duuuh terima kasiiiiih banget semua masukannya buat saya
aturan dan perlakuan mbak tatik juga saya terapkan kok
pertimbangan mas yusuf juga saya lakukan, soal anak soal menghargai perasaan 
pembantu dll tapi saya yang berniat ke desanya minta maaf, suami saya menentang 
keras tindakan saya karena menurut suami saya akan membuat mereka tambah 
ngelunjak, jadi ya tidak jadi (saya di rantau ikut suami tidak bisa kemana2 
tanpa diantar suami)

mungkin dapat saya ambil kesimpulan saya yang kurang jeli saat memilih 
pembantu, sebenarnya dukungan suami dan keluarga sangat saya butuhkan tapi 
disini saya sendirian........
saat saya bilang tidak cocok dg pembantu yg dibawa teman suami.....suami tidak 
akan setuju dan memaksakan si calon pembantu untuk bekerja di rumah dengan 
alasan tidak enak dengan temannya yg sudah nyariin

dan ketika saya mencoba mencari pembantu dari daerah asal saya (jawa tengah) 
orang tua tidak bisa membantu sama sekali, beliau (ibu saya) takut pembantu 
yang didapat nanti bertingkah, takut disalahkan suami saya...
sedangkan mertua saya baru pulang ke jawa 2th (tadinya di Irian 25 th) jadi 
tidak sanggup carikan juga....

kalau dengan orang2 minang mungkin kami ada shock culture kali yaa, mereka agak 
terlalu "bebas" (misalnya: ketika saya menyiapkan makan malam u/ suami dan 
anak, si pembantu ini bukan bantu saya malah ikut main sama suami dan anak 
saya, dan ketika saya bicarakan dg dia baik2 (tnp marah atau kata2 keras dia 
langsung minta berhenti keesokan harinya dengan alasan kangen sama ibunya pdhl 
umurnya 20th)
saya harus lebih toleran sekali, sebenarnya saya di rumah (tidak bekerja hanya 
mengurus laundry dan toko) jadi anak tetap saya yg pegang pembantu hanya 
mengerjakan pekerjaan rumah tangga, bukan ngasuh anak

pengeeen banget cari sendiri ke jawa, tapi ya itu saya terbentur pada tidak 
adanya pendukung, jika pulang kampung cari pembantu, cuma buang duit buat 
ongkkos karena saya sudah jauh dari rumah sejak kuliah, gak kenal lagi daerah2 
mana yg potensial untuk cari pembantu, sedangkan ibu saya sama sekali tidak mau 
membantu (sbnrnya tidak mau mengambil resiko)
dan tanpa jaminan mendapatkan pembantu suami juga tidak akan mengijinkan saya 
pulkam hehehehehe

saya tidak pernah memberhentikan pembantu kecuali mereka mencuri atau 
mengundang tamu tanpa ijin (alhamdulillah belum pernah seperti itu)
dan dari 8 orang yang minta berhenti ada 3 orang yang memang punya alasan jelas 
yang tidak bisa ditunda yaitu 1 orang hamil setelah 4 bulan bekerja (sudah 
berkeluarga), satu orang sakit keras setelah 1 mgg kerja (kesurupan waktu main2 
di rumah kosong sama teman2nya pembantu tetangga), dan satu lagi menikah 
setelah satu bulan bekerja

eh malah curhat lagi hehehehe ya begitulah, mungkin ini ujian juga buat saya 
biar lebih instropeksi diri
terima kasih banyak ya moms n dads semuanya..............

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke