Dt Endang yang baik Waktu ambo masih dibawah 60 zmbo juo rajin mengorek ngorek sejarah Minangkabau Kebetulan ambo selama 12 tahun menjadi anggota suatu badan internasional keretaapi dan tiok tahun ka Eropa Ambo sering mampirkan mancari literatur lamo Yang menulis mengenai Minangkabau lebih banyak urang asinbg Banyak yang membingungkan Ambo batanyo jo Taufik Amdulah dan kawan kawan Yang menarik adalah kesimpulan Taufik Abdullah Sejarah yang autentik kito indak ado Sambil berkelakar beliau sabalik carito balando se lah Yang oleh balando penghianat oleh kito pahlawan
Karano itu ambo lebih memusatkan pada pola pikir dari nenek moyang seperti kenapa matriarchaat kenapa hak ulayat dll Rasonya labiah mudah dan lebih banyak manfaatnyo Berkaitan dengan Melayu manuruik ambo salamo ko urang Minang banyak persamaannyo dengan Melayu yang tentu indak mungkin dijalehkan atau diperdebatkan dimelisko Tarimo kasih Ch N Latief Dt Bandaro Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Dunsanak Taufiq dan rekans, Saya bukanlah pengurus LKAAM dan bukan pula ahli sosiologi. Saya hanya peminat biasa, dan juga sedang mencari tahu beberapa hal mengenai sejarah masa lalu. Di bawah saya teruskan sebuah postingan seorang rekan beberapa tahun yang lalu, yang membuat saya heran: bagaimana bisa penyebaran Suku Melayu ini sedemikian rupa dan telah menjadi identitas dominan bagi suatu wilayah di tenggara benua Asia. Orang Minang sendiri tentunya bukanlah orang Melayu, karena terdapat perbedaan yang sangat tajam secara kultur. Kalau boleh saya sedikit menyampaikan waham tentang sejarah masa silam dengan referensi amatiran sebagai berikut: Tahun lalu saya menyampaikan pandangan pada sebuah milis sbb: Sebelum tahun 1 Masehi terjadi migrasi besar-besaran dari Hindia Belakang, diperkirakan karena adanya krisis kasta (Hindu) yang memuncak pada saat itu. Tujuan migrasi adalah ke Asia Tenggara, dan untuk ke Indonesia melalui jalur Kepulauan Andaman dan kemudian masuk ke Sumatera (kemarin merupakan jalur gempa). Pada tahun 100 Pangeran Ajisaka dari India melaporkan hasil pelayarannya, bahwa dia menemukan dua kerajaan : Suarnadwipa (Sumatera) dan Javadwipa (Jawa). Percampuran migran dengan penduduk lokal telah melahirkan budaya reproduksi (mengolah lahan), serta orientasi geomorfologi pada upland. Dua kerajaan kuna yang tercatat dalam sejarah adalah Panai di Batak dan Melayu Kuno di Jambi, sementara komunitas Minangkabau bukanlah berbentuk kerajaan. Prasasti Ajisaka saat ini tersimpan di Calcutta, dan saya juga ingin mengetahui secara lengkap isinya. Terlepas dari itu, ekspedisi Ajisaka saya duga melalui jalur Selat Malaka dan terus hingga ke Laut Jawa. Dalam ekspedisi, Ajisaka membawa rombongan kalangan ksatria, dan beberapa di antaranya tinggal menetap Suarnadwipa dan Javadwipa, yang melahirkan sistem strata sosial baru. Untuk Suarnadwipa, inilah komunitas Melayu yang terdeteksi dalam sejarah pertama sekali. Komunitas tersebar sepanjang aliran Sungai Batanghari hingga ke hulu. Saya masih mengukur kemungkinan orientasi permukiman hingga ke Gunung Kerinci. Selanjutnya: Memang aneh pada sekitar abad 6 muncul Kedatukan Srivijaya yang berorientasi ke laut (lowland) dan terus berjaya hingga abad 12, saya pikir ini adalah kelompok migran baru dari Asia Timur. Ketika ekspansi Syailendra masuk ke Jawa pada abad 8, anehnya yang dikembangkan adalah budaya upland dan ini berlanjut pada dinasti Sanjaya. Budaya lowland muncul kembali pada masa Singhasari, hingga mampu mengirim ekspedisi damai Pamalayu ke Melayu Jambi (Hindu) dan Srivijaya (Budha). Kerajaan Majapahit didirikan oleh perwira-perwira Sumatera dan meneruskan tradisi lowland antara lain melalui pengiriman ekspedisi damai Pamalayu tahap II hingga ke pesisir timur Sumatera dan bloody expedition ke Bali (Pabali). Usai masa itu komunitas nusantara kembali melanjutkan tradisi upland, hingga munculnya kerajaan Samudera dan kerajaan Pasai di Aceh pada abad 13, dan itupun untuk berabad-abad tidak ada upaya ekspansi baru, juga oleh dinasti Srivijaya yang berlanjut di semenanjung Malaysia. Baru pada abad 16 ekspansi budaya lowland ditabuhkan oleh Kerajaan Aceh di barat dan Kerajaan Gowa di timur. Ekspansi Aceh oleh Sultan Iskandar Muda di abad 17 ke pesisir barat Sumatera sampai ke Inderapura (jalur pesisir pantai, tapi tidak pernah sampai ke pedalaman), sedangkan ke pesisir timur sampai ke Riau, juga termasuk pesisir barat semenanjung Malaysia. Ekspansi Gowa oleh Sultan Hasanuddin sampai ke Sulawesi Tengah, Sumbawa, hingga Ternate. Pendudukan Portugis atas Malaka di awal abad 16 tidak pernah berjalan dengan damai hingga abad 18. Berkali-kali armada Aceh menggempur Portugis di Malaka, walau selalu dipatahkan. Belum lagi petualangan para pirates dari Bugis di Selat Malaka yang banyak bersembunyi di Riau kepulauan. Setelah itu hingga hari ini, kita tidak pernah berjaya mengembangkan budaya lowland (it is not a jalasveva jayamahe). Memang benar saya coba memandang pola persebaran permukiman ini secara geografis: berorientasi ke laut (maritim, lowland) dan berorientasi ke gunung (agraris, upland). Hal ini juga nantinya akan saya coba sepadankan dengan konsep Hindu dan Budha. Dengan demikian setidaknya hingga abad 6, telah terdapat dua kutub pertumbuhan permukiman di Sumatera, yaitu Melayu Kuno (Hindu, Batanghari, ras asli Melayu) dan Srivijaya (Budha, Musi, ras campuran). Kembali kepada pertanyaan: dimanakah posisi orang Minang? Walau terasa naïf untuk disimpulkan secara dini, catatan tambo menyebutkan kedatangan orang Minang berawal dari laut untuk kemudian mendarat di puncak gunung. Dengan demikian ada suatu rombongan dalam pelayaran yang kemudian tersesat dan terdampar di tempat ketinggian. Apakah fenomena tsunami Aceh kemarin dapat membuka tabir ini? Saya masih mencari jejak sejarah yang menyisakan kisah-kisah pelayaran besar masa lalu terutama ketika mengarungi Samudera Indonesia yang demikian misterius. Sementara waktu yang terjejak adalah armada Iskandar Zulkarnain sekitar abad ke-3 sebelum masehi. Dalam upaya penaklukan India yang gagal, balatentara ini kemudian surut kembali pulang, hingga Iskandar Zulkarnaen wafat ketika sampai di Iran. Bila demikian, balatentara ini menggunakan ekspedisi darat, dan kurang terceritakan bilamana juga ada ekspedisi laut. Tambo juga menceritakan bilamana air laut kian surut juga hingga menampakkan bentang alam yang demikian luas. Tidak ada disebutkan pertemuan dengan penduduk asli, hingga sistem adat budaya berkembang sedemikian rupa selama berabad-abad. Merujuk catatan Srivijaya, bila ada terbentuk komunikasi dengan Minanga Tarwan atau apa pun istilahnya. Setidaknya ini terjadi pada kurun abad ke-7 s/d ke-8, atau hingga abad tersebut masyarakat Minang cukup tertutup dengan dunia luar. Satu hal yang perlu menjadi catatan, walau asal-usul berasal dari laut, orang Minang tidak mengembangkan budaya lowland, tetapi cenderung upland. Ada orientasi gunung-gemunung dalam mengembangkan pola permukiman, yang jelas terjejak sampai hari ini. Saya coba uraikan hal ini kemudian hari bilamana dimungkinkan. Sementara waktu demikian dulu, insya Allah akan saya sambung lagi, namun mohon bila ada tanggapan juga. Wassalam, -datuk endang Subject: Siapa Melayu Suku Melayu merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia setelah Suku Jawa dan Sunda. Ciri khasnya, mereka bermukim di pesisir-pesisir pantai khususnya Sumatera dan Kalimantan. Namun menjadi basis kuatnya adalah Pulau Sumatera dimana mereka diyakini berasal. Nama Melayu mulai dikenal pada masa berdirinya kerajaan Melayu di wilayah Sungai Batanghari yang kini membelah Propinsi Jambi. Dari sini kemudian kemungkinan tersebar hingga ke semenanjung Melayu. Kerajaan-kerajaan Melayu pernah ada dan tersebar hingga ke Pulau Kalimantan (Borneo). Persebaran suku yang disebut Melayu ini antara lain : Aceh Tamiang- Nanggroe Aceh Darussalam: Dikenal dengan nama Bumi Muda Sedia, dengan semboyan Kasih Pape Setie Mati. Mengacu pada kerajaan Tamiang yang berada ditepian sungai Tamiang. Meski dikenal sebagai wilayah Melayu, namun Aceh Tamiang (yang merupakan pecahan Aceh Timur) ini juga heterogen. Bahasa Melayu yang dipakai serupa dengan Melayu Langkat. Pesisir Timur Sumatera Utara : Mulai dari Kabupaten Langkat hingga pesisir kabupaten Labuhan Batu, disitulah suku Melayu tinggal. Kota Medan yang merupakan kota no 3 di Indonesia penduduk aslinya adalah Melayu Deli. Langgam-langgam Melayu yang populer di Indonesia berasal dari Lagu Melayu Deli. Riau : Bagian barat Propinsi Riau didominasi oleh etnis Minangkabau, bahkan kota Pekanbaru sendiri diperkirakan 60% penduduknya berasal dari Sumatera Barat. Daerah Siak merupakan pusat Melayu di daratan, Melayu dialek 'o' banyak dipakai di pedalaman Riau. Kepulauan Riau : Sudah sangat diketahui bahwa Kepulauan Riau adalah pusat kebudayaan Melayu di Indonesia. dari sinilah katanya Bahasa Indonesia berakar, serupa dengan Johor. Mulai dari kepulauan Karimun, Singkep-Lingga hingga kepulauan Tambelangan, Kabupaten Natuna. Jambi : Dikenal dengan bahasa Melayu Jambinya. Berpusat di kota Jambi dengan lafal 'o'. Suku-suku yang disebut Melayu juga tersebar di pedalaman. Dialek 'e' dipakai di wilayah Tanjung Jabung Bengkulu : Bahasa Melayu dipakai di Kota Bengkulu dan Sekitarnya, sedangkan bahasa-bahasa lainnya adalah Bahasa Rejang, Lebong, Muko-Muko dan Serawai yang masih digolongkan Melayu Tua. Sumatera Selatan : Sebagian besar wilayah Sumsel menggunakan varian melayu yang berbeda. Bahasa Melayu Palembang sangat kuat pengaruh bahasa Jawanya karena Sultan Palembang di masa lalu diperkirakan bernenek moyang Jawa. Bangka-Belitung : Juga merupakan penyebaran suku Melayu dengan dialek tersendiri. Melayu di Kalimantan Apa yang disebut Melayu di Pulau Kalimantan ini ada dua asal usul, yakni yang memang berasal dari tanah Melayu, baik itu Sumatera atau Semenanjung Malayu, atau orang-orang Dayak yang masuk Islam dan menjadi Melayu. Suku Melayu yang hidup di pesisir Kalimantan Barat umumnya adalah keturunan pendatang dari Riau Kepulauan atau Semenanjung. Sedangkan Melayu yang di tepi-tepi sungai adalah keturunan percampuran antara Melayu, Bugis dan Dayak atau orang Dayak yang masuk Islam dan menganggap dirinya sebagai Melayu. Untuk kasus di Kalimantan Selatan, apa yang disebut Melayu adalah orang-orang Banjar. Namun persamaan dengan Melayu di Sumatera semakin jauh dengan banyaknya pengaruh kosakata Bahasa Jawa dan Dayak. Sedang di Kalimantan Timur lain lagi persoalannya. Ada pula kelompok Melayu yang bermukim di Pulau Bali, tepatnya di kampung Loloan, Kota Negara, Kabupaten Jembrana. Mereka berleluhur asal Semenanjung dan Kalimantan Barat. Berbahasa Melayu di rumah, Berbahasa Bali diluar. Mereka diperkirakan datang ke Bali sekitar abad ke-18. Sedangkan yang di Jakarta, Melayu sendiri sudah bukan lagi murni karena terjadi percampuran berbagai ras yang melahirkan Orang Betawi, dengan berbahasa Melayu Jakarta yang sekitar 43% kosakatanya dipengaruhi Bahasa Sunda "Rasyid, Taufiq (taufiqr)" wrote: Minggu kapatang Gubernur Riau dilantik menjadi ketua MABIN (Masyarakat Melayu Baru Indonesia). Sabalunnyo ketua MABIN ko dari SUMUT. Barita ko sabananyo biaso sajo. Nan agak jadi pamikiran dek ambo, ado pulo urang Minang nan tasalek disitu sebagai ketua Mabin Sumbar yaitu Dr Fasbir Noor Sidin SE MSEP, manuruik baliau Minang juo bagian dari Melayu. Dasarnyo Melayu itu adalah Islam. Makanya Minang itu juga Melayu. Sumbar mendukung konsep Melayu Raya sejak awal pembentukan MABIN. Nan nampak dek ambo, nan sabana Melayu selain Riau dan Sumatra Timur ado juo Jambi jo Palembang sarato sabagian pasisia Kalimantan. Karano kelompok iko budaya mereka memang ampia samo. Tahun nan lapeh ado pulo Kongres Melayu Sedunia di Pakanbaru ko, tapi peran urang Minang nan keceknyo Melayu itu indak sabanyak kalompok urang nan diateh ko doh. Kalau memang iyo awak Melayu juo apolai tatangga dakek, ambo raso peran rang Minang lai agak berimbang jo Sumatra Timur,Jambi, Palembang ukatu tu. Kalau sekedar urang Islam nan dianggap Melayu, beko Jawa nan non Muslim urang maa inyo. Kalau ado konsep warga Asia Tenggara nan merupakan Ras Melayu baa pulo jo Thailand & Kamboja nan non Muslim rakyatnyo. Apolai ado perbedaan antaro pola Patriakhat jo Matriakhat, batambah ragu ambo. Tolonglah Mamak-Mamak di LKAAM atau pakar Sosiologi mambari ambo keterangan mengenai hal iko.- --------------------------------- Do you Yahoo!? Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta. -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem ========================================================= --------------------------------- Do you Yahoo!? Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta. -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

