanlah orang Melayu, karena terdapat
perbedaan yang sangat tajam secara kultur. Kalau boleh saya sedikit
menyampaikan waham tentang sejarah masa silam dengan referensi amatiran sebagai
berikut:
Tahun lalu saya menyampaikan pandangan pada sebuah milis sbb: Sebelum tahun
1 Masehi terjadi migrasi besar-besaran dari Hindia Belakang, diperkirakan
karena adanya krisis kasta (Hindu) yang memuncak pada saat itu. Tujuan migrasi
adalah ke Asia Tenggara, dan untuk ke Indonesia melalui jalur Kepulauan Andaman
dan kemudian masuk ke Sumatera (kemarin merupakan jalur gempa). Pada tahun 100
Pangeran Ajisaka dari India melaporkan hasil pelayarannya, bahwa dia menemukan
dua kerajaan : Suarnadwipa (Sumatera) dan Javadwipa (Jawa). Percampuran migran
dengan penduduk lokal telah melahirkan budaya reproduksi (mengolah lahan),
serta orientasi geomorfologi pada upland. Dua kerajaan kuna yang tercatat dalam
sejarah adalah Panai di Batak dan Melayu Kuno di Jambi, sementara komunitas
Minangkabau bukanlah berbentuk kerajaan.
Prasasti Ajisaka saat ini tersimpan di Calcutta, dan saya juga ingin
mengetahui secara lengkap isinya. Terlepas dari itu, ekspedisi Ajisaka saya
duga melalui jalur Selat Malaka dan terus hingga ke Laut Jawa. Dalam ekspedisi,
Ajisaka membawa rombongan kalangan ksatria, dan beberapa di antaranya tinggal
menetap Suarnadwipa dan Javadwipa, yang melahirkan sistem strata sosial baru.
Untuk Suarnadwipa, inilah komunitas Melayu yang terdeteksi dalam sejarah
pertama sekali. Komunitas tersebar sepanjang aliran Sungai Batanghari hingga ke
hulu. Saya masih mengukur kemungkinan orientasi permukiman hingga ke Gunung
Kerinci.
Selanjutnya: Memang aneh pada sekitar abad 6 muncul Kedatukan Srivijaya yang
berorientasi ke laut (lowland) dan terus berjaya hingga abad 12, saya pikir ini
adalah kelompok migran baru dari Asia Timur. Ketika ekspansi Syailendra masuk
ke Jawa pada abad 8, anehnya yang dikembangkan adalah budaya upland dan ini
berlanjut pada dinasti Sanjaya. Budaya lowland muncul kembali pada masa
Singhasari, hingga mampu mengirim ekspedisi damai Pamalayu ke Melayu Jambi
(Hindu) dan Srivijaya (Budha). Kerajaan Majapahit didirikan oleh
perwira-perwira Sumatera dan meneruskan tradisi lowland antara lain melalui
pengiriman ekspedisi damai Pamalayu tahap II hingga ke pesisir timur Sumatera
dan bloody expedition ke Bali (Pabali). Usai masa itu komunitas nusantara
kembali melanjutkan tradisi upland, hingga munculnya kerajaan Samudera dan
kerajaan Pasai di Aceh pada abad 13, dan itupun untuk berabad-abad tidak ada
upaya ekspansi baru, juga oleh dinasti Srivijaya yang berlanjut di semenanjung
Malaysia. Baru pada abad 16 ekspansi budaya lowland ditabuhkan oleh Kerajaan
Aceh di barat dan Kerajaan Gowa di timur. Ekspansi Aceh oleh Sultan Iskandar
Muda di abad 17 ke pesisir barat Sumatera sampai ke Inderapura (jalur pesisir
pantai, tapi tidak pernah sampai ke pedalaman), sedangkan ke pesisir timur
sampai ke Riau, juga termasuk pesisir barat semenanjung Malaysia. Ekspansi Gowa
oleh Sultan Hasanuddin sampai ke Sulawesi Tengah, Sumbawa, hingga Ternate.
Pendudukan Portugis atas Malaka di awal abad 16 tidak pernah berjalan dengan
damai hingga abad 18. Berkali-kali armada Aceh menggempur Portugis di Malaka,
walau selalu dipatahkan. Belum lagi petualangan para pirates dari Bugis di
Selat Malaka yang banyak bersembunyi di Riau kepulauan. Setelah itu hingga hari
ini, kita tidak pernah berjaya mengembangkan budaya lowland (it is not a
jalasveva jayamahe).
Memang benar saya coba memandang pola persebaran permukiman ini secara
geografis: berorientasi ke laut (maritim, lowland) dan berorientasi ke gunung
(agraris, upland). Hal ini juga nantinya akan saya coba sepadankan dengan
konsep Hindu dan Budha.
Dengan demikian setidaknya hingga abad 6, telah terdapat dua kutub
pertumbuhan permukiman di Sumatera, yaitu Melayu Kuno (Hindu, Batanghari, ras
asli Melayu) dan Srivijaya (Budha, Musi, ras campuran). Kembali kepada
pertanyaan: dimanakah posisi orang Minang?
Walau terasa naïf untuk disimpulkan secara dini, catatan tambo menyebutkan
kedatangan orang Minang berawal dari laut untuk kemudian mendarat di puncak
gunung. Dengan demikian ada suatu rombongan dalam pelayaran yang kemudian
tersesat dan terdampar di tempat ketinggian. Apakah fenomena tsunami Aceh
kemarin dapat membuka tabir ini? Saya masih mencari jejak sejarah yang
menyisakan kisah-kisah pelayaran besar masa lalu terutama ketika mengarungi
Samudera Indonesia yang demikian misterius.
Sementara waktu yang terjejak adalah armada Iskandar Zulkarnain sekitar abad
ke-3 sebelum masehi. Dalam upaya penaklukan India yang gagal, balatentara ini
kemudian surut kembali pulang, hingga Iskandar Zulkarnaen wafat ketika sampai
di Iran. Bila demikian, balatentara ini menggunakan ekspedisi darat, dan kurang
terceritakan bilamana juga ada ekspedisi laut.
Tambo juga menceritakan bilamana air laut kian surut juga hingga menampakkan
bentang alam yang demikian luas. Tidak ada disebutkan pertemuan dengan penduduk
asli, hingga sistem adat budaya berkembang sedemikian rupa selama berabad-abad.
Merujuk catatan Srivijaya, bila ada terbentuk komunikasi dengan Minanga Tarwan
atau apa pun istilahnya. Setidaknya ini terjadi pada kurun abad ke-7 s/d ke-8,
atau hingga abad tersebut masyarakat Minang cukup tertutup dengan dunia luar.
Satu hal yang perlu menjadi catatan, walau asal-usul berasal dari laut, orang
Minang tidak mengembangkan budaya lowland, tetapi cenderung upland. Ada
orientasi gunung-gemunung dalam mengembangkan pola permukiman, yang jelas
terjejak sampai hari ini. Saya coba uraikan hal ini kemudian hari bilamana
dimungkinkan.
Sementara waktu demikian dulu, insya Allah akan saya sambung lagi, namun
mohon bila ada tanggapan juga.
Wassalam,
-datuk endang
Subject: Siapa Melayu
Suku Melayu merupakan salah satu suku terbesar di
Indonesia setelah
Suku Jawa dan Sunda. Ciri khasnya, mereka bermukim di
pesisir-pesisir
pantai khususnya Sumatera dan Kalimantan. Namun
menjadi basis kuatnya
adalah Pulau Sumatera dimana mereka diyakini berasal.
Nama Melayu mulai dikenal pada masa berdirinya
kerajaan Melayu di
wilayah Sungai Batanghari yang kini membelah Propinsi
Jambi. Dari sini
kemudian kemungkinan tersebar hingga ke semenanjung
Melayu.
Kerajaan-kerajaan Melayu pernah ada dan tersebar
hingga ke Pulau
Kalimantan (Borneo).
Persebaran suku yang disebut Melayu ini antara lain :
Aceh Tamiang- Nanggroe Aceh Darussalam: Dikenal dengan
nama Bumi Muda
Sedia, dengan semboyan Kasih Pape Setie Mati. Mengacu
pada kerajaan
Tamiang yang berada ditepian sungai Tamiang. Meski
dikenal sebagai
wilayah Melayu, namun Aceh Tamiang (yang merupakan
pecahan Aceh Timur)
ini juga heterogen. Bahasa Melayu yang dipakai serupa
dengan Melayu
Langkat.
Pesisir Timur Sumatera Utara : Mulai dari Kabupaten
Langkat hingga
pesisir kabupaten Labuhan Batu, disitulah suku Melayu
tinggal. Kota
Medan yang merupakan kota no 3 di Indonesia penduduk
aslinya adalah
Melayu Deli. Langgam-langgam Melayu yang populer di
Indonesia berasal
dari Lagu Melayu Deli.
Riau : Bagian barat Propinsi Riau didominasi oleh
etnis Minangkabau,
bahkan kota Pekanbaru sendiri diperkirakan 60%
penduduknya berasal dari
Sumatera Barat. Daerah Siak merupakan pusat Melayu di
daratan, Melayu
dialek 'o' banyak dipakai di pedalaman Riau.
Kepulauan Riau : Sudah sangat diketahui bahwa
Kepulauan Riau adalah
pusat kebudayaan Melayu di Indonesia. dari sinilah
katanya Bahasa
Indonesia berakar, serupa dengan Johor. Mulai dari
kepulauan Karimun,
Singkep-Lingga hingga kepulauan Tambelangan, Kabupaten
Natuna.
Jambi : Dikenal dengan bahasa Melayu Jambinya.
Berpusat di kota Jambi
dengan lafal 'o'. Suku-suku yang disebut Melayu juga
tersebar di
pedalaman. Dialek 'e' dipakai di wilayah Tanjung
Jabung
Bengkulu : Bahasa Melayu dipakai di Kota Bengkulu dan
Sekitarnya,
sedangkan bahasa-bahasa lainnya adalah Bahasa Rejang,
Lebong, Muko-Muko
dan Serawai yang masih digolongkan Melayu Tua.
Sumatera Selatan : Sebagian besar wilayah Sumsel
menggunakan varian
melayu yang berbeda. Bahasa Melayu Palembang sangat
kuat pengaruh
bahasa Jawanya karena Sultan Palembang di masa lalu
diperkirakan
bernenek moyang Jawa.
Bangka-Belitung : Juga merupakan penyebaran suku
Melayu dengan dialek
tersendiri.
Melayu di Kalimantan
Apa yang disebut Melayu di Pulau Kalimantan ini ada
dua asal usul,
yakni yang memang berasal dari tanah Melayu, baik itu
Sumatera atau
Semenanjung Malayu, atau orang-orang Dayak yang masuk
Islam dan menjadi
Melayu.
Suku Melayu yang hidup di pesisir Kalimantan Barat
umumnya adalah
keturunan pendatang dari Riau Kepulauan atau
Semenanjung. Sedangkan
Melayu yang di tepi-tepi sungai adalah keturunan
percampuran antara
Melayu, Bugis dan Dayak atau orang Dayak yang masuk
Islam dan
menganggap dirinya sebagai Melayu.
Untuk kasus di Kalimantan Selatan, apa yang disebut
Melayu adalah
orang-orang Banjar. Namun persamaan dengan Melayu di
Sumatera semakin
jauh dengan banyaknya pengaruh kosakata Bahasa Jawa
dan Dayak. Sedang
di Kalimantan Timur lain lagi persoalannya.
Ada pula kelompok Melayu yang bermukim di Pulau Bali,
tepatnya di
kampung Loloan, Kota Negara, Kabupaten Jembrana.
Mereka berleluhur asal
Semenanjung dan Kalimantan Barat. Berbahasa Melayu di
rumah, Berbahasa
Bali diluar. Mereka diperkirakan datang ke Bali
sekitar abad ke-18.
Sedangkan yang di Jakarta, Melayu sendiri sudah bukan
lagi murni karena
terjadi percampuran berbagai ras yang melahirkan Orang
Betawi, dengan
berbahasa Melayu Jakarta yang sekitar 43% kosakatanya
dipengaruhi
Bahasa Sunda
"Rasyid, Taufiq (taufiqr)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Minggu kapatang Gubernur Riau dilantik menjadi ketua MABIN (Masyarakat
Melayu Baru Indonesia). Sabalunnyo ketua MABIN ko dari SUMUT. Barita ko
sabananyo biaso sajo. Nan agak jadi pamikiran dek ambo, ado pulo urang
Minang nan tasalek disitu sebagai ketua Mabin Sumbar yaitu Dr Fasbir
Noor Sidin SE MSEP, manuruik baliau Minang juo bagian dari Melayu.
Dasarnyo Melayu itu adalah Islam. Makanya Minang itu juga Melayu. Sumbar
mendukung konsep Melayu Raya sejak awal pembentukan MABIN.
Nan nampak dek ambo, nan sabana Melayu selain Riau dan Sumatra Timur ado
juo Jambi jo Palembang sarato sabagian pasisia Kalimantan. Karano
kelompok iko budaya mereka memang ampia samo.
Tahun nan lapeh ado pulo Kongres Melayu Sedunia di Pakanbaru ko, tapi
peran urang Minang nan keceknyo Melayu itu indak sabanyak kalompok urang
nan diateh ko doh. Kalau memang iyo awak Melayu juo apolai tatangga
dakek, ambo raso peran rang Minang lai agak berimbang jo Sumatra
Timur,Jambi, Palembang ukatu tu.
Kalau sekedar urang Islam nan dianggap Melayu, beko Jawa nan non Muslim
urang maa inyo. Kalau ado konsep warga Asia Tenggara nan merupakan Ras
Melayu baa pulo jo Thailand & Kamboja nan non Muslim rakyatnyo.
Apolai ado perbedaan antaro pola Patriakhat jo Matriakhat, batambah
ragu ambo.
Tolonglah Mamak-Mamak di LKAAM atau pakar Sosiologi mambari ambo
keterangan mengenai hal iko.-
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================